A Place To A Heart (16)

16 Feb

A PLACE TO A HEART

Cast       :

 Siwon as 1st son

Donghae as 2nd son

Minyoung as 3rd daughter

Minho as 4th son

Sulli as 5th daughter

Tiffany as Minyoung look a like 

Sooyoung as Siwon’s girlfriend

Yuri as Minho’s manager team

Kang Jiyoung as Sulli’s bestfriend

 

CHAPTER SIXTEEN : LUCRENZIA & CESARE

* Donghae pov*

“Nah…karena selama ini kita sudah mengalami saat yang berat dan waktu yang kita lewati sebagai satu keluarga yang utuh sudah berkurang banyak maka appa putuskan kita semua akan berlibur ke Jepang!!”

Malam ini saat aku pulang dari kampus,appa mengumumkan bahwa minggu depan saat Sulli sudah memulai liburnya kami akan berlibur ke Jepang.

“Sekalian merayakan kelulusan Minho! Kita akan berkeliling Jepang,”seru appa senang.

“Horeee! Sudah lama sekali kita tidak berlibur,”ucap Sulli riang. Saat seperti ini aku bisa melihat sisi kekanakan alami yang ada pada dirinya. Sudah lama tidak melihat dia seperti ini,umma juga terlihat senang.

“Bolehkah aku membawa Sooyoung ikut?”Tanya Siwon.

“Kalau begitu Tiffany juga boleh ikut?”Tanya umma.

“Ne ne…kau juga Donghae-ah,Minho-ah,kalau punya pacar ajak saja. Sekalian pendekatan dengan umma,”jawab appa.

“Ah mwoya… Tiffany itu sudah calon istri Donghae,”potong umma.

Semua anggota keluarga terdiam. Siwon dengan ekspresi senang dan kalem,Minho dengan ekspresi terkejut sama seperti appa namun Sulli lebih terdiam lagi. Dia menatapku dengan penuh tanda Tanya. Sementara aku,mendadak teringat akan kekacauan kecil yang sudah kutimbulkan.

“Oppa…kau akan menikah dengan Tiffany onnie?”Tanya Sulli malam itu.

Aku menatap sungai Han yang penuh dengan bias cahaya lampu di kota.

“Aku mengatakan pada umma,akan menikahi Tiffany,”jawabku akhirnya. Sulli terdiam,lebih tepatnya mungkin dia sangat terkejut sampai tidak bisa berbicara. Aku mengusap rambutnya.

“Jangan khawatir. Itu hanya gertakanku saja. Demi menyelamatkan hubungan Siwon hyung. Setidaknya sampai mereka menikah,”ucapku.

“Ne…,”tanggap Sulli. Dia menatapku,tatapannya sendu.

“Lalu setelah mereka menikah apa yang akan oppa lakukan? Mengaku pada umma bahwa oppa berpura-pura? Lalu mengatakan oppa dan aku…,”Sulli terdiam. Dia tampak bingung.

“Sulli-ah?”tanyaku.

Sulli masih terlihat bingung. Tampak sedang berkelut dengan pikirannya sendiri.

“Sulli?”

“Oppa…,”akhirnya Sulli tersadar dan menatapku lagi. Wajahnya penuh kebimbangan.

“Hubungan kita sekarang…lebih tepatnya disebut apa? Apa boleh?”Tanya Sulli,ekspresi wajahnya terlihat berbeda,dia kelihatan serius. Aku terdiam.

Jujur…pertanyaan seperti ini dan kenyataan inilah yang ingin kuhindari. Aku sampai tidak memikirkannya sebelumnya karena menepis hal seperti ini.

“Oppa memang tidak bisa menjawabnya ya…begitu pun aku,”ucap Sulli tertunduk.

“Sulli-ah…,”aku menggenggam kedua tangannya. Sulli mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan matanya yang bening.

“Sampai selama apa pun…bisakah kita jalani semuanya apa adanya?”tanyaku.

“Sampai kita benar-benar tidak bisa seperti ini lagi. Entah apa yang akan berubah… Walau kita harus menyembunyikan perasaan kita pada dunia,entah apa yang akan kita hadapi hari esok,solusi yang aku pikirkan hanyalah berada disamping orang yang kucintai. Sampai selama apa pun…tolong kau tetaplah ada disisiku.”aku memeluk Sulli dengan erat. Perasaan saat memikirkannya,aku bahkan rela melepas gelar sebagai ‘oppa’ sekalipun,apa yang sudah aku dapatkan dengan mengorbankan semuanya harus kugenggam erat selama apa pun itu!

Aku bisa merasakan bajuku basah dan terasa hangat. Aku lalu melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya,mengusap airmatanya.

***

Seminggu kemudian kami berangkat ke Jepang. Sooyoung ikut bersama kami,Tiffany tidak bisa ikut karena ada pekerjaan. Kami menyewa guest house khas Jepang dengan pemandangan indah saat di Kyoto. Semua terlihat senang walau masing-masing menyimpan satu lubang kecil yang tak terisi dihati kami. Ini adalah liburan pertama sekeluarga sejak Minyoung meninggal.

“Donghae,Minho,Sulli-ah…umma dan appa pergi mencari oleh-oleh dulu ya,Siwon dan Sooyoung belum kembali dari kuil?”Tanya umma.

“Ne,mereka sepertinya pergi jalan-jalan berdua,”jawab Minho.

“Oh begitu…ya sudah kalau begitu kami pergi dulu ya,nanti makan malam kita berkumpul lagi,kabari Siwon,”ucap umma.

“Ne umma,”jawab kami.

Aku lalu kembali bersantai di depan televisi sementara Sulli mengganggu Minho yang asyik makan.

“Ah~~~ oppa apa hubunganmu dengan Jiyoung?!”Tanya Sulli dengan volume keras. Aku sampai menoleh pada mereka. Minho melotot kaget dan menyadari aku menunggu jawabannya.

“Jiyoungie?”Tanyaku.

“Ne oppa,kau tau,Minho oppa sibuk sms-an dengan Jiyoung. Aku pikir dia sms-an dengan siapa sejak tadi sibuk dengan ponselnya ternyata Jiyoung toh. Ah oppa…sejak kapan kau menyukai Jiyoung?”todong Sulli.

“Ne Minho-yah,sejak kapan? Aish…kau ini ternyata gesit juga ya. Kupikir selamanya kau tidak akan punya pacar tapi sekarang kau berhasil,”aku mengacak-acak rambut Minho.

“Yach!!! Aish…jeongmal. Aku ini baru dekat dengan dia kok! Tidak pacaran!”elak Minho.

“Jinjja? Hmmm kalo dipikir-pikir iya sih mustahil mereka pacaran. Jiyoung kan Cuma suka dengan Siwon oppa dari kecil sampai sekarang,”gumam Sulli.

“Tuh kan…makanya dia sms aku,sibuk nanyain Siwon oppa Siwon oppa~,”Minho menirukan gaya Jiyoung. Aku dan Sulli menatap Minho curiga.

“Aish…ya sudah tidak percaya!”Minho beranjak dari tempatnya.

“Kau mau kemana?”Tanyaku.

“Aku mau jalan-jalan!”jawab Minho lalu keluar. Kami berdua lalu saling bertatapan setelah melihat tingkah lucu Minho yang salting. Tapi detik berikutnya aku sadar,saat ini kami Cuma berdua saja.

“Oppa wajahmu merah sekali,”Sulli lalu beranjak meninggalkanku.

Jeongmal?!

Akh aku tidak sadar…karena berpikir saat ini hanya berdua dengan Sulli aku jadi berdebar sendirian. Tentu saja tidak jika Sulli memang adik kandungku,tapi pada kenyataannya dia adalah orang yang kucintai walau sudah hampir 17 tahun menjadi adikku.

“Oppa…lihat kesini!”teriak Sulli dari ruang sebelah.

Aku langsung menghampirinya. Sulli berdiri diambang pintu sambil menatap taman belakang yang sangat indah. Aku tidak tau bahwa di taman ini ada pohon sakura,kebetulan sekali kami datang disaat musim sakura sedang berbunga.

“Indah ya,”ucap Sulli. Dia menatap pohon sakura itu dengan wajah berseri.

“Ne,”

Tapi tidak lebih indah daripada senyummu….

Akh,aku jadi seperti ngegombal lagi kan…inilah yang sering kubatinkan,kadang aku merasa aku selalu menggombal tapi ya ini kenyataanya. Aku ini jujur loh!

“Aku ingin…makanan enak yang kucicipi,lagu yang asyik kudengar,pemandangan indah yang kulihat,juga dirasakan oleh Minyoung onnie,”Sulli tersenyum sendu sambil menatap lurus kedepan. Aku mengerti perasaannya,aku pun juga ingin begitu. Ingin melihat senyum yang sama seperti yang dipancarkan Sulli saat melihat pohon sakura ini diwajah Minyoung.

“Kau ingin mendoakan Minyoung dikuil?”tanyaku.

“Eh? Kuil?”Tanya Sulli kaget.

“Ne,”

“Aku belum pernah ke kuil. Apa bisa mendoakan onnie disana?”Tanya Sulli semangat.

“Tentu saja,”jawabku sambil mengusap-usap kepalanya.

***

Plok! Plok!

Aku berharap,Minyoung yang ada di surga bisa menunggu kami disana dengan tenang dan bahagia.

Aku melirik Sulli yang berdoa disampingku. Dia berdoa dengan khusuknya.

Semoga Sulli selalu bahagia….

Setelah berdoa kami lalu memutuskan untuk melihat-lihat disekitar. Pohon sakura yang ada di kuil juga sudah berbunga dengan lebat.

“Oppa,disini pohon sakuranya juga berbunga dengan lebat,indah sekali,”ucap Sulli terkagum-kagum.

“Ne,musim ini memang yang paling indah di Jepang,”ucapku.

“Katanya,dimusim saat pohon sakura berbunga dengan lebat,itu adalah musim dimana cinta mulai bersemi,”Sulli menatap bunga sakura dengan bahagia.

“Cinta…?”tanyaku.

“Eh?!”Sulli terkejut. Dia lalu salah tingkah dan wajahnya memerah. Aku lalu tersenyum.

“Bagiku,perasaan itu bersemi setiap saat,”aku menggenggam tangan Sulli yang berdiri disebelahku.

“Setiap Sulli tersenyum,”

Sulli-ah…dipikir sampai habis pun,aku tidak bisa menghentikan perasaan ini Cuma karena status kita. Yang aku tau aku bahagia hanya dengan kau disampingku,tersenyum dan tertawa denganku.

“Wah…Kalian sepasang kekasih yang serasi sekali. Sepasang manusia yang saling mencintai itu terlihat indah ya,”

Baru saja aku akan mencium Sulli tiba-tiba datang dua orang yang kelihatannya merupakan sepasang kekasih juga. Aku dan Sulli langsung menjauhkan wajah kami masing-masing dan bertanya-tanya kenapa orang ini berani sekali mengganggu moment yang penting.

“Ah maaf mengganggu tapi kalian benar-benar manis jadi aku tidak tahan untuk menegurnya,”ucap sang gadis.

“Ah tidak apa-apa. Kami pikir kami sudah mengganggu kalian,”ucapku.

“Ah maaf,istriku ini memang suka sekali melihat pasangan anak muda yang cakep dan cantik,”sang pria menggandeng orang yang diakuinya sebagai istri itu.

“Kalian suami-istri?”Tanya Sulli kaget. Ya,wajar dia kaget karena mereka ini juga masih terlihat sangat muda jika harus ditempatkan dalam level pasangan baru menikah sekalipun.

“Betul sekali. Walau baru 1 tahun menikah tapi saat ini istriku sudah mengandung 3 bulan. Kami selalu datang ke kuil ini memohon perlindungan pada jabang bayi. Jika melihat ada pasangan yang good looking dikit istriku pasti suka mengganggu,”jelas pria itu malu-malu.

“Aku suka melihatnya. Manis sih apalagi kalian. Kalian serasi sekali. Kalau menikah mungkin anaknya akan sangat lucu,”ujar sang istri.

Wajah kami berdua memerah. Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu tentang hubunganku dan Sulli. Memang sih aku berharap akan hidup selamanya dengan Sulli tapi sampai memikirkan anak aku sama sekali tidak pernah.

“Kami sebenarnya kabur dari rumah dan menikah. Aku berjanji pada istriku akan membahagiakan dia selamanya. Walau awalnya terasa berat tapi aku yakin dengan cinta kami yang kuat kami bisa melalui semuanya,”cerita pasangan itu.

Aku terdiam mendengarnya. Ternyata yang seperti ini memang ada dan modal mereka hanya mempercayakan pada perasaan yang mereka miliki. Jika aku seperti itu,apa aku sanggup membahagiakan Sulli?

“Karena itu jika melihat orang berpacaran apalagi yang cakep dan cantik aku senang sekali. Cinta itu hal yang penting untuk dipertahankan,tidak ada hal yang bisa menghentikan dan memisahkannya,”ucap sang istri senang.

Aku menatap Sulli yang memperhatikan cerita mereka dengan seksama. Apa yang dipikirkannya saat ini? Kalau aku,aku ingin menjadi seperti pasangan ini. Demi hidup dengan orang yang kita cintai sanggup meninggalkan semuanya. Memiliki kepercayaan bahwa cinta tidak ada yang bisa memisahkan dan bisa membawa kebahagiaan. Aku ingin seperti itu,aku ingin percaya.

Diperjalanan pulang dari kuil itu,Sulli banyak diam. Mungkin ucapan pasangan tadi yang dipikirkannya atau mungkin dia mengkhawatirkan hubungan ini yang tidak bisa diakui oleh orang lain selain kami berdua?

“Sulli-ah,”aku menarik tangannya untuk lebih dekat denganku. Sulli tersadar dari lamunannya dan menatapku.

“Sulli…ka…,”

“Ne oppa?”

“Akh…anieyo…,”ucapku mengelak.

“Eh?”Sulli kelihatannya kecewa.

“Jangan pikirkan hal lain…,”aku menyentuh kedua pipinya.

“Oppa…apa kita bisa begini selamanya?”Tanya Sulli cemas. Aku tidak bisa menjawabnya,aku tidak ingin memikirkan jawabannya. Aku hanya menarik Sulli kedalam pelukanku.

Kau ingin aku bagaimana Choi Sulli? Aku akan mengikuti keinginanmu!

***

“Sulli-ah…Kita tinggal disini saja yuk. Jangan ikut pulang,aku akan menjagamu selamanya,”

Aku ingin membawamu lari kemana pun asal kita bisa bersama selamanya. Aku ingin hidup denganmu dan meninggalkan keluarga kita!

Tadinya aku berpikir seperti itu. Tapi logikaku tidak berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan dan kurasakan!

Sejak saat itu aku dan Sulli tidak berduaan lagi dan terus bergabung dengan keluarga. Selama itu aku terus bergelut dengan pikiranku,banyak ide-ide konyol muncul dikepalaku sejak hari itu. Membawa Sulli lari,meninggalkan keluarga Choi dan memulai hidup baru hanya berdua dan masih banyak lagi tapi aku tidak sanggup mengacaukan masa depan anak ini. Terlebih,aku tidak sanggup merusak kehidupan sempurna Sulli ditengah-tengah keluarga yang diidamkannya. Namun dilain pihak ada perasaan bergejolak yang selalu ingin bersama dia dan tidak ingin melepaskannya.

“Oppa,apa yang kau lakukan disini? Kenapa belum tidur?”Tanya Sulli mengagetkanku yang sedang santai memikirkan pergelutan hatiku di balkon lantai atas.

“Sulli-ah…kenapa belum tidur?”tanyaku kaget.

“Oppa yang kenapa belum tidur,”ucapnya.

“Aku tidak bisa tidur,”jawabku.

“Sama saja…oppa,menurutmu apa bagus jika suatu hari kita menikah?”tanyanya. Aku tersentak kaget mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu,apalagi keluar dari mulut Sulli.

“Tentu saja,”jawabku tegas. Sulli tersenyum kecil.

“Di Roma dulu…ada kakak beradik anak seorang pastor yang selalu berdua sejak kecil karena dikucilkan masyarakat yang menganggap mereka adalah anak setan. Jika Lucrenzia menangis karena dikata-katai oleh orang bahwa dia adalah anak setan,Cesare akan sangat marah…Cesare bilang,tidak ada yang boleh mengganggu bidadarinya. Saat tumbuh dewasa,Lucrenzia sadar bahwa dia mencintai kakaknya itu,begitu juga Cesare. Namun karena ayah mereka yang pastor diangkat menjadi seorang Paus,demi kekuasaan dan Negara,Lucrenzia dinikahkan dengan pangeran dari kerajaan lain. Cesare yang mencintai Lucrenzia tidak bisa melakukan apa-apa,dia juga punya janji untuk menjadi seorang Paus yang memimpin Roma dan mengubah peraturan bahwa anak seorang pastor dikutuk sebagai seorang anak setan. Lucrenzia,yang mencintai Cesare tidak memiliki pilihan lain selain mendukung kakaknya itu dan menikah dengan orang lain. Suatu hari suami Lucrenzia meninggalkannya karena konflik di dalam istana,Cesare sangat marah namun itulah kesempatan mereka bersatu kembali. Melihat kesempatan itu Lucrenzia menyampaikan perasaannya,mereka saling mencintai. Namun walau cinta mereka berhasil bersatu malam itu tidak lamanya Lucrenzia harus kembali pada suaminya,Cesare juga kembali focus pada cita-citanya. Lucrenzia yang mengorbankan perasaannya dan menikah dengan orang lain demi mendukung usaha kakaknya dan Cesare yang terus memperjuangkan hak anak seperti Lucrenzia,mereka memang tidak pernah bisa hidup bersama selamanya,tapi cinta mereka tetap terkenang sampai sekarang,”

“Lalu apa yang kau pikirkan sekarang?”tanyaku.

“Oppa…,”Sulli menatapku dengan sendu.

“Aku tadinya berpikir,kita yang sejak kecil menjadi saudara tidak pantas memiliki perasaan seperti ini. Tapi kita tidak seperti Lucrenzia dan Cesare yang walau mereka saudara kandung mereka masih bisa saling mencintai sebagai sepasang kekasih. Kita bukan…saudara kandung…,”ucap Sulli.

“Tapi kita juga tidak bisa terus seperti ini…,”suara Sulli mulai terdengar berat.

“Sulli-ah…,”

“Aku menginginkan keluarga yang utuh. Aku ingin keluarga kita tetap seperti dulu. Oppa…,”Sulli menatapku dengan matanya yang berlinangan airmata itu.

“Mulai hari ini…ayo kita hentikan perasaan itu sebelum makin jauh seperti Lucrenzia dan Cesare. Aku takut nanti tidak bisa sekuat Lucrenzia. Sekarang ini saja…aku tidak ingin melepaskan oppa. Tapi aku harus melakukannya,”

Aku merasa,airmataku ikut terjatuh seiring dengan kata-kata yang keluar dari bibir Sulli.

“Aku tidak bisa berada di rumah dimana aku ingin selalu berlari memeluk oppa dengan perasaan seperti ini…,”isak Sulli.

“Aku harus menghentikannya segera sebelum terjadi kesalahan lagi…,”

Aku memeluk Sulli yang menderita mengucapkan kata demi kata yang menyakitkan baik bagiku maupun bagi dia.

“Arraso…sudah jangan ucapkan lagi. Rasanya makin sakit saja,”lirihku.

“Oppa…mianhe…,”isak Sulli.

“Sulli-ah…jangan berhenti dulu sampai hari terakhir kita di Jepang,”pintaku.

Sulli menatapku heran.

“Ikut aku!”

Aku lalu membawa Sulli kabur malam itu. Kami pergi dengan kereta malam menjauhi yang lainnya. Aku ingin walau sehari saja,benar-benar memperlakukan Sulli sebagai gadis yang paling kucintai.

Drrrtttt…drrrtttttt…aku dan Sulli menatap layar ponsel kami. Siwon sibuk meneleponku sementara umma menelepon Sulli. Kami sengaja tidak mengangkatnya,jika kami pulang nanti paling bilang saja ponsel kami habis batre dan kami jalan-jalan karena penat. Sulli tertawa kecil karena tingkah kami,mungkin dia berpikir bahwa hari ini kami nekat dan bandel sekali.

“Apa tidak sebaiknya kita kirim pesan saja?”Tanya Sulli. Aku menggeleng.

“Nanti mereka nyusul,tidak boleh,”jawabku.

“Lalu kita akan kemana oppa?”Tanya Sulli menatap keluar jendela kereta subuh itu.

“Kemana saja,aku ingin jauh dari keluarga kita sehari ini,”jawabku lalu merangkulnya.

“Oppa…,”

“Ne?”

“Saranghae,”ucap Sulli dalam rangkulanku.

“Kau diterima…hari ini kita berpacaran secara resmi,”kataku. Sulli mengangkat kepalanya dari dadaku dan menatapku.

“Kau bukan Lucrenzia,aku bukan Cesare. Kau Sulli dan aku Donghae,sepasang kekasih. Arraso?”

Sulli tertawa kecil lalu kembali memelukku.

“Wah~~ jadi ini danau Biwa,”seru Sulli terpesona dengan keindahan dari kanal danau Biwa yang disekelilingnya dihiasi oleh pohon sakura yang sedang bermekaran. Tidak hanya itu,jalan yang kami tapaki juga penuh dengan kelopak bunga sakura yang berguguran. Kurasa,tempat ini yang paling indah di Jepang. Terlebih melihat seorang gadis yang sangat aku sayangi berjalan disisiku sambil terus memuji dan mengagumi tempat ini diantara indahnya bunga sakura,ya,Sulli tetap yang paling cantik.

“Oppa…ayo kita selca disini,”Sulli mengeluarkan ponselnya. Aku mendekat lalu kami mengambil beberapa foto yang dilatarbelakangi oleh pohon sakura yang berbunga lebat.

“Ah…aku suka sekali tempat ini,”ucap Sulli sambil memandang sekitarnya.

“Kita datang dimusim yang tepat,”ucapku.

“Ne…benar-benar beruntung,”tanggapnya.

“Sulli,apa kau mau melihat matahari terbit dari jembatan di kanal danau ini?”tanyaku. Sulli tampak excited sekali dan tersenyum,aku lalu menggenggam tangannya dan kami berjalan menuju jembatan yang kumaksud.

“Wuah,benar-benar bagus. Kudengar dulu danau Biwa bisa dilihat dari istana di Sakamoto tempat Mitsuhide Akechi dan keluarganya tinggal. Istri Mitsuhide Akechi sangat menyukai pemandangan danau Biwa dari istana itu,dia bahkan meninggal karena bunuh diri di tempat dia sering memandang danau Biwa,”cerita Sulli.

“Bunuh diri?”tanyaku kaget.

“Ne…saat itu banyak hal terjadi dan istana mereka akan diberikan kepada orang lain oleh Nobunaga Oda demi mempertahankan istana yang sangat dia cintai itu sang putri bunuh diri,”jawab Sulli.

“Dia mencintai istananya tapi tidak mencintai nyawanya,”celotehku.

“Ani~…saat itu di Jepang memang seperti itu oppa,mereka lebih mempertahankan kehormatan disbanding apa pun juga,”

“Kau ini hebat ya. Banyak sekali cerita yang kau tau,dari Lucrenzia sampai Mitsuhide Akechi,”aku mengacak-acak kepalanya.

“Aku kan baca banyak buku. Akh! Mataharinya mulai naik ke atas!!”tunjuk Sulli. Kami sama-sama memandang matahari terbit dari tengah jembatan itu. Ternyata hari ini cepat juga berjalan ya…jujur,aku tidak mau waktu berjalan sedetik pun.

Jika tidak…aku akan kehilangan Sulli.

“Oppa?”Sulli kaget saat aku tiba-tiba memegang tangannya.

“Mau bersepeda?”tanyaku. Tadinya aku ingin mengatakan bahwa aku tidak ingin hanya menjadi kekasihnya sehari ini saja tapi aku tidak mau mengacaukan suasana hatinya.

“Ne,”jawab Sulli semangat.

“Kita bisa ke kuil dekat sini dan mendoakan putri yang meninggal itu,”ucapku. Sulli mengangguk senang.

Begitulah…hari itu kami ke berbagai tempat yang indah di Shiga,dekat danau Biwa. Terus melihat senyum dan tawa orang yang kucintai,bersama-sama dan memegang tangannya. Jika terus-terusan seperti ini aku tidak bisa melepaskanmu lagi Sulli-ah….

“Sulli,sudah saatnya kita pulang. Mereka pasti benar-benar cemas,”

Hari sudah sore dan kami kembali ke kanal yang dikelilingi pohon sakura itu lagi. Sulli bilang,itu adalah tempat yang cocok untuk mengakhirinya. Ya,mengakhiri hari ini…mengakhiri hubungan kami.

“Oppa…,”kini ekspresi Sulli yang dari tadi tetap tersenyum ceria berubah drastis. Kecemasan dan ketakutan menghiasi wajahnya,dia terlihat sulit sekali untuk tersenyum. Lalu aku…aku tidak bisa bergerak,mulutku tidak mau bicara. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa ini bukanlah akhir.

*author pov*

Donghae mengumpulkan semua keberaniannya. Keberanian untuk mengakhiri apa yang seharusnya tidak terjadi antara mereka berdua. Dengan cepat dia menarik Sulli ke dalam pelukannya dan gadis itu menangis tanpa suara,tidak ingin Donghae menyadari bahwa dia sudah merasa hancur.

“Kenapa kau menangis?”tanya Donghae.

Sulli tidak menjawab,namun sekarang dia bisa terisak.

“Kalau kau menangis,aku tidak bisa melepaskanmu,”ucap Donghae. Sulli langsung menghapus airmatanya dan mengangkat wajahnya,menatap Donghae.

“Oppa juga,kenapa berwajah seperti itu. Kita sepakat saja,kita harus tersenyum,”ucap Sulli. Donghae tersenyum lirih. Dia menyeka poni Sulli dan mengusap kepalanya.

“Aku…hari ini bahagia sekali,”ucap Donghae.

“Gomawo,”Donghae mencium kening Sulli dengan penuh perasaan. Airmata Sulli lagi-lagi terjatuh.

“Jangan menangis…,”ucap Donghae. Sulli langsung menyeka airmatanya dan memasang senyumnya.

“Oppa…aku juga berterimakasih. Aku bahagia sekali…kedepannya…aku akan bahagia sebagai adikmu,”ucap Sulli. Donghae menahan ledakan kesedihannya dengan terus tersenyum.

“Ne…saranghae Sulli-ah…jeongmael saranghae,”Donghae menggenggam kedua tangan Sulli.

“Naddo saranghae,”balas Sulli.

Perlahan dan dengan lembut,Donghae mencium Sulli dibawah pohon sakura yang kelopaknya berjatuhan ke tanah.

Pada akhirnya…mereka memang seperti Lucrenzia dan Cesare Borgia,sekuat apa pun perasaan yang mereka miliki,tetap saja tidak bisa bersatu selamanya. Lalu,jika memang seperti itu,kenapa Tuhan harus mendatangkan perasaan seperti itu diantara mereka?

Kadang cinta itu bukan sebuah jaminan…takdir tetap yang memonopoli semuanya….

 

TBC

 

Catatan author :

“Hello~ akhirnya publish lagi *fyuuuh*. Part ini emang khusus buat Ssulhae (tapi kenapa posternya paling gede gambar Siwon? Ya gpp lah kan dia belum dapet giliran jadi yang utama di poster hohoho). Akhirnyaaaaaaaaa! Aku sengaja memfokuskan kembali hubungan Ssulhae karena *bisik2* bocoran ya …APTH tinggal beberapa chapter lagi kok alias udah mendekati ending. Huhuhu~ Well,semoga aku bisa menyelesaikannya dengan baik dan diberi kelancaran,amiiiin…Sampai jumpa di next chapter ^^,” – cagalli14

 

 

9 Tanggapan to “A Place To A Heart (16)”

  1. Sahl-Lin 16 Februari 2012 pada 5:14 AM #

    Huaaa yg di kuil jd inget kimi ni todoke…. Aigooo jgn berpisah kalian kan bukan saudara kandung ehehehe ditunggu lanjutannya kak semoga gak angst T_T

    • cagalli14 16 Februari 2012 pada 7:03 AM #

      kkk~ liat aja nanti ~’___’~

  2. elf_love 20 Februari 2012 pada 9:18 AM #

    Huwaaa…….
    Galau bgt bca ni… >.<
    bru tau klo d Roma da kisah kyak gtu….
    Akh!!!!!
    jgn slesai dlu dong!!!
    cerirtanya msi seru nih!!!! #maksa
    hehehe…
    Lanjut onn!!! Hwaiting!!!

    • cagalli14 21 Februari 2012 pada 12:15 PM #

      hhe iya aku jg baru tau ada kisah kyk gitu mkny mumpung ingatan lg seger jd dimasukin aja deh wkwk okok sabar menunggu ya ^^

  3. deiismyday 22 Februari 2012 pada 12:38 AM #

    wooaaaahh udah ada lanjutannya!😀 Mereka kasian yaaaa, sedih banget disini…
    oke, next chap aku tunggu ^o^

  4. Vinasullhae 24 Februari 2012 pada 6:57 AM #

    Donghae ma sulli gak boleh pisah…
    Sedih banget kalo ampe mereka pisah…

    • cagalli14 26 Februari 2012 pada 4:52 PM #

      sip ..baca lanjutannya aja hhe

  5. missfishyjazz 17 April 2012 pada 8:00 AM #

    Yahhh .. Udah mau ending ..
    Kasian banget sih Donghae sama Sulli .. Kisah cintanya lebih tragis daripada Lucrenzia Borgia dan Cesare Borgia kalo aku rasa😦
    Makin gk sabar baca lanjutannya ..

  6. aristika 4 Februari 2015 pada 7:24 AM #

    ciye sulli sama donghae oppa hhhehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: