Golden Days (Last Chapter)

22 Okt

Golden Days Last Chapter

by: cagalli14

golden days final

Kai menatap Sulli dengan pilu sambil terus membelai rambutnya yang halus. Chanyeol duduk di sofa dengan lelahnya sambil menutup matanya dengan lengan kanan yang panjang. Krystal sudah lama meninggalkan ruangan itu demi mengejar Luhan. Kai hanya bisa mendesah mengingat Sulli yang hampir terjatuh saat ingin mengejar Luhan.

“Kenapa sih dunia ini sempit?”rintih Chanyeol.

“Aku harus bagaimana Kai-ah, Chanyeol-ah?”lirih Sulli yang masih berbaring sambil menatap ke satu titik. Fisiknya lemah dan nyeri di perutnya seketika meradang lagi.

“Apa kau menyukai Luhan?”tanya Kai lembut.

Sulli tidak menjawabnya langsung. Memori Sulli sekarang penuh dengan kenangannya dengan Luhan. Saat pertama kali bertemu di kelas piano saat Sulli masih berusia 7 tahun, saat sehari sebelum Luhan pergi untuk selamanya dari hadapan Sulli dan dia sempat memberikan kecupan dalam didahi Sulli kecil yang tidak mengerti apa-apa, saat pertemuan kembali mereka di sekolah di Paris, dan semua kenangan mereka saat di Paris. Luhan secara tidak langsung sudah seperti sosok yang lebih dari sekedar ‘oppa’ baginya. Tidak jarang di Paris mereka sering dikatakan pacaran walaupun Luhan dan Sulli tidak begitu menanggapinya. Sulli sangat bersyukur betapa kehadiran Luhan mampu membuatnya bertahan melintasi waktu yang terasa berat jika hanya dia sendirian.

“Kepalaku, dipenuhi oleh Luhan oppa,”ucap Sulli pelan. Kedua sahabatnya itu tidak berkutik, serius mendengarkan Sulli.

“Tapi hatiku sangat merindukan Sehun,”sambungnya.

“Yang mana yang aku cintai sebenarnya, Kai-ah? Chanyeol-ah?”tanya Sulli.

Kedua sahabatnya itu menundukkan kepalanya, tidak mampu menjawab pertanyaan Sulli karena jika mereka secara gamblang mengatakan bahwa Sehunlah yang dia cintai, mereka sendiri tidak yakin karena Luhan mampu memenuhi pikiran Sulli. Belum tentu, orang yang hanya bermain dipikiran saja tidak mampu menguasai hati seseorang. Jika dia sudah begitu memikirkan orang tersebut, walau secara logika, seseorang tidak bisa menjamin bahwa dia tidak menganggapnya istimewa.

“Apa yang kau pikirkan tentang Luhan, Sulli-ah?”tanya Kai lembut.

“Aku takut menyakitinya…,”

“Aku juga takut kehilangannya,”jawab Sulli. Sulli terdiam sesaat, mencerna ucapannya. Mencerna dirinya yang tanpa dia sadari mengakui sebuah kejujuran yang selama ini tidak terbaca olehnya. Sulli pernah sekali kehilangan Luhan, walau saat itu sama sekali tidak ada perasaan khusus dan Sulli hanya menganggap Luhan sebagai oppa yang dekat dengannya. Namun jika sekarang, Sulli tidak yakin bisa kehilangan dia lagi.

“Bagaimana dengan Sehun? Kau ingin bersamanya lagi?”tanya Chanyeol. Sulli terdiam. Sehun? Selalu selama 3 tahun ini Sulli merindukan kebersamaan mereka. Sulli merindukan tawa, senyum, canda, marah, sedih, pelukan, sentuhan, bahkan hembusan hangat nafas Sehun yang membelai leher jenjangnya. Tidak pernah sekali pun terpikirkan oleh Sulli dalam hidupnya untuk mencintai pria lain selain Sehun. Walau lama dia menderita karena perpisahan mereka, Sulli tetap dengan murninya menyanjung cinta yang pernah mereka rajut bersama.

“Aku tidak tau…,”ucap Sulli dengan nada bergetar. Dia lalu menutup matanya dengan lengan kanannya yang putih susu. Kai dan Chanyeol hanya menelan kepiluan mereka melihat tubuh Sulli yang bergetar karena terisak.

***

“Oppa maafkan aku,”lirih Krystal.

“Kau tidak salah apa-apa Krystal-ah,”ucap Luhan mencoba tersenyum.

“Tidak, ini salahku. Aku terlalu ikut campur,”sesal Krystal.

“Kau sahabatnya sejak kecil, tidak masalah kau ikut campur,”ucap Luhan yang lebih tenang saat ini.

“Oppa…,”

“Saat ini aku berpikir, apa lebih baik aku melepaskan kesempatanku dan mempersatukan mereka lagi. Sehun, anak itu bilang dia sudah punya kekasih, tapi aku yakin dia berbohong. Aku tidak ingin keduanya menderita,”Luhan menatap langit biru yang ditutupi ranting-ranting dan daun orange pohon maple.

“Aku yang paling bersalah disini. Kelemahan hatiku yang membuat Sehun dan Sulli berpisah. Karena itu aku mendukung mereka, tanpa aku sadari bahwa oppa sama sekali tidak bersalah dan melibatkan oppa,”Krystal menundukkan kepalanya dengan begitu menyesal.

“Oppa jangan lepaskan kesempatan oppa, walau…walau aku mendukung Sehun dan Sulli, tapi oppa berhak mendapatkan kesempatan apa pun itu!”ucap Krystal bersungguh-sungguh. Luhan tersenyum lirih lalu menepuk lembut pundak Krystal.

“Aku sepertinya akan kembali ke Paris. Seperti yang kau katakan, kesempatan apa pun itu aku berhak mendapatkannya. Jika aku memang pantas untuk Sulli, kesempatan itu akan tetap ada walau apa pun yang terjadi,”Luhan tersenyum kecil lalu meninggalkan Krystal yang berdiri mematung mencerna ucapan Luhan.

***

Keesokan harinya, Luhan berencana menemui Sulli dulu sebelum diam-diam kembali ke Paris. Menghabiskan waktu sebentar seakan tidak terjadi apa-apa dan berharap permainannya itu akan berjalan mulus. Sulli yang tidak tau apa-apa hanya bisa tertawa dan tersenyum bercanda seperti biasa dengan Luhan.

Krek…

Luhan dan Sulli menoleh saat pintu kamar terbuka. Mata Sulli tidak berkedip saat melihat sosok yang datang. Sosok bertubuh tinggi dan tegap yang sangat dirindukan Sulli. Sekejap jantung Sulli seolah sulit berdetak saat melihat sosok perempuan yang digandeng olehnya.

“Hai, Sulli. Maaf baru menjenguk,”sapa Sehun dengan senyum terbaiknya. Sulli tidak menjawab dan matanya tidak putus memandang gadis berambut cokelat bertubuh mungil disamping Sehun.

“Ah, Sehun-a, kau datang juga euh. Krystal dan yang lainnya sebentar lagi akan datang kesini,”ucap Luhan.

“Aku tidak bisa lama-lama hyung. Aku harus mengantar Irene setelah ini. Ah iya, kenalkan, dia Irene,”ucap Sehun.

“Hai, saya Kim Irene (sumpah, author gak tau nama Irene ini bener atau nggak – bukan fans Red Velvet),”ucap Irene sopan. Luhan menatap dengan lekat gadis yang bernama Irene itu. Apa ini gadis yang menjadi korban kebohongan Sehun untuk Sulli? Luhan menoleh pada Sulli yang terlihat agak terpukul namun mencoba kuat.

“Hai, saya Sulli. Choi Sulli,”ucap Sulli lembut.

“Saya Xi Luhan, kakak Sehun,”ucap Luhan sambil tersenyum singkat pada Irene.

Agak lama suasana menjadi kaku dan sunyi senyap. Sulli masih tetap memandangi Irene dengan sebentar-sebentar tersenyum kaku dan Luhan menatap Sulli seolah mengkhawatirkan sesuatu. Sehun menyadari situasi aneh tersebut dan langsung memecah keheningan.

“Hyung, dia gadis yang aku ceritakan. Kami sudah berpacaran selama 6 bulan ini,”ucap Sehun tanpa melihat pada Sulli sama sekali. Sehun tidak sanggup menatap Sulli karena mungkin dalam seketika barikade hatinya akan hancur dan membuat Sehun melakukan entah apa itu namun dia pasti berbuat nekat.

“Dia manis,”belum sempat Luhan menanggapi, Sulli langsung menanggapi duluan. Sulli tersenyum dan menampakkan eyesmile yang sangat dikagumi kedua kakak beradik itu.

“Apa dia seumuran kita Sehun-a?”tanya Sulli lagi. Sehun mengangguk kecil dan langsung mengalihkan pandangannya lagi dari Sulli, berpura-pura memperhatikan Irene disampingnya.

“Kuharap kalian akan langgeng dan bahagia selamanya,”ucap Sulli. Luhan tau Sulli berusaha kuat untuk tegar dihadapan Sehun. Melihat itu Luhan langsung beranjak dari duduknya dan menatap kedua orang tersebut.

“Maaf Sehun-a, Irene-ssi, sepertinya kalian harus keluar dulu karena sebentar lagi dokter akan datang memeriksa Sulli,”ucap Luhan.

“Ah kalau begitu sekalian kami berpamitan pulang saja hyung, Irene sebentar lagi ada kelas, ya kan Chagiya?”tanya Sehun sambil tersenyum lembut pada Irene. Sulli hanya bisa menggenggam keras ujung selimutnya.

“Ah iya oppa,”ucap Irene.

“Kalau begitu kami pamit dulu. Sulli, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu banyak pikiran dan berbahagialah,”ucap Sehun sebelum meninggalkan ruangan itu.

Luhan masih menatap pintu sesaat setelah Sehun dan Irene keluar. Sehun berusaha keras, pikirnya. Apa Sehun benar-benar rela menyerahkan Sulli padanya?

“Oppa, bisa tolong bukakan apelnya?”pinta Sulli. Luhan menoleh pada Sulli dan gadis itu hanya terlihat datar sambil menonton siaran di tv. Luhan menghela nafasnya, sangat tidak tau dengan apa yang terjadi dan apa yang seharusnya dia lakukan.

“Sulli-ah, si bodoh itu berbohong,”ucap Luhan sambil membukakan kulit apel.

“Ne?”tanya Sulli kaget.

“Kurasa kau sebagai mantan kekasihnya bisa langsung mengetahuinya,”ucap Luhan lagi. Sulli terdiam, ternyata Luhan memang benar sudah mengetahui semuanya, batin Sulli.

“Kurasa tidak ada hubungan lagi denganku dia berbohong atau tidak,”ucap Sulli sambil mengalihkan perhatiannya lagi pada televisi. Luhan menahan lengan Sulli dan menggenggamnya agak kuat. Sulli terkejut dan menatap Luhan sambil sedikit meringis. Luhan Nampak agak ragu namun dia tidak tahan melihat Sulli yang menahan perasaannya.

“Sulli———————————–,”Luhan membisikkan sesuatu di telinga Sulli dan membuat gadis itu sanggup menjatuhkan apel yang dipegangnya begitu saja.

>>>ooo<<<

Langit begitu cerah dan berwarna biru kejinggaan menyejukakan dengan awan seputih kapas berarakan bagaikan menari. Ilalang tidak ketinggalan memeriahkan suasana alam yang tampaknya sedang sangat baik itu dengan menari-nari mengikuti alunan angin. Beberapa helai bunga dandelion melayang saat terkadang angin sedikit kuat meniupkan kesejukannya. Sesosok laki-laki bertubuh tegap dengan rambut berwarna hitam legamnya itu berjalan santai sambil mengirup lega udara yang tidak tercemar polusi kota. Dengan senyum tipis dibibirnya dan sebuah tas perempuan yang memuat segala macam keperluan dari sang pemilik tas dengan senang hati digandengnya.

“Apa belum boleh?”tanya seorang perempuan dengan rambut bergelombang panjang.

“Belum sayang,”jawab seorang pria yang menggendong gadis tersebut ala bridal style dengan tawa kecil memenuhi wajah yang bisa dikatakan cantik jika dia adalah seorang perempuan, namun sayang, dia adalah lelaki gagah.

“Heuh…aku dibawa kemana sih?”lirih gadis itu yang mungkin agak pusing karena menutup matanya dan digendong ala bridal style.

“Sehun-a?!”tanya gadis itu. Laki-laki bernama Sehun, yang berjalan duluan mendahului kedua orang itu berhenti sejenak dan menoleh pada sang putri. Tersenyum kecil dan mengusap ke belakang beberapa helai rambutnya yang tertiup angin dan sedikit menutupi wajahnya.

“Maaf, hyung bilang ini rahasia sampai kita sampai di tempatnya,”ucap Sehun. Luhan, hyung yang dimaksud Sehun, tertawa kecil melihat gadis itu menggembungkan pipinya karena kesal.

“Nah Sulli-ah, kita sudah sampai,”ucap Luhan sambil menurunkan tubuh sang gadis dan membiarkan gadis itu membuka matanya. Gadis itu, yang bernama Sulli, tertegun saat melihat hamparan rumput ilalang dan bunga dandelion yang luas. Langit senja yang mulai berwarna kejinggaan seakan berarakan meninggalkan tempatnya masing-masing, beranjak menuju malam. Lebih tertegun lagi gadis manis itu saat melihat sebuah pohon dengan kamp perkemahan kecil yang memiliki banyak hiasan lampu berdiri kokoh dihadapannya.

“Oppa…Sehun-a? Whoa…ini…,”Sulli menatap takjub pada pemandangan di depannya.

“Happy birthday Choi Sulli,”Sehun menarik Sulli kedalam dekapannya dan mencium kening gadis itu. Luhan tersenyum puas melihat hasil karya Sehun dan dirinya yang sejak tadi pagi dikerjakannya.

“Kau jangan memanipulasi Sulli untukmu sendiri,”Luhan menarik pinggang Sulli dan menatap Sulli seakan ingin menciumnya. Sehun Nampak sedikit kesal dan cemburu melihat hyungnya itu. Namun Luhan malah tertawa karena berhasil mengerjai adiknya itu.

“Happy birthday Sulli-ah, semoga diusiamu yang baru, kau bisa kuat hati jika harus bersuami dua,”goda Luhan. Sehun langsung menutup kedua telinga Sulli dan menatap Luhan dengan kesal.

“Hyung, jangan bercanda terus,”gerutu Sehun. Sulli hanya tertawa.

“Tidak mungkin kubiarkan Sulli menduakanku. Tidak ada sejarahnya,”ucap Sehun sambil menatap gadisnya itu.

“Apa aku pernah bilang aku menyerah Sehun-a? Aku membiarkan Sulli memilihmu tapi aku tetap tidak akan melepaskan kesempatan jika ada,”ucap Luhan sambil tertawa, terus menggodai adiknya itu. Ya, memang Oh Sehun yang sedang berdiri dihadapannya itu adalah kekasih Choi Sulli, putri yang mereka cintai. Dari dulu, sekarang dan mungkin sampai kapan pun.

“Hahahaha. Oppa sudahlah, lama-lama Sehun bisa gila memikirkannya. Anak ini kan sedikit tumpul otaknya kalau masalah seperti itu,”ledek Sulli. Sehun benar-benar habis dikerjai kedua orang usil yang sangat dia sayangi itu.

“Iya benar. Saking tumpulnya masa aku harus bertindak jauh agar adikku ini sadar bertapa penting Choi Sulli baginya,”ucap Luhan. Sulli tersenyum kecil mendengar ucapan Luhan. Orang yang sangat berharga baginya itu, juga orang yang pernah mengorbankan hal besar untuk kebahagiaannya. Orang yang membuatnya memohon hingga rela melepaskan apa yang dia miliki agar oppa yang sangat dia sayangi itu tidak tersakiti dan pergi dari sisinya.

*flash back*

“Sulli-ah, si bodoh itu berbohong,”

“Ne?”

“Kurasa kau sebagai mantan kekasihnya bisa langsung mengetahuinya,”ucap Luhan. Sulli terdiam, ternyata Luhan memang benar sudah mengetahui semuanya, batin Sulli.

“Kurasa tidak ada hubungan lagi denganku dia berbohong atau tidak,”ucap Sulli sambil mengalihkan perhatiannya lagi pada televisi. Luhan menahan lengan Sulli dan menggenggamnya agak kuat. Sulli terkejut dan menatap Luhan sambil sedikit meringis.

“Sulli———————————–,”Luhan membisikkan sesuatu di telinga Sulli dan membuat gadis itu sanggup menjatuhkan apel yang dipegangnya begitu saja. Sulli menatap nanar pada pria dihadapannya itu. Pria itu tersenyum lirih, begitu lirihnya namun tetap tersenyum manis.

“Sulli-ah, mau kita buktikan?”tanya Luhan. Luhan langsung menggendong Sulli keluar dan mengejar adiknya yang bodoh itu tanpa mempedulikan protes demi protes yang dilontarkan Sulli.

Beruntung Luhan masih dapat menyusul Sehun yang masih berada di parkiran mobil. Sehun sangat kaget melihat hyungnya itu menggendong Sulli.

“Hyung! Apa-apaan…,”

Tanpa berpikir panjang Luhan langsung menurunkan tubuh Sulli agar gadis itu berdiri sejajar dengannya dan menatap yakin pada Sulli dengan apa yang akan dia lakukan. Debaran jantung Sulli tidak berhenti menggaungi dadanya dengan tatapan Luhan dan tindakan yang tidak bisa Sulli prediksi.

“Sulli-ah, saranghae,”ucap Luhan langsung melumat bibir Sulli dihadapan Sehun dan Irene. Sehun tidak berkedip menatap kejadian itu. Tidak pernah terpikirkan dibenak Sehun bahwa dia akan menyaksikan langsung hyungnya itu mencium gadis yang sangat dia cintai. Bahkan rencana Sehun jika memang mereka menikah, Sehun tidak akan melihat langsung janji suci yang akan diucapkan mereka berdua. Hati Sehun terasa begitu perih dan seakan diperas habis-habisan melihat pemandangan dihadapannya itu.

“Hyung!!!”

Inilah yang ditunggu Luhan. Luhan tersenyum tipis sesaat setelah Sehun menghantamkan tinjunya ke pipi sang kakak. Sehun menatap Luhan tak percaya dengan nafas tersengal-sengal dan mata yang berwarna merah, ya, berair. Sehun mungkin tidak sadar bahwa dia sangat emosi, cemburu, sedih dan hancur. Luhan pun tidak bisa berbohong sudah merasakan sakit yang sama, sakit karena harus menyakiti dirinya sendiri dan adik yang dia sayangi.

“Sehun-a, kau masih sangat mencintai Sulli,”ucap Luhan setelah berhasil menahan pukulan Sehun. Sehun mencoba mengatur nafasnya, rambutnya sudah berantakan begitu juga bajunya, sama halnya dengan Luhan. Dia tidak sadar sama sekali bahwa dia sudah kelewat batas.

“Oppa…,”lirih Sulli.

Sehun menatap Luhan kaget saat setelah nafasnya mulai kembali normal dan dia tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya. Sehun mendorong Luhan dan mundur tak mempercayai apa yang sudah terjadi. Luhan mengusap darah yang ada disudut bibirnya dan sekali lagi tersenyum ada Sehun.

“Maaf Irene, aku tau bocah bodoh ini mengajakmu untuk bersandiwara. Tapi aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak sanggup lagi melihat wajah sedih Sulli. Nah Sulli-ah, sekarang kau ingin aku tetap berada disisimu juga kah?”tanya Luhan pada Sulli yang sudah berlinangan airmata.

“Oppa…,”Sulli tidak bisa menjawab pertanyaan Luhan. Tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak ingin memilih satu diantara dua. Tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak ingin menyakiti Luhan. Tidak bisa mengatakan bahwa dia ingin Luhan tetap menemaninya seperti sedia kala dan tidak ingin kehilangan sosoknya. Tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa melupakan cintanya pada Sehun.

“Sehun-a, bawa Sulli kembali ke kamarnya. Aku mau mencari angin segar dulu,”ucap Luhan berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan mereka.

*end of flashback*

“Sulli… aku menyayangi kalian berdua dan jika aku disuruh memilih aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Tapi pada kenyataannya memang bukan aku yang harus memilih. Aku menghargai apa pun keputusanmu Sulli-ah, aku sayang padamu. Dan aku juga yakin bocah konyol itu pun masih sangat mencintaimu,”

Itulah yang dibisikkan oleh Luhan saat itu. Dia membisikannya dengan suara pelan namun dengan pengorbanan yang besar. Luhan tau, sekali dia sudah mengatakan hal itu, dia akan kehilangan untuk selama-lamanya. Namun dia sudah tidak ingin bermain egois lagi dan harus melihat pada kenyataannya. Kenyataan bahwa kedua orang yang masih sangat tolol terhadap pecintaan itu masih saling menginginkan dan harus ditolong secepatnya. Lalu muncullah ide gila Luhan yang berujung pada dirinya sebagai seorang pahlawan disaat dia sendiri adalah antagonis dari sang protagonist laki-laki, ya, dalam hal saingan. Setelah itu dengan anehnya Luhan tidak menyesali perbuatannya. Setidaknya, Luhan pernah merasakan bibir manis sang gadis walau hanya sekali.

“Apa hyung tidak menyesal melepaskan kesempatan itu?”

“Jika aku mengambilnya, pada akhirnya jika kalian tetap ditakdirkan bersama maka kalian akan tetap berujung bersama. Rasa sakit itu akan lebih besar jika aku tidak merelakannya dengan sebuah pengorbanan,”

Tepat setelah kejadian itu keesokan harinya Luhan kembali ke Paris untuk menghilang dari keduanya. Seolah sempat tidak ingin mengingat rasa sakit yang masih tersisa, Luhan memutuskan untuk pindah institute dan tidak bertemu Sulli sampai 2 tahun belakangan ini. Meskipun pernah, sekali setelah Luhan pergi, Sulli memohon agar laki-laki itu tetap disisinya seperti dulu, namun Luhan tau, keinginan Sulli kepadanya tidak sama dengan keinginan yang dia pendam terhadap Sehun. Sekarang setelah pikiran dan perasaannya mulai tenang, Luhan kembali ke Korea untuk mendampingi Sulli lagi. Kali ini bukan sebagai laki-laki yang mengharapkan cintanya, namun sebagai seorang kakak yang mendampingi sang adik kesayangannya ke pelaminan.

*FIN*

Note from author : “Hallo, selesai sudah Golden Days ini. Maaf kalau endingnya terburu-buru dan gak bagus, soalnya mendadak mood-ku hancur gara-gara satu OTP dengan Sulli sudah tinggal kenangan aja. Sempat sehari jadi lemes dan gak mau mikirin Sulli tapi berkat keseksian Sehun aku jadi semangat lagi. Hehehe. Jadi maaf ya kalau ff kali ini gak bagus, terutama buat berliyana yang berharap Sulli sama Luhan. Maaf banget aku gak bisa memenuhi keinginanmu >< soalnya emang ff ini sad, tapi bukan berarti gak happy ending, dan terlebih ff ini emang ff Hunlli …heu heu…maafkan. Sebagai gantinya aku janji bakal ngepost ff Hanlli nanti, tapi gak segera ya karena aku masih punya banyak ff yang mau aku post dulu. Hehehe. Oke, sebagai ucapan terimakasih buat para readers yang udah menghargai karyaku, besok aku bakal ngepost extra story tentang persahabatan kelima makhluk menawan ini. Hihihi…bye bye, sampai jumpa di ff berikutnya ^^ ” – cagalli14

4 Tanggapan to “Golden Days (Last Chapter)”

  1. swag jinri 22 Oktober 2014 pada 5:28 PM #

    Yeahhhh hunlli… :’v terharu beneran sma luhan… Bgus oppa. Oppa sma aku aja… /?
    Haha… Wah ada sequelnya… :0

    • cagalli14 23 Oktober 2014 pada 1:17 PM #

      bukan sequel, cuma extra story aja hehehe. btw makasih ya udh baca ^^

  2. berliyana 22 Oktober 2014 pada 10:16 PM #

    gak pa” kok eon ..
    Tpi janji yah buat ff hanlli.. Hehehe😀
    eh, tpi gmana krystal, kai n chanyeol eon ?
    Dag dig dug pas bca ampir” terakhir nya eon ..
    Huahaha luhan suka bnget ngegodain sehun ..😀
    klw kata boboiboy nih eon, ff eoni ini TERBAIK !!!!😀

    • cagalli14 23 Oktober 2014 pada 1:18 PM #

      hehehe sipp, janji say, hanlli jg favorit aku kok ^^
      nah sengaja aku bikin extra story karena di last chapter ini aku gak sempet masukin kai, chanyeol dan krystal.
      hihihi makasih ya udh baca ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: