Neptune

18 Sep

In the middle of night,I woke up and asking my self ..
“Where’s honey?”
I was speechless …there’s no call,no message,nobody sleep beside me …Slowly my tears was falling down and my heart so empty,I felt nothing and alone . Then I remembered a face,a smiling face and said to me.”Don’t cry honey,whatever will be happen just don’t cry and keep strong,cuz you’re my strongly girl,”
A voice?? Who’s he?? A gently soft voice …and my heart feel so warm.
Then again,Im crying …I was crying but I felt so strong !
Well…
Where’s honey?
He has a long journey to a very far away place.
I’ll be okay,im still here for waiting…
Day a day,week a week,month a month,year a year…
How long until we’ll meet again,im here for waiting eternally

Neptune

“Nene,apa kamu yakin akan ikut aku?”tanya Kibum.
”Iya oppa,aku nggak mau pisah sama kamu! Bawa aku kemana pun asal kita nggak putus,”jawabku yakin.
Saat ini pacarku Kibum,sedang berada di Yale. Selama 2 minggu dia berada di sana karena ada kumpul keluarga. Usut punya usut ternyata Kibum akan dijodohkan dengan wanita pilihan keluarganya. Karena aku masih berumur 18 tahun dan kedudukanku lebih rendah daripada Kibum baik di segi status keluarga dan pendidikan,orang tua Kibum menolakku sebagai kekasihnya dan selalu berusaha memutuskan kami. Berkali-kali kami putus,namun selalu kembali lagi karena kami merasa tidak pernah sanggup berpisah. Akhirnya Kibum mengeluarkan ide gilanya untuk membawaku kabur ke Busan. Entah bagaimana caranya,karena aku sudah nggak sanggup lagi dengan keadaan ini. Pertama orangtuanya yang tidak merestui,sekarang ibu dan kakakku malah melarangku berhubungan lagi dengan Kibum. Aku merasa mereka semua terlalu jahat pada kami.
”Nene kamu yakin mau tinggal bareng Kibum?”Tanya teman-teman sekampusku.
”Ne,aku akan pindah ke Busan. Yaa kalau kuliah aku masih kok,nanti aku ngekost di sini,kalau weekend baru ke Busan. Kibum juga,dia kan mau cari uang,jadi dia praktek di rumah sakit pinggiran kota Busan supaya nggak ketahuan orang-orang maminya,”jawabku.
Mereka semua terdiam. Nampak cemas.
”Kami akan menikah,walau diam-diam dari keluarga tapi sah secara agama dan hukum. Karena itu Songhee,aku minta kamu temani aku ya,karena yang lain pasti nggak akan bisa hadir,”ujarku.
”Aku bisa kok,”kata Hyeri.
”Aku juga,”kata Rigi ikut-ikutan.
”Aku juga deh ikut!” sahut Eunhee. Aku lalu memeluk mereka.
”Nene,tapi janji pada kami ya,secepatnya orangtua kamu harus tahu,”ujar mereka. Aku tersenyum senang.
Sementara itu…
”Mwo?! Kamu mau nikah lari sama Nene?!”tanya Heechul kaget.
”Ne hyung,aku mau beli rumah di Busan. Trus kerja di rumah sakit dekat sana,selama uang yang dari Resort mengalir,aku bisa kok ngidupin Nene. Aku nggak tahan lagi kayak gini terus hyung,hyung tau kan aku sayang banget sama Nene dan aku gak tahan dipaksa ninggalin Nene terus,”jawab Kibum.
”Wah gila kamu bener,kamu ingat kan Nene tuh baru 18 tahun?! Trus kamu gak mikirin keluarga kalian apa?”tanya Heechul yang sangat menentang ide gila Kibum.
”Aku tau…Memang ini gila,dan ini hal bodoh. Tapi aku rasa ini yang terbaik. Lama-lama orangtua akan ngerti hyung,aku kenal ibuku ..walau keras dia juga gak akan tega gini terus denganku,pelan-pelan aku akan bilang ke mereka. Ke orangtua Nene dulu pastinya,”jawab Kibum.
”Sob,aku liat kamu lagi kacau. Sebaiknya kamu pikirin dulu hal ini baik-baik,”saran Kyuhyun lalu dia & Heechul meninggalkan Kibum yang sibuk mengacak-acak rambutnya sendiri.
Bukan hanya mereka yang keberatan dan terkejut dengan rencanaku dan Kibum. Semua sahabatku juga…
”Mau nikah? Jangan gila lo yee,kalo kamu gitu aku gak akan mau temenan lagi ma kamu! pikir dong Ne orangtua kamu …trus kamu mau buat Kibum jadi anak durhaka di mata orangtuanya? Kamu gak kasihan? Ya ampun Ne,kamu tuh masih muda…,”omel Minhwa.
”Nikah? Kalau memang itu satu-satunya solusi terserah kamu Ne,tapi pikirin orang tua kamu,setidaknya kamu harus ngomong ke mereka,”saran Hyunmei.
”Aku cape oppa!”keluhku saat ditelepon Kibum.
“Aku juga,mereka itu benar,tapi mereka gak berada diposisi kita,”ujar Kibum.
”Kalau gitu aku akan bilang ke eomma sekarang! Masa bodoh! Dan oppa harus berani ngomong sama eommaku!”ujarku lelah.
”Jangan jagi,”kata Kibum.
”Kamu selalu gitu…ga punya nyali!”
”Bukan gitu,kalau kamu memang mau terima resiko,ayo kita temui langsung. Aku nggak mau lewat telepon,”kata Kibum.
Lalu kami pergi ke kota asal keluargaku dan menemui kedua orangtuaku.
”Kamu harus berani ya,”kataku sembari menggenggam tangan Kibum.
Pukul 20.15,dengan mencarter mobil kami ke rumah. Mengetuk pintu dengan gugupnya sampai wajah ceria adikku,Onew,menyambut kami.
”Noona?!”teriak Onew kaget.
”Nuguseyo Nyu?”suara eomma terdengar dari dalam.
”Nene onnie,ma!”jawab Onew lalu segera masuk ke dalam.
Tak lama kemudia Onew datang sambil menarik lengan eomma. Eomma terkejut melihatku datang,lebih terkejut lagi melihat Kibum. Lalu onnieku,Taeyeon keluar dan ikut terkejut melihat tamunya,disusul appa yang tercengang melihatku pulang tiba-tiba.
”Mwo?! Kalian mau menikah?!”tanya mereka semua.
”Mianhe ahjussi,ahjuma,Taeyeon onnie… Aku tau,aku lancang… Pernah menyakiti hati ahjuma secara tidak sengaja karena bertengkar dengan Taeyeon noona,pernah marah-marah sama Taeyeon noona,maafin aku. Maafin aku yang suka buat Nene nangis dan uring-uringan. Aku tau ahjuma nggak mau liat Nene sedih,makanya ahjuma benci aku. Tapi aku sayang sama Nene,aku cape begini terus dengan Nene. Jujur,aku selalu menuruti keinginan mami dan papi,meninggalkan Nene dan mencoba bersama wanita pilihan mereka,tapi selalu gagal! Aku selalu kacau tanpa Nene,nggak bisa tanpa Nene… Karena itu,aku yakin ahjuma dan ahjussi punya hati yang lebih lembut dibanding mami dan papi,tolong terima kami!”Kibum berlutut di hadapan mereka bertiga sambil menangis. Aku Cuma bisa menangis melihat usaha keras Kibum yang sambil berlutut memohon pada mereka. Eomma,appa & Taeyeon onnie diam,aku menebak-nebak air muka mereka…seakan ingin menendang Kibum saat ini juga. Hatiku terasa sakit. Namun ternyata eomma berlutut dan mengangkat bahu Kibum.
”Duduklah Kibummie,”kata eomma.
”Oppa?”tanya eomma kepada appa. Appa hanya diam. Taeyeon onnie lalu duduk saat Kibum kembali duduk di sampingku.
”Kesini nak,”ujar eomma padaku. Aku lalu menangis dan berlari ke pelukan eomma.
”Ssssttt..sudah sudah,diam,”kata eomma.
”Sekarang,mau Nene bagaimana?”tanya eomma.
”Tolong ma,restui kami dan jadi wali kami…,”jawabku sambil terisak.
”Eomma yakin,Kibum bisa menghidupi Nene,bisa membimbing Nene,bisa menjadi imam yang baik buat Nene…Tapi Kibum,eomma minta kamu segera bicarakan baik-baik pada orangtuamu,”kata eomma.
”Maksud eomma?”
”Boleh,asal kamu bicarakan ini dulu pada orangtuamu. Mengerti?”
Setelah itu aku dan Kibum disuruh berangkat ke Yale. Eomma dan Taeyeon onnie memaafkan dan menerima Kibum lagi karena keberanian Kibum yang datang pada mereka. Apa yang dilakukan Kibum menandakan jika dia serius denganku. Sekarang tinggal aku yang berani mengambil resiko untuk bertemu orangtua Kibum.
Yale,13 Juli 2009.
”Mami,papi,ini Neptunus… Satu-satunya gadis yang Kibum sayangi. Satu-satunya gadis yang ingin Kibum jadikan sebagai pacar dan istri yang pertama juga yang terakhir,”kata Kibum tegas dihadapan orangtuanya.
Bukannya sambutan seperti saat kami menemui eomma dan appa,di sini kami menerima sambutan yang buruk. Aku diusir dari rumah Kibum secara sangat terhormat oleh maminya dan diantarkan ke airport oleh supir mereka pulang lagi ke Seoul. Sementara Kibum diancam mendurhakai orangtuanya saat dia bermaksud mengejarku. Lalu akhirnya aku pulang sendirian ke Seoul dengan penuh air mata. Sakit,sakit hatiku… Sungguh merasa terhina dan terpukul,kenapa ada orang seperti maminya?! Aku tau mereka kaya raya,berkedudukan tinggi! Tapi apa itu sikap seorang terhormat?! Huh,sungguh terhormat!!
Namun segera setelah keberangkatanku itu,Kibum menyusulku ke Seoul. Dia benar-benar tak peduli lagi dengan keluarganya. Kibum kembali padaku dengan kartu kredit yang dicabut,atm yang diblokir dan dicari oleh orang-orang maminya se-Seoul. Untungnya karena Siwon oppa kami bisa tinggal di rumahnya di Busan. Setelah kejadian itu kami menikah dan hanya dirayakan oleh keluargaku dan teman-teman kami saja.
”My Kibum,don’t be sad pleasee… I know what’s your feeling but please be happy for me,”ucapku lembut sambil memeluknya dari belakang. Aku tau,Kibum sangat sedih di hari besarnya tidak ada mami dan papinya mendampingi. Saat akad nikah,kami berdua menangis,tapi aku tidak sanggup melihat Kibum murung saat ini.
”Aniyo jagiya,aku Cuma berharap Tuhan mengampuni perbuatanku pada mami dan papi,dan aku berharap Tuhan melunakkan hati mereka untuk menerimamu,”ujar Kibum sembari mencium rambutku dengan lembut.
Hatiku sakit,perih karena mami dan papi… Tapi aku tau Kibum lebih terluka lagi,karena itu aku harus menyembunyikan lukaku demi menyembuhkan lukanya.
”Kibum?”tanyaku. Kibum hanya duduk terdiam,saat melihat wajahku dia tersenyum sendu. Melihat senyumnya yang seperti itu hatiku benar-benar sedih. Aku hanya bisa menciumnya dengan lembut.
”Nene yeobo,jeongmal mianhe …,”ucapnya pelan.
”Hwaiting! Jangan sedih ya,demi aku!”ujarku memberinya semangat. Aku tidak bisa memperlihatkan kalau aku terpuruk,aku harus tampak ceria demi dia.
”Nene,aku sudah memutuskan,”ujarnya.
”Mwola jagiya?”tanyaku.
”Mianhe. Ini untuk kamu,aku nggak akan melakukan itu sebelum kita mendapat restu dari orang tuaku… Maafin aku Nene,aku sungguh ingin menyentuhmu lebih dari menciummu dan memelukmu tapi aku merasa berdosa kepada mami dan papi dan aku nggak mau kamu juga ikut-ikutan berdosa. Tolong mengerti ya jagiya?”terang Kibum. Aku terpaku mendengarnya. Bukannya sedih,tidak menyangka Kibum yang seperti ini bisa berkata seperti itu. Aku memang tau kalau Kibum sangat menghargai pasangannya dan ornag tuanya,dia juga sangat beriman dan sangat unggul. Tapi orang ini,lebih unggul saat dia berpikiran seperti itu. Saat dia pernah berkata,’Kekurangan cewekku adalah tanggung jawabku,’,saat dia pernah berkata,’Kamu memang tidak cantik,tapi kamu cantik untukku,’,saat dia pernah berkata,’Jadi diri sendiri itu adalah yang terbaik,’,saat dia pernah berkata,’Aku akan bahagia dan bangga memiliki kamu jika kamu bisa membahagiakan kedua orang tuamu,’,dan saat dia pernah berkata,’Jadilah anak yang taat,yang bisa membanggakan orangtua,’.
Tuhan …aku beruntung memiliki cinta orang ini. Dan sekarang dia tidak akan meniduriku sebelum orangtuanya merestui kami. Padahal kami telah menikah secara agama dan hukum. Dan sekarang pun aku akan menjadi istri yang baik,walau itu merupakan kebutuhanku,akan kurelakan demi kebaikan kami semua.
”Ne oppa,kita berusaha ya mulai sekarang,”aku lalu memeluk Kibum,berusaha menyembunyikan air mataku. Air mata kebahagiaan dan penderitaan.
Karena Busan jauh dari kampusku,aku harus bangun setiap jam 4 subuh untuk bersiap-siap. Kami lalu berdoa bersama,aku sungguh bahagia,karena ini adalah impianku sejak dulu…
Pagi-pagi sekali jam 5 Kibum mengantarku ke kampus yang terletak di tengah kota. Karena setiap pagi aku masuk jam 8,jadi Kibum harus berkorban untuk bangun pagi-pagi. Setelah mengantarku dia akan bekerja di salah satu rumah sakit yang terletak di pinggir kota.
”Oppa,nggak apa-apa nih?”tanyaku cemas saat kami sudah di mobil.
”Gwenchana,ini sudah jadi resiko dan tanggung jawabku,”jawabnya sembari mengacak-acak rambutku.
”Semangat belajarnya ya,”ujar Kibum saat sudah tiba di kampus.
”Oke oppa,oppa juga,good luck ya,”dia lalu menciumku dan aku turun dari mobil.
”Cie…pengantin baru niye… Mesra banget pagi-pagi udah dianter,”goda teman-temanku.
”Haha,iya dong… Im so happy you know! Kami tadi masak buat sarapan bareng-bareng! Hihi,”ceritaku riang.
“Waw,aku kira mau cerita MP…haha!”goda mereka.
”Ups,itu rahasia perusahaan,”kami lalu tertawa bersama.
Sudah pukul 2 siang. Kibum memesanku untuk menunggu dia di kostan Rigi sampai jam 4 dia pulang. Tapi aku nggak mau merepotkan Kibum karena dia sibuk dan pasti capek kalau harus memutar balik ke kampusku untuk pulang lagi. Aku memutuskan untuk pulang sendiri.
”Nene,jangan pulang duluan ya,”pesan Kibum saat meneleponku tepat sebelum aku mengambil langkah untuk pulang sendirian. Haaaah dia ini selalu tau apa yang aku lakukan ya,ckck.
”Arra arra,tapi apa kamu nggak kecapean?”tanyaku.
”Asal ada kamu disampingku,aku nggak pernah merasa capek,”jawabnya. Lagi-lagi aku terharu akan ucapannya.
”Ne oppa,aku tunggu. Hati-hati ya,”ucapku.
Jam 4.45 Kibum menjemputku di kostan Rigi,kami lalu memutuskan untuk makan malam di luar lalu pulang. Walau Kibum nampak kelelahan,tapi dia sangat bersemangat jika berada di sampingku. Oppa,apa benar aku sumber kekuatanmu? Aku akan senang sekali jika itu benar.
”Sebentar ya,aku cuci tangan dulu,”Kibum beranjak dari meja dan menuju wastafel. Anak-anak gadis di meja dekat wastafel itu memperhatikan Kibum dan mereka ribut melihatnya. Aku tertawa melihatnya,namun aku kaget saat salah satu cewek itu ada yang berani menegurnya.
”Hai,boleh kenalan nggak?”tanya cewek berambut panjang cokelat yang memang sangat cantik diantara yang lainnya. Aku mulai cemas melihatnya,Kibum menoleh ke arahku,aku hanya tersenyum menutupi kecemasanku. Aku yakin,Kibum mengerti kecemasanku walau aku tutupi sekalipun,karena Kibum selalu tau tentang aku.
”Ne,boleh,”jawab Kibum ramah dengan senyum mautnya.
“Ahh… Aku Hara,anak design interior Universitas Kyunghee,”ujar cewek itu.
“Ohh Kyunghee,aku punya teman di sana,anak seni musik,”ujar Kibum.
”Hah? Siapa namanya?”tanya cewek itu.
”Kyuhyun,tingkat 4,cari saja kalau mau tau,”jawab Kibum.
”Oh iya… Kamu sendiri namanya siapa?”tanya cewek itu.
”Aku Kibum,aku seorang dokter,”jawab Kibum.
”Oh ya,rumah sakit mana?”tanyanya.
”Di rumah sakit Ultimate,”jawab Kibum.
”Apa kamu sendirian,mau aku temani makan?”tanya cewek itu.
Buset,tuh cewek agresif banget sih!
”Ah tidak,aku berdua di sini,”jawab Kibum. Cewek itu melihat ke arahku.
”Oh ya,adikmu ya?”tanya cewek itu.
Ap…apa?! Aku kelihatan seperti adiknya ya?!
”Bukan nona,dia istriku,”jawab Kibum tersenyum ke arahku sembari menunjukkan cincin kawin di jarinya. Seketika air muka cewek-cewek itu berubah dan mereka terdiam.
”Oh…,”kata cewek itu,kelihatannya agak kecewa.
”Kalau begitu aku permisi dulu ya,kasihan dia ditinggal lama,senang bertemu denganmu,”Kibum lalu kembali padaku.
”Oppa…,”
”Ne”
”Jeongmal saranghae,”ucapku.
”Naddo,”balas Kibum sembari tersenyum simpul.
Aku merasa sangat bahagia saat bersama Kibum. Dulu waktu pacaran kami seringkali bertengkar karena hal-hal kecil dan sepele,namun sekarang kami jarang sekali bertengkar jika bukan karena kemalasanku. Hidup bersama memang solusi yang tepat untuk melancarkan hubungan kami. Walau kami selalu memutar otak untuk mencari cara bagaimana caranya meluluhkan hati maminya Kibum. Satu-satunya cara adalah aku menjadi dokter juga,menjadi dokter tahun ini. Ya,maksudnya ikut test lagi masuk FK. Tapi apa aku mampu?
Akhirnya dengan bimbingan Kibum,aku belajar untuk mengikuti test lagi. Belajar bersama,makan bersama,masak bersama,bersih-bersih rumah bersama,beribadah bersama,tidur bersama… Sungguh aku merasa sangat bahagia. Terkadang Kibum mengundang eomma dan appa ke Busan,lalu rumah selalu ramai dengan kedatangan Heechul oppa dan teman-temannya. Tapi kebahagian itu selalu rusak oleh orangtua Kibum. Pernah suatu hari saat aku pulang ke rumah,aku sengaja pulang sendirian karena Kibum sibuk kerja dan dia mengijinkanku pulang sendiri walau tadinya dia menyuruhku tetap menunggu di kostan Rigi. Di perjalanan aku ternyata diikuti orang. Saat itu aku sadar,dan aku sengaja menyesatkan jalan orang itu karena aku takut rumah kami ketahuan. Entah apa yang aku pikirkan saat itu,aku sudah tidak peduli dengan nyawaku sendiri. Akhirnya orang itu menyergapku dan berusaha menculikku. Aku dibawa ke dalam mobil BMW hitam dan sebelum aku pingsan karena dibius,aku sempat menelepon Kibum dari hp yang entah aku tak tau apa nasib teleponku dan nyawaku saat itu.
Ternyata Kibum sempat mengangkat teleponku dan cemas karena mendengar suara percakapan laki-laki dan tidak ada sahutan dariku. Sampai saat teleponku mati,Kibum berusaha melacakku lewat GPS di hpku. Entah bagaimana cara Kibum menemukan mobil itu dan orang yang menculikku. Tapi aku telah sampai di sebuah vila di Mokpo dan aku dibekap di dalam vila tersebut. Masih teringat jelas saat Kibum mendobrak masuk vila itu diikuti Heechul,Donghae dan polisi-polisi yang segera menyergap orang-orang yang menculikku. Kibum menghampiriku yang kehabisan energi dan udara segar dengan sangat cemas. Dia menangis sambil memelukku dan berulangkali menyesal telah lalai menjagaku. Diambang kesadaranku,aku seolah melihat mami Kibum mendekat dan saat aku sadar Kibum berteriak pada maminya,aku pun pingsan.
”Nene,gwenchanayo?”tanya Kibum saat aku membuka mataku.
”Ini di mana?”tanyaku.
”Rumah sakit,kamu shock dan magh kamu kambuh. Miahe jagiya,kamu pasti takut,untung kamu meneleponku,”Kibum memelukku. Aku lalu menangis dipelukannya.
”Aku kira aku nggak akan ketemu kamu lagi. Aku nggak tau siapa mereka,”isakku.
”Mereka suruhan mami aku,kamu tadinya mau dibuang…,”ujar Kibum. Aku kaget mendengarnya. Sejahat itukah ibu yang melahirkan pria yang mulia dimataku ini??
”Mianhe jagiya,aku nggak akan membiarkan mami menyentuh kamu!”kata Kibum.
”Aku nggak mau kehilangan kamu…,”ucapnya lirih.
”Naddo,”kataku sembari tersenyum lemah.
Sejak kejadian itu semua seakan baik-baik saja. Kibum selalu menjagaku dengan baik. Dia selalu mengantar-jemput kemana pun aku pergi. Di saat dia bekerja terkadang aku dijaga Rigi dan teman-teman atau Heechul oppa bahkan kadang-kadang aku menunggu Kibum di rumah sakit tempat dia bekerja. Tidak pernah terpikirkan olehku,dibalik ketenangan itu,ada hal yang sangat buruk terjadi pada Kibum.
Ini malam yang tenang seperti biasanya. Sebelum tidur biasanya Kibum belajar di sampingku di atas tempat tidur atau mengajariku belajar,lalu kami akan bercerita tentang hari itu sambil berpelukan. Kibum membelai rambutku,mencium keningku,dan kadang kami bermain kelitikan seperti anak kecil.
”Nene,aku akan ke Yale sabtu ini,”ujar Kibum sambil membelai rambutku.
”Wae?”tanyaku.
”Aku selalu memimpikan… Tinggal di rumah sendiri yang di dalamnya ada anak-anak kita… Aku ingin memiliki anak dari kamu,”jawabnya. Wajah Kibum memerah.
”Lalu kenapa nggak buat sekarang saja?”candaku.
Danish hanya memelukku dan membelai rambutku. Aku jadi kaget sendiri karena dia cukup serius.
”Neptunus,sabar ya.. Jeongmael mianhe jagiya,mianhe… Aku nggak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami. Mianhe jagiya,tapi tolong bersabar,ikhlaskan keadaan kita… Saranghaeyo,”ucap Kibum lirih. Dia menangis. Aku terdiam melihatnya. Aku sadar,aku bodoh! Seperti ulat yang kegatalan aku menggoda Kibum yang berusaha sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menyentuhku.
”Gwenchana oppa! Asal kamu ada di sini,di samping aku… Saat aku terbangun di malam ada kamu di samping aku,aku cukup puas,”kataku tegas.
”Gomawo Nene,aku tau kamu istri yang kuat,”Kibum tersenyum lembut kepadaku.
Sabtu pagi,aku bersiap mengantar Kibum ke airport.
”Kibum apa kamu yakin? Kondisi badanmu lagi turun loh,”tanyaku saat mengantar Kibum. Kibum mempunyai penyakit magh kronis dan belum sembuh total sejak sebulan yang lalu. Aku teringat malam di mana penyakit Kibum kambuh karena kelelahan dan stress. Dia sampai muntah darah dan itu sangat membuatku takut setengah mati.
*flashback beberapa hari yang lalu*
”Bentar,”Kibum masuk ke toilet saat kami sedang bercengkrama di kamar.
”Hoeeekk …hoeeekkk…,” dari dalam toilet aku mendengar suara Kibum yang sedang muntah. Aku segera meloncat dari tempat tidur dan menyusul Kibum ke kamar mandi. Saat itu rasanya kakiku lemas dan air mataku tak berhenti turun. Aku menghampiri Kibum sambil menangis dan membasuh darah dari mulutnya.
”Oppa,ya ampun jagiya …,”isakku sambil membersihkan darah dari wajah dan lehernya. Kibum terduduk lemas dilantai kamar mandi. Kakiku pun ikut lemas,aku berlutut dan segera memeluknya.
”Oppa,tolong yang kuat jagiya… Jangan buat aku cemas,”isakku.
”Gwenchana,aku nggak apa-apa,”ucap Kibum lemas. Darah Kibum sudah membasahi bajuku dan bajunya sendiri. Aku lalu membuka baju Kibum dan menggantikan bajunya. Setelah itu aku membawa Kibum ke tempat tidur dan menyuruhnya istirahat. Aku melakukan semua itu sambil menangis terisak-isak. Dengan lemah Kibum mencoba menenangkanku.
”I’m okay honey…im just a litlte tired,”ucapnya. Aku memberinya minum dan mencium keningnya,lalu menyuruhnya tidur. Aku lalu mengganti bajuku. Saat itu aku mendengar Kibum memanggilku.
”Nene,gomawo jagiya,”
Aku hanya tersenyum lirih. Sepanjang malam aku terjaga karena mengkhawatirkan keadaannya,aku Cuma bisa menunggu pagi untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi Kibum,tidak pernah mau di rawat inap.
*end of flashback*
Tadinya aku mengira Kibum akan baik-baik saja,dia cowok yang kuat. Aku nggak menyangka,itu adalah saat terakhir aku mengantarnya ke Yale.
2 hari sudah aku menunggu kabar dari Kibum. Aku yakin dia sudah sampai sehari yang lalu dan memang biasanya dia beristirahat dulu baru menghubungiku. Tak menyangka,di anniversary pernikahan kami ke-4 bulan,aku menerima berita terburuk sepanjang hidupku.
1 hari sebelum tanggal 11 Desember 2009.
”Hah!”aku terbangun dari tidurku dengan histeris. Aku mimpi buruk… Mimpi kehilangan sesuatu. Entah apa itu,yang jelas aku sangat takut. Tapi aku menganggap enteng mimpi itu,mungkin karena aku kelelahan. Aku lalu bangun dan bersiap-siap ke kampus.
Seharian aku bersama Songhee dan yang lain,kami belajar bersama untuk ujian besok . Saat di rumah,sambil menunggu kabar dari Kibum aku menulis blog dan chatting dengan temanku. Karena kangen aku lalu mengirim pesan pada Kibum untuk segera mengabariku dan cepat pulang. Hingga aku tertidur,pesan itu belum dibalas juga.
Pagi tanggal 12 Desember 2009 pukul 08.05
Aku terbangun dan segera mengecek pesan balasan. Tidak ada…
Huh,Kibum kemana sih? Apa dia lagi sibuk?
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Aku mengangkat dan ternyata dari mama.
”Yoboseo?”tanyaku.
”Happy anniversary ya,”jawab mama di telepon.
”Oh iyaa aku hampir saja lupa! Gara-gara menunggu kabar dari si bodoh itu… Makasih ya ma,doain langgeng,”ujarku.
”….,”
”Eomma?”
”Ne my baby… Semangat ya,kan mau ujian,”ujar eomma pelan.
”Ne ma,aku mau mandi dulu,”ujarku.
”Ok,good luck ya sweetheart,”kata eomma.
Hmm… dasar eomma aneh,kok keliatan sedih ya eomma?
Aku lalu kembali ke kamar dan mengecek hp. Ah,ada sms! Semoga Kibum!
Nene,ujian ya? Good luck ya … Kalau sudah selesai nanti temani aku ya. Dan yakinlah,Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kamu.
Pesan dari Hyunmei…
“Halo Ne,nanti aku ke kampus kamu ya,temenin aku ke suatu tempat,pentiiiiiiing banget yayayaya?!”pinta Hyunmaei dengan manja yang segera meneleponku.
“Apa sih? Penting banget ya?”tanyaku.
”Yes,pleaseeeee,”jawab Hyunmei.
”Ok ok ok lah,”ujarku.
Aku heran dengan orang-orang hari ini,kenapa sih kayak yang aneh itu?
Entah kenapa juga,aku merasa tidak enak badan hari itu. Dan anehnya saat ujian,airmataku jatuh begitu saja. Aku tidak tau kenapa.
”Nene? Kenapa menangis?”tanya Songhee.
”Ngga tau Hee,haha,”jawabku.
Saat pulang ujian,Hyunmei menjemputku dan mengajakku ke rumahnya.
”Kok ke rumahmu sih?”tanyaku heran.
”Nene,ada yang mau ngomong sama kamu,”jawabnya. Hyunmei lalu menghidupkan Macbooknya dan mengaktifkan webcam.
”Heechul oppa??”tanyaku kaget. Lebih kaget lagi melihat wajah Heechul oppa yang sembab.
”Oppa nangis,”kataku.
”Nggak kok,”ujar Heechul.
”Neee,waeyo?”tanyaku cemas.
”Nene,oppa tau kamu orang yang kuat… oppa tau kamu cewek langka yang disayangi Kibum. Dan oppa tau kamu sayang banget sama dia. Tapi Nene sayang,Kibum terlalu baik buat kita. Dia …dia …lebih disayang Tuhan,dia… ya,kamu tau maksud oppa kan…,”
”Tidak…,”aku mulai menahan airmataku. Menerka-nerka kelanjutan kata-kata Heechul oppa.
”Sebenarnya saat sampai di bandara di Yale,Kibum terjatuh dari tangga pesawat dan kepalanya terbentur,sejak itu dia koma dan nggak sadarkan diri… Dan kemarin,dia dipanggil oleh Tuhan untuk pulang ke rumah kita yang paling abadi… Nene,kamu pasti kuat! Oppa tau nggak mudah untuk sabar,tapi tolong ikhlaskan Ne… Mianhe oppa baru kasih tau sekarang,kamu ada ujian… Dan oppa sekarang lagi di Yale,tadi pagi,dia sudah dimakamkan di sini,”cerita Heechul oppa dengan sangat berat.
Nafas dan suaraku seakan tercekat mendengarnya. Saat itu juga aku tidak sadarkan diri.
…..
”Nene…aku sayang kamu,”ucap Kibum lembut. Dia tersenyum. Lalu kami tertawa bersama…
”Oppa!!!”aku terbangun.
Aku asti mimpi. Ya,Cuma mimpi… Tapi kenapa,kenapa aku ada di rumah Hyunmei? Kenapa Macbook itu menyala? Kenapa Heechul oppa…??
”Tidak mungkiiiiiiin!!!!!!”teriakku.
”Nene,sabar,”pinta Hyunmei.
”Nene,ini ada Songhee dan yang lain,sabar ya…,”kata Hyumei. Songhee lalu memelukku. Aku menangis sejadi-jadinya.
”Ini bohong! Ini nggak mungkin! Kibum akan pulang,dia akan pulang!”teriakku.
”Nene,”isak Hyeri.
”Aku mau ke Yale!”aku lalu berlari ke pintu.
”Nene,tidak sekarang,”cegah Eunhee.
”Aku mau sekarang!!! Sialan kalian semua merahasiakan hal ini padaku. Brengsek !! Dia itu nampyonku!! SUAMIKU! Kenapa kalian …aghhh FUCK!! Dia itu suami aku Hyunmei …kenapa kalian tega??”
“Kamu boleh tampar aku,kamu boleh pukul aku,aku rela Ne,maafin aku…,”
“Ujian itu setan tau ga kalian?! Harusnya kalian kasih tau saat dia koma… Dia itu suami aku… Dan ujian bisa diulang,”isakku.
Aku menyesal,aku kecewa,aku hancur!
Aku hanya bisa menangis,menangis terisak-isak sampai dadaku seakan mau pecah,sampai kepalaku seakan mau meledak…Tapi sekuat apa pun aku memanggil nama Kibum,dia tidak kembali lagi.

6 bulan setelah itu…
Kriiiing…kriiiing…
”Ne,yoboseo?”tanyaku pada orang yang menelepon ke hpku.
”Nene,ada yang ini bertemu denganmu,”kata suara di seberang.
”Nuguseyo?”tanyaku.

”Neptunus,lama tidak berjumpa,”sapa seorang wanita berpakaian rapi dan anggun yang duduk di depanku. Wajahnya tampak lelah walau pun dia kelihatan cantik dan muda.
”Ya…Ma’am,”sapaku sembari tersenyum tipis.
”Nene,mianhe karena ini terlalu terlambat. Tapi panggil saja saya dengan panggilan yang sering disebut Kibum,”pinta ibu itu.
”…Arraso,Mami…,”ucapku pelan. Wanita cantik di depanku yang kutemui di Hotel Hilton ini segera memelukku. Dia menangis terisak. Aku pun tak kuasa menahan air mataku. Dadaku terlalu sesak. Sesak akan penyesalan dan benci yang tak termaafkan. Ya,benci pada wanita malang yang sedang kupeluk ini. Wanita malang yang 6 bulan yang lalu kehilangan anak pertamanya. Wanita malang yang bergelimang harta dan martabat namun tampak kesepian dan memiliki penyesalan yang mendalam. Menyesal akan kejadian yang lampau. Dadaku sesak,aku ingin memaki ibu ini,tapi di satu sisi aku merasa ada satu beban dihatiku yang terlepas.
”Maafin Mami,”isaknya.
”Maafin Nene juga Mi,mianhe…mianhaeyo…,”isakku.
Setelah melepas emosi masing-masing,kami lalu berbincang dengan tenang.
”Mami tau kamu anak yang baik,tapi saya sangat menyayangi Kibum dan ingin yang terbaik untuknya. Mungkin saya memang terlalu memaksa kehendak,berhati keras. Sejak terakhir kali melihat Kibum,hatiku hancur. Mami menyesal… Selama ini Kibum menderita,Mami menyesal,”ucap ibu itu lirih.
”Mi…Sudahlah,apa yang sudah berlalu tidak bisa dikembalikan lagi. Sekarang kita harus mengikhlaskan apa yang terjadi,seberat apa pun itu. Saya yakin,Kibum telah bahagia di sana. Mami tau,Kibum anak yang sangat berbakti. Walau kami sudah menikah,namun tanpa restu kalian,Kibum sampai saat terakhir pun tidak pernah melakukan hubungan suami-istri dengan saya. Itu adalah janji dia sampai mendapat restu kalian. Dan sampai sekarang,saya sudah menikah,namun belum pernah merasakan malam pertama,”ujarku sembari tersenyum kecut. Maminya Kibum terkejut mendengarnya.
”Kalian benar begitu?”tanyanya kaget.
”saya adalah seorang istri yang membutuhkan hal itu,apalagi sekarang Kibum sudah tiada. Setidaknya saya bermimpi masih ada yang dia tinggalkan di perut saya,namun tidak ada… Walau begitu,saya Cuma ingin bilang ke Mami…,”
”Saya berterimakasih pada Mami karena telah melahirkan pria sehebat Kibum! Gomawo Mam,saya pun nggak munafik menyimpan kebencian dan kekecewaan pada Mami,tapi hal yang paling terasa saat ini adalah rasa terimakasih itu Mam… Sekali lagi terima kasih,karena Mami,saya bisa bertemu Kibum,”ucapku sembari membungkuk. Mendengar ucapanku itu,Mami menangis lagi. Namun ia segera menghapus airmatanya.
”Kibum pasti saat bertemu denganmu ingin mengucapkan terimakasih pada eommamu…,”ucapnya.
”Wae?”tanyaku heran.
”Karena apa ya… Yang pasti karena dia mencintaimu. Dan dia mencintai wanita yang kuat dan tulus seperti kamu,”jawab Mami sembari tersenyum lembut.
Kibum??!
Sekilas aku melihat senyuman Kibum di senyum wanita cantik itu. Ya,dia adalah ibunya… Ibu yang telah melahirkan orang yang paling aku cintai.
”Lalu ,bagaimana keadaanmu selama ini?”tanya Mami.
”Saya seakan sebuah lukisan yang terbuat dari potongan puzzle yang hancur. Perlahan-lahan mengumpulan puing-puing puzzle yang tersisa. Tapi saat menguat karena potongan puzzle yang saya dapat dari keluarga,teman-teman dan sisa-sisa semangat Kibum yang selalu Nene ingat,ada satu lubang yang tidak terisi…Karena potongan puzzle itu sudah dibawa Kibum pergi,”jawabku sembari tersenyum lirih.
”Kamu gadis yang kuat Nene,”ucap Mami.
”Walau semuanya berkata begitu,terkadang saya merasa ingin menyerah dan sangat terpuruk. But i always make an argument that he’s not passed away. He just have a very super long journey to the God’s palace. There’s no signal to call,no postman to post a mail… Im just have to wait,to wait until God call me to after him. I don’t know when,years a years…Im still here to keep waiting until I’ll meet him again,”ucapku berusaha menguatkan diri.
Mami hanya tersenyum lembut. Lalu dia berkata…
”Aku menyesal baru mengenalmu sekarang,”
Ya…semua sesal itu tak akan pernah berarti lagi. Bahkan akan menjadi borok di hati jika kita tak pernah ikhlas. Jika ikhlas,walau tanpa cinta sekali pun,semua akan terasa indah.
”Hidup itu indah jika dibawa indah,”
Bukankah begitu hey Mr.Kim Kibum???
Dan aku yakin,kamu nggak pergi kemana-mana,kamu ada dihatiku dan selama aku hidup dan terus mengingatmu,kamu masih hidup. Ya,hidup dihatiku,diimajinasiku,dimemoriku. Karena cinta itu ada,dia menembus segala ruang dan waktu.
5 years after that…
Saat ini umurku sudah seumur dengan kontrak hidup Kibum,23 tahun. Aku memutuskan untuk bekerja di Amerika seperti impian yang kututurkan pada Kibum dulu. Bukan di Yale,tapi di New York. Bekerja sekaligus menjalani profesi di sana,aku sekarang telah pulang ke Korea dengan membawa bekal. Ya,aku akan mewujudkan impianku untuk membahagiakan eomma & appa,satu-satunya tujuan dalam hidupku. Lalu aku membuka sebuah resort di kepulauan Hongkong bersama rekanku saat di SMA. Sembari berbisnis,aku melanjutkan study di Philadelphia dengan metode e-learning mengambil jurusan yang berbeda dengan bidangku,aku mengambil jurusan psikologi anak dan aku memutuskan untuk membuka sekolah khusus anak-anak dengan keterbelakangan mental dan masalah emosional seperti idolaku,Torey Hayden dulu. Ya,semua yang telah terjadi padaku,kehilangan Kibum,adalah pukulan berat bagiku,aku benar-benar kehilangan kepercayaan dan sempat menaruh benci pada orang lain. Walau aku bisa mengendalikan emosiku dengan baik,tapi luka dihatiku karena kehilangan tidak pernah tertutup,hanya dunia polos anak-anak yang bisa mengobati diriku lagi. Dunia yang jujur,aku butuh itu. Walau hubunganku dengan Mami dan keluarga Kibum sudah erat,aku seakan dianggap anak oleh Maminya dan Mami pun pernah mengunjungiku di New York. Aku juga setahun sekali ke Yale untuk berziarah. Kehidupanku,normal…Datar…Lancar…
Ya oppa,saat ini aku sudah berhasil. Aku sudah mencapai segala tujuanku. Aku selalu ingin menikah sekali seumur hidupku,mencinta sekali seumur hidup,dicium dan hanya ingin dipeluk oleh satu laki-laki seumur hidup. Tapi aku terpaksa mencari cinta yang lain,aku terpaksa demi kebahagiaanku karena kau meninggalkanku. Dan saat aku bertanya pada eomma,”Apa eomma sudah bangga padaku?” namun beliau menjawab,”Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain melihat kamu berada di pelaminan sekali lagi,Neptunusku,”… Dan saat aku bekerja di New York,seorang yang kau kirim untuk menggantikanmu telah muncul dihadapanku.
Kenanglah ini jagiya,kamu adalah cinta sejatiku. Di surga kelak,aku hanya ingin menjadi bilqishmu…
I love you until i die …
“I love you until I die,”-one of Kim Kibum message.

END

SIDE STORY,MY 2ND WEDDING

Dia adalah penyelamat bagiku. Di saat aku merasa cahayaku padam,aku berada dikegelapan,samar-samar dia datang membawa secercah cahaya…
”Hello,Mami,ini Neptunus…apa kabar?”tanyaku disiang hari yang mendung.
”Oh hay Nene,Mami baik… Kamu bagaimana? Kapan kembali ke Amerika lagi?”tanya Mami ditelepon.
”Oh Nene baik Mi ..Wah,Nene kurang tau. Mungkin awal tahun depan Mi,saat ini Nene sedang sibuk. Sebenarnya ada yang ingin Nene kabarkan pada Mami,”ujarku.
”Ya,apa Ne?”tanya Mami. Aku menghela nafas,aku ingat saat berdiskusi dengan adik Kibum oppa tentang rencanaku. Dia bilang,Mami sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Mungkin dia akan sedikit cemburu karena jika aku menikah lagi maka aku akan menjadi menantu orang lain selain beliau. Dan aku takut,akan ada perasaan bahwa aku mengkhianati Kibum.
”Hmm… Mi…,”
”Ya?”
”Nene akan menikah akhir tahun ini,”ucapku akhirnya. Mami sempat terdiam sesaat.
” Really?! Syukurlah Nene…,”ucap Mami yang kelihatan senang dari suaranya.
”Mi??”aku bingung dan kaget mendengar jawabannya.
”Mami lega,Mami sempat takut kamu tidak ingin jatuh cinta lagi dan akan sendiri seumur hidup,Mami cemas dan Mami yakin,Kibum pun tidak ingin kamu terus sendirian,”ujar Mami. Aku kaget dengan reaksi Mami.
”Nene memang nggak jatuh cinta lagi Mi,Cuma Kibum yang bisa buat Nene jatuh cinta. Tapi Nene membutuhkan Donghae. Selama 5 tahun ini,baru dia satu-satunya yang Nene butuhkan untuk terus berada disisi Nene,”ujarku.
”Ceritakan tentang Donghae,”ucap Mami.
”Well,Nene bertemu Audrey di International Health Hospital tempat Nene bekerja dulu di New York. Dia adalah dokter spesialis bedah ortopedi. Yah,dokter muda…dia mengetahui kisah Nene & Kibum oppa,dia yang selama ini begitu perhatian dengan Nene dan entah kenapa Nene tidak keberatan dengan adanya dia disisi Nene,”ceritaku.
”Syukurlah…semoga kamu bahagia Nak,Mami akan datang nanti hari H-nya,”kata Mami.
”Ne,makasih ya Mi… Hmm Mi,Nene Cuma mau bilang,walau Donghae akan menjadi pendamping Nene,Kibum oppa tetap no.1 dihati Nene,sedikit pun dari awal sampai detik ini,perasaan Nene pada oppa tidak pernah berubah,”kataku. Aku tidak kuat lagi menahan airmata yang akhirnya jatuh ke pipi.
”Iya Neptunus … Kamu wanita yang kuat,semoga kamu bahagia,”kata Mami padaku.
Satu bulan sebelum aku menikah,aku memutuskan untuk ke Yale. Di depan makam Kibum,aku meminta izin padanya dan mengatakan bahwa aku sangat mencintainya.
”Hey,Mr.Kim Kibum… Apa kabar? Well,aku tau kalau kamu yang meminta pada Tuhan untuk mengirimkan Donghae oppa padaku. Dia mirip sekali denganmu,sosoknya… Aku bisa mengandalkannya dan aku akan menjaganya seperti aku menjagamu dulu. Aku akan berbakti padanya seperti aku berbakti padamu dulu. Aku akan menjadi istri yang baik untuknya,yang menyayanginya. Hey Tampan,kalo kamu disana cemburu,jangan salahkan aku ya… Karena salahmu yang meninggalkanku duluan di sini! Hehe… Masa aku jadi janda kembang terus? Sampai tua aku jadi perawan tua deh… Hehe… Well,walau aku sebenarnya nggak keberatan untuk terus sendiri sampai aku mati,tapi banyak sekali yang protes kan… dan aku yakin kamu pun akan protes dan memarah-marahiku seperti ini dari sana,’Ya baboya! Kok kamu babo banget sih mau jadi perawan tua ya? Ckck,udah terima aja cowok yang tepat,aku tau kok kamu paling sayangnya sama aku,jadi nggak apa-apa kamu nikah lagi. Ayo nikah lagi aja sana,hush hush hush!’ … Hehe,pasti gitu kan? Arra arra,aku mohon restunya ya,jagiyaku … Aku akan terus mengingatmu,saranghaeyo oppa…,”curhatku sembari mengusap batu nisan Kibum. Walau air mata ini tak sanggup kubendung,aku akan bahagia dan kuat demi Kibum.
Sampai jumpa Kibum oppa,aku janji akan bahagia kali ini. Karena itu,doakan buinmu yang paling cantik ini,arraso? 

FIN

Kisah ini based on a true story,Cuma diedit-editlah kalo yang nikah itu mah ngga sampe ..wkwk
Author : missGYU

2 Tanggapan to “Neptune”

  1. melialasmana 25 September 2010 pada 4:17 PM #

    Aaaaaa kenapa donghae-nya sama nene? *btw nene itu siapa?baru denger,kekeke~*
    Omoooo donghae sayaaaaaa *rebut donghae dari nene*
    Bagus ih, aku nangis >.<

    • cagalli14 27 September 2010 pada 9:29 AM #

      haha! salahin kibum hyung dong (jacidee) ..dia yg suka donghae selain heebumgeng ..hwhwhw ..
      nangis? ujima ujimaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: