A Place To A Heart (17″)

6 Mar

A PLACE TO A HEART

Cast       :

 Siwon as 1st son

Donghae as 2nd son

Minyoung as 3rd daughter

Minho as 4th son

Sulli as 5th daughter

Tiffany as Minyoung look a like 

Sooyoung as Siwon’s girlfriend

Kang Jiyoung as Sulli’s bestfriend

CHAPTER SEVENTEEN (2ND VERSION) : SACRIFICE

Sulli,maaf aku tidak pernah membawamu ke semua tempat yang ingin kau tuju…

Sulli,waktu kita tidak banyak kan? Maaf aku tidak bisa selalu bersamamu…

Sulli…apa “Saranghae” saja cukup untukmu?

Sulli…maaf aku tidak pernah mengatakan banyak kata-kata indah yang bisa kau kenang.

Kau,gadis yang paling istimewa di dunia ini…maaf waktuku untuk mencintaimu begitu sedikit….

***

Mimpi itu sudah berakhir….

Donghae terbangun dan menatap tangannya. Tangan yang masih memegang dan memeluk seorang gadis saat itu. Tangan yang sudah tidak lagi menyentuh gadis mana pun selain orang tersebut. Tapi saat sekarang dia mengepalkan tangannya…hanya angin yang bisa dia raih. Donghae menatapnya dengan kosong.

Mimpi sudah benar-benar berakhir. Ini saatnya terbangun dan menjalani hari lagi dengan biasa.

“Kau yakin tidak mau pulang?”tanya seseorang disampingnya.

“Akh! Yah! Lee Hyukjae kenapa kau ada disini?!”Donghae melompat kaget.

“Yah! Tentu saja aku disini,ini kamarku goblok! Kau lupa ya semalam datang kesini seperti pelarian saja dan bilang menumpang disini selama yang kau bisa,bayar ya! Sehari 10 ribu won,”Eunhyuk mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut itu.

“Tapi kenapa kau tidur dikasur yang sama denganku kita seperti homo saja. Mau uang 10 ribu won perhari? Jadi gremoku saja kau,”tandas Donghae.

“Ya ..ya yah! Kau pikir aku semurah itu apa? Ck…malam ini tidak usah nginap disini kau,”ancam Eunhyuk.

“A…aniya…aku bercanda. Aku tidak mau ke rumah Sungmin karena dia tinggal dengan keluarganya,aku sungkan. Kalau Kyuhyun itu pacarnya sering sekali diapartemennya,jadi malas nanti aku jadi obat nyamuk,”ucap Donghae memohon-mohon.

“Hhh…arraso,tapi masakkan aku ramyun dulu ya,”Eunhyuk melengos menikmati kemenangannya pagi itu.

“Soal mudah,”.

~~~

“Hari ini pun Donghae tidak pulang?”tanya umma.

“Ne,dia bilang dia akan pulang sebentar besok untuk mengambil pakaian,”jawab Minho sambil menyuap nasi goreng kimchinya.

“Tumben anak itu mengerjakan tugas kuliah sampai menginap segala. Hhhh padahal umma mau mengajak dia belanja dengan Tiffany,”

Sulli yang makan disamping Minho Cuma bisa diam,ya,dia mengerti kalau ummanya akan gencar menjadi mak comblang Donghae dan Tiffany. Sulli juga cukup mengerti bahwa alasan Donghae tidak pulang adalah karena dia. Sulli Cuma bisa menghela nafas panjang.

“Sulli,bagaimana kalau kau hari ini temani Tiffany saja belanja untuk mendekorasi ulang ruang keluarga? Seleranya bagus loh,umma kalau tidak ada Donghae malas ah…Sulli saja ya temani Tiffany?”usul umma.

“Eh? Aku?”Sulli menunjuk dirinya.

“Ne…Sulli kan juga bisa memilih-milih,sekarang terserah selera Sulli deh bagaimana umma nurut,”ucap umma bersemangat. Sulli yang melihat ummanya begitu ceria seperti itu tidak enak menolak dan menerimanya begitu saja.

“Ah…akhirnya bisa pergi jalan berdua juga dengan Sulli!”seru Tiffany riang siang itu.

“Akhirnya?”

“Ne…aku selalu ingin jalan dengan Sulli. Berdua saja. Seperti adik-kakak,aku dari dulu ingin sekali punya adik perempuan yang manis seperti Sulli,”jawab Tiffany sambil menyetir mobil.

“Begitu…terimakasih,”jawab Sulli. Namun dalam hati dia bergumam bahwa satu-satunya kakak perempuan yang dia kenal hanyalah Minyoung,tidak ada yang lain.

“Ah…apa Sulli tidak suka? Aku pikir Sulli Cuma menganggap Minyoung-ssi saja yang pantas menjadi kakak Sulli. Keinginanku terlalu besar ya,”raut wajah Tiffany berubah sedih.

Sulli terdiam dan menatap Tiffany disampingnya. Tiffany cantik dan modis…dia juga baik hati dan ceria,seakan dunia disekitarnya begitu mudah,dia selalu tertawa dan tersenyum. Betapa santainya orang ini,watak yang mungkin disukai orang-orang tapi juga bisa dibenci orang yang tidak membutuhkan keceriaan,ah salah,maksudnya orang yang saat itu tidak bisa ceria,seperti Sulli saat ini. Tiffany tidak akan pernah bisa menjadi kakaknya….

“Ne…,”ucap Sulli. Tiffany tersenyum kecut.

“Arraso…kita selamanya berteman saja,”jawab Tiffany tersenyum ceria lagi.

Sulli masih begelut dengan pikirannya sambil menatap Tiffany. Dadanya bergemuruh hebat. Bukan karena marah atau kesal dan benci karena Tiffany dijodohkan dengan Donghae,tapi lebih karena dia iri melihat senyum ceria itu,karakter yang ringan itu. Sedangkan Sulli…sejak kapan keceriaannya hilang?

“Sulli?”Tiffany menghentikan mobilnya. Sulli mendongak kearah Tiffany dengan bingungnya.

“Kau kenapa?”Tiffany terlihat cemas. Sulli merasakan hidungnya basah dan wajahnya terasa hangat oleh…air mata?

“Ah…,”Sulli segera menyekanya.

“Kau menangis…ah…maafkan aku Sulli-ah,aku sudah menyakitimu ya? Karena mengingatkanmu pada Minyoung? Maafkan aku…aku tidak bermaksud,”

“Aniya…,”

“Aku sungguh tidak peka. Maafkan aku…,”

“Aniya…,”

“Harusnya aku tidak boleh mengatakan itu. Lain kali tidak akan terulang lagi. Aish,aku bodoh sekali,”

“Bukan begitu!”Sulli tiba-tiba berteriak lalu membuka seatbeltnya dan keluar dari mobil.

“Eh? Sulli?!”Tiffany kebingungan. Dia segera mengejar Sulli yang berlari ditengah keramaian. Karena putus asa,dia tidak bisa berpikir hal lain selain menelepon Donghae.

“Donghae,bisa ke Itaewon sekarang?”

~~~

Donghae menyetir mobilnya dengan kasar untuk mengejar kecepatan. Pikirannya kalut setelah mendengar cerita Tiffany dimobilnya. Walau belum tau apa yang membuat Sulli menangis tapi tetap saja dia merasa cemas dan tidak tenang.

“Dia lari kemana?!”tanya Donghae setelah sampai di Itaewon dan bertemu Tiffany.

“Kearah sana,aku sudah mencari selewatan sini tapi dia tidak ada. Donghae-ah,coba telepon saja dia,aku telepon tidak diangkat olehnya,”jawab Tiffany.

Donghae,tanpa mempedulikan saran Tiffany langsung berlari menyusuri arah yang ditunjuk Tiffany.

‘Sulli,kau dimana?! Ada apa sebenarnya?!’Donghae bertanya-tanya dalam hati sambil terus berlari mencari Sulli.

“Sulli!!!”

Donghae berlari ke sebuah meja di balkon atas sebuah kafe di ujung jalan. Sulli tidak minum juga tidak makan,disana dia Cuma diam dan terlihat matanya yang memerah.

“Oppa?”Sulli kaget saat melihat Donghae yang ngos-ngosan menghampirinya.

“Kenapa bisa tau?”tanya Sulli.

“Bodoh! Kau kenapa membuat cemas orang saja?! Kenapa kau menangis?!”bentak Donghae. Sulli jadi takut melihat Donghae marah seperti itu.

“Sulli!”dibelakangnya Tiffany menyusul dan menghampiri meja Sulli.

“Maafkan aku!”ucap Tiffany tegas.

“Onnie…aku yang minta maaf,”ucap Sulli pelan.

“Sulli…apa kau ingin pulang denganku?”tanya Donghae. Sulli menggeleng.

“Onnie,ada yang mau aku bicarakan padamu…tapi hanya kita berdua saja,”Sulli melirik Donghae. Donghae tadinya tidak mau meninggalkan Sulli dalam keadaan seperti ini,melihat Sulli tidak bahagia percuma saja Donghae melepaskannya tapi karena Sulli sudah memutuskan dia akhirnya mengalah.

“Tidak apa-apa Donghae-ya. Maafkan aku sudah merepotkanmu,”ucap Tiffany.

“Gwenchana. Aku tidak merasa direpotkan. Karena ini Sulli…,”

Sulli menatap Donghae dengan sedih. Donghae memikirkannya seperti ini…karena dia menganggap Sulli orang yang istimewa atau hanya karena Sulli adiknya?

“Arraso…,”Donghae lalu mengusap kepala Sulli dengan lembut dan pergi tanpa mengucapkan apa pun. Hati Sulli masih merasa hangat dan berdebar seakan ingin meledak saat Donghae memperlakukan dia seperti itu tapi cukup sudah. Hentikan perasaan ini…itu sudah tekad bulat Sulli.

“Onnie…aku menangis bukan karena Minyoung onnie atau tidak mau menjadi adik-kakak dengan onnie…,”ucap Sulli tenang. Tiffany duduk dihadapan Sulli,mereka memutuskan untuk bicara saja disini dengan tenang.

“Aku sedih…dan menangis begitu saja karena merasa aku ini payah,”Sulli tersenyum kecut.

“Wae?”tanya Tiffany tidak mengerti.

“Onnie begitu ceria. Sementara aku…aku sadar aku kebalikan dari onnie. Aku sadar aku terlalu banyak memikirkan hal sehingga aku tidak bisa tertawa lepas lagi. Melihat onnie yang ceria seperti tidak ada beban dalam hidupmu…aku merasa diriku payah. Aku yang lebih muda harusnya lebih bahagia dibanding onnie,”

“Ne…kau harus lebih bahagia dibanding aku. Tunggu,kau sudah bahagia kan? Kau memiliki keluaraga yang luar biasa,kau juga cantik dan hebat kau harus lebih ceria Sulli-ah,”saran Tiffany.

“Arraso…,”Sulli tersenyum.

“Karena kau lucu dan manis,aku ingin sekali bersamamu dan menghabiskan waktu sebagai kakak-adik. Itu karena aku berpikir kau ceria…seperti adik kecil pada umumnya. Karena itu kembalilah seperti dulu lagi…,”ucap Tiffany.

“Ne…gomawo onnie,”Sulli sekarang tersenyum dengan tulus,terpancar dari matanya yang ikut tersenyum.

“Tadi setelah aku pikir-pikir aku benar-benar childish lari dari onnie seperti orang ngambek padahal aku kesal pada diriku sendiri,”gerutu Sulli.

“Gwenchana…aku mengerti kok walau tadi sempat bingung hhe. Untung Donghae kesini,”ucap Tiffany.

Sulli menatap wajah Tiffany. Dia bisa merasakan saat menyebut nama Donghae,Tiffany terlihat bahagia sekali.

“Onnie…apa onnie menyukai Donghae oppa?”tanya Sulli.

“Aku? Eh…kok tiba-tiba tanya seperti itu? Ahahaha,”

“Tidak apa…jawab saja yang jujur,aku kan sudah cukup dewasa. Lagipula aku tidak akan menyerahkan oppaku pada orang yang tidak sepenuh hati menyukainya,”ucap Sulli. Wajah Tiffany memerah.

“Ne…aku suka. Beda dengan saat dijodohkan dengan Siwon oppa,bahkan dari dulu aku suka Donghae. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuknya,”Tiffany tersenyum membayangkan masa depannya.

Sulli hanya bisa tersenyum walau sekeras hati dia menahan rasa perih yang dirasakan. Namun dia sekarang tau,dia harus merelakan orang yang dia cintai dengan gadis dihadapannya ini.

“Tolong jaga oppa dengan baik,”pinta Sulli.

“Tentu saja,”jawab Tiffany dengan senyum cerahnya.

***

“Oppa?”

Sore itu,sepulang Sulli sekolah dia menemukan Donghae sedang berdiri di gerbang tempat biasa dia menunggu. Apa lagi yang akan dikatakan Donghae,walau hatinya akan mencair lagi tapi Sulli berjanji tidak akan kembali.

“Ayo pulang bersama,”Donghae kembali ke mobil. Sulli belum beranjak dan menatap Donghae sebentar sampai akhirnya dia yakin untuk ikut.

“Gwenchanayo?”tanya Donghae setelah memarkirkan mobil di tepi laut.

“Ne,oppa gwenchanayo?”tanya Sulli. Donghae mengangguk-ngangguk.

“Apa tugas oppa sudah selesai?”tanya Sulli. Donghae menggeleng.

“Aku tau oppa tidak punya tugas apa-apa. Oppa hanya tidak ingin pulang kan?”

“Karena jika aku pulang aku takut tidak bisa menghentikan diriku,”jawab Donghae sambil tersenyum kecil.

“Aku sudah memutuskan tidak akan kembali…. Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi. Aku sudah menitipkan semuanya pada Tiffany onnie,”ucap Sulli. Donghae menatap Sulli dengan lirih.

“Aku bukan barang titipan. Orang lain juga tidak bisa mengaturku,”

“Tapi aku bisa…,”

“Kau benar…,”Donghae tertawa kecil.

“Tapi beda halnya dengan jika kau menyuruhku untuk berhenti mencintaimu…,”

“Sebagai saudara…tidak apa,”potong Sulli.

“Jika bisa semudah itu,”

“Buatku juga tidak mudah…karena itu…biarkan aku pergi kali ini,”ucap Sulli.

“Eh?”

“Aku akan ke San Francisco,”

“Mwo?!”tanya Donghae kaget.

“5 tahun kurasa waktu yang cukup untuk melupakan perasaan itu,”

“Jika menurutmu melupakan adalah soal waktu…lalu apa yang harus kulakukan jika selama 5 tahun itu aku masih mengingatnya?”tanya Donghae lirih.

“Terus saja ingat…. Suatu saat waktu pun akan berpihak pada oppa. Dan kita akan saling melupakan perasaan yang tidak mungkin seperti ini,”jawab Sulli tegar.

Wanita itu memang mengerikan…sangat tega,batin Donghae kecut.

“Kau tidak akan bisa,”ucap Donghae. Sulli menatap Donghae heran. Donghae meraih tangan Sulli.

“Kau sampai gemetaran begini. Aku juga bingung harus bagaimana,”

“Sulli…kenapa aku tidak bisa melepaskanmu?”Donghae menarik tubuh Sulli mendekat dan memeluknya. Sulli yang sudah kalah karena tubuhnya yang tidak bisa berbohong itu akhirnya menumpahkan tangisnya lagi kepelukan Donghae.

Hari ini juga…tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan padamu selain membuatmu menangis…

Maafkan aku….

***

Gawat…karena hatiku terlalu lemah aku jatuh lagi kepelukan oppa…bagaimana ini? Padahal jika diteruskan juga tidak akan ada habisnya. Jika diteruskan semua ini tidak akan berakhir.

Kecuali jika oppa membenciku.

Ya! Satu-satunya jalan untuk membalikkan keadaan hanya dengan membuat dia membenciku. Walau aku akan terus hidup dilingkungannya seumur hidup,tidak akan pernah jauh dari jangkauannya sebagai seorang keluarga…tapi daripada terus tertekan karena perasaan yang tidak memiliki harapan ini lebih baik membuat perasaan itu hilang. Bahkan membuatnya benci pun akan kulakukan!

“Sulli…makan sudah siap!”teriak umma dari bawah.

“Ah ne umma,aku akan segera kesana!”

Benar Sulli…kau harus lebih kuat. Kau bukan lagi anak kecil yang bisanya pasrah dan mengikuti kehendak dengan egois. Demi kedua belah pihak semua harus dilakukan sebuah pengorbanan!

Donghae melemparkan senyum manisnya pada Sulli yang baru saja bergabung di ruang makan bersama mereka. Sulli membalas dengan kecil dan duduk disamping Minho.

“Lihat,hari ini umma memasak bolognaise. Tiffany mengajarkannya,ayo cicipi!”umma mendekatkan piring kepada anggota keluarga yang lainnya.

“Tiffany sendiri mana?”tanya appa.

“Dia ada urusan kantor. Kasihan dia,akhir-akhir ini sibuk sekali. Untung masih bisa menemani Sulli berbelanja,”jawab umma. Sulli tersenyum menanggapinya.

“Unnie seleranya tidak beda jauh denganku. Kami bisa dengan mudah mendapatkan furniture yang kami inginkan,”ucap Sulli.

“Umma tau. Tiffany sering bercerita tentang seleranya dan umma sadar sekali kalian memiliki selera yang sama. Ah kalau begini bisa-bisa soal laki-laki pun mereka punya selera yang sama. Kalau begitu umma akan minta bantuan Tiffany dimasa depan untuk Sulli,”ujar umma antusias. Sulli terdiam dan menunduk,Donghae juga sedikit kaget dengan ucapan umma.

“Aku…menyukaimu…sejak awal aku tidak tertarik dengan Siwon oppa. Aku menyukai orang sepertimu. Dan aku makin menyukaimu hari demi hari…”

Ucapan Tiffany saat itu berputar-putar lagi dikepala Donghae. Mungkin apa yang dikatakan umma memang benar.

“Sulli pasti memilih pasangannya sendiri tanpa bantuan orang lain,”tanggap Donghae. Sulli kaget mendengar tanggapan Donghae dan langsung menyela,”Ah kenapa kalian tiba-tiba membicarakan hal seperti ini. Walau seleraku sama dengan unnie tapi aku belum berpikir sampai kesana,”

“Aigo…bagaimana bisa? Kau sudah besar dan sudah boleh berpacaran. Umma benar-benar tidak sabar melihat seperti apa orang yang disukai Sulli,”

Sulli hanya bisa melirik sedikit kearah Donghae. Mereka berdua diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Umma…sebenarnya orang yang aku sukai tepat di depan umma saat ini kok,batin Sulli.

“Oh iya Donghae,bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Tiffany?”tanya appa.

“Ne,umma penasaran sekali loh,”sambung umma.

“Aduh dari tadi Cuma bilangin tentang hubungan ini dengan itu dan hal yang berkaitan,apa tidak ada pembicaraan lain?”Minho yang sudah selesai makan lalu beranjak dan meninggalkan mereka.

“Ck…dasar kau ini! Yang pacarannya sama bola basket mana bisa mengerti. Nah Donghae-ah,bagaimana?”tanya umma lembut.

“Umma…aku tidak sempat memikirkannya,maafkan aku. Kami tetap berteman baik kok,”jawab Donghae.

“Mwooo? Berteman? Bagaimana bisa? Kalian kan akan menikah,apa kau tidak berpacaran dengannya?”tanya umma heran.

“Ne…,”

“Mereka pacaran kok umma! Maksud Donghae oppa tadi pasti hubungan mereka baik-baik saja. Begitu…,”Sulli segera memotong jawaban Donghae. Donghae menatap Sulli tak percaya,Sulli mengabaikannya. Ini adalah kesempatanku,batin Sulli.

“Aigooo! Apa…apa yang sudah Tiffany katakana padamu?”tanya umma antusias.

“Kata unnie dia suka sekali dengan Donghae oppa. Aku pun melihat dia sangat tulus…,”Sulli menatap Donghae saat mengatakan itu.

“Aku senang sekali. Semoga Tiffany unnie bisa menjadi unnie-ku secepatnya,”ucap Sulli kembali menaruh perhatiannya pada umma.

“Mwoya?”tanya Donghae bingung.

“Umma,aku duluan ya,”Sull langsung meninggalkan meja makan dan berlari ke luar. Donghae segera berlari mengejar Sulli dengan penuh pertanyaan.

“Sulli-ah! Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba…,”Donghae menarik tangan Sulli. Sulli hanya menatap mata Donghae dengan tegas lalu melepaskan tangan Donghae.

“Oppa…menikahlah dengan Tiffany,”

TBC

Catatan author :

“Haiiii! Ketemu lagi di APTH dengan chapter versi ke-2. Kita mulai dari chapter 17 karena chapter saat di Jepang memang penentu dari semuanya. Hohohoho…mari nikmati chapter versi kedua ini,jangan bosan yaaa :p kkk~,” – cagalli14

7 Tanggapan to “A Place To A Heart (17″)”

  1. Linda 7 Maret 2012 pada 12:17 PM #

    Kak jadi yg nikah kemarin itu mimpi aja kah???? …. HorEeee masih banyak🙂

    • cagalli14 7 Maret 2012 pada 1:42 PM #

      ngga mimpi itu ending versi 1 aja ..hahah,kan aku janji bakal bikin 2 ending ^^

  2. elf_love 7 Maret 2012 pada 12:49 PM #

    Msa oppak pcaran ma bola basket???
    Ckckck, Donghae oppa, Eunhyuk tu couple mu! Masa dy jdi gremo mu sih???
    Lnjut ke part 18!

    • cagalli14 7 Maret 2012 pada 1:43 PM #

      wkwkwk iya kan minho gila basket disini😄
      wkwk iya kan itu hae udah menggoda2 hyuk dsr hyuknya aja yg gamau😄

  3. Vinasullhae 10 Maret 2012 pada 8:18 AM #

    Hadeuh…kalo aku yang jadi sulli
    aku pasti gak bakalan
    kuat “-”
    daebak deh buat author nya yg dah mau terus ngelanjutin ff ini
    eh…ngomong2 aku belum memperkenalkan diri deh semenjak komen
    aku vina
    i’m superaff(x)tion
    elfishy
    sullifans
    bangapseumida

    • cagalli14 10 Maret 2012 pada 9:04 AM #

      hai vina ..wah aku jg elf dan f(x)’s fan ^^
      mksh ya udh baca😀

  4. missfishyjazz 17 April 2012 pada 9:09 AM #

    Sulli-aa, Be Strong yaa😀 Semoga kamu dapet jodoh yang terbaik suatu hari nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: