Music and Friends – Chapter 2

30 Des

Di chapter ini, cerita didominasi sama Donghae, Minhyuk, dan Mami. Changmin cuma nongol sedikit, sementara Kyuhyun sama sekali ga ada. 

rencananya sih di chapter selanjutnya baru didominas sama Changmin Kyuhyun. hehe… semoga sukaaaa😀

Title : Music and Friends (Chapter 2 : Music Competition)

Cast : 

  • Sasazaki Mami
  • Kang Minhyuk
  • Lee Donghae
  • Shim Changmin

————————————-

[Donghae POV]

“Ayo kita bertiga bikin grup!” sahutku bersemangat.

Eh?

Baboyaaaaaaa! Kalo ‘kita bertiga’ bikin grup, aku ngapain?????

Minhyuk dan Sasazaki menatapku lama. Lalu hening.

“Kita bertiga? Kau ngapain, Donghae? Jadi pemandu sorak?” kata Minyuk dengan tatapan dingin lalu kembali mambaca komik Bleach-nya.

“Sepertinya aku akan mencoba bermain solo sambil bernyanyi, Donghae-sshi,” kata Sasazaki yang lagi-lagi pakai Bahasa Korea yang amburadul. “Maksudku… aku. Main gitar. Sendiri. Lalu bernyanyi,” katanya lalu tersenyum sendiri. “SCANDAL’s song, Shunkan Sentimental, my favorite anime-soundtrack, ohohoho,” lanjutnya dengan gembira. Ah, hilang kesempatan bisa tampil di panggung. Ini kesempatan langka!

“A… aku akan bernyanyi! Minhyuk-ah!! Jebal, kita bikin grup bertiga!! Kita bertigaaaa, aku, kau, dan Sasazaki!” kataku memohon.

“Memangnya kau bisa bernyanyi?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari komiknya.

“Tentu saja bisa! Nyanyi saja sih aku bisa! Ayolah, kapan lagi kita bertiga sepanggung?” rayuku.

[Minhyuk POV]

“Tentu saja bisa! Nyanyi saja sih aku bisa! Ayolah, kapan lagi kita bertiga sepanggung?” rayunya. Kita bertiga sepanggung? Wah, anak ini bilang saja ingin sepanggung dengan Sasazaki.

“Baiklah baiklaaaaah, karena kau ini sahabatku aku mau. Tapi Sasazaki memangnya mau? Dia kan mau solo?” kataku yang disusul wajah suram Donghae. “Sasazaki-san, kau mau bikin grup dengan kami? Kau bisa main gitar, aku main drum dan Donghae akan bernyanyi,” kataku pada Sasazaki dengan bahasa Jepang.

“Kita bertiga buat grup? Sebuah band kah?” Tanya Sasazaki. Band? BAND!? Astaga, aku baru sadar. Drum, gitar, vocalis… ini sebuah band!

“Hai! Sebuah band! Bagaimana? Pasti kalau bareng-bareng akan jauh lebih bagus dari pada hanya sendirian,” lanjutku.

“Waaah, kelihatannya menarik. Okeee aku setuju!!” sahutnya sambil mengacungkan jempolnya.

“Wuuhuuuuu!!! Yeaaah!!! Akhirnya aku bisa tampil di panggung! Aku akan beri tahu ketua kelas dulu, ya!” kata Donghae nyaris berteriak dan langsung pergi ke tempat duduk ketua kelas.

“Minhyuk-sshi, dia ingin sekali ya? Dia punya suara yang bagus?” Tanya Sasazaki.

“Hm… molla. Tapi dia ingin sekali  sepertinya,” kataku lalu menutup komikku dan menaruhnya di tas. “Sudah ada guru tuh,” kataku lalu ia kembali ke kursinya.

***

“Em… empat hari… lagi?” kata Sasazaki lemas. Saat ini kami lagi di satu restoran ddeokpogi didekat sekolah. Kami memutuskan mendiskusikan persiapan kompetisi setelah pulang sekolah disini.  Donghae mengangguk sambil mengunyah ddeokpoginya diselingi rintihan kepedasan.

“Mana bisa…” kataku pesimis. Jujur saja, untuk mendalami sebuah lagu bukanlah hal yang gampang… kalau diberi minimal seminggu saja, pasti bisa. “Kok tega banget sih sekolah? Seakan gak niat gitu mau mengadakan kompetisi.”

“Bukan sekolah yang gak niat mengadakan kompetisi, tapi ketua kelas kita yang gak niat kasih info ke kita. Dia seharusnya ngasih tau info itu 5 hari sebelumnya. Ssssssshh… Ooohh jinjjaaaa! ini ddeokpogi-nya yang pedas banget apa gara-gara aku lagi kesal, sih?” kata Donghae kesal.

“What the hell! Ini sih sama aja sama saja penyiksaan!” sahutku kesal. “Lupakan saja kompetisi itu! Kita tidak jadi ikut!”

“Satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Minhyuk-ah. Dari kelas kita, hanya grup kita yang turun. Dan setiap kelas WAJIB memberikan satu solo atau grup, jika kelas tidak menurunkan wakil, kita harus denda… yaaah kurang lebih 7000 won,” kata Donghae lalu menegak air putihnya.

Sial! Bagaimana bisa latihan hanya 3 malam 4 hari untuk kompetisi ini?

“Gak usah mengharapkan kemenangan lah. Yang penting kita ikutan,” kata Donghae.

“Jadi gimana? Aku sama sekali gak ngerti percakapan kalian,” kata Sasazaki polos.

“Baiklah! Kita ikut saja kompetisi itu. Mau tidak mau. Sekarang, dari pada buang-buang waktu, diskusikan mau tampil lagu apa nanti kita?” tanyaku. “Gini saja, aku dan Sasazaki bergantung padamu, Donghae. Saat ini, lagu yang paling kau hafal lagu apa?”

“Kok aku?” Tanya Donghae heran.

“Karena yang paling lama adalah menghafal lirik. Kau tak bisa berbagi lirik dengan Sasazaki karena bahasa Korea dia masih amburadul. Dia takkan bisa disuruh menghafal lirik bahasa Korea. Kalau kita pakai lagu Jepang, kau yang kelabakan.”

“Hemmmm… lagu apa ya? Aku bingung. Saat ini sih aku sedang suka lagu Pitbull,” kata Donghae.

“GILA! Kira-kira dong! Memangnya kau bisa rap-nya??!” kataku hampir berteriak.

“Minhyuk-sshi! Calm down! People… ehmm… starring… at us!” kata Sasazaki dengan bahasa Inggris. Mungkin dia udah capek mikir terjemahan bahasa Korea-nya.

“Go… gomen. Aku jadi stress sendiri,” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Minhyuk-ah… kalau… Maroon 5? Moves Like Jagger?” kata Donghae. Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatapnya. “Kebetulan aku lagi sering dengar lagu itu. Menghafal 4 hari mungkin bisa. Lagi pula liriknya hanya diulang-ulang dan liriknya gak cepat. Tapi… ada bagiannya Christina Aguilera…” katanya lemas.

“Ah iya… gak lucu kalo kau yang menyanyikan bagian itu,” kataku.

“Moves Like Jagger?” Tanya Sasazaki.

“Ne,” jawab Donghae.

“Aku nyanyi di Christina’s part, otthokkae?” tanyanya. Aku dan Donghae sontak menatap kaget Sasazaki.

“Kau hafal liriknya?” tanyaku.

“Hanya sedikit kan? You wanna know… how to make me smile… take control… own me just for the night…” ia tak mau lanjutkan lagi. Ia menyadari orang-orang sudah mulai sering melihat kami bertiga. “Memalukan sekaliiiii… kita ke apartmentku saja, otthokkae?” katanya.

“Rumah Minhyuk dekat dari sini. Kita kerumahnya saja,” kata Donghae.

“Err… baiklah. Ddeokpogi-nya dibungkus saja. Donghae, kau bonceng Sasazaki ya,” kataku sambil tersenyum penuh arti.

***

[Mami POV]

“Annyeonghaseyo, Ahjumma!” sapa Donghae kepada (yang sepertinya) ibunya Minhyuk.

“Ne, Annyeong! Masuklah Donghae. Lho, ini siapa?” Tanya ahjumma sambil memandangku.

“Ini teman baruku. Namanya Sasazaki Mami,” kata Minhyuk memperkenalkan diriku.

“Annyeonghaseyo! Choneun Sasazaki Mami desu, eh, imnida!” kataku gugup. Uhh, sampai salah ngomong lagi…

“Nu… nugu? Sa…” ibunya Minhyuk kelihatannya bingung.

“Sasazaki, eomma. Dia pindahan dari Jepang. Bahasa Korea-nya belum lancar,” Minhyuk sepertinya menjelaskan ‘keadaanku’ ini.

“Ohh… ne… ne… baiklah. Kalian mau belajar bersama?” Tanya ibunya lagi.

“Kita mau membicarakan kompetisi musik. Kami akan ke kamar-ku ya,” katanya lalu kami beranjak ke kamarnya Minhyuk. Astaga, aku baru sadar kalau aku cewek sendirian… gak apa-apa nih? Mana masuk kamarnya Minhyuk lagi…

Kamar Minhyuk kecil dan sedikit berantakan di meja belajarnya. Dan ternyata didalam kamarnya ada ruangan lagi.

“Sebentar, aku rapikan mejaku dulu ya, hehehe… maaf aku lupa merapikannya,” kata Minhyuk malu.

Selagi Minhyuk merapikan mejanya, aku masuk ke ruangan itu. Ternyata disitu ada drum, piano yang berukuran tidak terlalu besar, flute, dan rak yang sepertinya disusun berbagai macam partitur. Aku mengambil salah satu partitur yang berjejer dirak itu. Chopin? Beethoven? Ah souka! Dia ternyata bermain piano klasik… mungkin juga flute.

Disebelahnya ada sebuah tape yang diletakkan diatas meja. Disebelahnya juga ada berbagai macam CD. CD apa saja ya? Hum… banyak banget koleksi Linkin Park dan Maroon 5-nya. Mungkin disamping ia suka music klasik, ia juga suka music pop & rock, makanya ia bermain drum…

“Sasazaki? Kau sedang apa?” Donghae tiba-tiba memanggilku lalu ikutan masuk ke ruangan itu.

“Aniyo, hanya lihat-lihat saja,” kataku lalu mengembalikan CD Maroon 5 yang kupegang.

“Kalau aku kesini, aku suka numpang belajar piano,” kata Donghae lalu duduk di kursi piano dan membuka piano.

“Kau… bisa main piano?” tanyaku.

“Piano pop. Tapi itu juga kurang mahir, aku baru belajar soalnya. Kalau Minhyuk, ia lebih suka klasik. Tapi saat ini sepertinya ia sedang suka-sukanya dengan music rock.” Kata-katanya susah ku mengerti… “Lupakan saja,” kata Donghae akhirnya. Mungkin menyadari wajah bingungku. Donghae mulai memainkan sebuah lagu yang tidak kukenal. Namun, permainnya lumayan juga.

“Kau bisa main instrument apa lagi selain gitar?” Tanya Donghae.

“Hanya gitar,” kataku.

“Hanya gitar?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Dulu… aku sempat belajar cello. Tapi aku kurang suka music klasik. Aku lebih suka music pop dan rock,” kataku yang disambut anggukannya.

“Ayo kita diskusi lagi,” Minhyuk memanggil dari ambang pintu.

“Neeee…” sahut Donghae lalu menghentikan permainan pianonya dan menutup piano itu.

“Aku baru saja print lirik Moves Like Jagger beserta tab-nya untuk Sasazaki,” kata Minhyuk sambil menyerahkan selembar kertas padaku juga pada Donghae. “Memang sih, lirik cepatnya hanya di chorus dan bagiannya Christina.”

“Chorusnya juga hanya diulang kan? Bagian verse-nya tidak terlalu suilit,” kata Donghae lagi. Coba mainkan lagunya dari tape-mu, Minhyuk.” Lalu Minhyuk menyetel lagu Moves Like Jagger itu di tape-nya. Lagu itu mulai terdengar. Donghae mulai mencoba menyanyikan liriknya. Kelihatannya tidak ada kendala. Suaranya juga lumayan…

“Coba kau nyanyikan bagianmu,” kata Minhyuk padaku saat bagian Christina sudah dekat.

You wanna know… how to make me smile… take control, own me just for the night… and if I share my secret, you’re gonna have to keep it, nobody else can see this… So watch and learn… I won’t show you twice… head to toe, oooh baby rub me right… but if I share my secret, you’re gonna have to keep it, nobody else can see this, ay ay ay yeeaahh!” lalu lirik selanjutnya diteruskan Donghae.

Tiba-tiba Minhyuk bertepuk tangan sendirian. “Aku jadi optimis menang nih,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sasazaki, satu hari ini kau ada acara tidak?” Tanya Minhyuk padaku.

“Tidak. Kenapa?”

“Donghae, antar dia ambil gitarnya kesini! Kita latihan mulai hari ini!” perintahku.

“Mwo?! Sekarang kita langsung latihan??” kata Donghae yang kelihatannya sangat kaget.

“Mwo? Mwo?” Tanyaku.

“Kita mulai latihan mulai hari ini. Kau bisa kan?” kata Minhyuk padaku.

“Hari ini?” ulangku. Aku berpikir sebentar. Lumayan juga kalau latihan mulai hari ini, setidaknya kita jadi hemat waktu. “Baiklah. Tapi aku tidak bawa gitar.”

“Donghae akan mengantarmu kerumah, lalu balik lagi kesini, gimana?” tanyanya lagi.

“Baiklah. Kajja, Donghae-sshi. Lebih baik kita cepat,” kataku bersemangat sambil bangkit dari duduknya.

“Haaah, geurae… geurae,” kata Donghae pasrah sambil bangkit juga dari duduknya.

[Donghae POV]

Akhirnya aku dan Sasazaki pergi ke apartment Sasazaki hanya untuk mengambil gitarnya dan balik lagi ke rumah Minhyuk.

“Aku tunggu disini saja, kau cepat ambil,” kataku saat sudah sampai depan apartment-nya.

“Kau tunggu sini?” Tanya Sasazaki lagi.

“Neeeee,” kataku mengiyakan.

“Aniii… kau ikut ke atas sajaaa,” katanya sambil menarik lenganku.

“Supaya lebih cepat! Sana buruan ambil gitarmu,” kataku.

“Geurae. Jangan tinggal aku lho ya!” katanya lalu berlari kedalam Apartment. Tiba-tiba ia balik lagi. “Minhyuk-sshi punya amplifier kan?” tanyanya. Amplifier? Aku gak tau dia punya atau tidak…

“Biar kutelepon dulu. Memang kau ada?” tanyaku.

“Ada, tapi bagaimana membawanya?” katanya. Ah iya, benar juga. Kita kan pakai motor. Kalau pake mobil mungkin masih bisa. Akhirnya aku mengambil ponselku dan meneleponnya.

“Wae?” jawab Minhyuk di telepon.

“Kau punya amplifier gitar tidak?” tanyaku.

“Astaga, aku lupa… aku tidak punya,” katanya lemas. “Sasazaki punya?” tanyanya.

“Punya, tapi kan kita pakai motor, gimana bawanya?” tanyaku. “Gitar listrik tanpa amplifier apa gunanya?”

Aku dan dia terdiam lama. Berpikir. “Tidak usah latihan hari ini saja?”

“Sasazaki-san?” tiba-tiba seseorang dari dalam mobil menyapa Sasazaki. Shim Changmin?

“Oh, Changmin-sshi!” sapa Sasazaki.

“Sedang apa?” tanyanya.

“Tidak, aku…” tiba-tiba Sasazaki seperti berpikir. “Ah souka!!!” tiba-tiba ia berteriak sendiri. “Kau hendak kemana, Changmin-sshi?”

“Mau pulang kerumahku,” katanya.

“Buru-buru?”

“A… aniyo. Wae?” tanyanya bingung.

“Jebal, bisa antar aku kerumah temanku? Aku bawa amplifier!” katanya. Aaaah, bocah ini jenius!

“Tolong, Changmin-sshi!” kataku ikutan memohon.

“Tolong, Changmin-sshi!!” kami berdua memohon bersamaan sambil membungkuk. Err, agaknya ini lebay.

“A… arraseo… tapi ga usah membungkuk gitu, hahaha… aku tunggu di depan pintu lobby saja ya?” katanya.

“Ka… kamsahmnida, Changmin-sshi!!” kata Sasazaki girang. “Donghae, ayo bantu aku!!”

Akhirnya motorku aku parkirkan di parkiran motor. Aku dan Sasazaki berlari menuju apartment-nya.

“Ayo masuk, Donghae-sshi!” ajaknya.

“Tidak usah, kutunggu disini saja,” kataku.

“Masuk saja! Tidak ada siapa-siapa, kok!” kata Sasazaki sambil menarik lenganku secara paksa. “Duduklah, aku akan ambil barang-barangku.” Lalu ia pergi ke ruangan yang sepertinya kamarnya.

Beberapa menit kemudia ia keluar dengan gitar yang ia ranselkan di punggungnya sambil mengangkat sebuah amplifier.

“Biar aku yang bawa amplifier-nya,” kataku sambil mengambil amplifier-nya.

“Gomawo, Donghae-sshi,” katanya sambil menyeka keringat di dahinya. Amplifier itu memang hanya sebesar koper kecil, tapi lumayan berat. Tak mungkin untuk mengangkutnya dengan sepeda motor. Lalu kami keluar menuju depan pintu lobby bersama.

“Nanti bilang saja pada Changmin untuk mengikuti motor-ku dari belakang,” kataku saat kami berada di lift.

“Ne, arraseo,” katanya.

[Changmin POV]

Aku menunggu mereka berdua di dalam mobil yang kuparkirkan didepan lobby. Beberapa lama kemudian, mereka datang.

“Maaf menunggu lama,” kata si cowok yang belum aku tahu namanya.

“Gwaenchana,” kataku. Si cowok memasukkan amplifier ke kursi belakang disusul Sasazaki yang juga memasukkan gitarnya ke kursi belakang. “Mau kuantar kerumah siapa memangnya?”

“Kang Minhyuk. Kau kenal?” Tanya si cowok.

“Ah, aku kenal dia. Aku juga tau rumahnya. Kalau begitu, aku tak perlu menunggumu, kan?”

“Oh oke, kau bisa jalan duluan, Changmin-sshi,” katanya. “Oh iya, Sasazaki ikut dengan mobilmu saja, boleh?”

“Ne, Sasazaki bisa ikut mobilku.”

“Kamsahamnida atas bantuanmu, Changmin-sshi!” katanya lalu pergi ke area parkiran sepeda motor.

“Masuk saja, Sasazaki-san!” kataku.

“Eh, ne…” lalu ia masuk dan duduk di kursi depan. Aku mulai mengemudikan mobilku menuju rumah Minhyuk.

“Minhyuk adalah temanku di klub matematika. Makanya aku kenal,” kataku.

“Oh…” ia menyahut. Entah mengerti atau tidak ucapanku.

“Kau latihan untuk kompetisi music?” tanyaku.

“Eh? Aaah, ne! Music Competition!” katanya sambil tersenyum. “Kita membuat sebuah band.”

“Oh… kau bermain gitar?”

“Ne…”

“Cowok tadi namanya siapa? Ia juga ikut?”

“Namanya Lee Donghae. Kelas 2-B. Ne, dia vokalis-nya.”

“Hmm…” lalu kami tidak bicara lagi. Sulit berbicara dengannya. Pasti Minhyuk yang bermain drum-nya.

Ketika sampai didepan rumah Minhyuk, ternyata si Donghae itu menunggu di depan rumah.

“Donghae itu pacarmu, ya?” tanyaku.

“Ahaha, aniyo! Kami Cuma teman!” katanya. “Changmin-sshi, kamsahamnida atas bantuanmu!”

“Ne, cheonmaneyo. Perlu kubantu bawakan amplifier-nya?” tanyaku.

“Tidak usah, Donghae… will take it. Oh iya Changmin-sshi! You should watch us at the competition, arraseo?” katanya.

“Ne, aku akan nonton,” kataku. Ia keluar dari mobil lalu Donghae segera beranjak dan mengambil amplifier-nya. Lalu Sasazaki mengambil gitarnya.

“Aku pergi dulu ya! Salam buat Minhyuk! Semoga sukses ya!” kataku dari dalam mobil.

“Ne! hati-hati dijalan!” kata Sasazaki seraya melambaikan tangannya. Lalu aku menjalankan mobilku dan pulang. Hemm… apa aku ikut saja ya kompetisi itu?

***

[Donghae POV]

“Minhyuk! Kau benar-benar mengerjai kami!” kataku kesal sambil menaruh amplifier Sasazaki dengan agak kasar, yah saking lelahnya. Amplifier itu lumayan berat soalnya.

“Haauuu, hati-hati, Donghae-sshi~ jangan dibanting…” kata Sasazaki sambil mengangkat lagi amplifier-nya dan menaruh di daerah pojokan.

“Mian, tanganku sudah sangat lelah. Amplifier-mu lumayan berat soalnya,” kataku sambil meregangkan lenganku.

“Maaf… aku lupa soal amplifier itu. Saat kubilang gak jadi aja latihannya, kau sudah menutup telepon,” kata Minhyuk.

“Hah, gak mungkin!” kataku. “Oh iya, tadi kami diantar Shim Changmin, lho!”

“Jinjja?? Ketemu dimana?” tanyanya terkejut.

“Ketemu didepan apartment-nya Sasazaki.”

“Ngomong-ngomong soal dia… aku lupa kalu dia. Ah dia pasti menang!” katanya. Apa sih? Ngomong setengah-setengah.

“Maksudmu apaan sih?”

“Kau lupa ya? Dia kan Piano Prince di sekolah kita.”

“Bukannya dia Math Prince?”

“Ih, itu juga salah satu julukannya. Tapi yang paling populer itu ya Piano Prince. Dia kan jago banget main piano klasik. Tak jarang juga ia masuk televisi dan main di konser ayahnya.”

“Ayahnya?”

“Kau ini anak SMA mana sih? Itu kan udah meluas banget. Ayahnya kan seorang konduktor handal. Katanya beliau sudah sering gelar konser di berbagai macam negara di Eropa.”

“Wuaahh…”

JREEEEENGGG!!!

“Omo!!” teriakku kaget. Tiba-tiba suara keras itu muncul. Aku benar-benar kaget dengan suara keras itu sampai-sampai jantungku berdegup kencang.

“Mi… mian… aku lupa kalau amplifier-nya belum kukecilkan volume-nya…” kata Sasazaki dengan tampang polos. Sejak kapan ia sudah mencolokkan gitarnya pada amplifier-nya? Dan ia bisa saja menemukan stop-kontak untuk amplifier-nya.

“Aiissh, jinjjaaaaa aku kaget sekali, Sasazaki!” kata Donghae sambil mengelus-elus dadanya.

“Miaaan! Aku benar-benar lupaaaa,” katanya sambil menangkupkan tangannya jadi satu. “Ah, Minhyuk-sshi, coba dengarkan aku!” katanya. Ia mulai memainkan lagu yang ada di kertas.

Bagian awal ia mainkan melody-nya. Lalu saat bagian verse, ia mulai memainkan rhythm-nya sambil menyenandungkan lagunya. Lumayan juga permainannya. Bukan, dia mahir!

“Ah, Donghae-sshi!” tiba-tiba ia berhenti memainkan gitarnya. “Coba kau juga ikut nyanyi. Dari awal ya!”

Lalu ia mulai lagi dari intro. Saat di verse, Donghae mulai ikut bernyanyi. Menyelaraskan temponya dengan tempo gitar Sasazaki.

Meskipun pronouncation-nya tidak terlalu bagus, namun dia lumayan juga dalam hal ini. Aku jadi semakin optimis untuk menang nih…

Lalu tiba saatnya bagian Sasazaki. Suaranya pun lumayan bagus. Yah, mungkin ia belum terlalu terbiasa bernyanyi sambil memainkan gitar. Tapi ini sudah lumayan…

“Otthokkae, Minhyuk-sshi?” Tanya Sasazaki setelah ia selesai memainkan keseluruhan lagu. “Mian, aku sudah lama tidak main, jadi agak kagok. Apalagi sama nyanyi, hehe.” Mwoyaaa? Itu permainan yg belum maksimal?

“Sudah bagus, kok. Tapi kalau menurutmu itu belum kemampuan maksimalmu, buatlah menjadi maksimal,” kataku dengan bahasa Jepang agar ia mudah mengerti maksudku. “Oke, ayo kita coba latihan full!” seruku.

“Neee!!” sahut mereka berdua semangat lalu beranjak ke ruangan musikku.

To be Continue…

untuk yg gatau amplifier itu kaya gimana, ini lah yg namanya amplifier🙂

kebetulan nemu gambarnya yang bermerek Marshall, hehe..

nah, yg diangkut Mami itu amplifier yang bisa dibawa kemana-mana, yg kayak gini, hehe. kalo live concert besar biasanya gak pake yg kayak gini. biasanya orang memakai ini untuk di konser ruangan kecil tertutup.

ini gitar yang dipakai Mami (dalam fanfic saya)

ini detail bodinya, hehe.. ini cuma bodi, belom jadi gitar beneran, wkwk..

gitar benerannya kaya gini nih :

kalo ini sih Mami Sasazaki beneran xD

dia lagi manggung sama SCANDAL.

4 Tanggapan to “Music and Friends – Chapter 2”

  1. cagalli14 30 Desember 2011 pada 6:27 AM #

    Hauuu mami kren >.< Ayo cpt update d ..mau foto mami main gitar bnyk2 wkwk

    • nouhime 30 Desember 2011 pada 7:05 AM #

      wahahaa xD
      tapi Mami kalo dipanggung dia paling ga banyak gerak, soalnya konsen sama gitarnya😀

  2. elf_love 31 Desember 2011 pada 9:09 AM #

    Btul kan Donghae yg jdi vokalis!!! *jingkrak”*
    astga, tga bgt sih sklah ny! Msa g ikt kna denda 7000 won?
    Changmin jga ikt lmba tu?
    Wah, spa yg mnang nih???
    Lnjut onn!!!

    • nouhime 1 Januari 2012 pada 2:34 AM #

      wakakakakaaa
      ada deeeh~ rahasia perusahaan (?)
      stay tune aja (?) xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: