A Place To A Heart (19″)

8 Mar

A PLACE TO A HEART

Cast    :

 Siwon as 1st son

Donghae as 2nd son

Minyoung as 3rd daughter

Minho as 4th son

Sulli as 5th daughter

Tiffany as Minyoung look a like 

Sooyoung as Siwon’s girlfriend

Kang Jiyoung as Sulli’s bestfriend

 

CHAPTER NINETEEN (2nd VERSION) : DEAD END

“Dokter selamatkan Tiffany!”

“Tenang Nyonya kami akan berusaha mengembalikan kesadarannya dulu. Pasien sudah kehilangan banyak darah,”

“Tiffany! Jangan mati Tiffany!!!”

“Umma…Tiffany tidak akan mati…dia akan baik-baik saja,”Siwon yang langsung datang ke RS saat ditelepon oleh Minho merangkul umma yang sangat shock karena kecelakaan tersebut.

“Ne umma,daripada menangis lebih baik kita berdoa supaya Tiffany baik-baik saja,”ucap Minho.

~~~

“Oppa…,”Sulli mendekati Donghae yang daritadi diam di taman. Dia tidak masuk dan menunggu di luar ruang ICU seperti yang lain karena mendapatkan shock hebat. Bagaimana tidak,seseorang terluka parah karena menolongnya. Bagaimana jika ada tulang yang patah atau retak? Bagaimana jika Tiffany mengalami gegar otak? Bagaimana jika ada penyempitan pembuluh darah di otak dan lain-lain menghantui pikiran Donghae. Membayangkan gadis seperti itu tertimpa musibah saja sudah membuatnya bergidik ngeri apalagi jika membayangkan hal yang lebih parah lagi.

“Oppa…gwenchanayo?”Sulli tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mencoba menghibur Donghae. Donghae menoleh dan mendapatkan wajah Sulli yang sembab karena menangis. Digenggamnya tangan Sulli dan dia tersenyum mencoba menenangkan gadis itu.

“Gwenchana…Sulli-ah,kau pasti shock lagi kan? Sudahlah tidak apa-apa…semuanya sudah berlalu…kau tidak usah takut lagi,”ucap Donghae yang paling mengerti trauma Sulli terhadap kecelakaan Minyoung beberapa tahun yang lalu. Terlebih Minyoung dan Tiffany sangat mirip,seperti melihat mimpi buruk yang sama dua kali saja bagi Sulli.

“Apa karena warna darah itu sama-sama merah…aku pikir Minyoung onnie akan pergi lagi dari hadapanku…,”isak Sulli tak tertahankan. Dia benar-benar takut sampai tidak sanggup untuk menahan tangisnya lagi. Bukannya malah menghibur Donghae,dia malah yang harus dihibur.

Sementara Donghae,menyinggung soal Minyoung lagi sama saja membuka luka lama dan kenangan masa lalu yang buruk. Memang kejadian yang menimpa Tiffany membuka lembaran menyakitkan itu lagi. Donghae harus mengakui dia takut setengah mati saat melihat Tiffany terluka.

“Donghae,Sulli…ternyata kalian disini…umma menunggu kalian diatas,”tiba-tiba Sooyoung datang menghampiri mereka. Sulli langsung menghapus airmatanya dan berdiri mendekati Sooyoung.

“Sulli-ah…Tiffany akan baik-baik saja,kau tidak perlu mengulang mimpi burukmu lagi,”Sooyoung memeluk Sulli dengan iba. Sulli mengangguk dan tersenyum tegar.

“Oppa,kajja,”

~~~

“Hyung! Bagaimana keadaan Tiffany?!”Donghae berlari mendekati Siwon dan Minho.

“Umma sedang membesuknya di dalam…berterimakasihlah pada Tuhan,Tiffany tidak mengalami luka serius yang bisa mengancam kehidupannya. Dia Cuma butuh jahitan yang cukup banyak,”jawab Siwon.

“Syukurlah…,”Donghae sekarang bisa bernapas lega.

“Sulli?”Minho mendekati Sulli yang tampak gelisah.

“Sudah tidak apa-apa lagi. Kau tenang saja,”bujuk Minho. Sulli mengangguk walau masih ragu. Mereka dapat mengerti keadaan Sulli yang saat kecil pernah melihat kematian seseorang karena kecelakaan dan orang itu berwajah sama dengan yang saat ini di dalam kamar rawat inap.

“Umma,”Siwon mendekati umma yang baru keluar dari kamar rawat.

“Syukurlah…,”ucap umma.

“Syukurlah dia tidak apa-apa…huhuhuhu…aku pikir aku akan kehilangan lagi. Syukurlah tidak apa-apa,”tangis umma tumpah. Siwon langsung memeluk umma.

“Umma tidak akan kehilangan lagi. Bukankah dulu umma bilang dia hadiah dari surga? Tuhan tidak akan mengkhianati apa yang sudah diberikannya pada kita,”ucap Siwon.

“Ne…,”umma melepaskan pelukan Siwon dan menatap Donghae dengan penuh harapan.

“Donghae…bisakah kau mempercepat pernikahanmu dengan Tiffany?”tanya umma.

“Umma?!!!!!”

***

A Place To A Heart

***

“Donghae…bisakah kau mempercepat pernikahanmu dengan Tiffany?”

“Umma?!!!”

“Umma sangat takut saat akan kehilangan Tiffany,”umma mendekai Donghae dan memohon dengan sangat.

“Umma langsung berpikir bahwa nyawa bisa melayang kapan saja…tolong Donghae-ah…percepat pernikahanmu dengan Tiffany…sebelum Tiffany benar-benar menghilang…umma takut sekali,”isak umma.

Sulli menatap umma dan Donghae tak percaya. Bibirnya kelu,dadanya seakan ditohok oleh sesuatu,tubuhnya lemas namun dia tidak bisa bergerak sama sekali. Mematung.

“Umma…aku tidak bisa…,”

“Kalau Tiffany tidak menolongmu dia tidak akan terluka!!!”teriak umma. Donghae terpaku melihat umma yang sangat serius.

“Umma…tidak baik memaksa Donghae sekarang,”celah Siwon.

“Melihat Tiffany berkorban seperti itu…umma tau betul betapa dia mencintai Donghae…,”isak umma.

Sulli tersadar akan ucapan umma.

Ya…pengorbanan….

Dia tidak punya hal itu untuk orang yang dia cintai. Apa dia sudah kalah lagi?

***

“Umma…aku tidak bisa menikahi Tiffany…Siwon hyung dan Sooyoung saja belum menikah,”

“Umma tau,kalau begitu kalian tunangan dulu. Umma akan atur semuanya…,”

Sulli…apa yang harus kulakukan? Keinginan umma seperti tidak bisa dibendung lagi. Aku juga berhutang budi pada Tiffany namun keinginanku tidak sejalan dengan logikaku. Kali ini aku tidak bisa membawa apa yang kuinginkan ke dalam kenyataan!

Greb…

Donghae tertegun saat merasakan tangan hangat yang memeluknya dari belakang. Punggungnya pun terasa hangat dan basah.

“Sulli…,”

“Sssttt…,”Sulli melarang Donghae untuk berbicara. Masih memeluknya seakan memberi Donghae kekuatan sekaligus juga untuk dirinya. Ada harapan terselip dihatinya agar waktu saat ini berhenti selamanya,biarkan dia bisa memeluk orang ini terus.

Donghae lalu hanya bisa menggenggam tangan Sulli yang memeluknya dan membiarkan seperti itu saja. Jika dia berbalik,Sulli akan melihat airmatanya karena itu dia ingin berlama-lama sampai dia bisa tenang dan airmatanya mengering dengan sendirinya.

Sulli-ah…maaf aku tidak bisa melindungimu lagi…tidak bisa memperjuangkan baik perasaanku sendiri maupun perasaanmu. Aku menemukan jalan buntu.

Tapi aku janji tidak akan menyerah terlalu cepat….

***

“Apa kau sudah pikirkan ucapan umma?”tanya umma saat Donghae pulang ke rumah. Donghae berdiri terpaku.

“Umma…kenapa harus menjadikan Tiffany sebagai menantu umma? Bukankah dia sudah umma anggap sebagai anak sendiri? Kalau begitu kan selesai perkara,Tiffany adalah anak umma juga,”ucap Donghae mencoba membujuk umma.

“Bodoh! Umma tidak punya anak lain selain kelima anak umma yang umma besarkan  dan seorang anak umma yang meninggal saat lahir! Walau wajah Tiffany mirip sekali dengan Minyoung…tapi dia tidak bisa menggantikan posisi Minyoung. Karena itu tidak ada cara lain selain membuat dia menjadi menantu. Umma tidak mau kehilangan Tiffany! Umma ingin dia selalu terus bersama-sama keluarga Choi!”jawab umma dengan nada tinggi. Donghae hanya bisa diam menunduk.

“Aku istirahat dulu,”Donghae meninggalkan umma dan naik ke atas.

“Donghae!”

Umma,kenapa kau egois sekali?!

Tapi Donghae,apa yang akan kau lakukan jika tidak seperti ini? Apa nekat bilang kalau satu-satunya yang kau cintai Cuma Sulli? Ini mungkin akan memberikan great shock untuk umma. Akh! Apa yang harus kulakukan?!

“Donghae-ya…,”

“Hyung?”

Siwon mengunci kamar Donghae dan duduk didekatnya.

“Kau…tidak mau menikahi Tiffany?”tanya Siwon.

Donghae tersentak. Dia teringat ucapannya pada Siwon dulu yang bilang akan menikahi Tiffany demi menyelamatkan hubungan Siwon dan Sooyoung. Jika kali ini dia bilang tidak,ada kemungkinan Siwon akan mundur lagi dan berkorban demi umma.

“Anieyo…!”jawab Donghae langsung. Siwon menatap mata Donghae dalam-dalam.

“Aku tidak melihat kejujuran dimatamu itu,”ucap Siwon lirih. Donghae menggeleng.

“Aku Cuma shock karena dia tiba-tiba meloncat untuk menyelamatkanku. Aku takut sekali…dalam keadaan begini umma memintaku menikahi dia cepat-cepat rasanya bukan waktu yang tepat,”terang Donghae. Siwon menatap Donghae dengan ragu.

“Apa kau suka pada Tiffany?”tanya Siwon.

“Tentu saja,dia orang yang cantik dengan kepribadian yang menarik,bagaimana orang-orang tidak bisa menyukainya,”jawab Donghae.

“Lalu…apa kau mencintainya?”tanya Siwon. Donghae terdiam.

“Suka dan cinta itu beda Donghae-ah…,”

“Walau tidak…perasaan itu bisa diperoleh saat setelah menikah kan?”tanya Donghae. Donghae terdiam. Dia tidak percaya sudah mengatakan hal ini. Karena takut perasaannya ketahuan Siwon dia sampai mengatakan hal itu,sudah pasti Siwon akan mendukung keputusan umma! Donghae bodoh!

“Begitu…,”Siwon tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Donghae.

“Kalau begitu tunggu sampai Tiffany sembuh total saja lalu bicarakan baik-baik. Aku mendukungmu Donghae-ah,”ucap Siwon.

“Ya sudah,beristirahatlah,”Siwon lalu meninggalkan Donghae sendirian.

‘Tapi hyung…masa kau sama sekali tidak ingin tau apa aku pernah jatuh cinta?’batin Donghae.

***

Sejak kejadian itu,Sulli banyak menghindar dari Donghae. Keputusan Sulli benar,dia tidak ingin mengacau rencana umma lebih jauh lagi. Mau dipertahankan seperti apa pun juga mereka tidak akan pernah bersama,Sulli tau betul. Namun Donghae masih berusaha menggapai Sulli walau gadis itu menghindar sekuat tenaga sampai memakai alasan belajar dan menginap di rumah Soojung selama berhari-hari.

“Tidak ada jalan…,”

“Ya,tidak ada jalan lain…,”desah Soojung.

Sulli dan Soojung menatap bidak catur di depan mereka.

“Yeay! Skak mat!”seru Luna.

“Hahahaha! Aku menang lagi! Soojung kau benar-benar akan mentraktirku pizza ya!”Luna menggoyang-goyangkan badannya dengan riang.

Do it do it chu~ it’s chu chu chu chu it’s chu~ do it do it chu~

“Sulli,kenapa dari tadi kau tidak mau mengangkat telepon sih?”tanya Soojung.

“Hhhh…malas saja,”Sulli membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.

“Kau malam ini menginap lagi?”tanya Soojung.

“Ne…,”jawab Sulli.

From : Donghae oppa

Sulli…jika kau menghindariku aku jadi bingung harus bagaimana…

Sulli menatap langit-langit kamar Soojung. Dia ingin lepas…dia benar-benar ingin lepas dari ikatan rantai yang terasa menyesakkan itu. Sekali ini saja ingin lepas dan merasakan hati yang ringan.

Maafkan aku oppa…

~~~

“Umma,aku ingin melanjutkan sekolah di Amerika. Sebenarnya…aku ikut test beasiswa dan baru saja dapat surat keterangannya bahwa aku diterima,”

“Mwo?”tanya umma tak percaya.

“Ne…cita-citaku menjadi designer terkenal. Daripada aku meneruskan sekolah yang memusingkan disini lebih baik aku terima beasiswa ini. Di sekolah ini banyak sekali siswa yang lulus langsung direkomendasikan ke universitas besar dan pembukaan beasiswanya juga 2 tahun sekali,ini kesempatanku umma,”jawab Sulli.

“Sulli…Amerika? Amerika apa?! Kota apa? Sekolah apa?”

“Di Los Angeles,California International School. Umma…umma mau kan mengabulkan permintaanku yang satu ini saja?”

“Tapi Sulli-ah…jika kau ke Amerika berarti kita tidak bisa setiap hari bertemu. Kau menginap di rumah Soojung saja umma masih sempatkan mengantar makan ke sekolahmu kan itu karena umma tidak bisa sehari saja tidak melihat Sulli,”ucap umma sedih.

“Umma…aku tau umma akan merasa keberatan dengan keputusanku ini tapi aku sudah beranjak dewasa dan aku harus meraih mimpiku untuk masa depan. Kita bisa bertemu setiap hari kok,kan bisa skype. Nanti aku belikan umma iPad,”Sulli tersenyum penuh keyakinan untuk membujuk umma.

“Umma tidak bisa membayangkan ditinggal Sulli dan hanya bisa bertemu beberapa kali dalam setahun…,”

“Umma…,”Sulli menatap umma dengan bersungguh-sungguh.

“Sulli-ah…kenapa harus sekolah jauh-jauh sih?”umma memeluk Sulli dengan erat.

Mianhe umma…ini demi semuanya,batin Sulli.

~~~

“MWO?! Sulli akan meneruskan sekolah ke California dua bulan lagi?!”tanya seluruh anggota keluarga tidak percaya.

Sulli mengangguk.

“Umma,umma setuju?”tanya Donghae panik. Sulli melirik Donghae dengan perasaan bercampur aduk.

Mianhe oppa tidak memberitahumu dulu…

“Ne…apa boleh buat…mimpi Sulli lebih penting daripada keegoisan umma yang ingin Sulli selalu ada disini,”ucap umma sedih.

“Umma,mianhe,”Sulli memeluk umma.

“Egois? Umma menyerah begitu saja dengan hal penting seperti ini tapi soal Tiffany umma tahan menangis meraung-raung agar aku segera menikahinya!”Donghae mulai kehilangan kontrol.

“Donghae?!”tegur appa.

“Donghae,kau kenapa? Buat umma Sulli lebih penting tapi kasus Sulli dan Tiffany beda!”bela umma.

“Tapi…,”

“Apa aku tidak boleh memutuskan masa depanku sendiri?”potong Sulli. Sulli tidak mau Donghae nekat mengatakan hal yang tidak diinginkannya.

“Sulli-ah…,”Donghae menatap Sulli tak percaya. Sulli memalingkan wajahnya.

“Sulli,kau keterima dimana?”tanya Siwon.

“Di California International School. Aku akan mengulang lagi dari awal untuk jurusan design,”jawab Sulli.

“Waw…aku tidak tau kau nekat ikut beasiswa besar begitu dan keterima. Sulli-ah,walau kita akan berpisah tapi oppa mendukungmu!”ucap Minho.

“Ne…appa juga,kalau umma sudah setuju apa boleh buat. Appa bangga sekali pada prestasi Sulli. Jika diingat-ingat dari dulu Sulli memang suka sekali design. Dari design baju sampai ruangan,appa sudah menebak anak appa punya bakat besar,”appa memeluk Sulli,Sulli tersenyum senang. Donghae hanya diam saja melihatnya,seakan dia sendiri yang berada di dunia lain,hatinya sama sekali tidak senang.

“Selamat,”ucap Donghae akhirnya. Sulli tidak memandang langsung ke mata Donghae yang kelihatannya marah itu.

~~~

“Hampir seminggu menghindariku lalu sekarang datang dan dengan kabar seperti itu,”ucap Donghae tanpa memalingkan pandangannya pada bulan di langit.

“Aku datang kesini untuk mengucapkan kata perpisahan…mulai besok kita kembali normal lagi,”ucap Sulli mendekati Donghae.

“Perpisahan apa? Kita tidak akan berpisah,”

“Aku bahagia sekali karena sudah bisa menikmati cinta pertamaku dengan orang seperti oppa. Aku akan menjadi adik yang baik untuk oppa,”Sulli membungkuk dihadapan Donghae.

“Sulli-ah! Tidak ada kata perpisahan diantara kita!!!”Donghae berbalik dan memegang kedua bahu Sulli. Sulli memalingkan wajahnya.

“Apa…oppa punya pilihan lain?”tanya Sulli. Donghae tertegun.

“Apa…oppa mau mengatakan tentang hubungan kita dan menolak Tiffany onnie yang sudah mengorbankan nyawanya untuk oppa? Apa oppa tega?”tanya Sulli sambil menatap Donghae,matanya berkaca-kaca. Donghae sekarang mengerti,sekarang kabut yang menyelubungi kepalanya perlahan mulai hilang. Seseorang menjawab semua pertanyaan dalam kepalanya.

“Jadi kau mau mundur?”tanya Donghae dengan suara parau. Sulli mengangguk dan tersenyum pilu.

Donghae meregangkan semua otot-ototnya dan menatap kearah lain,bersikap seolah dirinya santai.

“Ternyata mau susah payah seperti apa juga kalau salah satu ada yang menyerah ya percuma saja diperjuangkan lagi. Lalu kenapa…kenapa Tuhan memberikan perasaan ini kalau akhirnya seperti ini?!”teriak Donghae kesal.

“Oppa…,”

“Sulli…aku tidak habis pikir. Sampai sekarang aku merasa berat dan tersiksa karena memikirkan untuk tetap memperjuangkannya bersamamu walau itu permintaan umma,tapi…,”

“Tapi kita tidak punya pilihan lain juga! Aku adikmu…kau oppaku…kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih!”potong Sulli.

“Jinjja? Kalau begitu katakan padaku kalau kau tidak mencintaiku. Kau mencintaiku Sulli-ah! Karena itu kenapa kita tidak boleh punya pilihan lain?! Walau ceritanya begitu,kau adikku,tapi kenyataannya perasaan kita sama!”

“Aku…tidak mencintai oppa!!”teriak Sulli. Mata Donghae membulat mendengarnya,dia tidak percaya Sulli sekeras kepala ini.

“Oppa…menikahlah dengan Tiffany onnie dan lupakan perasaan oppa itu,”pinta Sulli.

“Arraso…kalau begitu kau harus ingat ini. Camkan baik-baik dikepalamu. Aku tulis apa yang aku katakan didalam kepalamu dengan tinta permanen Sulli-ah. Aku Cuma mencintaimu dan…,”

“Andwae!!!”Sulli menutup kedua telinganya. Donghae berusaha melepaskan tangan Sulli.

“Andwae! Aku tidak ingin mendengarnya!”

“Kau harus mendengarnya!”Donghae menarik tangan Sulli. Sulli masih melawan.

“Aku akan selalu mencintaimu!”teriak Donghae saat Sulli sudah menyerah dan hanya bisa menangis. Sama halnya dengan keadaan Sulli yang kacau,Donghae juga akhirnya menangis dihadapan Sulli namun saat melihat gadis itu lebih menderita,Donghae tidak tega dan memeluknya.

“Mianhe…mianhe…,”ucap Donghae. Sulli mendorong tubuh Donghae.

“Tolong tinggalkan aku dengan rasa marah…tolong,”pinta Sulli dengan suara pelan. Donghae menahan nafasnya,dia tidak punya pilihan lain lagi agar tidak menyakiti Sulli lebih jauh lagi dan membuat gadis itu hancur.

Donghae menjauh dan menarik nafas dalam.

“Pergi saja! Aku tidak peduli lagi!”Donghae meninggalkan Sulli seolah dia sangat marah. Sulli menahan nafasnya melihat Donghae yang sampai akhir melindungi dirinya seperti ini dan menuruti semua ucapannya.

“Gomawo…oppa mianhe…,”isak Sulli yang juga tau pasti betapa hancurnya perasaan namja itu.

***

Pagi hari yang baru lagi….

Sulli membuka matanya dengan perlahan dan menatap langit-langit kamarnya. Seakan mengalami mimpi buruk yang panjang saja,perasaannya sekarang menjadi hampa. Masih teringat saat terakhir kali Donghae membangunkannya. Senyum yang ceria antara mereka berdua,wangi tubuh orang yang paling dia sukai,tawa yang selalu membuatnya bahagia,suara yang selalu ingin dia dengar. Pagi itu sudah berakhir…sekarang Sulli hanya bisa menatapnya dengan semu.

“Sulli-ah,aku senang sekali kau datang kesini,”ucap Tiffany menyambut Sulli dengan senang hati. Sulli juga tidak mengerti kenapa dia sampai bisa datang ke rumah Tiffany dan berpikir untuk mengucapkan beberapa patah kata.

“Ayo masuk…kebetulan sekali aku baru memasak pancake,sarapan yuk,”ajak Tiffany.

“Anieyo…aku Cuma mau melihat keadaan onnie saja,”tolak Sulli.

“Begitu…tapi apa kau tidak lapar?”tanya Tiffany. Sulli menggeleng. Dia menatap perban yang masih menutupi luka dikepala Tiffany. Luka yang membuat dirinya lebih terluka lagi jauh dari yang Tiffany alami.

“Onnie…apa masih sakit?”Sulli menyentuh perban luka tersebut.

“Tidak kok,tidak apa,”jawab Tiffany sambil tersenyum penuh kehangatan.

Kalau oppa dengan orang yang penuh kehangatan dan keceriaan seperti ini,aku yakin dia akan lebih bahagia daripada denganku….

“Onnie…aku akan sekolah ke Amerika dua bulan lagi. Mungkin aku masih bisa datang ke pernikahan Siwon oppa,tapi…aku mungkin tidak bisa datang ke pernikahan onnie,”ucap Sulli.

“Eh? Pernikahanku?”tanya Tiffany bingung.

“Dengan Donghae oppa…,”

“Ah…umma juga bilang dia ingin kami menikah cepat-cepat…tapi benarkah kau akan meneruskan sekolah di Amerika? Walau begitu kau harus sempat pulang dong,”pinta Tiffany.

“Aku akan usahakan…jika tidak sibuk,”jawab Sulli,padahal dia sudah memutuskan tidak akan pulang sampai perasaannya membaik.

“Janji ya,”pinta Tiffany,Sulli tersenyum.

“Onnie…tolong jaga Donghae oppa. Cintai dia dengan sepenuh hati,”ucap Sulli. Tiffany tersenyum dan membelai rambut Sulli.

“Ne…tentu saja…,”ucapnya.

“Sulli-ah…aku kaget sekali kau ternyata sudah semakin dewasa. Sudah hampir 2 tahun ya kita bertemu,”ucap Tiffany. Sulli tertegun.

“Begitu…ternyata aku sudah semakin dewasa ya…,”Sulli sekarang sadar,semua yang terjadi dan kesulitan yang dia hadapi adalah ujian untuk membuat dia semakin dewasa. Sulli tersenyum tulus.

“Onnie…aku juga tidak sadar 2 tahun sudah berlalu. Saat bertemu onnie,aku pikir Minyoung onnie turun dari surga dan kembali padaku. Tapi onnie dan Minyoung onni berbeda…walau begitu aku juga sayang pada onnie,”ucap Sulli tulus. Tiffany memeluk Sulli.

“Gomawo…aku juga sayang pada Sulli. Sulli sudah seperti adikku sendiri,”ucap Tiffany senang.

~~~

Sulli baru saja turun dari bus sampai saat dia mendongakkan kepala dia mendapati Donghae berdiri dihadapannya.

“Oppa…,”

“Hari ini yang terakhir…karena itu ayo kita berkencan,”ucap Donghae sambil tersenyum. Sulli membalas senyum itu dengan lemah.

“Sudah sore begini…kita mau kemana?”tanya Sulli yang sudah duduk disamping Donghae dimobil.

“Melihat matahari terbenam…dipantai tempat kita pernah pergi,”jawab Donghae.

“Lalu?”

“Lalu ketentuannya…jangan bahas hal yang sedih. Jangan menangis selama kita berkencan. Ikuti saja kemana aku membawamu,”terang Donghae.

“Ne…aku akan ikut oppa kemana pun juga,”balas Sulli.

Perjalanan sore itu membuat dada Sulli berdebar sekaligus terasa sesak. Debaran yang sama dengan yang dia rasakan sejak pertama kali. Rasa sesak yang tak tertahankan karena perasaan yang meluap-luap rasanya begitu besar.

Oppa…hari ini akan kusimpan baik-baik didalam ingatanku…

Tentang kita berdua…adalah rahasia terbesar dan yang paling indah bagiku.

 

TBC

 

Catatan author : “Huwaaaaaaaaaaaaaaaang! Dipart ini juga aku sendiri ngerasa sedih banget bikin bagian Sulli dan Donghae. Kenapa cerita ini makin lama makin kayak telenovelaaaa?! *teriak kearah langit*. Walau ngerasa geli karena terlalu banyak kata ‘cinta’ tapi rasanya sedih juga…inilah akhir dari kisah mereka. Buat pembaca jangan bosan ya,masih ada satu atau dua chapter lagi…aku janji ini yang terakhir aku bikin Sulli dan Donghae super menderita T___T. Sampai jumpa di chapter berikutnya,” – cagalli14.

 

5 Tanggapan to “A Place To A Heart (19″)”

  1. Linda 8 Maret 2012 pada 10:38 PM #

    Iyaaaaaaa ini menderita banget kak sampe ikutan sesek bacanya T.T gwenchanayoo
    Aku tunggu part selanjutnya!😉

    • cagalli14 9 Maret 2012 pada 1:24 AM #

      segera🙂

  2. Vinasullhae 10 Maret 2012 pada 9:16 AM #

    #nangis di pojokan kamar ((gara2 di buat GALAU MA AUTHORnya))

    tega deh bikin bias2 aku menderita…tapi
    seru juga sieh

  3. missfishyjazz 17 April 2012 pada 10:03 AM #

    Author kejam .. Aku nangis” baca part ini .. Part paling bercucuran air mata nihh ..
    TToTT
    Akhirnya perpisahan itu terjadi ..
    Be patient ya Sullie🙂

    • cagalli14 17 April 2012 pada 12:23 PM #

      aku aja yang nulisnya waktu itu sampe nangis ;; tapi inilah ending yg aku rencanakan dr awal :p happy ending itu krn aku ga tega sm reader udh baca ff yg chapternya banyak dan trll banyak menderita eh ga dikasih happy ending ..kalo aku emg udh rencana mrka pisah,ttp ga bisa bersatu ..hahah kejam x__x

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: