Golden Days (Chapter 6)

21 Okt

Golden Days Chapter 6

by : cagalli14

golden days luhan

“Hai Luhan-ssi,”sapa seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan dihadapannya. Luhan tersenyum dan menghampiri pria itu.

“Hai Choi Minho, apa kau lama menungguku?”tanya Luhan sambil duduk diikuti oleh Minho.

“Tidak, aku juga baru sampai,”jawab Minho sambil mengambil daftar menu di restoran itu dan membacanya sejenak.

“Kau pilih saja dulu makanannya, disini enak-enak loh,”ucap Minho.

“Ah baiklah,”Luhan mengambil daftar menu dan memilih makanan.

“Sulli tidak bersamamu?”tanya Minho setelah mereka selesai memesan makanan.

“Tidak. Dia mengatakan padaku akan menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya sebelum kembali ke Paris,”jawab Luhan.

“Luhan-ssi, aku titip Sulli ya,”ucap Minho bersungguh-sungguh.

“Tentu saja Minho-ssi, jangan cemas,”jawab Luhan sambil tersenyum.

“Aku ingin menyampaikan ini padamu Xi Luhan. Kuharap kau dapat mengingatnya dengan baik,”

***

Sulli memuntahkan sesuatu dari mulutnya ke dalam toilet. Perutnya mendadak terasa sangat perih dan mual seperti ada ribuan pisau yang menghujam. Tidak lama kemudian Krystal menyusul dengan wajah yang sangat khawatir. Mendengar suara Krystal di belakangnya, Sulli langsung menyiram toilet tersebut seakan menyembunyikan sesuatu.

“Sulli-ah, kau tidak apa-apa?”tanya Krystal cemas.

“Tidak kok, aku Cuma sedikit mual karena mungkin telat makan,”jawab Sulli dengan senyuman manisnya mencoba membuat Krystal tidak khawatir. Mata Krystal membulat melihat bercak yang tersisa disudut bibir Sulli. Dia mendekati Sulli dan mengelapnya.

“Sulli-ah…kenapa ada darah disudut bibirmu? Bibirmu tapi tidak terluka,”ucap Krystal bingung. Sulli kaget mendengarnya dan mengelap lagi bibirnya namun Krystal sudah terlanjur melihat semuanya.

“Itu…gu…gusiku berdarah,”jawab Sulli asal.

“Sulli, kau jangan membuatku cemas,”ucap Krystal lirih.

“Maafkan aku Krystal-ah, aku tidak apa-a…,”baru saja Sulli mendorong Krystal untuk keluar, tiba-tiba kepalanya berkunang-kunang dan Sulli terjatuh.

“Sulli-ah!!!!”

***

“Sejak kecil Sulli memiliki lambung yang lemah. Dia pernah diopname selama 2 minggu karena masalah pada lambungnya. Dokter bilang level penyakit lambungnya sudah berbeda, jika Sulli stress dan merasa tertekan sedikit penyakit itu bisa kambuh. Karena itu Luhan-ssi, karena sekarang dia bersamamu, aku mohon jangan pernah membuat adikku sedih ataupun stress. Ini demi kesehatannya,”

Luhan berlari melintasi lorong-lorong rumah sakit mencari kamar yang dimaksudkan oleh Minho. Saat baru saja berpisah dari Minho, Luhan mendapat kabar bahwa Sulli masuk emergency room karena pingsan. Sekarang gadis itu baik-baik saja namun harus menjalani perawatan sementara waktu di rumah sakit sehingga dia harus menunda keberangkatannya ke Paris.

“Sulli-ah!”Luhan masuk dengan terburu-buru ke sebuah kamar yang dimaksud oleh Minho. Disana sudah ada Minho, kedua orang tua Sulli dan kedua sahabat Sulli.

“Oppa,”ucap Sulli yang berusaha terlihat sehat namun percuma, Luhan dapat melihat betapa pucat dan lemasnya Sulli saat itu.

“Kau mencemaskanku,”ucap Luhan sambil memeluk Sulli.

“Maafkan aku oppa. Aku sudah baik-baik saja,”jawab Sulli sambil mengusap kepala Luhan.

“Oppa, kau duluan saja ke Paris. Setelah aku sembuh aku akan menyusulmu,”ucap Sulli.

“Tidak Sulli-ah, aku sudah membatalkan tiket kita. Kau harus beristirahat dulu disini dan aku akan menemanimu,”ucap Luhan. Sulli tersenyum mendengarnya.

~~~

“Dokter bilang lapisan lambung Sulli terluka dan hampir menipis karena itu dia muntah darah sebelumnya. Aku tidak mengerti, kenapa Sulli tiba-tiba seperti mendapatkan stressor yang berat sampai progress penyakitnya menjadi bertambah secara significant,”

“Oppa, aku punya masalah pada lambungku, kalau makan harus hati-hati jadi aku ini sangat merepotkan. Tidak apa-apa?”

Luhan tidak bisa menghentikan pikirannya barang sejenak sejak Sulli masuk rumah sakit. Minho bilang penyakit itu berhubungan serius dengan stress yang dirasakan Sulli karena itu Sulli sangat rentan karena penyakit itu bisa kambuh dan membunuhnya jika saja mereka lengah. Luhan semakin tidak tenang dengan kata ‘membunuh’ yang sangat menakutkan bagi Luhan. Dia menatap Sulli yang tertidur pulas dan mengusap-usap kepala gadis itu.

“Sulli-ah, apa bersamaku kau tetap bisa merasa sedih dan menderita sampai stress begini? Sulli, apa yang bisa membuatmu tenang?”lirih Luhan.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Chanyeol dan Krystal masuk dengan ragu-ragu. Luhan menatap Krystal, seolah menggali ingatannya yang merasa tidak asing dengan gadis dihadapannya itu. Krystal tersenyum tipis melihat Luhan, mata Krystal tertuju pada jemari Luhan yang dengan penuh kelembutan membelai kepala Sulli yang sedang tertidur pulas.

“Oppa, kau lupa padaku?”tanya Krystal, duduk di sofa di dalam kamar itu, disamping Chanyeol. Luhan melemparkan ekspresi kebingungan dan penasaran. Krystal tertawa kecil.

“Krystal Jung, anak dari Jung Yunho,”ucap Krystal meyakinkan Luhan. Luhan langsung membulatkan matanya saat mengingat siapa gadis di depannya itu. Ya, gadis yang dulu pernah bermain di rumah neneknya dan itu Cuma beberapa kali sehingga Luhan tidak ingat, terlebih saat itu mereka masih sangat kecil.

“Ah maafkan aku. Aku ingat, sudah lama sekali soalnya. Hehehe,”Luhan menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Chanyeol kemudian menyikut lengan Krystal.

“Oh, oppa, kau siapanya Sulli? Ah aku lupa mengenalkan, ini Chanyeol, kami sahabat Sulli sejak kecil,”ucap Krystal.

“Ah, senang berkenalan denganmu,”sapa Luhan pada Chanyeol, Chanyeol membalasnya dengan sopan.

“Oppa, kau ada hubungan apa dengan Sulli?”tanya Krystal lagi, dia memang selalu to the point, ya, dia memang versi ceweknya Sehun.

“Hyung pacar Sulli?”tanya Chanyeol sok polos, padahal dia tau hubungan Sulli dan Luhan yang belum berkembang.

“Hahaha, aku jadi tidak enak ditanya seperti ini. Bagaimana kalau kalian tanya sendiri pada Sulli jika dia sudah bangun?”Luhan mengelak untuk menjawab. Krystal mendengus karena sudah tau pasti Luhan akan mengelak. Chanyeol menyikut lengan Krystal lagi.

“Kau sih lebai banget tadi bilang Sulli hamil. Sama Luhan lagi,”rusuh Chanyeol sedikit berbisik pada Krystal.

“Yak, dia kan sudah didiagnosa ulcer, masih aja kau berpikiran kayak gitu!”bantah Krystal. Luhan membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan kedua orang itu.

“Hahahaha. Kalian sampai berpikir seperti itu? Walau pun hubunganku dengan Sulli sudah seintim itu aku pasti akan menjaganya baik-baik. Dasar kalian ini,”tawa Luhan yang mengagetkan kedua orang yang sedang rusuh sendiri itu. Chanyeol dan Krystal kaget mendengar ucapan Luhan dan menunduk malu.

“Maaf oppa, soalnya Sulli tadi tiba-tiba mual dan muntah sih…,”ucap Krystal sambil menyelipkan rambutnya dibelakang telinga.

“Apa Sulli tidak akan terbangun mendengarkan kita?”tanya Chanyeol.

“Ah iya ya, ah oppa, bisa keluar sebentar? Ada yang mau aku tanyakan,”jawab Krystal.

“Hmmm…boleh. Chanyeol-ssi, bisa aku titip Sulli sebentar?”tanya Luhan yang selalu berpositive thinking. Dia lalu keluar bersama Krystal dan mereka memilih taman di atap rumah sakit untuk berbicara.

“Oppa, kenapa kau tidak menelepon Sehun, suruh kesini?”tanya Krystal saat mereka duduk di bangku taman. Luhan mengerutkan dahinya saat mendengar nama Sehun.

“Sehun? Ah, iya sih…bisa juga ya menghubungi dia. Tapi untuk apa…hahaha,”tawa Luhan. Krystal menatap Luhan kaget, sesaat Krystal baru menyadari bahwa Luhan belum tau hubungan Sulli dan Sehun.

“Karena Sehun sahabat kami,”jawab Krystal tanpa basa basi. Luhan menatap Krystal agak lama.

“Ya, Sehun ini sahabat kami sejak SMA,”ucap Krystal lagi seolah menjawab tatapan Luhan yang menyiratkan pertanyaan ‘benarkah?’.

“Sehun tidak menceritakannya padaku. Terutama saat bertemu Sulli,”ucap Luhan, ekspresi wajahnya lebih serius lagi. Agak lama Krystal terdiam seolah berpikir sambil menggigit kukunya. Luhan memperhatikan Krystal dengan sabar karena penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Krystal.

“Oppa maaf, aku harus mengatakan kenyataan ini. Sehun dan Sulli dulu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Bahkan sampai sekarang,”ucap Krystal pilu, tidak sanggup melihat reaksi dari Luhan yang tidak bersalah sama sekali. Dia juga sebenarnya tidak tega menyakiti Luhan, namun Luhan berhak mengetahui kebenarannya. Cukup sudah menyembunyikan kebenaran mengakibatkan seseorang tersakiti lagi. Krystal tidak ingin mengulang lagi kisah pahit mereka.

Belum ada jawaban dari Luhan. Luhan juga tidak mengubah ekspresi wajahnya sama sekali. Krystal takjub dengan sikap Luhan yang baginya sangat pandai berakting.

“Sulli pernah bilang dia disakiti dan dikhianati. Apa itu Sehun adikku?”tanya Luhan. Krystal mengangguk.

“Kisahnya panjang oppa. Intinya Sulli dan Sehun berpisah bukan karena mereka saling berhenti mencintai satu sama lain. Maafkan aku oppa, aku tau perasaan oppa pada Sulli bagaimana. Tapi menurutku, Sulli berhak meraih kebahagiaannya yang tertunda. Bukan, bukan maksudku oppa tidak berhak memberinya kebahagiaan. Tapi menurutku kebahagiaan Sulli yang terbesar adalah bersama Sehun,”ucap Krystal sedih. Dia sangat sedih menyakiti hati Luhan seperti ini. Krystal mulai menyesal dengan keterbukaannya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak sanggup melihat kehancuran hati Luhan. Namun yang dirasakannya adalah telapak tangan Luhan yang besar behenti diatas kepalanya dan mengusapnya sedikit.

“Terima kasih Krystal-ah,”ucap Luhan lalu meninggalkan Krystal begitu saja. Krystal menatap kepergian Luhan dengan nanar. Dia berpikir, apakah saat ini Luhan marah? Merasa tersakiti? Ah ya, itu sudah pasti. Tapi reaksi apa itu? Apa sekarang Luhan ingin menanyakannya langsung pada Sulli atau Sehun?

***

“Luhan, ayo ambil tasmu. Kita akan berangkat sekarang,”ucap seorang wanita berusia sekitar 30an yang sangat fasih berbahasa China.

“Hyung, perginya jangan lama-lama ya, titip eomma ya. Aku akan jaga rumah,”kata anak kecil berwajah imut yang berusaha sekuat tenaga menjadi sok jago itu. Luhan tersenyum lirih melihat adik kecilnya yang harus dia tinggalkan, untuk selamanya.

“Luhan, kita bisa ketinggalan pesawat,”ucap ibu para jagoan itu. Luhan menatap sendu pada ibunya yang sama sekali tidak memberikan ucapan atau pelukan perpisahan pada Sehun, anak bungsu Nyonya Oh – yang sudah berubah kembali menjadi Nyonya Xi itu.

“Sehun-a, ayo kesini dengan appa,”Tuan Oh keluar dari kamarnya dan memanggil Sehun, adik kecil Luhan yang masih berusia 8 tahun itu.

“Sehun-a, jika ada yang mengganggumu kau ingat kan apa yang harus kau lakukan? Lalu jika kau sedih, kau harus lihat ke langit, dunia sangat luas dan kita sangat kecil. Kita harus kuat agar mimpi dan keinginan kita tercapai. Hyung sayang padamu,”Luhan memeluk Sehun sebelum akhirnya dengan berat hati meninggalkan Sehun yang tidak pernah tau, setidaknya untuk saat itu, bahwa Luhan dan ibunya pergi untuk selamanya dari rumah itu.

***

Sehun menatap langit luas berwarna biru yang mampu membuat hatinya merasa kecut menyaksikan betapa besar karunia Tuhan kepada manusia. Jika saja Sehun tidak sadar akan kedudukannya, mungkin Sehun sudah merutuki nasib yang dia jalani saat ini. Memandang langit biru di lapangan sepak bola tempat biasa dia berlatih dulu, tidak selamanya membuat hati Sehun menjadi lega. Jika dulu setiap bertengkar dengan Sulli, entah apa pun masalahnya, mulai dari kecemburuan Sehun pada Sulli yang ditaksir banyak pria atau pun kebalikannya, sampai dari masalah yang cukup rumit misalnya disaat Sulli mungkin dulu sempat memutuskannya karena kecintaan Sehun terhadap sepak bola mampu membuatnya melupakan janji kencan mereka, menatap langit di lapangan ini mampu menenangkan hati Sehun.

“Sehun-a, kau masih suka bola?”tanya Luhan, kakak kandung Sehun yang sangat dihormati dan disayanginya itu, mengambil posisi duduk disamping Sehun sambil memberikan adiknya itu sekaleng cola.

“Suka,”jawab Sehun singkat sambil membuka tutup kaleng minuman itu.

“Tapi aku tidak bermain lagi,”jawab Sehun setelah menegak sekali cola yang mampu melepaskannya dari kegerahan yang sejenak mengekang tubuhnya yang sejak tadi tidak menemukan ketenangan.

“Apa-apaan itu? Hahaha. Apa jika kau memiliki seorang gadis dan sudah putus begini juga pemikiranmu? Suka, namun tidak bersama lagi,”Luhan sedikit menyinggung masalah Sehun, yang sesungguhnya Sehun belum tau bahwa Luhan sudah mengetahui kebenarannya.

“Ah hyung, itu terlalu berlebihan. Yang berlalu biarlah berlalu, kalau aku begitu,”Sehun mencoba menampik perasaannya yang sesungguhnya.

“Benarkah?”tanya Luhan sedikit memicingkan matanya, Sehun menatap heran pada hyungnya itu namun dia tetap tidak sampai berpikir bahwa Luhan mengetahui sesuatu.

“Kau tau, aku berencana akan kembali ke Paris bersama Sulli. Aku tidak akan kembali ke China atau Korea dan menetap disana bersama Sulli. Saat dia berusia 24 tahun aku akan menikahinya, jadi jika kau merindukanku kau datang saja ke Paris,”ucap Luhan sambil memandang luas langit biru. Sehun tertegun mendengar ucapan hyungnya itu. Dadanya terasa sesak seketika dan membuatnya sulit bernafas, namun Sehun berusaha sekuat tenaga terlihat santai.

“Begitu…baiklah,”jawab Sehun. Luhan tersenyum kecil, pilu, namun tidak disadari Sehun.

“Sehun-a, apa kau pernah berpikir, setiap menatap langit hati kita akan lebih lega?”tanya Luhan.

“Ne hyung,”jawab Sehun sambil ikut memberikan perhatiannya kembali pada langit biru dengan awan putih berarakan. Hati Sehun makin menciut melihatnya tepat setelah apa yang sudah diucapkan oleh kakaknya itu.

“Tapi terkadang saat menatap langit pun, perasaan kita semakin sempit,”ucap Luhan.

“…,”

“Aku merasakannya saat ini,”ucap Luhan lirih.

“Hyung?”

“Sehun-a, bagaimana jika Sulli tidak menginginkanku?”tanya Luhan tanpa menatap Sehun.

“Ah itu tidak mungkin hyung, dia terlihat bahagia denganmu,”jawab Sehun. Walau dalam hati Sehun dengan jahatnya berharap Sulli tidak menginginkan hyungnya seperti Sulli menginginkan dirinya dulu. Sehun mengutuk dirinya sendiri setelah berpikiran seperti itu.

“Bagaimana kau bisa tau?”tanya Luhan seakan penasaran.

“Karena…karena aku hanya bisa merasakannya saja. Maksudku, saat pertama kali bertemu Sulli, dia terlihat begitu bahagia,”jawab Sehun asal.

‘Sehun-a, kenapa kau tetap menutup rapat hatimu?’lirih Luhan sambil terus memperhatikan apa yang adiknya itu katakan.

“Apa dia sebahagia saat dia bersamamu dulu?”tanya Luhan akhirnya. Sehun membatu mendengar pertanyaan Luhan. Luhan tersenyum, tidak lirih ataupun memiliki makna lain, hanya tersenyum.

“Apa maksud hyung…,”

“Sudahlah Sehun-a, kau menyakiti hati hyungmu ini jika kau tidak jujur,”lirih Luhan. Sehun bagaikan tertahan oleh seribu tombak sehingga tidak bisa bergerak kemana pun dan melakukan apa pun.

“Begitu. Maafkan aku hyung. Aku Cuma tidak ingin hyung mengetahui betapa bajingannya aku. Tapi tenang saja, Sulli hanya masa laluku. Aku sudah punya penggantinya kok,”bohong Sehun.

“Benarkah? Siapa itu? Maukah kau mengenalkannya pada hyung biar kita impas?”pancing Luhan. Sehun sempat terdiam karena merasa ‘skak mat’ dari Luhan.

“Baiklah, besok akan kubawa dia pada hyung,”ucap Sehun berusaha memutar otak, siapa yang akan dibawanya. Sedikit penyesalan dalam hati Sehun namun dia tidak bisa kembali lagi.

“Baiklah. Ngomong-ngomong kau tidak mau ikut aku ke rumah sakit? Disana ada sahabat-sahabatmu yang lain,”ucap Luhan.

“Eh? Rumah sakit hyung?”tanya Sehun merasakan firasat tidak baik.

“Ya, Sulli sudah 2 hari diopname karena ulcer lambung. Krystal dan Chanyeol selalu datang menemaninya. Bukankah ini awal yang baik memperbaiki hubungan kalian?”tanya Luhan.

“Ah ya, tentu saja hyung. Nanti aku akan menjenguknya,”ucap Sehun, tidak yakin bahwa dia mampu menjenguk Sulli dan bertemu yang lainnya atau tidak.

“Ah dan lagi Sehun-a, Krystal bilang, mereka tidak menyalahkan siapa pun soal dulu. Mereka mengkhawatirkanmu yang selalu menyalahkan dirimu. Jadi kau jangan tidak temui mereka, ya?”sambung Luhan lagi. Membuat Sehun sekarang tau apa yang harus dia lakukan.

***

“Oppa kau darimana saja?”tanya Sulli saat Luhan baru menampakkan dirinya dihadapan Sulli malam itu.

“Aku bertemu orang yang special,”jawab Luhan sambil tersenyum.

“Oppa terlalu banyak orang special bagi oppa,”cibir Sulli seraya menggembungkan kedua pipinya. Luhan tertawa dan mencubit gemas pipi Sulli yang sekarang berteriak kesakitan, padahal tidak begitu sakit namun Sulli memang suka mencari perhatian Luhan dengan cara seperti itu.

“Aish, love is blooming everywhere,”cibir Chanyeol yang sekarang jadi obat nyamuk. Luhan tertawa dan Sulli hanya mencubit kecil perut Chanyeol yang berdiri disampingnya.

“Sulli-ah!”tiba-tiba Krystal masuk diikuti seseorang dibelakangnya. Sosok yang mengikuti Krystal itu mampu membuat Sulli hampir berdiri dari tidurnya dan membuat Luhan sontak menahan tubuh Sulli yang kemudian meringis kesakitan.

“Sulli-ah kau masih sakit, jangan bangun dulu,”pinta Luhan.

“Kai!!!!”teriak Sulli kegirangan, tidak menghiraukan Luhan yang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sulli.

“Sulli-ah! Aigo, kau kok sakit lagi sih?”Kai mendekati Sulli dan menerima pelukan hangat dari Sulli yang sangat erat seakan belum puas menyalurkan rasa kangennya dengan Kai, orang paling pertama yang masuk ke dalam daftar sahabatnya sepanjang hidupnya.

“Kai langsung memesan tiket kesini saat mendengar kau sakit. Huft, anak ini bahkan saat aku yang membutuhkannya, sulit sekali menculik dia disela-sela latihan dancenya,”gerutu Krystal. Chanyeol dan Luhan tertawa mendengarnya sementara Kai sendiri tidak memperhatikan Krystal karena dia sibuk dengan dunia nostalgianya dengan Sulli. Hal ini membuat Krystal geregetan dan sedikit kesal, namun tersenyum kecil karena memaklumi kerinduan kedua orang yang sayang dia sayangi itu.

“Yak, cowok gelap! Kau gak mau menyapa sahabatmu yang lain apa?”Chanyeol menepuk pundak Kai dan membuat Kai tersadar. Kai menatap Chanyeol dengan antusias dan memeluk Chanyeol langsung.

“Aigo Chanyeol-ah, sudah lama euh? Kau tetap saja seperti monyet pintar,”ledek Kai.

“Whoa! Semenjak di Amerika kau makin humoris ya Kai?”Chanyeol balas meledek.

“Eung…Sehun mana?”tanya Kai sambil memperhatikan semua yang ada di ruangan itu.

“Kau bukan siapa-siapa! Kalau bukan karena kau namjachingu Sulli aku tidak pernah menganggapmu!”

Sejenak Sulli teringat ucapan Kai dulu pada Sehun saat Sehun menyakitinya. Sulli tertegun karena Kai tanpa sadar mencari Sehun diantara mereka, itu artinya selama ini pun Kai tanpa sadar sudah menerima Sehun sebagai bagian dari persahabatan mereka, bukan hanya sebagai kekasih Sulli.

“Babo,”Krystal menyikut Kai saat melihat Sulli terlihat sedikit melamun mendengar nama Sehun. Luhan yang menyadarinya pun hanya bisa tersenyum pahit, dia benar-benar menyadari bahwa Sehun masih ada dihati Sulli.

“Sehun saat ini sedang di kantor, dia sudah mulai melakukan transisi untuk masa kerjanya sambil menunggu tahun terakhir kuliahnya,”jawab Luhan. Sulli tersentak saat menyadari bahwa masih ada Luhan diantara mereka. Akan sangat aneh karena dulu Sulli seolah tidak mengenal Sehun namun sekarang sahabat-sahabatnya menyebut nama Sehun. Sulli berharap Luhan tidak berpikir bahwa Sehun yang dimaksud mereka itu sama, walau pada kenyataannya memang sama.

“Tapi akan kuhubungi Sehun dan mengatakan sahabat-sahabatnya ingin bertemu,”Luhan mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Sehun. Sulli masih tidak berkutik karena gugup.

“Oppa, Sehun…,”

“Oh Sehun kan? Adikku, ya kan?”tanya Luhan pada yang lainnya. Sulli sekarang merasa sangat lemas dan pasrah. Pasrah bahwa Luhan akan mengecapnya gadis pembohong atau apa pun itu.

“Oppa,”lirih Krystal yang melihat sikap Luhan yang agak aneh itu.

*Luhan pov*

Astaga, apa yang baru saja keluar dari mulutku ini? Bisa-bisanya aku merusak suasana. Aku bahkan tidak memikirkan dampaknya. Sulli bisa khawatir karena merasa sudah menutupi tentang Sehun dariku dan itu bisa membuatnya sakit.

“Oppa,”lirih Krystal. Krystal sekarang Nampak menyesal dan sedih, aku sendiri menjadi lemas karena kelakukanku. Aku sejenak menjadi emosi, entah karena apa. Aku harus menyadari kedudukanku. Kasih sayangku. Sehun adalah orang pertama yang sangat aku sayangi dan Sulli adalah gadis yang sangat aku cintai. Sekarang aku seolah-olah menempatkan mereka berdua sebagai criminal yang sudah menyakitiku, walau aku tau mereka tidak salah sama sekali. Aku harus cepat sadar bahwa aku kakak Sehun dan aku harus lebih dewasa dan mengalah. Namun rasanya berat.

“Maaf, aku keluar sebentar,”ucapku akhirnya mengambil langkah pelarian sejenak. Aku tidak sanggup lagi menampakkan ketidakberdayaanku. Aku tidak bisa berpijak pada sisi Sulli karena saat ini aku menistakan hal yang sama sekali tidak salah.

Sungguh, saat ini sangat bingung dengan apa yang harus kulakukan. Apa boleh aku egois dan menahan Sulli untukku? Atau aku harus mengalah demi kebahagiaan dua orang itu? Apa aku tidak boleh bahagia? Apa aku tidak boleh tidak mengalah hanya karena aku kakak dari orang yang dicintai Sulli?

 

*tbc*

 “Aku menyayangi kalian berdua dan jika aku disuruh memilih aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Tapi pada kenyataannya memang bukan aku yang harus memilih. Aku menghargai apa pun keputusanmu Sulli-ah, aku sayang padamu,” – Luhan.

2 Tanggapan to “Golden Days (Chapter 6)”

  1. berliyana 21 Oktober 2014 pada 10:30 PM #

    sumpah.. Nyesek bnget jdi luhan😥
    aduh thor..plise, buatin sulli ama luhan donk .. Biari ajha sulli nglupain sehun and sehun dpt pengganti bru .. Jebaall😥

  2. ulfahalimatus 23 Oktober 2014 pada 5:16 PM #

    Ya ampun nyesek apalagi kalau aku jadi hunlli atau luhan bener 2 sulli dan ngerasain sakit. Lanjut chingu ff kamu bener keren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: