FIREFLIES

21 Agu

Credit : ariel lin – fireflies

Cast : lee donghae, choi siwon

Perlahan Siwon menuntun hyunri keatas bukit, sejak dimobil tadi mata hyunri ditutup oleh selendang hitam, jadi dia tidak bisa melihat apa-apa.

“oppa, kita mau kemana? Ini dimana?” tanya hyunri.

Siwon hanya tersenyum dan terus menuntunnya. Hingga tiba diatas bukit.

“1 2 3.. taraa!” Siwon membuka ikatan selendang dimata hyunri.

Hyunri kaget dan terdiam memandang pemandangan didepannya dengan tatapan berbinar. Siwon tersenyum, memeluknya dari belakang dan bertanya lembut ditellinganya.

“kau suka?”

“ne oppa, ini indah sekali…” hyunri terus terpana melihat pemandangan lampu diseluruh kota Taipei yang diatapi oleh jutaan bintang dari bukit itu.

“hyunri-ah…” Siwon membalikkan hyunri sehingga mereka berhadapan. Dengan lembut mereka berpandangan. Siwon meraih dan menggenggam kedua tangan hyunri.

“tanpa terasa sudah 2 tahun kita bersama, dan itu bukan waktu yang sedikit. Aku harap, kita bisa terus bersama selama-lamanya. Aku mencintaimu hyunri-ah, dan tak pernah bisa berhenti mencintaimu sedetikpun.”

“ne oppa, aku juga sangat mencintaimu. Dan aku bahagia bisa selalu bersama mu. Kita akan terus bersama oppa. Makasih atas semua ini, aku sungguh menyukainya” lagi-lagi Siwon tersenyum dan mencium kening hyunri.

Hyunri merasa sangat senang, malam ini seakan dunia milik mereka berdua. Mereka duduk bersama, bergenggaman tangan sambil memandang bintang. Mereka bercerita banyak sambil bercanda, membuat hati mereka bahagia. membuat waktu berjalan cepat tanpa terasa.

__________ 6 bulan kemudian __________

“hyunri-ah, mianhe… aku tidak bisa menentang appa, dia benar-benar menginginkan aku melanjutkan pendidikan di Amerika. Disana aku akan dididik menjadi pengusaha yang baik, karena hanya aku satu-satunya harapan appa dikeluarga, aku tidak bisa mengecewakan keluargaku” siwon mencoba menjelaskan.

“Amerika…! berapa lama oppa?” hyunri cemas.

“4 tahun hyunri-ah…”

“MWO!? Kau harus meninggalkan ku selama 4 tahun ketempat sejauh itu oppa?” hyunri shock.

“mianhe hyunri-ah, mianhe… appa sudah mengurus segalanya. Lusa aku berangkat. Sekali lagi mianhe… aku pun sulit meninggalkan mu, tapi anggaplah ini untuk kebaikan kita nanti…”

“kau tidak memikirkan ku oppa? Bagaimana dengan ku? bagaimana bila aku rindu?”

“aku bisa menelponmu atau mengirimimu email”

Hyunri menangis, siwon memeluknya erat. Dia tidak tega melihat kekasihnya menangis. Matanya pun menjadi merah, tapi ia kendalikan emosinya agar tidak terlihat lemah dihadapan kekasihnya.

“jangan menangis hyunri-ah, aku akan selalu mengabarimu. Aku akan selalu mengingatmu… kau tunggu aku disini ya. Percayalah aku akan pulang segera setelah menyelesaikan kuliah ku”

Hyunri tetap menangis dipelukannya…

__________ perpisahan, siwon pov __________

Aku memasukkan baju-bajuku ke koper besar, mengecek kembali barang-barang yang akan ku bawa. Hyunri hanya terdiam memandangiku. Akupun tidak sanggup berkata apapun lagi, aku takut bila aku bicara sulit bagiku menahan emosi ku. Cukup semalaman aku tidak tidur gundah memikirkan perpisahan ini.

Bagaimana tidak, sungguh berat aku meninggalkan hyunri seorang diri di tempat ini, tempat dimana kami selalu bersama sejak 2 tahun yang lalu. Setiap saat dia ada disisi ku, menenangkan ku saat bingung dan sedih, bersenang-senang bersama,dia selalu ada untuk ku. Kini, aku akan pergi sangat jauh dan lama. Aku tidak tau kapan aku pulang, yang pasti aku akan pulang setelah menyelesaikan study ku di Amerika. Aku akan menyelesaikan semua secepatnya.

Setelah memastikan semua siap. Aku kembali menatapnya, dia masih memandangiku dengan tatapan kosong. Mungkin kini dia sedang memikirkan banyak hal. Sama seperti ku. aku mendekatinya dan memegang kedua pipinya lembut.

“hyunri-ah… jangan khawatir ya. Aku akan pulang secepatnya untukmu..” mataku memerah. Dia masih bengong memandangiku dengan raut wajah yang membuat ku ingin menangis memeluknya. Tapi ku tahan, aku tidak bisa selemah itu. aku harus siap dengan perpisahan ini, ini keputusanku.

“hyunri-ah, kita tidak berpisah, kamu selalu ada disini” aku menuntun tangan kanan nya kedadaku, “kita hanya tidak bertemu untuk sementara. Jadi tunggu aku ya… jaga dirimu baik-baik”

Aku memandangnya lembut. Kemudian saat ku sadari air mata ku hampir tumpah, aku berdiri dan memalingkan wajah. Jangan sampai hyunri melihatku begini.

Akupun mengambil koper dan tas ku, “ayo hyunri kita kedepan”

Akupun keluar kamar diikutinya. Kami kedepan rumah, disana supir pribadi ku sudah menunggu. Aku memasukkan koper dan tas ku ke bagasi. Lalu aku memeluk hyunri mencoba menenangkan nya dan diriku sendiri sebelum masuk kemobil. Kami tidak berkata apa-apa. hyunri tetap terdiam dengan pandangan yang sulit ku artikan. Mobilpun berjalan, dari dalam mobil kulihat hyunri kemudian tersentak dan berlari mengejar. Aku memalingkan pandanganku, air mata ku benar-benar jatuh kini.

__________ hyunri pov __________

Siwon memeluk ku erat, sungguh aku masih tidak percaya dia akan pergi meninggalkan ku. aku berusaha sadar tapi tidak bisa. Banyak yang ingin ku ucapkan, tapi bibirku kelu. aku tersadar justru saat ku lihat mobil perlahan pergi, tanpa bisa ku kendalikan aku berlari mengejarnya.

“oppa, tunggu!! Oppa!! Oppaaaa!!” teriak ku, ku lihat mobil itu semakin jauh. Aku berhenti dan terduduk lemas dipinggir jalan, rasanya hati ku sesak sekarang.

tiba-tiba handphone dikantong short pants putihku bergetar.

1 pesan masuk…

From : Siwonie oppa

Please don’t cry beib… saranghaeyo

HWAITING!!

Aku kembali memandang mobil yang sudah sangat jauh itu sambil memeluk handphone ku didada, air mata yang ku tahan sejak tadi tumpah tanpa terbendung lagi.

__________ 2 tahun kemudian __________

Hyunri terlihat merenung didepan laptopnya, menatap inbox di yahoo-nya.

“aghh… dimana oppa? Sudah 2 minggu dia tidak mengabariku, tidak mengirimiku email, tidak mengirimiku surat atau menelponku. Padahal dulu, dia tidak pernah absen menghubungiku. Bila dia sibuk, dia pasti bilang padaku. Hmm… apa dia baik-baik saja?”

Hyunri terus mengotak-atik yahoo page-nya, berharap tiba-tiba ada inbox dari kekasihnya di Amerika. Namun yang iya tunggu tetap tidak ada.

Siwon terlalu sibuk belajar dan mengejar mata kuliahnya. Sehingga diwaktu luang dia terlalu capek dan memanfaatkannya untuk beristirahat.

__________ 1,5 tahun setelah itu, Hyunri pov __________

Pagi-pagi seorang pria terlihat mondar-mandir didepan rumahnya. Hyunri yang tinggal sendirian tentu saja merasa takut.

Siapa itu? mukanya tidak familiar? Dia mau apa? mengapa mondar-mandir seperti mengamati rumah ku… apa dia akan berniat jahat? Oh umma, lindungi aku…

Bisik ku dalam hati mengintip dari jendela. Ku putuskan mengambil stik golf ayahku untuk berjaga-jaga dan membuka pintu sedikit, sehingga cukup untuk mengeluarkan kepalaku.

“HEI! KAU SIAPA?APA YANG KAU LAKUKAN DISANA?” teriak ku membuatnya terkejut. Dia menatapku bingung dan tersenyum mendekat. Aku semakin erat memegang stik golf dari belakang pintu. SIAGA!!!

“mianhe noona, aku tersesat disini… can you help me?” dia berbicara dengan bahasa yang campur aduk dan terbata.

“AKU TIDAK KENAL! PERGI SANA!”

“tapi…”

“CEPAT PERGI… KAU JANGAN MACAM-MACAM PADAKU YA, ATAU KU PUKUL KAU!” teriak ku membahana sambil mengangkat stik golf ku bersiap memukulnya bila  keadaan mengancam. Pria itu terkejut dan langsung berlari sambil sesekali menoleh heran kearah ku.

“hufff… syukurlah dia sudah pergi. Akhir-akhir ini beragam cara orang lakukan untuk melakukan tindakan kriminal… huhhh, aku takut sekali…” ujar hyunri pada diri sendiri, lega. Dia pun segera masuk dan mengunci pintu.

Sorenya saat aku pulang dari mini-market didekat rumah, kudapati pintu rumah ku terbuka lebar. Kaget sekali aku melihatnya.

Hahh, siapa yang masuk rumah ku?? aghh.. bagaimana ini?

Aku waspada, perlahan mendekati pintu dan mengintip, melihat sekitar memastikan apa yang terjadi. semuanya terlihat biasa, tidak ada apa-apa.

“SIAPA DIDALAM??” teriak ku kemudian, masih berdiri waspada didepan pintu.

Tanpa ku sadari seorang pria mengendap-endap mendekat dan kini berdiri tepat dibelakangku, mengawasi tingkah ku dan kemudian ikut mengintip kedalam rumah dari belakangku. Penasaran!

“HALOO!! ADA ORANG DIDALAM??” teriak ku ulang. Pria itu tersentak kebelakang (sepertinya teriakanku mengagetkannya), dan itu membuatku menyadari keberadaan pria itu, aku pun kaget bukan main, nyaris terlompat. Melihat kekagetanku pria itu juga ikut melompat dan berteriak.

“AGHHH!!”

“AGGHHHH… KAU LAGI!? MAU APA KAU?” refleks aku mundur.

“ahh! sorry mengagetkanmu, aku kembali untuk bertanya…” pria yang sama dengan yang tadi pagi tergugup berbicara.

“mau apa kau dari ku??” sinisku gugup.

“sorry sorry… sungguh aku tidak berniat jahat. Aku Donghae…” hyunri menatap pria yang bernama Donghae itu dengan seksama. Sepertinya dia tidak menyeramkan. Sepertinya bukan muka kriminal.

“YA’! Donghae, jadi apa yang kau lakukan disini dari tadi pagi?” selidik hyunri.

“hmm… tidak kah kau biarkan aku masuk? Diluar hujan mulai rintik.  Kau percayalah, aku tidak berniat jahat” Donghae berusaha meyakini hyunri. Lagi-lagi hyunri memandanginya. Berusaha memastikan bahwa pria itu benar-benar tidak berniat jahat padanya.

“ya, mari masuk…” putusnya kemudian.

Mereka pun masuk. Donghae langsung mengulurkan tangan, hyunri pun menyambutnya.

“mianhe noona telah membuat mu takut, sekali lagi kuperkenalkan. Aku Lee Donghae. Aku baru saja datang dari SEOUL. Tadi pagi aku tersesat disini, karena rumah mu yang terdekat ku putuskan untuk kemari, namun beberapa kali ku ketok pintu tak ada jawaban, jadinya aku bingung dan berpikir didepan sana” buru-buru donghae menjelaskan dengan logat Taipei yang terbata-bata, untuk meluruskan kesalahpahaman. Sambil menunjuk ke arah depan rumah. Tempat dia mondar-mandir kebingungan tadi pagi.

Hyunri mendengarkan dengan seksama, berusaha memahami.

“oh, ne! tidak apa, lupakan saja. Aku hanya terlalu paranoid” kemudian aku memperkenalkan diri, “anyeyong donghae, aku hyunri, kebetulan aku pernah tinggal di SEOUL, jadi bicaralah dengan bahasa hangul, aku mengerti”

“ohhh.. hyunri. Kau mengerti hangul? Syukurlah aku tidak salah bertanya padamu”

“kau sedang apa disini?”

“disini? Bukankah tadi sudah ku jelaskan”

“oh, maksudku di Taipei”

“ahh, tadinya aku ingin mencari sahabatku. Kami sudah lama tidak bertemu, sebentar lagi dia ulang tahun jadi ku putuskan untuk memberikannya surprise dengan kedatanganku. Ternyata dia belum disini, dia masih ada urusan ditempat lain. Karena aku datang diam-diam, jadi ku putuskan untuk tetap tidak memberi tahunya sampai dia pulang”

“oiah?? Nekat juga ya, hahaa…. Kalau begitu kau menginap dimana?” hyunri melunak dan mulai tertawa.

“hee… ya, tak apa demi sahabatku. Sebentar lagi dia datang, jadi aku harus bersabar. Untuk sementara aku menginap di hotel sebelah. Hmmm, hyunri… maukah kau menjadi tourguide ku? aku benar-benar tidak tau tempat ini? Untuk menuju kesini saja aku banyak bertanya, meski beberapa orang yang ku tanya bingung dengan logat Taipei ku yang amburadul”

“ohh, hotel ‘xi xian’ iah… hmm, jadi sekarang ada yang bisa ku bantu?”

Donghae terlihat berpikir, “aku butuh sebuah mobil. Dimana aku bisa menyewa sebuah mobil?”

“mobil iah, kalau gitu di tempat kenalan keluargaku saja, siapa tau kau bisa menyewa mobil dengan harga yang lebih murah”

“oh kau punya kenalan!? Kebetulan sekali… aigooo, untungnya aku bertemu dengan mu. Mianhe hyunri sudah merepotkanmu”

“ne, tidak apa. aku juga nganggur. Ini waktunya libur kuliah”

“ohh, maaf mengganggu liburan mu” donghae terlihat tidak enak hati.

“oh tidak, tidak apa. minimal aku punya kerjaan sekarang, hahaa” hyunri tertawa kecil meluruhkan suasana.

Hari ini, aku dan donghae berjalan menuju ketempat penyewaan mobil kenalan appa ku. donghae menyewa sebuah sedan untuk 7 hari, sepertinya dia akan lama disini.  Sebagai permulaan aku mengajaknya ketempat-tempat yang menarik di Taipei. Saat kami menyusuri jalan dipinggir pantai, donghae terlihat excited sekali.

“aghh… ombak yang bagus, sepertinya kapan-kapan aku bisa surfing disini” dengan wajah berbinar dia berkata padaku.

“kau bisa surfing?”

“ya, aku dan sahabatku sering surfing dulu… tapi dia lebih mahir dariku. Sepertinya beberapa hari lagi dia akan pulang, dia harus mengajak ku bermain kesini, aigooo… sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, kau harus mengenalnya hyunri, dia pria yang baik sekali” donghae bercerita dengan semangat sambil terus menyetir mobil.

Ku pandangi dia sekilas, dia terlihat ramah dan lucu. Dia berbicara dan memperlakukan ku seperti aku sudah lama berteman dengannya. Membuatku tidak ragu bersikap sebaliknya padanya. Aku tersenyum kecil.

“hmmm, donghae. Kau masih kuliah?” tanya ku kemudian

“ne, aku kuliah semester akhir dan sekarang juga sedang liburan. Makanya aku kesini”

“jinja!? Sama donk.. berarti kita sebaya”

“oiah?? Tapi kau terlihat masih kecil, hahaa” donghae tertawa lepas, aku pun refleks meninju bahunya pelan.

“heh, ini namanya awet muda tau. Dari pada aku muka tua!”

“ya ya… betul sekali. Tapi sungguh aku pikir kau dongsaeng, ternyata kita seumuran. Kebetulan yang lucu ya, aku tersesat didepan rumahmu, kau bisa berbicara hangul, dan kita sebaya. Seperti sudah diatur”

“iya juga ya… haha aneh sekali” aku pun ikut mentertawakan keanehan itu.

“haha… mm hyunri, kita berteman ya?” tiba-tiba donghae mengulurkan tangan kanannya kearahku menunjukkan kelingkingnya. Aku menatapnya, dan mengaitkan kelingking tangan kananku juga dikelingkingnya.

Sepertinya dia orang yang baik dan menyenangkan, tidak ada salahnya juga aku berteman dengannya.

“baiklah kita teman sekarang”

Donghae banyak bercerita tentang dirinya padaku, dan dia pun bertanya tentang ku. tentang mengapa rumahku terlihat sangat sepi karena orang tua ku kebetulan sedang di Singapura. Tentang kuliahku, dan kebanyakan tentang segala sesuatu yang menarik di Taipei.

Sepertinya dia sangat menyukai pantai. Jadi ku putuskan besok akan mengajaknya bermain di pantai.

__________ esok hari, hyunri pov __________

Aku sedang menyiram bunga ditaman. Tiba-tiba donghae datang mengagetkan ku dari belakang.

“DARR..!!”

Aku terlonjak kaget. Hampir saja ingin menyiramnya.

“AGH… kau mengagetkanku saja. Sepertinya kau suka sekali mengagetkan orang, untung aku tidak punya penyakit jantung”

“hahaa…” donghae tertawa puas sambil memegang perut, “minahe hyunri, habis ku lihat kau fokus sekali menyiram tanaman. Sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku” aku pura-pura merengut, sambil melanjutkan menyiram bunga.

“hari ini kita mau kemana?” tanyanya kemudian.

“bagaimana kalau kepantai yang kemaren? Kau suka?”

“jinja!?? Ya aku mau aku mau…” donghae kegirangan. Aku langsung menoleh kearahnya dan tertawa.

Ckck… dia ini terlalu periang dan bersemangat. Lucu juga…

“eittt… kenapa kau tertawa??”

“hahaaa, kau lucu. Seperti anak kecil dapet ice cream!”

“MWO!? Enak saja, aku bukan anak kecil tau. Aku hanya terlalu bersemangat. Hihiii”

Kami tertawa, aku pun menyelesaikan tugasku, mengajaknya masuk kedalam rumah, kemudian berpamitan keatas untuk mengganti bajuku.

Kami pergi kepantai yang kemaren kami lalui. Pantai disana memang indah dan bersih, fasilitasnya lengkap namun tidak terlalu ramai. Karena pantai ini milik pengusaha swasta dan terkesan ekslusif. dipinggir pantai banyak depot penyewaan, caffe dan toko souvenir, semua tersedia lengkap disini, jadi kami bisa bermain dengan nyaman.

Kami memutuskan untuk menyewa papan selancar. Disana donghae menggurauiku, pura-pura berselancar tanpa ombak dengan gaya seorang professional sambil sesekali tertawa. Aku pun tertawa dan mengikutinya. Menaiki papan selancar disebelahnya sambil bergaya professional seperti yang pernah ku lihat di televisi.

“eh hyunri, lihat ombaknya besar.. ayo-ayo siap-siap” donghae berceloteh, mengajak ku membayangkan ombak yang besar, dia pun memasang gaya seolah benar-benar menghadapi ombak besar dan terjatuh. Aku tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkahnya.

Kami memutuskan menyewa sebuah papan selancar, kini aku sedang duduk sambil melihatnya bermain digulungan ombak pantai. Dia cukup mahir dan terlihat senang.

Namun tiba-tiba aku teringat Siwon oppa, humm, sudah lama aku tidak memikirkannya. Dia benar-benar sudah menghilang 1 tahun belakangan. Siwon oppa juga suka berselancar, dulu aku sering menemaninya disini.

Ahhh, sudahlah. Mungkin oppa sudah melupakanku…

Hati ku teriris memikirkannya.

Saat donghae selesai bermain, aku mengajaknya ke kafetaria milik ajussi ku. karena kebetulan kafe sedang sepi, aku memutuskan untuk meracik minumanku sendiri. Aku sudah cukup terbiasa melakukannya disini.

Saat aku sedang menyiapkan minuman untuk kami ber-2 di bar, donghae duduk, bernyanyi-nyanyi. Sambil menggangguku.

Ku akui, suaranya benar-benar bagus… mm, oppa juga memiliki suara yang bagus, dulu dia sering bernyanyi untukku..

Kemudian dia mengambil sebuah bunga dari vas bunga disampingnya, menggigit tangkainya dan bertepuk tangan seolah menari, meneruskan nyanyiannya sambil menggodaku. Membuat ku lagi-lagi tertawa.

Kami kemudian duduk ber-2 disudut dekat kaca agar donghae bisa memandang pantai. Kami berbicara banyak sambil terus berguru.

Ahhh, sudah lama sekali aku tidak seriang ini. Aku sendiri heran, jarang sekali aku bisa merasa senyaman ini dengan pria yang baru saja ku kenal. Yang pasti donghae bisa membuat ku nyaman, tertawa dan terus tersenyum. Hal yang sudah langka dari ku beberapa tahun belakangan ini.

__________ hari-hari berikutnya __________

Selama 4 hari ini setiap hari kami bersama. Aku mengajaknya berkeliling kota Taipei. Sesekali kembali kepantai, karena donghae benar-benar menyukai pantai dan tidak pernah bosan mengajak ku kesana. Dengan cepat dia hapal arah jalan menuju pantai. Kadang kami kembali ke kafetaria ajussi ku, sekedar duduk ngobrol sambil minum.

Pada malam hari donghae main kerumah ku, aku mengajaknya ke balkon atas rumah ku yang besar. Disana kami bergurau sambil memandangi bintang.

“aku suka bintang… mungkin terlihat girly bagi mu, tapi sungguh aku tau cara menikmati keindahan yang Tuhan sediakan dihadapanku. Bintang, malam, hujan, pantai, semua seperti seni ya” ujar donghae sambil terus memandang bintang.

“ya, bintang memang indah… aku kagum padamu, kau pria  yang baik. Kau bisa menghargai semua yang ada didepan mu dengan cara yang indah…”

“hahaa, puitis sekali pembicaraan kita hyunri-ah, aku merasa aneh kini, hahaa” akhir-akhir ini donghae mulai terbiasa memanggil nama ku dengan akhiran –ah, dan jujur aku menyukai panggilan itu.

“donghae… kapan kau pulang?” Tanya ku tiba-tiba.

“haa!??” donghae melongok heran kepadaku.

“maksudku kapan kau pulang ke Seoul? Jangan cepat pulang ya, lama-lamalah disini… aku betah bersamamu, menemanimu”

“mwo!? Sungguhkah?” donghae excited mendengar perkataanku.

“ahhh… jangan melihat ku seperti itu. maksud ku, aku senang ada badut seperti mu yang bisa membuat ku tertawa setiap saat, hahaa” hyunri tertawa mencairkan suasana.

“aissshhhh, ku kira…”

“heh? Kau kira apa? aku menyukaimu? Yang benar saja, haha”

“eh, emang kau tidak menyukaiku?”

“mmm….”

“kau tidak suka padaku hyunri-ah?” tanyanya tiba-tiba dengan nada serius. Aku kaget dan terdiam. Kemudian tertawa, tegak dari duduk dan beranjak kedalam rumah.

“aissh, sudah malam, pulanglah. Mana ada pria malam begini dirumah wanita yang sedang sendirian”

Donghae tetap penasaran karena hyunri belum menjawab rasa penasarannya. Dia benar-benar ingin tau. Tapi dia diam saja, kemudian dia berpamitan pulang, karena malam memang sudah terlalu larut.

__________ esok harinya __________

Pagi-pagi dia sudah nongol didepan rumah hyunri yang sedang melakukan kegiatan rutinnya dipagi hari setelah mandi, yaitu menyiram bunga. Dia terlihat bersemangat seperti biasanya, namun hari ini wajahnya berseri-seri sambil terus tersenyum lebar.

“Sahabatku akan pulang hari ini hyunri-ah, aku senang sekali. Kita harus menjemputnya… dia belum tau aku disini” katanya tiba-tiba.

“oh, ku kira kau dapat uang segepok, hahaa”

“aigooo, ini lebih dari uang segepok. Aku benar-benar merindukannya…”

“heh, sahabatmu itu pria atau wanita sih? Jangan-jangan kau homo ya? Haha”

“eitss… apa salahnya aku rindu pada sahabat pria ku? aku ini pria normal tau” protes nya membuat ku geli.

“hahaa… iya iya, mianhe… jadi kapan kita akan menjemputnya?” Tanya ku lagi.

“semalam dia bilang dia akan tiba pukul 11 siang ini, kita harus sudah disana setengah jam sebelumnya. Kalau perlu kita kebandara sekarang aja ya” ujarnya bersemangat.

“heh, kau gila. Masa kita dibandara 3jam? Ya sudah, mari masuk. Aku siap-siap dulu ya”

“ne hyunri-ah, jangan lama ya. Nanti kita telat”

“pabo kau! Telat apanya, masih lama tau…” donghae cuma senyum-senyum gaje.

__________ donghae pov __________

Dimobil, aku bernyanyi-nyanyi riang..

“ahh, aku tau lagu ini. Love U More-nya Super Junior kan? Aku juga suka lagu-lagu mereka…” tiba-tiba hyunri berkata. Aku mengangguk dan terus bernyanyi. Hyunri terlihat senang dan mengikutiku.

“ayo, sekarang kau yang nyanyi.. aku ingin dengar” kataku kemudian.

“waduh, aku tidak bisa bernyanyi”

“ahh, tidak apa… hayo cepat. 1 2 3”

“mmm…. Sorry sorry sorry naega naega naega moenjeo nege nege nege ppajyeo ppajyeo ppajyeo beoryeo baby”

Kami lalu tertawa.

__________ bandara __________

Sudah satu jam aku dan hyunri duduk menunggu, pesawat yang di naiki siwon belum juga tiba. Suasana hiruk pikuk, banyak juga orang yang menunggu disini, tidak lama pesawat tiba. Aku berdiri mengamati, terlihat dari pintu kaca, orang-orang mulai mencari barang mereka. aku belum melihat siwon.

“donghae, aku kemobil saja iah, disini ramai sekali. Kau tidak apa sendirian?”

“ne hyunri, aku tidak apa. pergilah kemobil, aku tidak akan lama” aku menyerahkan kunci mobil dan kembali melihat kearah pintu kedatangan.

Hyunri sudah hilang ke parkiran.

Cukup lama aku berdiri menunggu, beberapa orang yang sudah berjumpa orang yang ditunggunya (entah itu keluarga, teman) mulai pergi meninggalkan tempat ini. Aku mendongak, mencari-cari.

“SIWON-AH!!” teriak ku saat mendapati sosoknya keluar dari pintu kedatangan. Aku melambaikan tangan sambil berlari kecil menghampiri.

“AGHH, DONGHAE-AH!!” dengan antusias yang sama siwon memeluk ku.

“oh, friend. Apa kabar mu? Bagaimana keadaan mu? Sini-sini aku bantu bawakan barang mu” aku mengambil beberapa tas yang dipegang siwon. Siwon tersenyum lebar. Menepuk pundak ku.

“ahh, donghae-ah, kenapa kau disini? Aissh, aku rindu sekali padamu… kabar ku beginilah, sehat bukan? sama seperti dulu”

“ne, aku sengaja datang untuk mu. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sengaja memberi mu kejutan”

“ne, kau berhasil! Aku terkejut sekali saat melihat mu ada disini… kau tambah keren saja” katanya bersemangat. Aku mencibirnya.

“ais, kau itu yang tambah keren. Mana mana oleh-oleh untuk ku?” aku mengulurkan tangan (bercanda).

“bodoh! Kau tidak bilang kau ada disini.. tapi tenang aku ada sesuatu buat mu nanti. Hayo, dimana kau parkirkan mobil mu, untung aku belum menelpon supirku” kami berjalan menuju parkiran sambil terus berbincang.

“itu mobil ku, tepatnya mobil yang ku sewa beberapa hari yang lalu, hehee” aku menunjuk sebuah sedan hitam.

“oh iya, aku ingin mengenalkan seseorang padamu” ujarku lagi. Siwon melirik ku, matanya menggodaku..

“aih, kau membawa seorang gadis?? Hahaa… sudah besar kau ternyata”

“heh, kau kira kau sudah besar!? Kita kan sebaya tau” protes ku.

“tapi kan disekolah dulu kau tidak pernah pacaran. Kau terlalu polos donghae..haha”

“ya! Itu dulu, kini berbeda, itu sudah lama sekali, aku masih kecil bodoh!” aku tertawa dan berlari kecil menghampiri mobil dan membuka pintu.

“hyunri-ah, ini sahabat ku” siwon mendekat dengan semangat dan tersenyum ingin mengucapkan salam pada gadis itu sebelum akhirnya dia terpaku diam.

__________ hyunri pov __________

Aku kaget sekali, rasanya jantungku mau copot, jadi aku hanya terdiam saat menyadari sosok dihadapan ku yang juga tiba-tiba ikut terdiam kelu.

SIWON OPPA!??

Aku diam dan tersenyum tidak enak hati, berusaha mengalihkan pandangan ku, sampai kemudian dia berkata,

“anyeyonghaseo…” ujarnya pelan. Senyumnya tiba-tiba menjadi hambar. Donghae tidak memperhatikan kami lagi karena dia sedang memasukkan barang siwon ke bagasi.

Aku keluar dan pindah kebelakang. Donghae masuk kemobil dan siwon duduk disebelahnya.

Siwon menatap lurus kedepan. Tidak banyak bicara.

Apa dia tidak mengenalku? Kenapa dia diam? Apa donghae tau?

Donghae menjalankan mobil, dia masih terlihat riang.

“hyunri-ah, sudah berkenalan dengan sahabatku ini?” donghae melihatku dari kaca.

“… ne” jawabku pelan.

Donghae menepuk tangan siwon pelan.

“siwon-ah sahabat terbaik ku. kami dekat saat SD dan SMP, sejak dia pindah ke TAIPEI, kami berpisah. Tapi kita tetap berhubungan. Iya kan siwon?”donghae bertanya pada siwon, memastikan perkataannya.

“ne” jawabnya singkat dan terus menatap lurus kedepan.

Aigooo… kenapa aku tidak menyadari dari kemaren ya? SEOUL, ya oppa memang lahir di SEOUL, dia baru pindah ke Taipei bersama keluarga saat SMA. Donghae pernah bilang sahabatnya pintar bermain surfing, saat itu aku mengingat siwon oppa, tapi aku tidak tau kalau itu benar-benar siwon oppa. Donghae bilang sebentar lagi sahabatnya akan berulang tahun, tentu saja besok oppa berulang tahun. Aissh, kenapa aku tidak bertanya dan menyadarinya dari kemaren-kemaren.

Kini aku bingung, sungguh bingung.

“hyunri-ah, kau diam sekali. Biasanya kau bawel dan ceria. Ada apa? apa karena siwon? Oh.. tak perlu sungkan dengannya. Dia sahabat terbaik ku, jadi dia sahabatmu juga. Iya kan?” donghae bertanya lagi kepada siwon. Tanpa ku sadari siwon melihat ku dari kaca sebelum akhirnya berkata singkat, “ne”

“aisshhh… kaku sekali kalian, dari tadi na ne na ne… ayo berbicara”donghae terlihat canggung dengan suasana ini.

__________ siwon pov __________

Aku bingung harus bagaimana, aku melirik hyunri dari kaca. Dia sedang menatap keluar jendela. Donghae terlihat semakin canggung dengan keadaan ini.

“ahh, donghae, sudah barapa lama kau disini? Kau tinggal dimana?” Tanya ku pada donghae, membuka suara.

“hmmm, kalau tidak salah sudah seminggu aku disini, aku menginap dihotel ‘xi xian’, makanya aku bertemu hyunri”

Mmm, sepertinya donghae tidak tau tentang kami..

”kalau begitu kita kehotel, kau harus ngungsi kerumah ku. lalu apa-apaan ini, kau menyewa mobil hampir seminggu? Dasar pabo, buang-buang uang saja. Coba kalau kau bilang padaku, kau tidak usah serepot ini. Kau kan bisa pakai mobil ku” aku ngoceh panjang lebar (lupa dengan keberadaan hyunri beberapa detik), donghae tersenyum lebar.

“hahaa… kalau aku bilang bukan surprise namanya!!”

“sudahlah, pokoknya kita kehotel dulu, ambil semua barangmu”

“OKE BOS!!” donghae menjawab tegas. Sambil terus menyetir.

Kemudian aku melirik hyunri lagi dari kaca, aku hampir saja berkata (lebih baik kita antarkan hyunri pulang saja…) namun, donghae sudah duluan bertanya padaku,

“siwon, tidak apa kan hyunri ikut kita kerumah mu? Dia sudah banyak membantu seminggu ini… lagi pula lebih ramai lebih menyenangkan bukan!?” aku terkejut, namun aku akhirnya terpaksa mengangguk.

Jantung ku terus berdetak kencang…

__________ rumah siwon, malam hari __________

Aku benar-benar ngungsi kerumah siwon sahabatku, mobil sudah kami kembalikan ke tempat penyewaan, bahkan siwon yang memaksa untuk membayar harga sewa mobil itu meski aku sudah melarangnya. Malam ini dia mengajak ku dan hyunri untuk dinner bersama dirumahnya. Sebenarnya aku yang mengajak hyunri, malah siwon sempat tersenyum dan menggoda,

“wah sepertinya dia special bagimu…” sebenarnya godaannya lebih kepada sindiran. Aku tidak mengerti, tapi aku ketawa saja dan menjawab.

“ne, entah kenapa dia jadi penting”

Ku lihat siwon sibuk mencari baju yang akan dipakainya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk memakai kemeja lengan pendek berwarna biru dan jeans panjang berwarna hitam. Dia terlihat gagah meski agak kurus.

“kau kurusan, difoto yang kau kirim terakhir kau masih terlihat bagus” aku memperhatikannya dari atas kebawah.

“oiah? Apa aku terlihat buruk? Aku benar-benar bekerja keras di sana, makanya aku bisa menyelesaikan semua dalam waktu 3,5 tahun”

“oh, tidak, kau masih bagus koq. Cuma kurusan aja… ahaa, aku ingat, kau cepat-cepat pasti ingin bertemu pacarmu yang pernah kau ceritakan itu. apa kau mengundangnya malam ini?” aku tersenyum.

“sebenarnya iya, tapi sepertinya dia sudah melupakanku” lirih siwon pelan. Refleks aku melompat mendekat.

“jinja!? Bagaimana bisa dia melupakanmu? Dia selingkuh??” siwon tiba-tiba terkejut.

“ahh, lupakan… mari kita cepat kebawah, teman wanitamu pasti sudah lama menunggu” setelah memastikan penampilannya sudah rapi. Siwon beranjak keluar kamar. Aku cepat merapikan bajuku dan mengikuti siwon kebawah.

__________ hyunri pov __________

Sebenarnya aku tidak mau ikut dinner ini, tapi donghae memohon padaku dengan tatapan yang lembut. Aku tidak bisa menolaknya. Sakit rasanya aku menyadari siwon benar-benar sudah melupakan ku.

Setelah ku pastikan baju dan rambutku rapi, aku mengulaskan make-up secara minimalis. Aku duduk diam didepan kaca dengan beragam perasaan dan pikiran, takut, marah, sedih. Semua menjadi satu. aku turun kebawah, menunggu donghae datang menjemputku. saat itulah aku melihat tulisan

14 APRIL 2002

Our love forever

-HYUNWON-

Tulisan itu ditulis oleh siwon dengan sepidol biru terang kesukaannya, (katanya itu warna pearl blue) saat ulang tahun ku yang ke 18. Aku mengambil tip-ex dari sebuah laci dan menghapus tulisan itu.

Kemudian aku terduduk dan menunduk, aku ingin menangis. Tapi air mata ku tidak keluar lagi. Aku ingat setahun yang lalu sejak siwon oppa benar-benar hilang dan tidak memberiku kabar. Padahal mungkin sudah puluhan email ku kirim ke yahoo nya. Aku mencoba menghubungi nomor handphone nya, tapi tidak pernah aktif lagi. Hampir tiap malam aku menangis memikirkannya, aku rindu, aku bingung dan takut. Berkali-kali aku menangis hingga rasanya air mata ku habis.

Kini aku tidak bisa menangis lagi, siwon benar-benar sudah melupakanku. Akupun semakin nyaman disisi donghae. Memang aneh karena baru seminggu aku mengenalnya. tapi itu yang ku rasa.

Lupakan siwon, lupakan.. dia tidak mengenalmu lagi, dia tidak mengingatmu lagi…

Donghae menjemputku. kamipun kerumah siwon dan dinner bersama. Siwon sudah semakin banyak bicara, tidak diam seperti dimobil tadi siang. Dia dan donghae saling bertanya dan bercerita berbagi pengalaman. Aku hanya sesekali menjawab ketika donghae menanyaiku. Kadang ku lihat siwon masih menatapku tanpa ekspresi. Saat donghae mengambil sebuah steak dan meletakkannya dipiring ku siwon kembali memandangi ku, aku melihatnya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke steak dipiringnya dan tersenyum simpul.

__________ siwon pov __________

Aku menoleh, memperhatikan donghae yang sudah terlelap disamping ku. tadinya pembantu ku sudah menyiapkan sebuah kamar tamu untuknya, tapi dia bersikeras untuk tidur dikamarku,

“buat apa aku disini kalau tidak bersama mu, pokoknya aku mau tidur dikamarmu, kita bisa bercerita sebelum tidur seperti dulu saat kau sering nginap dirumah ku” ocehnya saat itu sambil mengangkut kopernya kekamarku. Aku tertawa saja melihatnya.

Kami sangat dekat, aku sudah menganggapnya sebagai kakak ku, kami hanya berbeda beberapa bulan. Tapi dia bersikap seperti seorang dongsaeng saja… jadi aku terus ingin melindunginya.

Pernah dulu waktu sekolah dia dikeroyok orang yang tanpa sengaja kami senggol dikantin. Kami menumpahkan makanannya, dia marah meski aku sudah mengganti makanannya. Donghae tentu saja tidak terima, karena dia sudah minta maaf. Ternyata orang itu memanggil temannya dan memukuli donghae saat pulang sekolah. Saat aku tau, tentu saja aku marah. Aku benar-benar tidak terima.

Jadi esoknya tanpa sepengetahuan donghae aku mendatangi orang itu dan menghajarnya hingga dia terkapar dilapangan basket. tentu saja perbuatanku membuatku dipanggil kepala sekolah. Donghae datang membela ku dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Aku tetap dihukum, meski diperingan. Aku hanya diskors 2 hari.

Saat itu Donghae memarahi ku,

“AKU TIDAK SUKA KAU SEPERTI ITU SIWON!” bentaknya tegas. Dalam beberapa situasi sosok nya menjadi dewasa. Tapi tidak pernah aku melihatnya semarah itu, sehingga membuatku kaget.

“AKU TIDAK TERIMA KAU DIKEROYOK..!! ITU BUKAN SALAH MU, LAGIAN KITA SUDAH MENGGANTI MAKANANNYA DAN KAU SUDAH MINTA MAAF! AKU TIDAK SUKA HARGA DIRIMU DIINJAK2!” teriak ku tak kalah keras.

“TIDAK DENGAN CARA SEPERTI ITU CHOI SIWON! AWAS BILA KAU SEPERTI INI LAGI, AKU TIDAK MAU BERTEMAN DENGANMU”

“AHHH TERSERAH KAU SAJA LEE DONGHAE!! SUDAHLAH.. AKU PERGI!!” aku berbalik dan pergi, namun kemudian donghae memanggil ku lirih.

“siwon… aku hanya khawatir padamu. kau sahabat ku, sudah ku anggap saudaraku. Jadi jangan mencemaskan ku seperti ini, aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Beruntung kau menang, bagaimana bila kau yang babak belur, aku tidak bisa membayangkannya…” aku berbalik menatapnya. Dia terlihat murung dan sedih. Ya, sebenarnya dia marah karena dia memikirkan ku.

aku mendekatinya dan menunduk, “mianhe donghae. Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi…”

donghae tersenyum dan memeluk ku, menepuk2 punggung ku dan kami tertawa.

“maaf aku sudah marah tadi”

“oke, lupakan”

Aku tersenyum mengingatnya. Aku dan dia berteman sejak SD. Sejak aku pindah pun kami masih sering bertelepon dan saling mengirim email. Aku memang pernah bercerita tentang hyunri, tapi aku tidak pernah bilang nama hyunri. Aku cuma bilang aku berpacaran dengan seorang gadis yang baik, aku mencintainya dsb.

“donghae-ah, kau terlihat nyaman saat bersamanya, bisa ku lihat dari sorot matamu. Aku sangat mengenalmu. Benarkah tebakkan ku?” Tanya ku sambil terus memandang sahabatku ini. Aku memang tidak memerlukan jawabannya. Karena aku tau jawabannya.

“donghae-ah, aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Biarkan semua seperti ini dulu… selama kau senang, aku ikut senang. Kau sahabat terbaik ku. aku tidak tega memberitahu mu, aku tidak ingin kau kecewa… jangan pikirkan tentang aku. Yang penting kini kita bisa bersama lagi. Itu sudah membuat ku cukup bahagia…” aku masih memandangnya. Kemudian kuputuskan untuk tidur. meski aku sulit memejamkan mata. Aku ingat semua kenangan kami saat 2 tahun bersama, 3,5 tahun yang lalu.

hyunri… apa kau masih ingat padaku? Apa kau masih memikirkan ku? tidak kah kau tau bahwa pontang panting aku mengejar study ku selama 3,5 tahun agar cepat bertemu dengan mu lagi. Akhirnya aku sakit, handphone ku hancur… aku tidak bisa menghubungimu, bodohnya aku lupa nomormu yang baru kau ganti waktu itu. email ku di hack orang, dan aku terlalu sibuk untuk mengeceknya kembali.

“arghhh…” tiba-tiba kepala ku sakit lagi. Beginilah kalau aku terlalu banyak berpikir. Selalu begini sejak kecelakaan 1 tahun yang lalu, sejak kepala ku mendapat benturan keras. Sejak itu juga aku kehilangan kontak denganmu.

Senyum hyunri terbayang dikepalaku, tawanya untuk ku, suaranya yang lembut… aghhh

Perih… rasanya perih…

__________ hyunri pov __________

Aku sedang menyiram bunga (lagi) saat kulihat mobil siwon berhenti dididepan rumah ku.

Donghae turun dari sana dan menghampiriku, dia memakai kemeja yang siwon berikan padanya “hyunri kau lagi menyiram bunga?”

“ne, kau sama siwon?” Tanya ku melirik kemobil.

“tidak aku sendirian…”

“oh” jawab ku pelan, sambil tersenyum kecil.

“mm… hyunri-ah, kau sakit? Kau terlihat lelah” donghae meraba kening ku. aku menggeleng.

“aku tidak apa-apa, eh ayo masuk. Kau sudah sarapan? Aku buatkan sarapan ya”

“ah, ide bagus! Walau aku sudah sarapanpun aku pasti bilang belum, hehee” donghae nyengir-nyengir gaje.

Aku pun langsung kedapur diikuti donghae, aku memasak kannya nasi goreng ayam. Dengan telur yang didadar. Donghae menatap nasi goreng dihadapannya.

“wah… nasi goreng ayam dengan telur dadar, kalau ada siwon dia pasti suka” gumamnya membuat ku tersentak.

Ya, nasi goreng ayam telur dadar adalah kesukaan siwon. Bahkan dulu dia yang sering mengajak ku memasaknya bersama. Aku hampir saja lupa…

Ku lihat dengan lahap donghae menghabiskan nasi gorengnya, sedangkan aku menatap nasi goreng ku.

Siwon oppa…

Aghhh, lupakan dia, hyunri… dia sudah lupa padamu…

Aku kembali melihat donghae, “hyunri, nasi goreng buatan mu enak sekali” katanya sambil tersenyum lepas.

Ah, sama seperti siwon oppa, dulu pertama kaliaku memasakan nasi goreng kesukaannya ini dia pun berkata, “hyunri-ah, nasi gorengnya enak sekali”

Aku melahap nasi goreng ku. dan tersenyum.

“hyunri, bisa masakan 1 porsi lagi, hari ini siwon kan ulang tahun, dia pasti senang kalau ku berikan nasi goreng ini, tadi pagi dia sarapan roti dikit sekali, hanya sepotong, semua aku yang menghabiskan, hehee”

Ya Tuhan, sungguh hari ini aku justru lupa ulang tahun siwon oppa… aisshh

“kau tidak keberatan kan?” Tanya donghae lagi.

“oh, ne. akan aku buatkan nanti. Jadi apa rencana mu?”

“rencana… ahaa!! Kita kepantai, main surfing, lalu mengajaknya ke kafetaria ajussi mu, aku akan membelikan kue. Kita makan disana malam ini”

“ide bagus… telponlah dia”

“ne!” donghae mengambil handphonenya dan menelpon siwon

“kau dimana? Sudah selesai urusanmu? Ingat, kau bertanggung jawab terhadap ku disini, jadi kapan kau ajak aku keluar? Aku ingin surfing dipantai”

“eiiitzzz… nanyanya banyak banget, pelan-pelan goblok!!”

“hahaa… iya iya, kau dimana? Aku ingin surfing hari ini”

“aku sudah dirumah, jemputlah aku, aku bersiap dulu”

“oke! Cepat ya. Aku sampai kau harus sudah siap”

“sip bos!!”

Telephon ku tutup.

“sip, beres. Sekarang masak kan lah nasi goreng untuknya. Sebentar lagi kita jemput dia dirumah”

Aku pun memasakkan 1 porsi nasi goreng ayam telur dadar untuk siwon. Setelahnya kami menjemput siwon di rumah. Siwon sudah semakin ramah kepadaku. Membuat ku merasa tidak begitu takut lagi. Aku dan donghae pun mulai bisa bersenang-senangr.

Aku melihat mereka ber2 berselancar. Dua-duanya kini adalah orang yang penting bagiku. Tapi entah mengapa sikap siwon membuatku lebih nyaman berada didekat donghae yang selalu riang dan bersemangat. Setelah mereka puas main, donghae memberikan nasi goreng itu kepada siwon, dia menatapku sebentar dan aku tersenyum. Lalu dia memakannya lahap.

Kemudian kami menyusuri pantai menuju ke kafetaria, disana kami sudah menyiapkan kue untuk siwon.

Dia senang sekali saat donghae muncul dari belakang dan membawa sebuah kue. Kami pun bernyanyi.

“make a wish… make a wish” ujar donghae. Siwon pun memejamkan mata dan kemudian meniup lilinnya. Donghae bertepuk tangan.

Kami memakan kue itu. tiba-tiba terdengar lagu super girl-nya super junior M. Donghae dan siwon langsung berjoget-joget kesenangan sambil terus bercanda. Aku tersenyum lirih melihatnya.

Mereka terlihat senang sekali. Membuat hati ku miris.

Sepertinya hanya aku yang dihantui perasaan ketakutan karena semua ini…

Setelah makan malam, kami duduk diluar. Donghae dan siwon membuat api unggun, suasana malam dipinggir pantai terasa indah. Aku duduk disebelah kanan donghae, siwon duduk disebelah kiri-nya juga.

Kami memandang bintang bersama…

___________ siwon pov __________

Aku ingat saat aku memberikan surprise di anniversary kami ke-2 saat memandang bintang. Suasana yang sama indah, sama romantis…. Bedanya kini hyunri tidak disisi ku, dia duduk disamping donghae.

aku melihat hyunri, dia tertidur dibahu donghae.

Aku berkata pada donghae, “dia tertidur”

Donghae melirik hyunri dan tersenyum.

“baru kali ini aku menyayangi gadis seperti ini,.. sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku sudah tertarik padanya, ternyata pribadinya juga baik dan menyenangkan, itu membuatku senang disampingnya…”

“kau mencintainya?” Tanya ku pelan.

“ne siwon-ah, aku mencintainya” ku lihat donghae, menggenggam tangan kiri hyunri erat, “aku ingin selalu bersamanya, disampingnya”

Aku ikhlas, sekarang…

“congrats donghae-ah” aku tersenyum tulus.

Aku kembali memandang langit, kusadari beberapa kunang-kungan berterbangan disekitar kami… aku ingat dulu, aku pernah memberikan hyunri botol dengan 2 kunang-kunang didalamnya. Entah botol itu masih ada atau tidak.

Kulihat donghae membangunkan hyunri, “hyunri-ah lihat ada kunang-kunang” donghae menunjuk ke atas. Ke arah kunang-kunang yang berterbangan.

Semua terasa indah, indah sekali…

__________ esok harinya __________

Kami ber-3 jalan menuju stasiun.

“kenapa kau harus pergi secepat ini? Jauh-jauh aku datang untuk mu, kau malah pergi” oceh donghae cemberut.

“haaa, mianhe sahabatku, aku benar-benar harus segera pergi. Aku janji suatu saat aku akan mendatangimu”

“jinjaa!?”

“ne…”

“tapi siwon-ah, bagaimana dengan pacar mu itu, katamu kau kehilangan pacar mu. Apakah kau sudah bertemu dengannya?” donghae bertanya. Tentu saja pertanyaan itu membuat hyunri terkejut.

“ne, aku sudah menemukannya. Tapi dia bukan milik ku lagi. Tapi sudahlah, aku bahagia disini bersama kalian.. aku pergi ya, keretanya akan segera berangkat”

Donghae menatapku sedih,

Mianhe donghae-ah, mianhe…

Aku memeluknya, “pokoknya terus hubungi aku, kau janji harus mengunjungiku nanti” donghae terus berbicara lirih.

Aku mengangguk, kemudian melepaskan pelukanku. Aku menatap hyunri dan memeluknya.

Aku berbisik “aku pergi, jaga sahabatku ya”

Hyunri diam memandangiku penuh makna. Aku tersenyum dan segera naik kekereta. Dari jendela ku lihat mereka ber-2 masih memandangiku sambil bergenggaman tangan.

Kepala ku sakit…

Aku ingat saat di Amerika aku bersemangat mengejar study ku, hanya satu yang ku pikirkan, AKU INGIN CEPAT PULANG DAN BERTEMU HYUNRI, gadis yang selalu setia hadir dimimpi ku.

Dia motivasiku, meski dia tidak tau. Dan saat aku datang, sahabatku hadir. Sungguh aku sangat bahagia.

Tapi 1 hal, dia kini bersama hyunri-ah, awalnya aku kaget. Tapi kuputuskan untuk diam dan ikhlas. Kini 1 hal lagi ku pikirkan. AKU INGIN ORANG-ORANG YANG KUCINTAI BAHAGIA. aku yakin, melihat mereka bahagia aku akan bahagia.

Seperti yang ku rasa kini, mungkin hati ku perih. Tapi aku lega. Aku lega karena Hyunri-ah yang ku cintai bersama pria yang tepat. Aku yakin donghae-ah akan selalu menjaganya. Aku juga lega karena donghae bahagia, akhirnya ku lihat dia jatuh cinta.. meski cintanya menyakitiku.

Kapanpun dan dimanapun, siapapun yang ku temui… aku rasa kebahagiaan itu selalu ada… ^^

Aku menatap kaca, melihat pemandangan diluar sana. Dan kereta melaju semakin cepat.

Biarlah dia tidak tau apa-apa, aku tidak ingin dia menyakiti donghae..

“donghae-ah, aku tidak yakin. Tapi kuharap aku masih bisa bertemu dengan mu lagi nanti” gumamku dalam hati, aku memegangi kepala ku yang semakin sakit.

Tiba-tiba semua terlihat putih dan ringan.

-THE END-

author : onEfullmoon (twitter : chana2min)

Satu Tanggapan to “FIREFLIES”

  1. Putri Fajar Chairani (@Rani0325) 30 Juni 2012 pada 9:49 PM #

    siwon oppa bener2 pria sejati….dy merelakan pacar yang sangat dicintai buat sahabat tercintanya…tapi sedih siwon oppa sakit dan sampai pingsan di kereta…
    gimana keadaan siwon oppa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: