Serendipity

16 Mar

SERENDIPITY

Cast       : Choi Junhee (Juniel),Choi Sulli,Lee Donghae,Kim Kibum,Cho Kyuhyun,Jessica Jung

Serendipity is finding something good without looking for it…

 Image

“Jadi gaun putih ini lebih bagus daripada yang pink rose ini?”Tanya seorang gadis berwajah imut dengan rambut coklat panjang dan ikal.

“Menurutku begitu Junhee-ah,nih lihat…cocok kan?! Cocok sekali loh buatmu,”puji temannya.

“Hmmm…,”Junhee memandang tubuhnya yang dicocokkan dengan gaun putih satin yang ditawarkan temannya itu.

“Aku yakin dia pasti akan setuju dengan pilihanku!”ucap temannya lagi.

Junhee menatap wajahnya dicermin. Saat ini dia sedang fitting wedding dress. Ya,dress untuknya. Junhee tidak percaya akhirnya hari ini datang juga. Walau tanpa ditemani calon suaminya yang sibuk,dia akhirnya bisa mencoba dan memilih gaun-gaun pengantinnya sendiri.

“Baiklah…aku ambil yang ini,”ucap Junhee memberikan pada pelayan.

Sambil menunggu temannya mengurus pembayaran,Junhee menatap ke luar jendela dari lantai dua gedung itu. Perhatian gadis itu segera tertuju pada seorang anak kecil yang membawa banyak sekali balon gas. Bukan karena apa yang dibawa anak itu sangat mengherankan,tapi sebuah kenangan mencuat begitu saja dalam pikirannya.

 

*flashback*

 

“Junhee-ah,maafkan oppa karena tadi rapat lama sekali. Nah,kita mau kemana?”Tanya seorang laki-laki berseragam yang menghampiri Junhee di gerbang sekolah. Junhee yang sudah bosan menunggu selama satu setengah jam hanya cemberut.

“Aigo…maafkan aku Junhee-ah…oppa benar-benar minta maaf. Nah,karena itu ulang tahunmu,kau bebas menentukan kita akan main kemana dan sampai larut malam,”anak laki-laki itu mencubit pipi chubby Junhee.

“Jinjja?”Tanya Junhee langsung excited. Orang didepannya tersenyum dan mengangguk tegas.

“Bagaimana kalau kita ke taman kota? Kita makan ddokbuki dulu,sudah lama tidak kesana,”ucap Junhee excited.

“Kajja!”

“Donghae-ssi! Untung kau masih disini,ini kaos olahragamu yang kupinjam. Terimakasih ya,”seorang gadis cantik dan bertubuh mungil mendekati Donghae dan Junhee.

“Eh? Jessica,kau juga menungguku? Padahal kau bisa mengembalikannya besok saja,”ucap Donghae menerima bungkusan dari Jessica.

“Tidak apa,aku sekalian menjemput adikku setelah ini. Kau mau pergi? Baiklah kalau begitu,sampai jumpa besok di kelas,”Jessica mencium pipi Donghae tepat di depan Junhee. Membuat mata Junhee membulat lebar,dia tidak percaya gadis itu menggoda Donghae di depannya.

“Oppa?!”seru Junhee kaget.

“Eh? Waeyo Junhee-ah?”Tanya Donghae polos.

“Kau membiarkannya begitu saja dia menciummu? Oppa jadian sama dia ya?”Tanya Junhee kesal.

“EH?? Anieyo…dia pindahan dari Amerika,walau sudah kuperingatkan berkali-kali bahwa budaya sana dan sini berbeda dia tetap menyapa anak-anak termasuk aku dengan mencium pipi,”jawab Donghae malu-malu.

“Yeah…dan oppa senang kan,”Junhee menggerutu kesal dan berjalan mendahului Donghae.

“Tahun depan,saat aku masuk SMA,aku akan masuk SMA yang sama dengan oppa,”

‘Aku tidak rela jika dia didekati gadis lain terutama Jessica si gatal itu,’batin Junhee.

“Ne…makanya nilaimu harus bagus ya,”Donghae mengacak-acak rambut Junhee.

“Hmmm…Junhee-ah,sebentar,”Donghae berlari menjauh. Junhee kebingungan,ada apa lagi dengan anak itu kali ini.

Donghae ternyata mendekati penjual balon gas di seberang jalan dan membeli semuanya,dia kembali pada Junhee dengan senyum lebar.

“Nah Choi Junhee…berdoalah supaya nilaimu bagus dan masuk SMA yang sama denganku,lalu lepaskan balon-balon ini ke udara,sugestinya jika kau melepaskannya setelah berdoa,balon-balon ini akan membawa doamu sampai ke Tuhan,”ucap Donghae yang menurut Junhee itu sangat konyol.

“Hahaha memang balon gas ini bisa terbang melewati atmosfer?”ledek Junhee. Donghae hanya meringis sambil tertawa.

Junhee memegang pengangan balon-balon itu di tangan Donghae dan menutup matanya. Berdoa lalu melepaskannya bersama Donghae.

“Waaah!”mereka berdua menikmati pemandangan saat balon berwarna-warni itu terbang memencar dilangit,menghiasi langit jingga yang tak terlupakan itu.

“Nah…semoga doamu terkabulkan dan kita bisa satu sekolah lagi,”ucap Donghae yang sangat bersinar bagi Junhee. Junhee hanya tersenyum menatap wajah oppa yang sudah dia sukai sejak kecil.

 

*present*

Airmata menetes begitu saja tanpa Junhee sadari. Kebahagiaan yang dia rasakan tidak terbandingkan dengan kenangan-kenangan indah itu. Hatinya berdesir,jantungnya memompakan darah begitu cepat,dadanya terasa sesak karena bongkahan perasaan yang bercampur aduk.

‘Tuhan…semoga aku akan selalu bersama dengan orang disisiku ini seumur hidup,’

“Junhee-ah,calon suamimu sudah datang menjemput,”seru teman Junhee.

Junhee menoleh,pria itu tersenyum lembut dan mencium kening Junhee sambil menyeka airmata dipipinya.

“Kenapa kau menangis?”Tanya pria berkemeja biru tua itu.

“Aku merasa bahagia,”jawab Junhee. Sekali lagi,pria itu mengecup kening calon pengantinnya yang cantik.

 

***

 

“H-3 pernikahan masih masuk kerja saja? Kau ini rajin atau terlalu polos Choi Junhee?”Tanya Dokter Kyuhyun yang sedang makan sandwich bikinan istrinya.

“Tidak apa-apa kan dok,aku rajin kok dokter protes? Harusnya senang dong di ruangan yang sekarang Cuma ada 2 perawat dibantu olehku,”jawab Junhee sewot.

“Hahaha. Ne…arraso,kau akan mengambil cuti bulan madu cukup lama kan? Dasar kau ini…,”

“Huh,kayak dokter dan Taerin sunbaenim tidak bulan madu lama-lama aja! Satu bulan setengah loh,kita aja sampe ngira kalian resign,”balas Junhee.

Dokter Kyuhyun dan perawat lainnya tertawa menanggapi Junhee yang paling muda diunit mereka.

Druak!!
“Ada pasien gawat darurat! Dia terpeleset dan mengalami pendarahan!”teriak Taerin sambil berlari menjemput pasien tersebut.

“Junhee! Cepat siapkan peralatan operasi Caesar! Pasien tersebut hamil 7,5 bulan dan kita harus mengeluarkan bayinya sekarang!”ucap Dokter Kibum yang datang tergesa-gesa dan langsung masuk ke ruangan ganti baju. Dokter Kyuhyun juga buru-buru menghabiskan sandwichnya dan bergegas mempersiapkan dirinya. Dalam sedetik,unit bedah obgyn langsung bertindak cepat.

Junhee juga ikut bersiap-siap dan menyediakan semua kebutuhan untuk operasi gawat darurat tersebut. Tak lama kemudia pintu terbuka. Junhee bisa melihat dari kejauhan di luar pintu sana bahwa ada seorang pria yang terlihat sangat mencemaskan pasien yang dibawa ranjang itu. Hati Junhee berdesir saat sama-samar menyadari siapa orang tersebut. Tentu saja dia ingat! Walau tidak begitu jelas karena pria itu jauh diluar sana namun Junhee yakin bahwa orang itu sangat dia kenal.

“Junhee,apa yang kau pikirkan? Ayo siapkan mesin ECG-nya!”tegur Taerin yang sibuk memakai pakaian steril.

Junhee langsung tersadar,dia melihat gadis yang kritis yang dipindahkan ke meja operasi.

“Sulli…,”Junhee merasa gejolak dalam dirinya yang tidak mengenakkan.

 

*flashback*

“Oppa…kita sudah sangat dekat seperti ini. Aku merasa bisa jujur tentang apa pun pada oppa,”ucap Junhee sambil menatap air di danau yang beriak-riak.

“Ne…tentu saja. Apa yang mau kau bicarakan?”Tanya Donghae ikut menatap ke tengah danau.

“Yah…aku…aku menyukai oppa,”ucap Junhee. Dia tertawa malu.

“Akh!! Aku malu sekali oppa! Tapi ini pertama kalinya aku menyukai seseorang,”Junhee menunggu reaksi positif dari Donghae karena dia yakin sekali bahwa selama ini perasaan mereka sama. Donghae selalu berkorban untuknya,selalu bersamanya,apalagi namanya kalau dia tidak cinta. Pasti pernyataan Junhee ini akan menjadi kado terindah di ulang tahun Donghae.

“Oppa?”Junhee kaget saat melihat ekspresi wajah Donghae berubah.

“Mianhe Junhee-ya…,”ucap Donghae berat hati.

“Kau hanya seorang adik yang sangat kusayangi. Andai semua lebih cepat,mungkin tidak begini…tapi pandanganku tidak bisa berubah. Perasaanku tidak bisa berubah lagi…,”lanjut Donghae,suaranya sangat pelan,hampir tidak terdengar.

Junhee tidak bisa merespon ucapan Donghae. Dia ingin menangis. Dia sangat ingin menangis saat ini. Dia sangat patah hati.

“Apa…ada orang yang oppa cintai?”Tanya Junhee dengan suara yang sudah serak.

“…,”

“Oppa! Jawab jujur! Aku adikmu kan?!”paksa Junhee.

“Ne…hari ini aku akan mengutarakan perasaanku. Nanti malam aku akan bertemu dengannya,”

“Siapa orang itu?”suara Junhee hampir tidak bisa keluar. Walau membuat Donghae tertekan dan memberatkan hatinya namun demi menjaga hubungan baiknya dengan gadis dihadapannya ini Donghae harus menjawabnya.

“Orang yang kita temui di bazzar bulan lalu,”jawab Donghae.

“Maksudmu Choi Sulli dari SMA Cheongdam?”Tanya Junhee tak percaya.

Bukan tidak mungkin Donghae jatuh hati pada Sulli. Itu hal yang sangat wajar. Sulli adalah primadona SMA Cheongdam tapi Junhee tidak percaya mereka bisa dekat seperti ini. Lee Donghae-nya yang tidak menonjol diantara orang lain,bahkan hampir tidak terlihat keberadaannya jika itu bukan Junhee atau teman sekelasnya yang mengenal Donghae. Lee Donghae-nya yang selama ini hanya mengenal dia. Sekarang seorang gadis cantik dan menonjol merebut hatinya,dan gadis itu meresponnya?

“Junhee? Choi Junhee!”Donghae menyadarkan Junhee yang ternyata bertarung dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan panggilan Donghae.

“Mianhe…aku benar-benar tidak bisa berhenti. Aku sangat menyukainya,untuk pertama kalinya,”ucap Donghae berat hati.

“Aku adikmu kan? Aku akan mendukungmu,”Junhee berusaha mencairkan suasana dengan merangkul Donghae dan tersenyum lebar,senyum yang menyembunyikan kepedihan hatinya.

 

*present*

 

‘Sekarang aku harus menolong istri cinta pertamaku dan anaknya? Benar-benar sulit bagiku!’batin Junhee.

Junhee menatap tubuh Sulli yang tidak berdaya,sepertinya Sulli sudah mengalami pendarahan yang cukup hebat. Pada kasus yang sudah-sudah,kemungkinan hidup ibu dan anak sangat kecil,kecuali menyelamatkan satu diantaranya. Namun biasanya sebelum sang ibu dan ayah memutuskan,waktu mereka telah habis oleh kondisi fisik yang menggerogoti tubuh sang ibu saat itu dan yang bisa selamat hanya sang anak dengan pembedahan Caesar.

“Aku mohon…selamatkan bayiku…selamatkan bayiku…,”Sulli terus mengerang kesakitan sambil mengigau.

“Nyonya…nyonya bertahanlah,kita akan melakukan yang terbaik,”Taerin berbisik menenangkan Sulli.

“Tidak bisa…tidak bisa 100%. Kita harus menolong salah satunya,”ucap Dokter Kyuhyun membantah teori istrinya sendiri.

“Bayiku…selamatkan bayiku…aku mohon…,”isak Sulli lemah.

 

*flashback*

 

“Junhee,kau kemana saja? Kau tidak pernah terlihat,”ucap Donghae ditelepon.

“Ah oppa…maaf,aku sibuk dengan ujian masuk universitas. Bagaimana kabar oppa? Dan…Sulli?”Tanya Junhee.

“Kami baik-baik saja. Hari ini Sulli menyuruhku mengajakmu untuk jalan-jalan ke pantai. Dia penat karena persiapan ujian universitas juga,dia teringat kamu dan mengatakan kau pasti penat juga dan mengusulkan untuk refreshing bersama,”jawab Donghae.

Junhee merasa malas. Jelas saja malas,untuk apa dia melihat orang yang sangat berarti baginya menunjukkan keharmonisan hubungannya dengan gadis lain? Terakhir kali mereka makan siang di taman bertiga,Junhee sekuat tenaga memaksa untuk tersenyum walau mereka sangat serasi. Ya,Junhee benci harus mengakui bahwa mereka sangat serasi,saling mencintai,Junhee benci harus melihat kenyataan itu.

“Junhee-ah? Bagaimana? Kau bisa kan? Sekaligus ada hal penting yang harus aku katakan padamu. Karena kau orang yang penting bagiku jadi aku harus mengatakannya langsung,”

“Harus sekarang?”Tanya Junhee. Dan bersama Sulli? Namun Junhee mengurungkan pertanyaannya.

“Ne,harus,”jawab Donghae.

Akhirnya dengan terpaksa Junhee ikut Donghae dan Sulli ke pantai. Gadis yang sudah tidak dia temui selama setengah tahun itu terlihat makin cantik saja walau sudah dipenghujung sekolah dan menghadapi ujian akhir dan ujian universitas. Membuat Junhee jengkel sendiri.

 “Junhee-ssi,katakan padaku apa rahasiamu untuk tetap terlihat segar dan menarik walau sedang dihadapi stressor berat saat ini?”Tanya Sulli tiba-tiba.

“Eh???”Junhee kaget. Kau bercanda? Kau itu lebih mengherankan loh! Batin Junhee.

“Ne…kau tetap imut dan lucu,seperti anak kecil polos yang tidak ada beban,bagaimana kau memanage dirimu saat menghadapi ujian-ujian menyesakkan itu?”Tanya Sulli lagi.

Junhee menatap Donghae tak percaya.

“Sulli itu selalu ribut loh,dia menyuruhku menanyakan apa rahasiamu tetap cantik walau sedang stress begini,”tanggap Donghae.

Junhee terdiam. Dia tau bahwa walaupun cantik dan popular,Sulli sangat apa adanya dan polos. Dia akan mengutarakan apa yang dia pikirkan dan rasakan. Dia benar-benar polos dan tidak dibuat-buat,hal itu makin membuat Junhee sebal karena nilai plus gadis ini selalu keluar. Tapi kali ini Sulli seakan mendeklarasikan bahwa dirinya kalah dalam satu hal pada Junhee. Walau hal itu tidak begitu membanggakan namun entah kenapa Junhee merasa senang.

“Kau tau? Aku malah berpikir kau tidak pernah mencemaskan hal-hal lain karena kau jelas lebih pintar dan lebih cantik dibanding aku. Kau serius?”Tanya Junhee dingin setelah Donghae pamit untuk membeli minuman.

“Eh?”

“Kau mempermainkanku?”Tanya Junhee kesal.

“Kau meragukanku? Hahaha. Choi Junhee,jika kau mengira aku sesempurna yang orang katakan,kau salah besar. Donghae oppa saksinya. Ada banyak kekurangan dalam diriku. Ada banyak hal yang aku cemaskan. Dari semua kondisiku disaat down dan terpuruk,Donghae oppa selalu bilang ‘Jika Junhee,dia selalu semangat dan percaya diri dalam berbagai kondisi. Dia melawan semua masalahnya seakan dia menghadapi seekor kecoa yang menyebalkan,dia akan menanggapinya dengan berapi-api dan dia selalu mengatasinya dengan sukses,minimal dengan menghilangkan perasaan-perasaan buruk itu’ yang kadang membuatku cemburu padamu karena dia selalu mengatakan tentangmu namun terkadang menginspirasiku. Secara tidak sengaja kau menolongku Junhee-ssi. Aku tau kau pasti menganggap hidupku sangat anugerah. Yah,aku menerima hal itu,terutama setelah kehadiran Donghae oppa. Tapi kenyataannya ada satu borok dalam hidupku yang tidak bisa terhapus dari ingatanku. Jika dipikir-pikir…aku tidak akan membuat anakku mengalaminya dikemudian hari. Aku akan mencintai anakku dengan sepenuh hati dan berkorban dengan sepenuh jiwa…,”ucap Sulli panjang lebar,dia tersenyum diakhir kalimatnya. Senyum lembut yang tulus.

“Maksudmu?”Tanya Junhee bingung.

“Junhee-ah,Sulli-ah,ini es krim untuk kalian,”tiba-tiba Donghae datang dan mengalihkan topik pembicaraan Sulli dan Junhee.

“Aku tidak mengerti Sulli-ssi…dengan kau memiliki borok dihidupmu,mencintai anakmu dengan sepenuh hati dan berkorban sepenuh jiwa untuk anakmu. Apa yang mau kau utarakan?”Tanya Junhee setelah mereka menghabiskan es krimnya.

“Jagiya?”Donghae menatap Sulli dengan cemas,Sulli mengangguk dan tersenyum kecil. Senyum yang pasrah namun menunjukkan dia sudah menang dari kekalutan hatinya.

Sulli membuka kemeja yang ia pakai,membuat Junhee terkejut namun Junhee langsung membatu melihat bekas luka memanjang dari lengan kiri bagian atas,menjalar ke punggung sampai pangkal pinggangnya. Bekas luka yang sangat jelek dan mengerikan,mencacati sosok sempurna gadis berkulit putih susu itu.

“Sulli…apa yang terjadi padamu?”Tanya Junhee tak tega melihatnya.

“Aku dicambuk dengan gulungan kawat oleh ayah tiriku saat aku berusia 8 tahun. Setelah melihat luka yang mengerikan ini,ibu yang merasa bersalah malah mengabaikanku. Saat aku sudah mulai mengerti,aku merasa ibuku sendiri adalah musuh dalam hidupku. Dia tidak peduli jika aku pulang ke rumah atau tidak,dia bahkan selalu membela ayah tiriku jika aku bertengkar dengannya karena ayah tiriku itu selalu berusaha melecehkanku. Sampai aku lulus SMP,aku memutuskan untuk menyewa kamar sendiri di luar,hidup sendiri. Aku tidak ingin bertemu kedua orang itu lagi. Aku tidak ingin mengingat bahwa aku mempunyai ibu kandung yang lebih memilih kekasihnya,yang tega menelantarkan anaknya. Walau sempat menyerah,tidak ingin percaya dengan hubungan yang dinamakan keluarga…tapi Donghae oppa mengajarkanku bahwa hidup memiliki kesempatan kedua jika kita benar-benar memulainya. Aku berjanji akan memiliki keluarga yang bahagia,aku akan melindungi anakku,menyayanginya,walau harus mempertaruhkan nyawaku,aku akan selalu menjadi perisai bagi anak-anakku nanti…kau juga mengajarkan itu secara tidak langsung padaku Junhee-ah…semangat juangmu akan kehidupan memotivasiku…,”Sulli menggenggam kedua tangan Junhee yang kehabisan kata-kata setelah mendengar cerita Sulli. Donghae hanya tersenyum lirih,dia lalu merangkul Sulli dan mencium pucuk kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang,namun Junhee sudah tidak mempedulikan perasaan cemburunya lagi,kali ini perhatiannya tersita pada rasa ibanya dengan nasib gadis itu.

 

*present*

 

“Baiklah! Operasi Caesar dimulai!”pimpin Dokter Kibum setelah Sulli dibius.

“Walau harus mempertaruhkan nyawaku,aku akan selalu menjadi perisai bagi anak-anakku,”

Junhee merasa walau Sulli benar akan prinsipnya namun Sulli masih belum terlambat. Dia ingin,setidaknya,Sulli merasakan rasanya memeluk anak sendiri dan membahagiakan anak itu.

“Dokter! Aku mohon,prioritas pada ibunya!”pinta Junhee tiba-tiba.

“Tapi kemungkinan bayi akan selamat akan kecil dan sang ibu sudah memutuskan untuk memilih anaknya,”ucap Saorin,perawat pendamping Kibum.

“Jika malaikat kecil itu memang diberi izin untuk lahir dan merasakan pelukan ibunya,maka masih ada waktu untuk menolong kehidupannya. Saat ini aku minta prioritas pada ibunya,aku mohon. Pasien ini adalah orang dekatku! Aku mohon,aku tau yang terbaik untuknya dan aku akan bertanggung jawab!”pinta Junhee bersungguh-sungguh.

“Choi Junhee,kau tau tidak semudah itu. Kau juga harus meminta izin pada suaminya,”ucap Dokter Kyuhyun.

“Aku tanyakan sekarang!!”Junhee keluar dari ruangan itu,berlari keluar unit mendekati Donghae yang sedang duduk berdoa di bangku,sosok yang terlihat begitu pasrah dan malang. Tidak mungkin Donghae mengikuti permintaan Sulli karena dia tau sekali bahwa laki-laki dihadapannya ini sangat mencintai Sulli.

 

*flashback*

 

“Oppa,lihat itu ada takoyaki! Ada permen ringgo juga,yuk kesana!”Junhee menarik tangan Donghae kesana kemari. Donghae hanya tertawa pasrah melihat gadis yang lucu itu selalu excited soal makanan.

“Hei,kalian kencan ya hari ini? Hari ini pun terlihat serasi,”tiba-tiba mereka bertemu teman SMP mereka dulu,Yuhno.

“Yunho oppa! Apa kabar?”seru Junhee bersemangat. Yunho mengacak-acak rambut Junhee dengan gemas.

“Kau selalu bersemangat Junhee-ah. Nah,kalian ini sudah resmi ya?”Tanya Yunho.

“Eh? Resmi apanya?”Tanya Donghae polos

“Ya ya! Iya oppa!”seru Junhee memotong pertanyaan Donghae. Donghae tidak akan mengerti apa maksud dari pertanyaan Yunho.

“Hahaha,bagus deh,penantianmu selama 7 tahun akhirnya berbuah manis ya,adik kecil,”ucap Yunho lagi. Junhee hanya nyengir lebar sementara Donghae tidak mengerti apa-apa.

“Oppa,apa bertemu Luna?”

Bruak!!!

Junhee,Yunho dan Donghae menoleh kaget saat seorang gadis berambut hitam panjang yang indah terjatuh karena tersenggol orang lewat. Rambut hitam berkilauannya yang indah itu basah karena entah kenapa minuman yang dia bawa menyiramnya.

“Gwenchanayo?”Donghae yang paling dekat dengannya dengan sigap membantu gadis itu berdiri. Gadis itu malah meringis malu,dia terlihat hampir menangis dan sangat lucu bagi Donghae. Dibenak Donghae saat itu baru kali ini dia melihat gadis lain selain Junhee yang memiliki ekspresi lucu.

“Sulli-ah kau tidak apa-apa? Luna pergi mencarimu,Junhee-ah ada tissue?”Tanya Yunho.

Belum sempat Junhee mengeluarkan tissuenya,Donghae sudah mengeluarkan handuk kecil dari tasnya dan mengusap kepala Sulli dengan handuk itu.

“Maaf ya handuk ini memang handuk untuk mengelap keringat saat aku latihan di klub tapi kebetulan hari ini baru selesai dicuci dan belum dipakai sama sekali,”ucap Donghae lembut. Junhee yang melihat pemandangan itu entah kenapa merasa sangat kesal,dia merasa ada yang aneh pada diri Donghae.

“Ah…apa pun tidak masalah kok,ada saja aku sangat berterimakasih,”Sulli mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Donghae. Saat itu jantung Donghae seakan berhenti berdetak,sorotan mata yang teduh dan senyum gadis itu mempesona hatinya.

“Terimakasih Donghae-ah,ini Sulli,teman adikku. Dia…,”

“Dia anak SMA Cheongdam. Gadis tercantik dan berprestasi dalam bidang modeling dan seni acting. Sudah bermain di musical beberapa kali,ya kan?”tebak Junhee memotong ucapan Yunho.

“Otthoke?”Tanya Sulli kaget.

“Haha. Siapa sih yang tidak kenal gadis popular dari SMA Cheongdam. Banyak penggemarmu disekolahku,jadi mau tidak mau aku jadi tau tentangmu,”jawab Junhee.

Donghae hanya menatap Sulli yang tertawa mendengar jawaban Junhee. Junhee sudah mengira bahwa Donghae jelas terpesona pada Sulli.

 

*present*

 

Walau kenangan-kenangan menyakitkan itu terus mendesak hati Junhee namun melihat kenyataan yang ada sekarang,Donghae yang selalu setia bersama Sulli,Junhee yakin inilah yang terbaik pagi Donghae. Cinta laki-laki polos itu begitu dalam,tidak bisa Junhee bayangkan jika Sulli menghilang. Apa Junhee akan melihat pelangi dan cahaya yang terpancar dari laki-laki itu meredup juga? Biar saja Junhee pernah terpuruk,pernah menangis sendirian di kamar saat tau Donghae dan Sulli berkencan untuk pertama kalinya,pernah memutuskan untuk menyingkir dari perasaan dan lingkaran setan itu,namun dia sekarang sadar,kebahagiaan Donghae lebih penting. Bukankan itu yang namanya cinta?

Junhee berhenti dihadapan Donghae. Laki-laki itu mendongak saat melihat seseorang menghampirinya.

“Junhee-ah?”Tanya Donghae yang masih mengenali Junhee.

“Oppa…,”Junhee sebenarnya cukup pesimis akan tindakannya ini. Tidak,tidak bisa,aku harus berusaha,batin Junhee segera mengubah perasaannya.

“Oppa! Mari kita selamatkan Sulli! Oppa setuju kan?! Bukankah oppa mencintainya? Memimpikan untuk memeluk anak kalian bersama? Walau kali ini tidak bisa tapi kalian masih memiliki kesempatan lain. Asal Sulli selamat!”seru Junhee berapi-api.

“Apa Sulli benar-benar masih bisa selamat?”Tanya Donghae yang sudah sangat putus asa.

“Jika diprioritaskan pada Sulli,kemungkinan besar,ya. Aku mohon oppa…Sulli lebih berhak memeluk kehangatan bayinya daripada menatap bayinya tumbuh dewasa dari atas langit,”isak Junhee.

“Jika kesempatannya masih ada tentu saja aku memilih Sulli. Aku mohon Junhee-ah! Selamatkan istriku!”Donghae berdiri dan membungkuk 90 derajat. Junhee tersenyum lega,dia lalu masuk kembali ke unit dan memutar arah,menyampaikan hasil yang dia peroleh dari luar melalui telepon parallel dari luar sambil menatap team dibawah lewat jendela pemantauan operasi.

“Aku yakin kemampuan Dokter Kibum. Selamatkan ibunya,”pinta Junhee.

Junhee lalu menatap operasi itu dari balik jendela sambil berdoa dengan sungguh-sungguh.

Jika saja kenangan itu tidak muncul dibenaknya,mungkin dengan dingin hati Junhee akan menuruti keputusan team dengan menyelamatkan bayinya. Walau benci dan kesal dengan Sulli yang meraih hati Donghae,namun dia tetap tidak berdaya mengabaikan kebahagiaan mereka berdua. Dia sudah ikhlas sejak lama,kekesalan sementara yang muncul karena kenangan-kenangan itu datang kembali hanya percikan api yang dapat dipadamkan kembali.

~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~

 “Kehadiranmu cukup telat…dan dalam keadaan yang buruk,”

“Tapi aku bersyukur aku bertemu denganmu,”

“Aku juga. Setidaknya oppa bisa melihatku menyusulmu bahagia,”

“Kau benar Junhee-ah…aku benar-benar berterimakasih saat itu kau berlari dan memohon untuk menyelamatkan nyawa Sulli,”

“Oppa harus tau,aku sempat ragu ingin menyelamatkan nyawa gadis yang sudah mengalahkanku dalam mendapatkan cinta pertamaku,”

Mereka berdua tertawa.

“Aku mengingat oppa,akhir-akhir ini sebelum aku menikah. Oppa adalah cinta pertamaku yang sangat manis dan sangat pahit. Sekali lagi aku mengatakan…aku benar-benar menyukai oppa. Sekarang aku bisa membuka lembaran baru,bisa melupakan semuanya dan bahagia,”

“Kau juga…kau selalu jadi orang yang istimewa bagiku. Kau adik yang sangat aku sayangi,”Donghae mengusap-usap kepala Junhee dengan lembut seperti dulu.

“Ah,maaf aku menangis. Pertemuan kita terlalu dramatis sih. Hehe…,”Junhee menyeka airmatanya. Mereka tertawa berdua  di depan kamar bayi sambil menatap bayi perempuan yang ternyata juga dapat diselamatkan malam itu.

“Hei Junhee-ah…siapa sih calonmu? Apa dia lebih hebat dariku?”Tanya Donghae.

“Tentu saja! Dia Dokter Kibum loh,yang menyelamatkan istri oppa,”jawab Junhee bangga.

“Wah,kalau begitu dia memang orang yang paling hebat!”tanggap Donghae.

“Nanti anakmu menikah dengan anak kami saja ya,”ucap Donghae lagi.

“Ih,kalau anakku perempuan juga masa mereka lesbi?!”seru Junhee.

“Hahaha! Ya kalau laki-laki dong,dasar oon,”ledek Donghae.

Mereka berdua tertawa sepuasnya sampai ditegur perawat penjaga di kamar bayi bahwa mereka bisa membangunkan bayi-bayi itu jika terus tertawa terbahak-bahak.

“Oppa oppa,aku jadi ingat saat SD kita juga dimarahi seongsaemin seperti ini karena kita tertawa tanpa memikirkan sekitar,”

“Hahaha! Kau benar,kenapa masih ingat saja sih?”tawa Donghae.

“Iya dong. Ini benar-benar serendipity,”ucap Junhee.

“Menemukan hal baik tanpa mencarinya?”tanggap Donghae. Junhee mengangguk.

“Hahaha! Kita bisa bertemu disaat yang lebih baik,”ucap Donghae.

“Tidak juga,inti dari segalanya kita bertemu lagi dan semua berjalan lancar. Ya kan?”

Donghae tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan Junhee namun senyum yang tidak lagi paling istimewa bagi Junhee.

“Junhee-ah? Ayo pulang,”ucap Kibum yang sudah berganti baju setelah dinas.

“Ne…oppa,sampai jumpa lusa ya,oppa harus datang,”

“I promise,”

“Donghae-ssi,kita pulang ya. Saya tunggu kedatangannya,kita harus menjadi kerabat yang baik,”sapa Kibum.

“Aku berjanji akan datang asal kau sanggup menjaga adik kecilku ini dengan baik,”

Junhee tersenyum kecil. Senyum bahagianya. Semua berakhir indah pada waktunya,itu yang selalu Junhee percaya.

“Kenapa kau menangis?”

“Aku merasa bahagia,” Andai saja aku bisa bertemu dengan dokter lebih cepat…mungkin kebahagiaanku sempurna. Tapi bersama dia pun,walau pahit,itu adalah kebahagiaan kecil yang pernah kurasakan.

Pada akhirnya suatu cerita itu harus berakhir bahagia,ya kan?

 Image

4 Tanggapan to “Serendipity”

  1. vina 16 Maret 2013 pada 10:32 PM #

    oneshoot tapi masalah tuntas… keren keren… good ff sampe kebawa tegang gara2 eonni pernah bilang ada yg bikin envy takutnya sulli wafat.
    eh fto sulhae yg pake baju merah putih ma pling bawah real kan? baru liat soalnya

    • cagalli14 17 Maret 2013 pada 6:00 AM #

      wkwkwk ..makasih yaa😀
      ahaha aku bisa dibunuh seseorg kalo bikin sulli wafat ><
      iya itu real,photoshoot blood donation itu loh😀

  2. elf_love 17 Maret 2013 pada 11:20 AM #

    Onnie! Tegang bacanya, kirain Sulli ny gak selamat…
    Tapi akhirnya happy end juga… ^^
    Junhee akhirnya sama kibum y? Kirana sama Hae… tapi kan kalo sama Haessler gak ada Ssulhae!!!

    • cagalli14 17 Maret 2013 pada 11:28 AM #

      heheheheheee ..makasih ya udh baca😄
      kebayang deh nyelamatin istri dr org yg plg kita sayangi yg udh bikin patah hati ..beuhhh ..untung juniel ikhlas😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: