STRATAGEM (14)

15 Des

151-sungmin-8sml
Cairan kental merah yang memusingkan…
Bau kuat yang memabukkan…
Samar…
Samar sekali…
Siapa disana?!
“Darahnya mengalir dengan indah…ya kan?”

CHAPTER 14: BAU DARAH

CAST
: STRATAGEM

“Hei, kau direkrut Bos pasti karena kau sangat hebat,”ucap pria berambut klimis.
“Maksudmu?”Tanya gadis itu dengan wajah tenang.
“Ya. Kau spesialis apa? Menembak? Membantai? Atau Menghanguskan?”tanyanya lagi. Gadis itu tersenyum ceria dan sangat imut.
“Aku?”tanyanya dengan nada ceria.
“Apa aku terlihat seperti orang yang bisa membunuh?”tanyanya lagi dengan wajah yang imut.
“Yah kalau itu sih…,”
“Aku spesialis dalam menyelidik!”jawabnya dengan ringan.
“Cih. Kau mau main-main denganku? Misi kita ini sulit loh, menemukan permata di kelompok ini yang sedang kabur,”ucap pria tersebut.
“Eh?”dia menoleh ke belakang saat tidak mendapat jawaban. Namun tidak ada siapa-siapa dibelakangnya kecuali cahaya lampu yang hampir padam.
“Yu…Yuko?”tanyanya.
“Oi!”
Namun tidak ada tanda apa sama sekali.

***

“Hoek!!!”
Kyuhyun memperhatikan Cagalli yang sejak tadi bolak-balik ke wastafel.
“Hoek!!!”
“Hey, aku belum ngapa-ngapain kamu kenapa kau sudah mual muntah sih? Apa ada pria lain?”tanya Kyuhyun sambil tetap mengupas apel.
“Bodoh! Kau bilang ‘belum’? Kau ternyata punya pikiran mesum ya?! Hoek!!! Omonganmu bikin aku makin mual! Hoeek!” Cagalli menghidupkan keran dan mencuci mulutnya.
“Lalu apa yang kau lakukan disini? Sahabatmu sudah pergi, cewek itu juga. Kau pergi sana! Ck!”Cagalli membanting badannya di sofa.
“Kau beneran hamil ya? Sensitif sekali,”tanya Kyuhyun. Sebuah buku terlempar kea rah Kyuhyun, Kyuhyun mengelak dengan cepat.
“Hey!”
Cagalli tidak menghiraukan Kyuhyun dan beranjak dari sofa lalu mengambil tasnya.
“Hey kau mau kemana?!”seru Kyuhyun.

-stratagem-

Malam yang dingin. Cahaya lampu yang menghiasi kota-kota, kesunyian diantara hiruk pikuk dunia malam. Kyuhyun terus melangkah mengikuti langkah kaki kecil di depannya. Terpejam dalam ritme yang seimbang. Itulah kemana hatinya melangkah.
“Oy kenapa kau malah ikut denganku sih?!”tanyanya dengan nada ketus. Terlihat sekali dia merasa terganggu.
“Kau yang mau kemana?”tanya Kyuhyun terus mengikutinya.
“Aku tidak ada urusan denganmu sama sekali,”jawab Cagalli.
“Aku juga tidak mau bertemu dengannya lagi,”ucapnya dengan tegas. Rasa takut masih menghantui ingatannya namun dia berusaha keras melepaskannya.
“Karena itu…,”dia berbalik dan menatap pria yang ternyata rambutnya sudah lumayan gondrong sejak terakhir kali bertemu.
“Kita berpisah disini saja, Cho Kyuhyun. Semoga kau selamat dalam perjalananmu membalas dendam,”ucap Cagalli sambil menatap mata Kyuhyun dengan lekat.
“Lalu kau mau kemana? Setelah memutuskan untuk keluar dari organisasi itu?”Tanya Kyuhyun.
“Mencari identitasku,”jawab Cagalli. Dia berpikir sejenak. Walau mungkin bukan hal yang dia harapkan akan ditemui.
“Walau itu mungkin akan berhubungan dengan Sulli?”Tanya Kyuhyun mengingat betapa mereka berdua seperti memiliki ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Tapi tetap…mau bagaimana pun hubunganku dengannya, aku tidak ingin berurusan dengannya,”ucap Cagalli.
“Tidak bedanya dengan aku. Orang-orang yang kita ketahui memiliki kontak dengan kita bukan salah satu bagian dari identitas kita,”ucap Kyuhyun sambil mengingat Qian dan sahabatnya yang berkelit pada musuhnya saat ini.
“Kita sudah kehilangan itu sejak lama…,”ucap Kyuhyun pelan.
“Cagalli, aku tidak bisa meninggalkanmu lagi,”ucap Kyuhyun perlahan. Cagalli terpaku mendengar ucapannya itu.
“Bodoh,”desis Cagalli.
“Kita hanya orang asing yang bertemu di antah berantah!”tepis Cagalli.
“Sudahlah, jangan keras kepala,”Kyuhyun mendekati Cagalli dan menepuk pundaknya.
“Aku terlahir kembali di tempat itu…itulah rumahku. Yaitu bersamamu…apa aku tidak boleh berada di rumah itu?”Tanya Kyuhyun dengan tatapan yang sendu.
“A…aku tidak mengerti ucapanmu!”ucap Cagalli yang mendadak salah tingkah karena perlakukan dan kata-kata Kyuhyun.
“Secara singkat, aku merasakan rumah, pada sesuatu yang penting bagiku. Aku sudah kehilangan semuanya. Hanya satu yang tersisa. Kau yang sudah menyelamatkanku. Kau yang aku kenal,”ucap Kyuhyun.
“Cih! Itu hanya perasaan bertanggung jawab untuk membalas budi kan? Sudahlah, lupakan saja, aku tidak sengaja menolong kok! Lagian aku tau modusmu. Kau tidak punya tempat tinggal disini kan?!”
Tepat sasaran?
“Benar juga sih. Tapi jika aku tidak punya tempat untuk pulang, aku tidak tau kemana tujuanku selain balas dendam,”Kyuhyun akhirnya melangkah pergi. Menyerah.
Cagalli terpaku menatap punggung yang menjauh itu. Punggung yang terasa kesepian, yang sangat menyedihkan. Lalu dia pun memiliki nasib yang menyedihkan.
Rumah? Cagalli juga tidak tau arti sebenarnya dari kumpulan lima huruf itu. Dia selalu bisa pulang ke rumah Gina, bisa juga pulang ke Amerika, namun apa benar itu rumahnya? Mereka memiliki masalah yang hampir sama. Kenapa tidak saling mendukung?
“Hei, aku mau pulang ke rumah Gina dulu, dia juga sudah lama menanyakanmu,”Cagalli berjalan dengan langkah cepat melalui Kyuhyun.
“Setidaknya, kita juga harus memulihkan tenaga untuk mencapai tujuan masing-masing,” kata Cagalli lagi.
Kyuhyun tersenyum kecil,”Dasar gadis naïf,” dan mengikuti langkah Cagalli.
“Asal kau berjanji jangan ngomong yang membuatku mual lagi!”ketus Cagalli.
“Loh kau tadi sudah mual duluan kok, kau sakit ya?”balas Kyuhyun.
“Bukan urusanmu!”jawab Cagalli.
“Cih!”
“Hoeeek!”
“Oy,jangan muntah disini!”

***

“Maafkan aku Donghae,”Sulli menatap Donghae yang sibuk membereskan tempat tidur di motel tempat mereka menginap.
“Sulli…,”Donghae menatap gadis kecil yang dia kenal tumbuh dewasa menjadi sangat cantik.
“Kau tidurlah di tempat tidur, biar aku di sofa,”ucap Donghae.
“Eum…,”Sulli naik ke tempat tidur. Donghae membaringkan tubuhnya di sofa setelah mematikan lampu.
“Donghae…kenapa kau baik sekali?”tanya Sulli.
“Karena kau adalah Sulli,”jawab Donghae.
“Begitu…kau masih mengingatku setelah belasan tahun kita tidak bertemu,”ucap Sulli.
“Ingatanku satu-satunya adalah wajahmu,”ucap Donghae.
“Apa kau…mengingat dimana kita bertemu?”tanya Sulli.
“Di panti asuhan kan?”tanya Donghae.
“Apa kau ingat…bagaimana panti asuhan itu?”tanya Sulli pelan.
“Satu-satunya yang kuingat hanyalah wajah dan namamu…,”jawab Donghae.
“Apa kau ingat…bagaimana aku saat masih kecil?”tanya Sulli.
Donghae hanya diam.
“Oppa…aku takut…,”
“Bagaimana…jika aku bukan seperti gadis kecil yang kau kenal dulu?”tanya Sulli sambil berbalik dan menatap langit-langit kamar.
“Kau adalah Sulli…,”jawab Donghae setelah diam beberapa saat. Sulli lalu tidak menanggapi dan memejamkan matanya.

***

“Hoek!!”
“Kyuhyun apa yang sudah kau lakukan pada Cagalli? Dalam beberapa bulan ini dia malah jadi seperti itu, kau cepat juga ya…apa kalian tidak berpikir untuk tidak memiliki anak dulu sebelum usia kalian lebih tua daripada aku?”tanya Gina terus menyerocos.
Brak!
Cagalli menggebrak meja disamping wastafel.
“Ow…dia memang kasar tapi aku yakin dia bisa jadi ibu yang baik untuk anaknya,”ucap Gina sambil memoles lipstick dibibirnya.
“Hahaha. Aku tidak pernah menyentuhnya Gina. Dia mengerikan seperti singa,”ujar Kyuhyun.
Cagalli membuka tasnya yang belum dibawa ke lantai atas, Kyuhyun yang melihat gelagatnya ingin mengeluarkan senapan langsung diam.
“Tapi sepertinya dia hanya sakit, mungkin masuk angin,”ucap Kyuhyun pada Gina.
“Kau tau obat dimana kan Cagalli,”ucap Gina.
“Itu tidak akan berpengaruh,”Cagalli mengambil tasnya dan naik ke kamarnya.
Cagalli merebahkan tubuhnya dengan lelah.
Dia menahan nafasnya sesaat. Sejak saat itu dia mengingat darah dan baunya yang sangat memusingkan. Cagalli sangat tidak mengerti kenapa. Selama ini dia sudah biasa melihat darah, selama ini dia sudah biasa membunuh orang pemerintahan. Baru kali ini dia merasa mual bahkan hanya saat membayangkan warna dan bau darah yang memabukkan.

***

Brak!!
“Katakan padaku dimana Yuko sebenarnya?!” Sungmin menggebrak meja kerja Siwon.
“Sedang liburan kan?”Siwon balik bertanya.
“Itu tidak mungkin. Tidak setelah aku menemukan ini!”Sungmin mengeluarkan dan menyodorkan sebuah foto yang bagian bawahnya sudah terbakar. Siwon tetap tidak bergeming walau dia tau dia sudah tidak bisa berbohong lagi.
“Kau seharusnya lebih tau dia,”ucap Siwon sambil menghisap cerutunya.
Cess!
“Jangan main-main padaku Siwon,”gigi-gigi Sungmin bergemeretakan saat dia menggenggam ujung cerutu Siwon tanpa ragu sama sekali.
“Wastafel disana,”ucap Siwon sambil menunjuk ke sudut ruangan.
“Kau…!”
“Basuh dulu tanganmu baru kujawab semua pertanyaanmu,”ucap Siwon yang tidak punya pilihan melihat tangan temannya itu terbakar karena memegang ujung cerutu yang menyala.

“Setelah aku membawa Yuko kembali aku akan membunuhmu,”ucap Sungmin sambil menatap Siwon dengan tajam.
“Ya, tapi setelah misiku selesai,”ucap Siwon.
“Kau beraninya berharap padaku,”desis Sungmin.
“Akan kubuat begitu,”ucap Siwon tenang.
Sungmin berdiri dari sofa yang didudukinya.
“Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu sudah memberikan Yuko kesempatan untuk balas dendam Siwon,”ucap Sungmin.
“Sungmin,”Siwon beranjak dari sofanya.
“Yuko berhak menentukan jalan hidupnya,”
“Omong kosong!”Sungmin meninggalkan ruangan yang senyap itu.

***

“Apa kau ingat asal usulmu? Apa kau ingat siapa orangtuamu? Apa kau ingat apa orangtuamu masih hidup?!”
“Jika dia sampai menjadi ketua regional di Jepang artinya diusia muda prestasinya sangat bagus. Jika aku tidak salah…dia adalah pembunuh berdarah dingin,”
“Darahnya mengalir dengan indah…ya kan?”

Siwon…katakan padaku, apa arti dari bau darah yang membuatku mual ini?
Siwon…katakan, bagaimana masa kecil kulalui?
Siwon…kau lah satu-satunya yang kukenal sejak dulu…dimana orang tuaku?
“Cagalli, apa kau sudah tidur?”Kyuhyun menyelinap masuk ke kamar gelap yang hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
“Kyuhyun…apa kau ingat bagaimana masa kecilmu?”tanya Cagalli tanpa bergerak sekalipun.

***

-London, 1998-
“Okasan…Okasan?”seorang gadis kecil,berusia sekitar 11 tahun dengan boneka beruangnya menyelinap keluar dari kamar kecilnya yang gelap.
Gadis kecil itu melihat lampu ruang tengah yang tidak menyala, hampir seluruh ruangan di rumah itu gelap gulita namun dia dapat merasakan cahaya dari kamar orangtuanya. Gadis kecil itu mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit. Bau menyengat yang sangat kuat membuat kepalanya pusing. Saat tersadar, dia dapat melihat cairan merah mengalir dibawah kakinya, keluar dari dalam pintu. Gadis itu membuka lebih lebar lagi dan tercekat saat melihat pemandangan di dalamnya.
“Oka…,”dia langsung menutup mulutnya yang hampir berteriak. Airmata mengalir deras ke pipi apelnya. Tenggorokan yang tercekat terasa begitu nyeri. Lutut yang lemas melihat betapa kentalnya darah yang mengalir dari tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Pemandangan yang dia lihat sangat mengerikan. Tidak pernah dalam hidupnya dia membayangkan peristiwa seperti ini bisa terjadi. Di depan matanya dia melihat ayahnya yang terikat di tiang ranjang dengan mata tertutup kain ditembak di bagian kepala oleh seorang gadis yang mungkin seusianya sendiri. Gadis yang didampingi orang-orang dewasa berjas hitam….Saat menoleh, dia tidak akan pernah melupakan wajah gadis belia yang terlihat sangat dingin tersebut.

TBC

Satu Tanggapan to “STRATAGEM (14)”

  1. dini_SullHae 15 Desember 2013 pada 2:08 PM #

    Makin complite aja nih eon,kalau menurut hati aku yg paling dalam sih eon *cahela* itu yg gadis kecil yg ngeliat orangtuanya d.bunuh itu Cagali,trus yg gadis kecil yg ngebunuh itu Ssul. Trus mungkin aja Ssul jadi jahat gara-gara itu,dan mungkin keluarganya pada berdarah dingin juga.
    Huaaa…mianhae sotoy😥 itu cuma menurut aku,lohh….
    Next chap nya jgn lama-lama ya eon,trus bikin adegan romantis ssulhae ne^^ *reader bnyk maunya*
    Pokoknya,HWAITING!! *Mijitin(?) otak eonni*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: