STRATAGEM (5)

30 Jun

Cast : STRATAGEM 

Peluru siap.

Teleskop siap.

Laras panjang yang sudah bertahun-tahun menemani juga sudah siap. Tinggal memakai rompi anti peluru. Yah…memang fungsinya tidak begitu jelas tapi untuk berjaga-jaga saja.

Orang itu lalu memakai topi sehingga menutupi setengah wajahnya,membuat matanya tidak terlihat. Dia lalu memakai mantel berwarna hitam dan membawa tas besar yang tentu saja isinya peralatan yang dia butuhkan.

Peralatan yang sering dibawa oleh seorang sniper.

Chapter 5 : Case Of The Red House

Dia sudah mendapatkan spot yang sempurna. Tempat persembunyian yang strategis untuk membidik dari jauh. Di jendela itu orang itu akan lewat. Lewat jendela itu peluru yang ada di L-96 A-1 ini akan terbidik dengan tepat. Sudah tidak terhitung berapa kali senjata ini berhasil memidik orang dengan tepat walau berjarak 1100 meter pun.

Sekarang sniper professional itu sudah selesai mempersiapkan senapan mematikan itu lengkap dengan teleskopnya dan dia mulai menentukan titik bidikannya.

Sebentar lagi…10 menit lagi.

Ah itu dia…mereka sudah berdatangan! Tinggal menunggu orang itu terlihat dibalik jendela.

Satu…

Dua…

Apa? Apa-apaan itu?!

Dia melepaskan bidikan sasarannya dengan mata melotot tak percaya. Dengan kasat matanya dia bisa melihat orang-orang itu memuntahkan darah.

Tidak sampai 5 menit dari balik jendela itu terlihat banjir darah. Terlihat jelas dengan jarak sejauh 500 meter ini. Semuanya memuntahkan darah dan tergeletak diantara genangan darah. Semuanya. Dan orang yang dia tunggu-tunggu tidak ada saat dia berlari turun dan mengecek masuk ke rumah. Hanya ada mantan penasehat menteri perdagangan Jerman dan relasinya. Tidak ada orang yang dicarinya namun yang ditemukannya saat ini adalah banjir darah yang sangat mengerikan. Orang-orang ini tewas diracun.

***

“Kau darimana Cagalli?”tanya Kyuhyun saat gadis itu baru masuk ke dalam rumah milik Gina.

“…,”gadis itu tidak menjawab dan terus naik ke atas.

“Kau tau,barusan ada berita pembantaian di Red House. Saat mantan penasehat perdagangan Jerman mengadakan pesta dengan teman klub main golfnya. Mereka semua tewas karena racun. Aku teringat ucapan preman tempo hari saat kau tanyakan dimana orang-orang yang membunuh Georgeo. Tapi…tentu saja bukan kamu kan? Haha…,”

Cagalli berhenti dan mendengarkan Kyuhyun sejenak.

“Tentu saja bukan,bodoh,”gadis itu lalu naik ke atas dengan membawa tas hitam besar yang kelihatannya cukup berat. Kyuhyun mengernyitkan dahinya melihat gadis itu.

***

Seorang gadis yang mengenakan gaun malam panjang berwarna hitam dengan dandanan natural namun tetap elegan dipadukan oleh gaya rambut yang disanggul kecil namun poninya masih tersisa dan disisihkan kesamping berjalan dengan anggun memasuki sebuah kamar VIP di klub malam kelas atas Roppongi. Dia tersenyum tipis seperti ratu es saat masuk ke kamar itu dan mendekati pria tua,bukan bos yakuza maupun mafia melainkan mantan menteri kesehatan Jepang yang sudah lama pensiun.

“Kau datang juga…,”ucap pria itu. Sang gadis tersenyum tipis seperti tadi dan menuang wine ke dalam gelas lalu diberikan pada pria tersebut.

“Ternyata kau memang hebat. Datang ke tempat umum seperti ini,”pria itu meneguk wine yang diberikan sang gadis.

“Bukankah ini tempat pribadimu?”tanya gadis itu santai dan terlihat menggoda.

“Kalau begitu kau datang mencari mangsa disarang macan,”jawab pria tersebut. Keringat dingin mengucur disekujur tubuhnya.

“Hahaha…,”dia lalu tertawa.

Gadis itu tetap tersenyum dengan gerak tubuh gemulai dan sensual. Menikmati menatap pria tersebut.

“Aku pikir kau akan menodongkan pistol ke wajahku atau menusukku dari belakang. Tapi…,”

Pria itu tertawa lagi. Dengan sangat kaku dan panik.

“Bagaimana bisa…,”

Pria tersebut menatap sang gadis dengan mata membulat lebar dan bahasa tubuh yang mulai aneh.

“Satu…dua,”ucap sang gadis.

“Kau…,”

Crash!!!!

Belum selesai pria itu berbicara,seluruh pembuluh darah ditubuhnya pecah dan gadis itu sudah berada diambang pintu,menjauh dari tempat duduk pria tadi. Tentu saja pria tua yang malang itu sudah tewas karena virus yang terdapat dalam wine tadi.

“Chouchou-sama,jemputan sudah siap,”saat gadis itu keluar,dua orang pengawal sudah menunggu.

“Hebat sekali Chouchou-sama,kau bisa menguasai tempat orang itu dalam waktu sejam dan membunuh dengan sangat dinginnya. Bahkan sedikit pun bercak darah tidak tampak digaunmu yang hitam,”seorang pria datang dari balik pintu dekat tempat mereka berada.

“Bukankah menarik,mati karena virus yang dikembangkan sendiri?”tanya Chouchou tenang.

“Ebola-01. Bukan dia yang mengembangkan tapi seorang anak muda,”jawab pria bertopi putih itu.

“Kau pasti penasaran. Jika kau mau membayar 10 juta dolar aku akan memberitahumu laboratorium virus itu dikembangkan,”pria tersebut tersenyum licik lalu meninggalkan Chouchou yang terdiam dan larut dalam pikirannya.

***

“HAH?!!!!”

“Cagalli?! Ada apa Cagalli?!”Kyuhyun sudah berada disisi Cagalli dan menepuk-nepuk pundaknya.

“Kau…kenapa kau ada disini? Siapa yang menyuruhmu masuk?!”bentak Cagalli.

“Yah jangan marah-marah dulu. Aku masuk karena mendengar kau teriak-teriak tidak jelas,kau mimpi buruk ya?”tanya Kyuhyun. Cagalli langsung teringat apa yang ada dalam mimpinya.

“Mimpi yang sama sejak beberapa hari yang lalu…,”Cagalli mengusap dahinya dengan lelah.

“Tapi kali ini aku melihat darah yang banyak sekali. Banjir darah…ah bukan! Pancaran darah yang begitu banyak,”keringat dingin mengalir membasahi rambut dan baju Cagalli. Tatapan wajahnya terlihat horror,sepertinya mimpi yang sudah dia alami benar-benar mengerikan.

“Gina tidak pulang…,”ucap Kyuhyun saat mendengar jawaban Cagalli.

“Salah satu orang yang ada di Red House itu adalah kekasihnya,mantan penasehat menteri perdagangan. Dia mati karena pecah pembuluh darah diseluruh tubuhnya. Mimpimu…tidak berkaitan dengan ini kan?”tanya Kyuhyun.

Pakk!

Cagalli menabok kepala Kyuhyun sampai pria itu meringis kesakitan.

“Bagaimana bisa aku membuat orang mati dengan memecahkan pembuluh darahnya?!”Cagalli beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar,menuju balkon.

Dia melirik Kyuhyun yang masih duduk ditempat tidurnya dengan ekor matanya. Cagalli merasa sesuatu tidak benar dengan kehadiran orang ini. Entah kenapa sejak dia datang,mimpi-mimpi yang ingin dia lupakan muncul kembali. Ya,dia merasa pernah mengalaminya secara nyata walau dia tidak ingat sama sekali.

***

Trieste,Italy.

“Nona…aku belum makan seharian. Berikan aku sedikit uang…,”

Gadis itu berhenti saat seorang kakek tua menarik mantelnya. Ekspresi wajahnya yang sedari tadi dingin menjadi begitu hangat. Dia berlutut dan mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.

“I…ini banyak sekali…,”kakek itu menatap cemas pada sejumlah uang yang cukup tebal diberikan oleh gadis tersebut.

“Jika masih sempat hidup…hiduplah dengan menikmati dunia ini,”ucap gadis itu lalu berdiri dan meninggalkan kakek yang menatapnya dengan ternganga.

Tak beberapa lama kemudian dia sampai disebuah gundang. Kelihatannya seperti gudang roti namun saat masuk ke dalam ada tangga menuju bawah tanah yang menghubungkan ke terowongan. Tidak sampai disitu saja,terowongan itu malah berakhir di anak tangga lagi yang kali ini naik ke atas. Gadis itu naik dan sampai di tempat terbuka. Halaman yang cukup luas dan sepertinya tersembunyi,ada sebuah rumah kecil diujung halaman tersebut. Gadis itu berjalan menuju rumah bercat putih dan kelihatannya tidak terurus lagi.

“Disini…,”gumam gadis berambut hitam legam tersebut.

Brak!

Walau cukup berkarat dan susah dibuka,tenaga gadis itu cukup kuat untuk mendobrak pintu rumah. Dia lalu masuk dan debu langsung beterbangan menyambutnya. Rumah itu terdiri dari beberapa ruangan namun ada dua ruangan yang menjadi point utama di rumah ini. Ruangan pertama tempat buku-buku dan berbagai macam hal diletakkan dan ruangan kedua adalah wilayah “steril”.

Dia tidak peduli dengan wilayah “steril” itu yang membuatnya tertarik adalah sebuah meja dengan tumpukan map yang sangat banyak. Dia duduk disana lalu memeriksa map satu persatu.

“Experiment 135 Kinderheim.”

Dia membukanya namun tidak ada dokumen sama sekali. Kosong.

“Experiment Agent V-E-01.”

Dia tidak tertarik membacanya namun dia menyimpan map tersebut setelah diperiksa kelengkapan dokumennya ke dalam tas.

“Bloody Sunday At 135 Kinderheim.”

Prak!!!

Tangan gadis itu gemetaran sehingga map yang dia pegang terjatuh.

“Kenapa…?!”tanya gadis itu shock. Dia lalu mengumpulkan lagi kekuatannya dan mengambil map tersebut.

Saat ingin membacanya lagi setelah mengumpulkan segenap kekuatannya mata gadis itu tertuju pada satu map berwarna kuning yang berada tidak jauh dari map tadi terjatuh.

“Scientist List.”

Dia langsung mengambilnya dan membuka dokumen tersebut. Matanya melotot kaget saat membaca sebuah nama dilist terakhir dengan tinta warna merah.

Name    : **** ****

DOB       : ********

Age        : 14 y.o

Position: founder of Ebola-01

TBC

Satu Tanggapan to “STRATAGEM (5)”

  1. elf_love 2 Juli 2012 pada 6:09 AM #

    Onn, tu siapa yang nemuin Ebola-01???
    Kok muda amat?? 14 taun lho!!!
    Cagalli di sini ska ny nabok kepala orang y???
    Lanjut!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: