STRATAGEM (16)

5 Mar

“Pekenalkan! Namaku Cho Kyuhyun, aku baru saja pindah kembali lagi ke Negara ini. Sebelumnya aku tinggal di…sebelumnya aku tinggal di…,”
“Ada apa Kyuhyun-ssi?”tanya wali kelas.
“Aku terlalu sering berpindah-pindah jadi aku bingung menjawabnya, terakhir kali aku tinggal di Inggris. Mohon bantuannya selama tiga tahun kedepan,”jawab Kyuhyun sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Saat itu semua anak di kelas berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan namun Kyuhyun yakin benar bahwa mereka sedang membicarakan kehidupan nomadennya.
“Yak, Kyuhyun memang sering berpindah-pindah, itu dikarenakan oleh pekerjaan orangtuanya. Karena Kyuhyun sudah lama tidak kembali ke Korea, semoga semuanya bisa saling membantu. Lee Donghae, aku titip Kyuhyun untuk dibawa berkeliling ke sekolah ya,”ucap wali kelas. Kyuhyun menatap laki-laki tampan yang duduk di meja kedua paling ujung. Dia tersenyum ramah pada Kyuhyun, entah kenapa Kyuhyun merasa aneh.
“Aku Lee Donghae, ketua kelas 1-1, salam kenal,”ucap anak laki-laki itu. Kyuhyun hanya membalasnya dengan membungkuk sedikit.
“Nah, silakan duduk di bangkumu,”ucap wali kelas menunjuk bangku paling belakang disamping jendela. Kyuhyun lalu berjalan kearah sana dan saat melintasi Donghae, dia merasa benar-benar aneh.
Sejak menginjakkan kaki kembali kesini, aku benar-benar merasa asing, sama seperti biasanya…tapi entah kenapa aku merasa pernah mengenalmu….

CHAPTER 16: Pembantaian Jarak Jauh
2419483363641

Namaku Ellaine. Aku hanyalah gadis yatim piatu yang berusaha membantu bibiku menjual bunga-bunga yang kami petik dari kebun kecil kami sendiri. Karena aku adalah gadis penjual bunga di tepi jalanan kecil di kota ini, sudah pasti kegiatanku sehari-hari sangat sederhana. Walau Munich adalah kota yang sangat besar dan ramai tapi dibagian tempat aku tinggal, Munich terasa seperti jaman dahulu, tenang dan nyaman. Karena itu aku benar-benar sederhana, bangun pagi aku akan langsung memetik bunga di kebun lalu memberikan air yang segar sebelum ditata untuk dijual, setelah itu aku akan gantian dengan bibiku untuk menunggui toko kecil yang sudah 20 tahun dijalani ini, aku akan bersiap-siap diri dan memasak sarapan untukku, bibi dan paman yang sudah bekerja sejak subuh di kebun. Benar-benar tenang sekali dalam memulai pagi. Mana pernah aku membayangkan sesuatu yang luar biasa akan terjadi…
“Ellaine! Ellaine!”
Aku membuka mataku perlahan. Wajah bibi sudah terpampang samar-samar di depan mataku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali sampai aku bisa melihat beliau dengan jelas.
“Bibi, ada apa?”tanyaku. Aku membuka selimutku karena gerah.
“Ellaine! Berkemaslah! Siapkan semua keperluanmu seperti baju-baju dan hal-hal penting lainnya!”ucap bibi tergesa-gesa.
“Berkemas? Mau kemana?”tanyaku bingung. Aku melempar selimutku. Tumben sekali pagi ini tidak sedingin biasanya, padahal ini baru masuk musim gugur.
“Lihatlah ini,”bibi membuka jendelaku. Kamarku terletak di lantai dua, karena itu aku sangat terkejut saat aku bisa melihat dengan jelas asap putih mengepul dari kejauhan.
“A…apa itu dari Augsburg?!”tanyaku kaget. Ada apa ini? Kebakaran besar?
“Bukan. Itu dari Frankfurt! Lihatlah di tv, beritanya masih mengalir deras. Dini hari ini hampir sebagian Frankfurt lenyap karena bom!”
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Selama ini Jerman adalah Negara yang cukup tenang, setelah jatuhnya Nazi dan masa-masa revolusi baru tentunya. Yang pasti di jaman modern ini, bukankan semua kedamaian di seluruh Eropa terjamin? Bukankah serangan teroris hanya ada di Amerika dan Negara-negara Timur Tengah?! Frankfurt…kota itu kan sangat terkenal. Kenapa?
“Tadi ada pengumuman dari pemerintah untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, karena ini diduga serangan teroris jadi seluruh Jerman sedang siaga satu, entah kemana tapi kita hanya menunggu sampai mereka menemukan tempat yang sudah dipersiapkan penjagaan yang ketat,”ucap bibi sambil sibuk mempersiapkan bekal makanan.
“Bom apa yang sudah menghancurkan Frankfurt…?”tanyaku sambil menatap keluar jendela.
Pagi ini terasa berbeda, langit Munich yang biasanya indah dan cocok sekali untuk bunga-bunga kami yang cantik, tiba-tiba menjadi gelap.
“Hah?! Bibi! Aku keluar sebentar!”aku langsung turun dari tempat tidurku dan memakai jaketku yang tidak kukancingkan.
“Ellaine kau mau kemana?!”teriak bibi dan paman namun aku tidak menghiraukan mereka.
Beberapa hari yang lalu aku menemui anak anjing yang ditelantarkan pemiliknya. Karena di rumah bibi alergi dengan hewan, aku memutuskan untuk menyimpannya di Frauenkirche. Di katedral ini ada tempat tersembunyi yang hanya aku dan anak-anak sekitar sini ketahui jadi aku bisa menyimpan anak anjing itu dengan aman asal tidak ada anak yang jahil kepadanya. Jika harus mengungsi, aku terpaksa membawa anak anjing malang itu.
Aku membuka pintu katedral yang sepi. Apa orang-orang sibuk berkemas jadi di jalan pun aku tidak banyak menemui orang-orang, atau mereka sudah mengungsi ke tempat yang menurut mereka aman? Entahlah…krieeek…saat aku masuk ke dalam katedral, aku melihat seorang gadis yang sedang duduk diam di bangku depan. Apa yang dia lakukan? Disaat seperti ini. Apa dia memutuskan untuk pasrah? Ah sudahlah, tidak ada hubungannya denganku, toh ini urusan Pastor jika dia ingin menenangkan dirinya.
Tempat rahasia kami itu adalah di tangga menara katedral ini. Untuk masuk kesana aku perlu masuk melalui belakang altar. Saat itu aku melewati gadis berambut hitam legam itu. Aku kaget saat melihatnya, dia adalah orang asing! Maksudku, benar-benar asing, orang dari luar Eropa, sepertinya orang Asia. Dia menatapku dengan matanya yang kosong itu.
“Anu…,”
“Jangan pedulikan aku,”ucapnya dengan ekspresi datar. Aku lalu membungkukkan badanku sedikit dan melaluinya. Tidak ada gunanya mempedulikan orang lain. Aku harus cepat-cepat mengambil anak anjing yang belum kunamai itu dan pergi dari sini.
“Hei…kau kelaparan ya? Aku akan membawamu ke rumah karena itu kau harus bersabar ya, kita minum susu di rumah,”ucapku pada anak anjing yang lucu itu. Dia terlihat sehat.
Aku lalu segera turun setelah mendapatkan anak anjing itu dan kembali keluar. Saat aku keluar, gadis itu sudah tidak ada. Aku mengambil untuk tidak peduli dan pergi meninggalkan katedral tua ini. Jalanan tetap sepi seperti tadi. Aku benar-benar heran, pada kemana orang-orang? Apa begini rasanya jika ada bencana dan terror? Selama ini mungkin aku hidup di lingkungan yang benar-benar aman.
“Awas!!”
Bruak!!!
Aw! Apa yang terjadi?
Aku membuka mataku. Sebuah sepeda berhasil menabrakku dan kurasakan lututku sangat nyeri, ada darah keluar dengan banyak dilututku. Orang yang menabrakku itu terlihat panic dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantuku berdiri. Saat itu kurasakan sepasang tangan mengangkat tubuhku untuk duduk dengan aman dan membasahi lukaku dengan air. Orang itu merobek ujung bajunya dan membalutkannya ke kakiku. Saat aku berhasil menahan nyeri itu aku mengangkat kepalaku untuk mengucapkan terimakasih dan terkejut saat melihat orang yang menolongku.
“Sebaiknya kau harus hati-hati saat ingin menyeberang jalan. Di jalan ini bisa saja mobil box lewat dan bisa menabrakmu,”ucapnya.
“Kau…ah! Anjingku!”
“Anjingmu aman,”ucapnya.
“Ma…maafkan aku, aku benar-benar terburu-buru untuk menjemput adikku di pabrik, apa bisa kau membawanya ke rumah anak ini? Aku mohon! Maafkan aku, ini sebagai bentuk tanggung jawabku yang tidak pantas ini!”orang yang menabrakku itu memberikan beberapa lembar uang namun aku menolaknya.
“Sudahlah, tidak apa-apa ini kesalahanku. Aku bisa jalan sendiri,”ucapku.
“Benarkah? Baiklah kalau begitu, maafkan aku. Aku pamit dulu!”dia mengangkat sepedanya lagi dan pergi. Kami berdua menatap kepergian laki-laki kikuk itu.
“Nah, kau bisa berdiri sendiri?”pertanyaan itu memecah keheningan.
“Eh? Ah ya,”aku mencoba berdiri namun ternyata rasanya sakit. Aku mungkin terkilir di pergelangan kaki.
“Dimana rumahmu?”tanyanya sambil mulai menggandengku.
-stratagem-
“Namaku Ellaine, terimakasih sudah menolongku,”ucapku saat dipapah menuju ke rumah.
“Tidak masalah,”jawabnya singkat. Aku memperhatikan orang Asia ini. Mungkin dia orang Jepang, atau Cina?
“Anu…siapa namamu?”tanyaku.
“Anak anjing itu…terimakasih sudah menyimpannya di katedral. Aku melihatnya seminggu yang lalu yang bisa kulakukan hanya memberi makan dan perlindungan untuknya di tempat pembuangan sampah itu,”ucapnya tanpa menpedulikan pertanyaanku.
“Benarkah? Pantas ada bekas susu dan makanan dikotaknya dan ada payung itu…hahaha. Ternyata kau yang merawatnya duluan,”ucapku senang. Entah kenapa aku merasakan kehangatan dari hati gadis dihadapanku ini.
“Daripada dibilang sudah merawatnya, lebih tepatnya aku setengah-setengah peduli dengannya…aku hanya kasihan, karena dia tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini,”ucap gadis asia itu. Dia terlihat agak kesepian saat mengatakan hal tersebut.
“Aku juga…memungutnya karena perasaan yang sama. Dia masih kecil dan sudah berpisah dari ibunya…entah ibunya sudah meninggal atau masih hidup di tempat lain…yang jelas dia sendiri,”ucapku.
“Ya, kau benar…ada baiknya ada orang-orang yang peduli padanya,”ucap gadis itu.
“Aku juga seperti anak anjing ini. Aku tidak tau dimana ibuku berada. Apa beliau masih ada atau sudah tiada, tapi ada orang-orang yang peduli padaku. Aku sangat bersyukur,”ucapku. Entah kenapa aku menjadi sangat jujur pada gadis ini. Aku terbawa perasaan oleh kehangatannya.
“Disini rumahmu?”tanyanya. Aku tidak sadar bahwa kami sudah sampai.
“Ah iya…! Anu, apa kau mau mampir sebentar? Kau tidak ikut mengungsi?”tanyaku.
Dia hanya tersenyum. Saat dia tersenyum dia sangat cantik sampai aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Terimakasih, aku pergi saja…ngomong-ngomong, kau beruntung memiliki orang yang peduli padamu,”ucapnya dengan senyum yang kurasa penuh kesepian.
“Ma…maaf!”aku menarik tangannya.
“Eh?”
“Aku tidak tau siapa namamu, aku tidak tau bagaimana dirimu. Tapi kau harus percaya, selama kau masih terus melangkah untuk hari esok, pasti ada orang yang peduli padamu! Pasti akan ada orang yang membutuhkan dirimu! Aku pun, aku tidak akan pernah melupakanmu. Datanglah lagi kesini, jika Munich aman, kapan pun disaat kau mau mengatakan siapa namamu dan kau ingin bergantung padaku!”ucapku.
Aku kaget sekali saat melihat dia tiba-tiba meneteskan airmata dengan wajah kagetnya itu.
“Eh?”
“Terimakasih…dulu pun ada…orang-orang yang dekat dan peduli denganku…namun semuanya telah tiada…semuanya pergi karena kesalahanku…,”ucapnya sendu.
Aku jadi tidak bisa mengatakan apa-apa karena mana kusangka begini jadinya.
“Tapi terimakasih karena kau mengatakan itu,”ucapnya lalu tersenyum lebar. Dia lalu pergi dari hadapanku yang tidak bisa berkata apa-apa ini.
Bodoh. Aku benar-benar bodoh. Aku mencoba untuk peduli dengannya namun aku jadi membuatnya sedih dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Ellaine? Kau akhirnya pulang! Jangan mencemaskan kami, apa yang terjadi dengan kakimu? Anak anjing darimana ini?”tanya bibi namun aku tidak menjawabnya. Tatapan mataku masih lekat pada bekas jejak gadis itu.

***

-Pukul 03.15-
Dini hari pukul 03.15 di senin yang musim gugur ini seluruh Jerman dan sekitarnya terkejut akan bunyi yang kuat. Kris dan Batista sudah tiba di Munich sebelumnya dan mereka sedang makan di restoran 24 jam dan berlari keluar saat melihat langit yang tiba-tiba menjadi terang di arah utara.
“Apa yang terjadi?!”tanya Kris kaget melihat ledakan itu.
“Dari sebelah utara…darimana itu? Apakah Augsburg?”tanya Batista.
Trrrttt! Trrrrtttt!
“Halo, Kris disini!”ucap Kris saat mengangkat teleponnya.
“Kris, ini Oui, Frakfurt diserang bom beradius 5km, pusat kota Frankfurt saat ini sudah rata dengan tanah. Siapa pun yang melakukan ini, dia sangat jenius bisa meletakkan rangkaian bom di pusat pemerintahan Frankfurt tanpa ketahuan. Saat ini aku sedang diperjalanan menuju Ceko, kau mengerti maksudku kan? Sepertinya…revolusi yang direncanakan organisasi mantan polisi rahasia itu sudah memasuki tahap insisi,”ucap Oui diseberang.
Aku terdiam. Ini semua karena kesalahanku? Karena aku lengah dan membiarkan Chouchou-sama diculik maka mereka memiliki kekuatan untuk merevolusi seluruh Eropa?!
“Ada apa Kris?”tanya Batista.
“Batista…dugaanmu saat di kereta tadi benar…,”ucapku sambil menurunkan teleponku.
“Penjatuhan pemerintahan Frankfurt…adalah awal dari revolusi Uni Eropa oleh organisasi mantan polisi rahasia Ceko,”ucapku yang sangat merasa tegang ini.
“Bukan hanya dijatuhkan…tapi dilenyapkan,”ucapku gemetaran.
“Hubungi nona Jepang itu lagi Kris, kita harus tau dimana Chouchou-sama berada,”ucap Batista sambil menghisap rokoknya. Orang ini adalah seniorku, dia benar-benar tenang bahkan saat genting seperti ini. Benar-benar professional! Andai saja saat itu Batista yang mengawal Chouchou-sama, bukan aku…

***

-Pukul 03.30-
“Yuko, angkat teleponku!”seru Sungmin cemas.
“Hyung, sudahlah, kau harus tenang, yang penting kita harus mengetahui situasi dulu,”ucap Kyuhyun.
“Kyuhyun, jika aku bisa tenang aku pasti melakukannya daritadi. Ledakan itu makin membuatku tidak tenang. Yuko mengejar orang yang paling penting dalam rencana organisasi mantan polisi bawah tanah di Ceko, dia mengejar inti masalah ini!”
“Apa? Organisasi mantan polisi bawah tanah Ceko? Hyung kenapa kau tidak bilang daritadi?!”Kyuhyun mengambil ponselnya dan menelepon Cagalli.
“Sial tidak diangkat!”gerutu Kyuhyun.
Tuuut…tuuut…!
“Sial!!!”teriak Kyuhyun.
“Kyuhyun, ada apa?”tanya Sungmin bingung.
“Cagalli…dia adalah mantan snipper organisasi itu. Dia mengatakan padaku bahwa dia berhenti dari organisasi itu tapi aku mulai meragukannya! Kenapa…?! Kenapa Cagalli?!!!!”Kyuhyun meninju tembok didepannya.
“Cagalli?”tanya Sungmin kaget.
“Kau mengenalnya hyung?”tanya Kyuhyun bingung.
“Eh, ah…siapa dia? Tolong jelaskan semuanya Kyuhyun, kau bilang kita harus mengetahui situasi. Jika kita bisa menarik kesimpulannya, mungkin kita bisa bertemu Yuko dan Chouchou!”ucap Sungmin pura-pura polos. Dalam hati Sungmin mengutuk Siwon yang tidak pernah mengatakan Cagalli terlibat dengan Kyuhyun, adik kelasnya saat di SMA.
Kyuhyun menatap Sungmin, senior di klub bela diri Donghae yang sangat akrab dengan mereka berdua. Sungmin adalah satu-satunya orang yang bisa menembus tembok yang didirikan Kyuhyun selain Donghae. Tidak ada keraguan untuknya menceritakan semua yang terjadi.
“Saat menangkap Sulli, Cagalli ada bersama kami. Secara tidak sengaja kami bertemu Sulli dan Cagalli terlihat sangat ketakutan di depannya. Saat menyekap Chouchou Cagalli hampir membunuhnya. Walau mengatakan padaku bahwa dia sudah tidak terlibat organisasi itu lagi tapi juniornyalah yang berhasil melumpuhkan Sulli. Walau Sulli berhasil kabur dengan Donghae, tapi jika memang Sulli adalah yang diincar oleh organisasi itu, jangan-jangan Cagalli sudah tau dari awal! Apa dia merencanakan ini semua?! Apa dia berbohong denganku?!”lirih Kyuhyun.
“Dimana Cagalli berada?”tanya Sungmin.
Kyuhyun baru teringat bahwa Cagalli berjanji akan pulang sebelum makan malam tapi saat menelepon Gina tadi Gina mengatakan bahwa Cagalli belum pulang. Apa Cagalli tadi pergi ke Frankfurt?
“Dia pergi sejak pagi dan belum kembali…,”jawabku lemas. Aku benar-benar tidak percaya bahwa Cagalli telah membohongiku.
“Sial, tidak menolong sama sekali,”ucap Sungmin putus asa.
“Ledakan yang sangat menggemparkan,”tiba-tiba ditengah keputusasaan Sungmin dan Kyuhyun, seorang pria sebaya Sungmin berdiri menatap langit. Sungmin dan Kyuhyun hanya menatap orang itu dengan lekat, orang itu terlihat agak aneh karena dia dengan mengejutkannya terlihat sangat tenang dalam keadaan seperti ini.
“Hei, kau tau? Disaat seperti ini ada saja turis asing di Jerman. Tadi malam saja aku bertemu turis dari Jepang yang sangat imut, dia bersama temannya yang orang Eropa. Kasihan ya, mau berwisata malah harus diteror seperti ini,”ucapnya sambil menghidupkan rokoknya.
“Siapa kau sebenarnya?”tanya Sungmin yang memiliki intuisi yang kuat. Dia bisa tau dalam sekali pandang bahwa orang ini bukan orang biasa.
“Minuman ini, katanya paling keras…aku belum pernah melihat potensinya. Apa bisa mengalahkan Adolf Hilter kedua? Atau malah bisa membodohi anak iblis dan mengalahkannya?”pria itu malah menatap minuman keras yang cukup jarang dijual, Absinthe.
“Dimana gadis Jepang itu berada?”tanya Sungmin dengan tegas.

***

-Pukul 03. 50-
Sulli dan Donghae masih menatap langit di sebelah utara yang makin ditutupi oleh asap.
“Sulli, katakan bahwa ini bukan rencana kalian,”pinta Donghae.
“Memang bukan…tapi sepertinya aku tidak punya pilihan…,”Sulli menatap Donghae didalam kegelapan.
Donghae menghidupkan lampu tidur,”Aku ingin melihat kejujuran dimatamu,”
“Kalau begitu aku terpaksa kembali,”ucap Sulli dengan ekspresi datar.
“Kau gila?! Aku tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya! Siapa pun kau saat ini, apa yang terlibat denganmu, aku akan menepati janjiku karena itulah tujuanku!”tegas Donghae. Sulli menatap mata Donghae yang terlihat begitu serius.
“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Tentang aku, tentang Cagalli, tentang kita,”ucap Sulli pelan.
“Dan ingatanku yang tidak pernah hilang ini…,”

***

-Pukul 08.45-
Ellaine berjalan bolak-balik mengelilingi kamarnya. Sesuatu sungguh mengganggu pikirannya entah apa itu. Saat ini pikirannya tertuju pada gadis asia yang ditemuinya, entah kenapa dia tidak bisa melepaskannya begitu saja. Dia ingin menyelamatkan gadis itu, dia ingin bersahabat dengannya. Walau jika ini adalah hari terakhir mereka hidup!
“Bibi, aku keluar sebentar!”seru Ellaine sambil berlari.
“Ellaine kau mau kemana?! Kita mau mengungsi!!!”seru bibinya namun percuma, Ellaine sudah menghilang dari rumah itu.
“Dimana kau?!”tanya Ellaine mencari-cari. Ellaine bahkan kembali ke katedral namun tidak menemuinya.
“Tuhan tolonglah pertemukan aku dengannya, kita berdua harus selamat dari terror ini!”pinta Ellaine berlari keluar jalan lagi.
“Hah…hah…ha…..hh…percuma…apa dia sudah mengungsi?”tanya Ellaine lemas saat sudah lelah mencari kemana-mana.
“Hei gadis kecil, kau mau kemana? Kau tidak peduli dengan mengungsi kan? Bagaimana kalau kita bersenang-senang sebelum kita lenyap?”seorang berandalan yang sedang mabuk tiba-tiba menghalangi Ellaine
Ellaine tidak menjawabnya dan langsung mencoba berlari namun orang itu telah menarik tanganya.
“Ayolah, kau pasti masih perawan. Sayang sekali kalau kau tewas tanpa mencicipi surga duniawi,”ucapnya dengan tampang menjinjikkan.
“Lepaskan aku!”teriak Ellaine.
“Ayolah jangan menolak…kau benar-benar membuatku tergairah,”ucapnya sambil mencoba menciumku. Ellaine hanya bisa menutup matanya penuh ketakutan sambil berdoa dalam hatinya,‘Bibi, maafkan aku tidak mempedulikanmu tadi. Aku menyesal!’
“Akhhh!!!”Ellaine mencoba menghindari wajah orang mesum itu saat ingin menciumnya.
Dor!!!!
Ellaine tidak mengerti apa yang terjadi dalam waktu singkat itu. Orang yang mencoba menciumnya itu langsung terkapar lemas di aspal dan saat orang itu terjatuh Ellaine dapat melihat orang di hadapannya yang sedang mengarahkan mulut pistol yang berasap ke arahnya. Orang itu menurunkan pistolnya dengan tatapan yang kosong.
“Ka…kau…,”
Duak!!!
Gadis yang dicari-cari Ellaine itu berhasil mengunci tubuh gadis itu dan memukul bagian vital Ellaine di belakang lehernya agar dia jatuh pingsan.
“Kau menguntitku sejak tadi?”tanyanya dengan tatapan yang tajam.
Seseorang keluar dari balik tiang listrik dan tersenyum santai.
“Kau sengaja membuatku membunuh orang ini di depan gadis ini kan?! Bajingan!!!”gadis bertopi baret itu mendorong pria tersebut.
“Kau tau, berapa tahun kubutuhkan untuk mengumpulkan keberanianku menemuimu? Aku tidak akan begitu saja membiarkanmu membunuhku,”ucapnya tenang.
“Sial! Siapa kau sebenarnya?! Apa maksudmu?!”gadis itu mendorongnya dengan keras ke tembok.
“Semuanya akan kau temui disini,”pria itu hanya memberikan kertas padanya lalu melepaskan tangannya. Gadis itu menatap kertas label minuman Absinthe dan dibaliknya tertera suatu peta dan sebuah nama yang mampu menggetarkan hatinya. Belum sempat protes, pria itu sudah jauh melangkah.
“Welcome back…Cagalli-sama,”

-stratagem-

Cagalli melangkahkan kakinya masuk ke sebuah gedung tua yang sudah lama ditinggalkan. Dia melihat kesekeliling, mungkin mengetahui tempat ini namun Cagalli sama sekali tidak merasa familiar. Sampai di ujung lorong tempat Cagalli berjalan, sebuah pintu sedikit terbuka, menampakkan secercah cahaya di ruangan yang gelap itu.
Krieeeet…
“Kerja yang bagus, Cagalli,”ucap seorang pria yang telah duduk di ujung jendela. Karena cahaya yang terang dari jendela besar itu membuat Cagalli tidak dapat melihat dengan jelas orang yang duduk disana.
“Siapa kau?”tanya Cagalli.
“Para mantan polisi rahasia itu memang bodoh sekali. Dengan senang hati membantu kami menjalankan misi yang sudah belasan tahun kami rancang. Nah, bagaimana rasanya kembali seperti dirimu yang dulu?”tanya orang itu.
“Tunjukkan wajahmu, keparat!”teriak Cagalli.
“Kau benar-benar jenius, menolak misi meledakkan perkumpulan anak bangsawan itu dan malah menyusun ledakan di pusat kota Frankfurt. Benar-benar keahlian seorang snipper, bisa lolos dari keamanan bahkan di pusat kota itu. Saat orang-orang focus dengan tragedy di rumah membaca itu, kau sudah lama menyusun rencana peledakan Frankfurt. Menunggu jeda, kau berusaha mengelabui orang yang mempercayaimu. Lalu kau kembali ke stasiun dan menghidupkan detonator bom di Frankfurt. Detonator itu sudah ditemui, kau benar-benar jenius dalam menghilangkan jejakmu tapi Detonator FG-1341 ini, hanya polisi rahasia Ceko yang memilikinya. Kau mencurinya dari Evan kan?”
“Aku tidak peduli apa tujuanmu, aku kesini dengan tujuanku sendiri. Apa pun yang kau lakukan untuk menggertakku, tidak akan bisa menghalangi niatku!”seru Cagalli.
“Cagalli, jadi benar kau telah meledakkan Frankfurt?”tiba-tiba Kyuhyun keluar dari balik pintu disamping jendela besar itu.
“Kyuhyun?!”

TBC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: