(TWO SHOOT) In The Dark – Part 2 (END)

22 Apr

In The Dark (Part 2)

 cats

Malam itu benar-benar mimpi buruk bagiku. Tidak pernah aku membayangkan akan mendapatkan bencana seperti ini dalam hidupku.

Victoria onnie tewas dibunuh orang misterius dan Eunhyuk tidak terlihat dimana-mana! Keadaan makin kacau karena Siwon oppa down akibat kematian kekasihnya, Victoria onnie. Malam itu masih panjang! Aku ingin menyongsong pagi dengan cepat!

***

“Oppa! Ayo kita pergi dari sini! Kita turun gunung lalu lapor ke polisi!” kataku panik.

“Jalan di gunung saat malam sangat berbahaya Sulli-ah…,”ucap Siwon oppa.

Tapi…tapi!

“WAAAA!!!”

“Luna???”

“Aku tidak mau berada disini! Aku tidak mau mati dibunuh seperti itu! Kita bisa dibunuh amanjaku* kalau masih disini saja!!”Luna mulai histeris (*amanjaku : iblis pemakan manusia).

“Makhluk seperti itu tidak ada Luna-ya,”Siwon oppa yang sudah mulai tenang mencoba menenangkan Luna yang menangis tersedu-sedu.

“Di dunia ini tidak ada siluman maupun iblis,”ucap Siwon.

“Luna…,”aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkannya.

“Mungkin ada buronan kabur kesini dan saat dia melihat Victoria…lalu Eunhyuk…,”Siwon oppa mulai berhipotesis.

“Oppa…,”aku cemas melihat Siwon oppa yang terlihat sangat terluka saat menyebut nama Victoria onnie.

“Tidak apa-apa Sulli-ah. Aku dan Donghae akan terus berjaga malam ini. Kalian tidur saja,”Siwon oppa yang menyadari aku panik lalu mengusap-usap kepalaku seperti biasa dia menenangkanku.

“Baiklah…,”ucap kami lega.

***

Kretek! Kretek!

Aku menatap api unggun di ruangan itu. Walau disuruh tidur tapi tetap saja rasanya tidak tenang. Lagipula aku tidak mau membiarkan oppa berjaga semalaman seperti itu dan aku enak-enakan tidur.

“Luna,”bisikku pada Luna yang juga belum tidur.

“Temani aku ke toilet yuk,”ucapku pelan.

“Ah,ayo! Aku juga mau kesana dari tadi!”jawab Luna lega.

“Ah syukurlah,”aku lebih lega lagi dpaat teman ke belakang.

“Kalau ada apa-apa langsung teriak ya,”pesan Donghae.

“Walau sedang ditengah-tengah,”sambung Siwon.

“Iya iya,”jawab kami lalu keluar.

Petir masih terus menyambar. Dengan lampu pijar menerangi jalan kami, kami berjalan berduaan dengan pelan.

“Sulli-ah kau duluan saja,”ucap Luna setelah kami tiba di depan toilet.

“Bener nih? Oke deh,aku akan cepat,”ucapku senang.

“Iya,cepat yaa,”ucap Luna.

Luna  yang menunggu di luar tampak cemas dan ketakutan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dan merasa lega saat tidak ada apa-apa. Namun…

“Hmp!!!”

Luna kaget saat sebuah tangan yang sangat jelek seperti daging yang sudah membusuk menyekap mulutnya.

“Lama ya Luna? Maaf…,”aku lalu keluar dari toiler namun tidak melihat siapa-siapa.

“Luna?”aku melihat sekeliling dan hanya menemukan lampu pijar yang dipegang Luna tergeletak di lantai.

“Tidak mungkin…,”langkahku mundur kebelakang. Memikirkan semua kemungkinan dan kemungkinan besar yang muncul di kepalaku.

“Luna! LUNA KAU DIMANA?!”teriakku.

“Sulli?!” Siwon dan Donghae yang mendengar teriakanku langsung berlari menyusul. Aku tercekat saat menemukan sekelebat bayangan masuk ke semak-semak.

“Sulli-ah kau tidak apa-apa?!”tanya Siwon oppa panik.

“Oppa! Tadi di semak-semak ada sesuatu….,”tunjukku.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!”

Luna?!!!

“Di gubuk itu!”seru Donghae.

“Ayo kita lihat!”Siwon oppa meloncati pagar kuil dan kami menyusul, menuju gubuk diseberang.

Saat kami memasuki gubuk itu, tidak ada siapa-siapa. Gubuk itu seperti sudah lama tidak dihuni.

“Lihat itu!” tunjuk Donghae pada sebuah lantai yang terbuka. Sepertinya ada jalan menuju bawah.

“Jalan bawah tanah?”tanyaku bingung.

“Menuju kemana tangga ini?”tanya Donghae.

“Ayo kita masuk,”ucap Siwon oppa.

“Eh? Oppa tidak bercanda kan?”

“Hentikan Siwon-ah. Kita tidak tau orang macam apa di dalam sana,”Donghae menghentikan Siwon.

“Iya,jangan oppa!”pintaku.

“Aku tetap akan pergi! Akan kutangkap orang yang telah membunuh Victoria!”jawab Siwon oppa penuh dendam.

Oppa…aku benar-benar tidak pernah melihat sisimu yang seperti ini.

“Baiklah,”ucap Donghae mulai turun ke tangga itu.

“Aku juga ikut!”ucapku.

“Tidak Sulli-ah. Kamu disini saja. Kami akan segera kembali,”ucap Donghae.

“Eeee! Tidak mau! Aku juga ikut! Aku tidak mau sendirian disini!”rengekku. Gila saja kau mau meninggalkanku sendirian disini! Seram tau!

“Hh…baiklah,kau duluan,”ucap Donghae mengalah.

Kami lalu menuruni tangga itu yang menuju….

“Gua stalaktit???”

“Benar-benar dalam ya…,”ucapku takjub.

“Lebarnya hampir sama dengan lebar gunung ini ya…,”ucap Siwon oppa.

“Sepertinya begitu,”balas Donghae.

“Lihat! Ada lubang disini!” seru Siwon.

Kami lalu masuk ke lubang itu dan menemukan manusia yang terbujur kaku. Tubuhku langsung bergidik,aku tidak sanggup melangkah lagi.

“Mumi…,”ucap Siwon oppa saat mendekati tubuh wanita itu.

“Membeku di gua ini,”ucap Donghae.

“Orang jaman kapan?” tanyaku mendekat.

“Kalau melihat pakaiannya, mungkin wanita waktu sama perang dulu,”jawab Donghae.

“Tapi coba lihat! Bukankah orang ini mirip Sulli?”tanya Donghae excited.

“Ya…yah!! Ini bukan saatnya untuk bercanda ah!!”seruku sambil memukul pundak Donghae.

“Eh iya,mirip sekali,”ucap Siwon oppa polos.

“Oppa juga?! Daripada memikirkan itu lebih baik kita keluar dari sini!”aku menarik lengan Siwon oppa.

“Siwon-ah coba lihat kesini!!”pekik Donghae.

Kami mendekatinnya dan semua tubuhku seakan lemas melihat tumpukan tulang belulang dan tengkorak di depan kami. Banyak sekali! Mungkin ada ratusan,ah tidak,ribuan???

“Lihat ice pickel ini! Pasti mereka adalah orang yang sedang mendaki gunung ini seperti kita,”ucap Donghae tak percaya.

“Ada apa dengan mereka??”tanya Siwon oppa tak habis pikir.

Aku sudah tidak sanggup lagi melihat hamparan tulang belulang dan tengkorak di depanku itu, aku langsung menoleh kesamping namun tenggorokanku langsung tercekat.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”teriakku yang langsung menghambur ke pelukan Siwon oppa.

“Hyu…Hyuk?!!!”seru Siwon dan Donghae kaget setengah mati melihat kepala sahabat mereka di atas batu.

“Oppa!!”aku menunjuk ke arah keranjang yang berisi tumpukan potongan tubuh yang masih segar. Tidak mungkin! Tubuh Eunhyuk terpotong-potong seperti potongan daging sapi!

“Huek!!”aku langsung berlari ke sudut memuntahkan isi perutku.

“Sulli-ah!”Siwon oppa mengejarku dan membantuku.

“Siwon-ah…,”ucap Donghae lemas.

“Ada apa Donghae-ya?”tanya Siwon setelah aku selesai muntah-muntah.

“Benar dugaanku…ini…amanjaku…,”Donghae menatap kami dengan horor.

“Makhluk itu! Iblis pemakan manusia!”

Tidak mungkin!!! Tolong katakan ini Cuma mimpi! Tolong bangunkan aku dari mimpi ini! Aku tidak ingin mati dimakan amanjaku!

“Oppa!!”aku  menarik lengan Siwon oppa.

“Ayo lari dari sini!”seru Siwon. Kami lalu berlari mengikuti Siwon oppa namun….

Zssshhhh!!

“KYAAA!” teriakku saat melihat sosok yang kulihat disemak-semak menghalangi kami di depan.

“Kesini!!”Donghae menarik tanganku menuju arah lain.

“Pintu keluar disana!” seru kami.

Bruak!!!

“Akh!!”aku terhempas saat keluar dari gua itu. Siwon dan Donghae segera menutup pintu tersebut.

Ini kan….

Kami melihat kesekeliling kami.

Gua yang tadi!

“Ayo cepat lari sampai ke jembatan gantung!”Siwon oppa memimpin kami.

“Setelah menyeberang nanti kita putuskan jembatannya!”serunya.

Kami lalu berlari kembali ke jembatan gantung itu. Namun alangkah kagetnya aku saat amanjaku itu menampakkan sosoknya. Melompat hendak menerkamku tepat di depanku. Dia mendapatkanku! Oppa…Donghae…selamat tinggal…semoga kalian selamat….

“Sulli!!!”teriak mereka.

“Jangan sentuh adikku!!!!”teriak Siwon melompat menyerang amanjaku.

Aku kaget saat tersadar sudah lepas dari cengkraman amanjaku. Namun Siwon oppa bertarung dengan amanjaku disana.

“Oppa!!!”

“Siwon-ah!!”Donghae mendekati kami.

Dengan jelas aku melihat Siwon oppa berkelahi dengan amanjaku itu. Amanjaku tersebut membawa pisau besar dan dengan sekejap mata…entah berapa cepat kejadian itu…aku melihat Siwon oppa tewas tertusuk pisau tersebut tepat dilehernya.

Oppa….

Buk!!!! Bak!!! Bak!!!!

Donghae memukul kepala amanajaku itu dengan batu besar namun amanjaku tersebut menghempaskan Donghae dan kabur.

Sunyi sejenak.

Kami berdua benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru kami hadapi.

‘Itukah amanjaku? Makhluk bodoh itu?! Apa sebenarnya dia?!’batin Donghae.

“Siwon!”Donghae yang segera sadar kembali dari shocknya langsung berbalik ke belakang.

Aku tersenyum lirih menatap Donghae yang mematung melihat Siwon oppa yang sudah terbaring dipangkuanku.

“Jika saja…jika saja aku tidak bersikeras mengajak oppa mendaki gunung hari ini…Victoria onnie…Luna…Eunhyuk…bahkan oppa…mereka tidak akan mati…,”ucapku lemah.

“Oppa tidak akan mati…,”ucapku.

“Ini bohong kan?”tanyaku pada Donghae yang hanya menatapku dengan lirih dan sendu.

“INI SEMUA BOHONG!!!”teriakku.

“Siwon-ah…,”airmata Donghae mengalir dan dia langsung menghapusnya.

“Ayo Sulli-ah kita pergi…kita tidak tau kapan makhluk itu kembali lagi,”aku menarik Sulli menjauh dari tubuh Siwon.

“Oppa…,”aku menatap tubuh oppa yang sudah 17 tahun bersamaku. Oppa yang selalu melindungku. Oppa yang lebih penting dari apa pun!

“Sulli-ah…,”Donghae menarikku ke pelukannya dan mengusap-usap kepalaku sejenak.

“Ayo…,”bisiknya.

Ya…tidak mungkin aku menyerah disini. Oppa sudah melindungku sampai akhir!

Kami lalu memutuskan untuk pergi. Sebelum pergi, Donghae sempat mengambil pisau yang menancap dileher Siwon.

***

Ctar!!!! Ctaaaar!!!!!!!

“Ayo Sulli-ah,kita sudah dekat jembatan! Berusahalah!”Donghae memberiku kekuatan untuk berlari. Entah kenapa, mungkin karena rasa takut, rasa hancur dan kemarahan, aku mendapat kekuatan ekstra untuk berlari.

Sebentar lagi…setelah menyebrangi jembatan itu, mimpi buruk ini akan berakhir!!

Ah jembatannya…sampai juga….

“Tunggu!!!”Donghae menahan tubuhku.

Jembatannya putus?!!!

GLEGAR!!!!!!

Apa-apaan ini? Tidak mungkin…

“Makhluk itu memutuskannya! Ia tadi memutar duluan dan memotong jembatan ini agar kita tidak bisa keluar dari sini!”kata Donghae tak percaya.

“Bagaimana ini? Cuma ada satu jalan ini kan?? Kalau begini terus kita akan…,”

Dibunuh oleh iblis pemakan manusia itu!!

“Cuma ada satu cara…,”ucap Donghae pelan.

“Kita hanya bisa melawannya,”Donghae menatapku dengan tatapan sedih.

“Donghae…,”

“Kita lawan iblis itu! Itulah satu-satunya cara agar kita bisa hidup!”ucap Donghae yakin.

“Tapi itu tidak mungkin…oppa saja…oppa saja dibunuh olehnya! Kalau hanya kita berdua bagaimana mungkin? Sia-sia!!”seruku putus asa.

“Sulli-ah! Tidak ada jalan lain lagi!!”teriak Donghae menyadarkanku.

“Seandainya kita kembali ke kuil…,”

“Eh?”

“Bagi iblis itu, hutan ini adalah tamannya…karena itu ini adalah daerah kekuasaannya,”ucap Donghae.

“Sulli-ah…,”Donghae mendekap wajahku dengan kedua telapak tangannya.

“Kita tidak akan mati! Pasti! Apa pun yang terjadi kita pasti bisa bertahan hidup!! Aku akan melindungimu!”ucap Donghae tegas.

Donghae-ah….

“Ya!”jawabku yang kuat karena kekuatan yang diberikan Donghae. Donghae tersenyum manis.

“Maafkan aku jika ini terlambat…,”ucapnya. Tiba-tiba aku sudah merasakan bibirku yang sedari tadi dingin karena hujan yang tidak berhenti ini menjadi hangat saat menyentuh bibirnya.

Donghae-ah…

“Ayo kita pergi!”ucap Donghae setelah melepaskan ciumannya.

Ya,aku harus kuat!!

***

Gluduk!! Gluduk!!!

Kami berdua berjalan kembali ke kuil. Tingkat keteganganku semakin bertambah karena kami hanya berdua. Setiap bunyi terasa mengancam.

“Kyaaaa!!”teriakku.

Keplak keplak! Huuu…huuu….

“Hahaha. Itu burung hantu,”tawa Donghae lega.

“Huh…Cuma karena merasa terancam jadi begini deh,”ucapku lelah.

Akhirnya kami sampai di depan kuil. Suasana sangat sepi dari tadi.

“Sampai disini kita masih selamat,”ucap Donghae.

“Aneh…terlalu sepi…aku merasa bahaya akan segera datang,”ucapku.

“Karena ruang tengah terlalu jauh, sementara waktu kita ke pintu dulu. Larilah dengan sekuat tenaga Sulli-ah!”

“Ayo!” seru Donghae. Kami lalu lari sekuat tenaga menuju pintu.

Donghae membuka pintu kuil itu namun…

Greb!!

“Kyaaa!!”

Amanjaku yang bersembunyi di dalam mencengkram lengan Donghae dan menerkamnya. Donghae menancapkan pisau yang dia bawa ke tubuh amanjaku.

“Cepat!!” Donghae menarik tubuhku masuk ke dalam. Dia langsung mengunci pintu kuil dan menahannya dengan kayu.

DOK DOK!! GRATAK GRATAK!!

“Bawa lentera dan kerosin cadangan ke ruang tengah! Cepat!”seru Donghae.

“Baik!” aku langsung menuruti kata-kata Donghae.

Amanjaku itu masuk melewati jendela. Kami lalu berlari ke ruangan lain.

“Kunci semua pintu!!”seru Donghae.

“Baik!”seruku. Aku mengunci semua pintu dan jendela. Donghae menuangkan kerosin ke dalam ember.

“Masukkan juga kerosin yang ada di lentera,”ucap Donghae.

“Untuk apa?”tanyaku.

“Untuk membuat api. Cuma apilah senjata kita satu-satunya,”Donghae melepas bajunya.

“Iblis itu akan kubakar!”ucap Donghae kesal.

Bruak!!!

Duk!! Duk!!

Amanjaku sibuk membuka pintu dengan kapak. Donghae segera membuat tongkat api dari bajunya dan kayu. Dia membakar baju itu dengan minyak dan api.

“Sulli-ah,seelah kusiram iblis itu dengan minyak kau cepat lempar ini. Mengerti?”tanya Donghae.

“Iya,”jawabku.

Bak!! Bak!!

Druak!!

Akhirnya amanjaku masuk ke dalam kuil. Donghae yang menunggu disisi pintu itu segera menyiramnya dengan seember minyak.

“Sekarang!”seru Donghae.

Aku baru saja hendak melemparkan tongkat itu namun amanjaku menyerang Donghae.

“Apa yang kau lakukan?! Cepat lempar!”seru Donghae.

“Tidak bisa! Kau bisa terbakar!”seruku.

“Lempar sekarang!!”seru Donghae.

Ya Tuhan…apa ini benar-benar yang harus kulakukan?

“Lari Sulli-ah!!”seru Donghae saat aku melemparkan tongkat itu.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAA!”teriak amanjaku yang terbakar.

“Donghae!!”teriakku.

“Lari Sulli-ah!! LARI!!!”teriak Donghae yang masih terjebak dengan amanjaku itu.

Tubuh Donghae sudah ikut terbakar dan melepuh. Aku melihat kapak yang diselubungi api yang dibawa amanjaku itu, tanpa pikir panjang aku mengambilnya dan mengarahkan kapak itu ke punggung amanjaku. Berkali-kali aku menyerang amanjaku itu dengan kapak berapi yang sudah tidak bisa kurasakan lagi betapa sakitnya telapak tanganku yang melepuh. Aku sepertinya sudah gelap mata melihat Donghae kesakitan. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kucintai lagi!!!

Hah?!!

Bret!! Saat aku tersadar dari gelap mataku,amanjaku itu berbalik dan mendekatiku.

“I…ja…,”

Sepertinya dia berusaha mengucapkan sesuatu. I…ja??

“Ak…,”

Eh??

Brak!!!

Amanjaku itu terjatuh ke lantai tak berdaya.

Apa…? Apa yang tadi itu?? Kenapa hatiku mendadak menjadi pilu?

Hah?!

“Donghae-ah!” Aku berlari mendekati Donghae. Kuil itu sudah terbakar. Aku harus cepat-cepat membawa Donghae keluar.

“Donghae ayo kita keluar!” aku menyeret tubuh Donghae keluar.

Kretek kretek!! Kuil itu sebentar lagi rubuh! Syukurlah kami sudah di luar.

“Donghae-ah bertahanlah!!”seruku.

“Oi…,”Donghae memegang lenganku.

“Sulli-ah…akhirnya…,”dia tersenyum lega.

“Donghae! Syukurlah kamu masih hidup!!”aku yang sangat senang langsung memeluknya.

“Aduh!!”teriak Donghae kesakitan.

“Ahahahaha…ma…maaf,”ucapku segera melepaskannya.

“Hahaha,. Kau boleh memelukku lagi…tapi setelah luka-luka ini sembuh”ucapnya sambil tertawa. Aku tertawa sambil menyeka airmata yang keluar dari sudut mataku.

Malam itu menjadi terang benderang oleh api yang membakar kuil bagaikan sedang berada di neraka. Ya, jika dipikir-pikir kami memang berada di neraka sebenarnya di bumi ini. Kami ditolong oleh regu penolong yang bertugas karena ada tanah longsor di dekat sana.

Untunglah tubuh Donghae yang terbakar telah didinginkan oleh air hujan sehingga tidak menjadi masalah besar. Lalu…kami mendengar peristiwa 10 tahun yang lalu dari salah seorang polisi.

“Hal itu terjadi setelah perang…ada seorang ibu dan anak yang datang mengunjungi kuil. Kepala biksu saat itu mengizinkan mereka untuk menginap. Lalu entah kenapa…5 hari setelah itu, ketika orang-orang desa pergi ke kuil itu…di ruang tengah kuil penuh dengan darah. Sosok ibu dan anak beserta kepala biksu pun tidak terlihat sama sekali,”cerita polisi.

Itu…iblis itu adalah anak yang waktu itu?!

“Menurut desas-desus yang tersebar di penduduk desa, katanya anak yang nakal itu telah merobek segel dan membangkitkan amanjaku. Lalu mereka semua ditangkap oleh amanjaku,”ucap polisi.

“Tidak! Buka begitu! Karena perasaan takut dibuang oleh ibunyalah yang membangkitkan amanjaku!”ucapku memotong.

“Dibuang?”

“Mungkin juga begitu. Pada masa itu adalah masa yang sangat kacau, hal seperti itu bisa saja terjadi…,”ucap polisi.

Tapi, anak yang telah membunuh ibu dan kepala biksu itu…

“Terus berpikir ketakutan bagaimana caranya bertahan hidup,”ucap polisi.

“Dalam keadaan terpaksa, manusia akan melakukan apa saja…oppa pernah berkata seperti itu. Lalu aku pun mengalaminya…,”ucapku.

“Lagipula orang misterius itu sebelum meninggal  berkata…,”

“Ibu…jangan buang aku…,”air mataku mengalir begitu saat saat merasakan kepiluan hati makhluk itu.

“Sampai sekarang pun masih terngiang-ngiang ditelingaku,”isakku.

“Sulli-ah…,”Donghae memelukku.

“Sebenarnya legenda amanjaku 200 tahun yang lalu telah terulang,”ucap Donghae.

Aku memejamkan mataku,menghabiskan semua airmataku.

Tentang kepiluan yang dirasakan anak yang tidak ingin dibuang ibunya…

Tentang kesedihan kehilangan teman-teman…

Tentang kehilanganku akan oppa yang sangat aku sayangi…

Aku bersyukur Tuhan masih menyisakan Donghae untukku. Aku benar-benar bersyukur dia masih hidup dan berada disini. Aku tidak ingin lagi mengalami kejadian seperti itu. Semuanya…cukup tersimpan dalam-dalam di sudut hatiku saja.

Selamat beristirahat…oppa….

 

 FIN

5 Tanggapan to “(TWO SHOOT) In The Dark – Part 2 (END)”

  1. elf_love 24 April 2013 pada 1:14 PM #

    Trnyata anakny itu berubah jdi amanjaku?
    SsulHae nya idup!!!😀
    D tunggu Stratagem-ny ya!!!

    • cagalli14 24 April 2013 pada 2:41 PM #

      anaknya itu kerasukan amanjaku yg lepas dr segel.
      kasihan eunhyuk ya tapii (oppa maafkan ;___;)
      sip sip tunggu terus ya hihihiii follow twitter aku gak kamu? klo aku update sll aku tweet😉

    • elf_love 25 April 2013 pada 1:53 PM #

      Twitterny onnie yg mana? Namany sama kya user id-ny onnie?

      • cagalli14 29 April 2013 pada 8:32 AM #

        @sulliberty say🙂

  2. vina 28 April 2013 pada 6:22 AM #

    eunhyuknya… omo…
    tapi bagus lah sulhaenya slamet…
    akhirnya setelah penat akan UN bisa baca ff sulhae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: