Should I Leave Him, Shouldn’t I? (Last Part)

27 Okt

We used to be an enemy

I chose to be your best friend

I’m falling in love with you at the wrong time

And I don’t know where the fate will lead us

shouldnt i 2

  • SHOULD I LEAVE HIM SHOULDN’T I? –

Cast     :

  • Choi Sulli
  • Oh Sehun

“Sehun adalah cowok ketiga yang paling kusayangi di dunia ini setelah appa dan Sanyi. Aku sering bertanya, apakah aku sebenarnya menyayangi dia sebagai seorang laki-laki? Aku juga tidak tau jawabannya, yang jelas dari dulu sampai sekarang tekadku sudah bulat, aku tidak mau berjodoh dengannya jika sikapnya masih belum dewasa dan tidak ada keinginan untuk maju,”

Itu yang selalu aku ceritakan pada sahabatku, Krystal. Krystal sudah sangat hapal, apa saja ceritaku tentang Sehun, apa yang aku pikirkan tentang Sehun dan bagaimana rindunya aku dengan Sehun. Krystal terkadang memberiku saran untuk memastikan dengan benar apa yang kuinginkan. Namun aku tetap yakin, aku memang menyayangi Sehun, bahkan melebihi pacarku sendiri, aku menyayangi Sehun namun aku tidak berharap menjadi pacar atau istrinya, keinginanku adalah kami tetap akrab seperti dulu dan tidak ada yang bisa menghancurkan ikatan diantara kami.

Sulli-ah, aku akan menjemputmu, but give me a kiss.

Aku menghela nafas membaca pesan diponselku. Sehun lagi-lagi bertingkah. Dia sudah gila huh? Bukannya dia bilang dia sangat serius dengan Hayoung? Ingin menikahi Hayoung karena Hayoung adalah calon dokter, sosok yang diidamkan Sehun untuk menjadi pendampingnya kelak. Lantas kenapa sekarang dia malah memintaku menciumnya lagi? Bukannya dia menganggap ciuman kami terdahulu bukan ciuman? Lalu kenapa dia lancang kali ini?! Aish, jeongmal Oh Sehun! Kau jangan main-main dengan seorang Choi Sulli.

To : Kira (Sehun)

Baiklah, jemput aku di mall. Aku sedang di mall bersama keluargaku.

Aku menantang Sehun yang biasanya pemalu itu untuk menemuiku ditengah keramaian dan ditengah keluargaku. Apakah dia berani huh? Palingan juga minta ketemu besok anak satu ini. Awas tapi kalau dia berani membohongiku!

From: Kira (Sehun)

Aku sudah di mall. Kau dimana?

Aku tertegun menatap ponselku. Langsung saja aku membalas bahwa aku ada di dr.fish sedang relaxsasi dengan keluargaku. Tidak lama kemudian Sehun yang sangat kurindukan itu datang, dengan senyum dikulum menandakan bahwa dia nervous bertemu seluruh keluargaku, dia menghampiri kami dan menyalami kedua orangtuaku.

“Sehun-ah, kau ternyata berani juga menemuiku disini?”tanyaku kaget. Sehun hanya tersenyum lalu menyuruhku cepat dan pergi dari tempat itu.

“Pergilah duluan Sulli-ah, kami duluan pulang ke hotelnya,”ucap ummaku. Aku mengangguk dan beranjak dari kolam dr.fish, aku dan Sehun lalu berpamitan untuk pergi berdua.

Di perjalanan setelah dari rumah teman kami saat SMA dulu (karena aku sengaja menghindari topik ciuman itu, aku mengajak temanku tersebut bergabung dengan kami) menuju hotel, aku memandangi Sehun. Aku tidak begitu menghindari topic itu karena aku sangat penasaran. Ada unsur apa Sehun ingin menciumku? Apa dia sudah gila?

“Kau menyayangi, siapa itu? Pacarmu? Hayoung?”tanyaku pada Sehun yang sedang menyetir mobil jeep milik pamannya. Sehun mengangguk, tidak mengatakan apa-apa karena dia sengaja menghindari topic tentang pacarnya. Aku sangat mengenal Sehun, dia tidak suka membahas tentang pacarnya atau pun orang yang kusukai disaat kami bersama.

“Yah, kau gila? Minta cium sama pacarmu sana! Jangan sama aku! Kau kan punya pacar!”gerutuku mengingat pesan darinya yang menurutku agak memaksa, karena dia sampai dua kali menyebutkannya.

“Shireo. Aku maunya sama kamu,”ucap Sehun santai.

“Kau benar-benar sudah gila! You’re crazy Oh Sehun! Otakmu kau pakai tidak sih? Masa sudah bertahun-tahun otakmu masih sekecil pasir dan terletak di dengkul?!”cibirku. Sehun terkekeh mendengarnya. Yah, babo namja! Aku serius!

“Kenapa harus denganku?! Kau sudah punya pacar dan kau bisa melampiaskan nafsumu itu dengan pacarmu!”seruku lagi.

“Sudah. Tapi aku maunya denganmu,”jawab Sehun simple. Aku berusaha menjitak kepala Sehun namun dia menghindar. Aku lalu berusaha menggigit lengannya namun dia berusaha menghindar lagi. Akhirnya aku mencakar lagi lengannya seperti dulu aku sering menyiksanya dan dia meringis kesakitan.

“Rasain! Sudah lama gak kucakar kayaknya otakmu eror Oh Sehun. Apa perlu kusuruh Jessica mencakar lehermu lagi sampai berdarah seperti dulu?”erangku.

“Andwae! Jessica itu menyeramkan! Kukunya kuku setan!”jawabnya seperti diteror. Aku terkekeh geli. Teringat dulu saat setelah Jessica dengan kejamnya mencakar leher Sehun yang usil sampai berdarah, Sehun mulai mengklasifikasikan jenis kuku teman perempuan dekatnya. ‘Kuku Jessica itu menyeramkan seperti kuku setan, tajam dan runcing, kalau kuku Tiffany bentuknya kotak-kotak, sakit juga kalau mencakar, kukumu ujungnya bulat-bulat tapi tidak kalah menyakitkan dari kuku Jessica,’ ucapnya saat itu.

Aku menatap ke depan. Sudah sampai hotel ternyata. Besok aku sudah harus meninggalkan kota ini lagi dan itu artinya ini pertemuan terakhirku kali ini dengan Sehun. Entah kapan lagi bisa bertemu dengannya. Jujur, aku tidak menolak dia menciumku jika alasannya jelas. Jujur, aku juga ingin bersama dengannya lebih lama lagi dan ingin merasakan kehangatannya. Jujur, aku saat itu merasa seperti gadis murahan.

“Katakan sekali lagi alasanmu ingin menciumku. Kau ingin menyakitiku Oh Sehun?”tanyaku serius. Sehun menggeleng.

“Lalu kenapa?”tanyaku mendesaknya.

“Molla,”jawab Sehun simple.

“Begitu. Kalau begitu mulai sekarang jangan pernah berpikir ingin menciumku atau gadis lain selain Hayoung. Kau tau, dia bisa merasakan sakit jika tau hal ini,”ucapku lagi.

“Aku Cuma ingin karena itu kamu Sulli-ah,”ucap Sehun akhirnya. Aku tertegun dengan jawaban itu. Lama aku memandang Sehun.

“Kau mau menciumku atau tidak?”tanya Sehun serius. Aku ingin. Tapi kewarasanku menahanku, aku tidak ingin menyakiti hati pacarnya.

“Yah, ppali. Satpam mulai melihat kesini,”ucap Sehun lagi. Aku akhirnya menatap Sehun dengan lekat. Aku memberikan tatapan yang lembut dan penuh perasaan. Perasaan kuat tentang bagaimana aku tidak ingin berkali-kali berpisah dari Oh Sehun. Apakah Sehun mulai serius mencintai gadis lain karena aku tidak berada disisinya terus setiap hari seperti dulu?

Aku menyerah. Aku akhirnya hanya menggenggam tangan Sehun. Setengah hatiku masih ingin menciumnya namun satpam mulai mendekat, seakan tau apa yang ingin kami lakukan di dalam mobil ini. Sehun akhirnya menjauhkan dirinya dariku. Aku pun meremas tangannya dan melepasnya.

“Sehun-ah, aku selalu ingin kita kembali seperti dulu lagi”ucapku. Sehun hanya diam membisu.

“Bye,”aku lalu menatap Sehun dengan berat dan meninggalkannya.

Oh Sehun. Berapa kali lagi kita dipertemukan? Berapa kali lagi kita akan berpisah? Sampai berapa kali aku bisa memilikimu selamanya untuk terus berada disisiku? Walau hanya sebatas kakak-adik saja. Berkali-kali kenangan saat SMA dulu berputar dikepalaku. Berkali-kali pula permohonanku yang tulus kepada Tuhan agar waktu dapat kembali lagi

Hal itu berulang-ulang terjadi memang. Kami bertemu lalu dipisahkan, tidak terjadi apa-apa walau ingin lebih. Sehun sudah 3 tahun bersama Hayoung dan aku pun dengan kehidupanku sendiri di kampus, terkadang bisa melepaskan pikiranku dari Luhan yang masih membayangi dan Sehun yang selalu berada di ruang hati yang kurindukan. Oh iya, mengenai Luhan oppa, sejak kepergiannya aku sempat beberapa bulan tidak merasakan kebahagiaan sama sekali. Sama sekali tidak. Aku sempat berpikir ingin mati dan membiarkan tubuh ini tidak mendapatkan nutrisi sama sekali selama beberapa hari. Jika tidak disuapi makan, aku tidak akan menyentuh makanan apa pun bahkan yang aku sukai. Aku menjadi pribadi yang berubah 180 derajat. Aku sering marah-marah, uring-uringan dan tidak pernah menganggap lelucon selucu apa pun lucu bagiku. Aku jarang tersenyum, jarang tertawa sehingga banyak sahabatku mencemaskanku. Itu berlangsung selama berbulan-bulan. Yah, tidak penting sih disini membahas Luhan oppa, intinya aku masih percaya, cintaku adalah Luhan oppa dan aku tidak akan bisa mencintai siapa pun lagi. Sampai akhirnya hari itu tiba….

“Sulli-ah, kau mau menonton film apa lagi?”tanya Chansung, salah satu temanku saat dulu kursus berlajar. Aku menunjuk salah satu dvd dan Chansung memasukkan dvd itu ke dalam pcnya. Aku memutarkan kedua bola mataku, sudah sangat pasrah saat melihat jam bahwa aku akan menginap disini.

“Sulli-ah, kau tidur saja disini nanti pagi aku antar,”ucap Chansung. Tanpa banyak protes aku lalu merebahkan tubuhku di atas kasurnya sementara Chansung tiduran di bawah sambil menonton film yang diputar.

“Sulli-ah, kau sudah tertidur?”tanya Chansung.

“Eung?”aku membalasnya dengan pelan.

“Aku tidak bisa tidur Sulli-ah. Bagaimana bisa kau tertidur saat ini?”tanya Chansung lalu menatap padaku. Aku menatap Chansung dengan lekat.

“Ssul, kau bisa memegang rambutku? Aku biasanya tertidur dengan cepat jika seseorang memegang rambutku,”ucap Chansung.

“Aku yang biasanya tertidur jika ada yang membelai kepalaku,”balasku. Omo! Apa yang kukatakan ini?! Aku kok seakan berharap Chansung membelai kepalaku? Tidak tidak tidak! Choi Sulli kau tidak boleh gila dan hilang kendali!

“Baiklah kalau begitu,”Chansung tiba-tiba membelai kepalaku. Aigo, rasanya nyaman memang. Hal ini juga sering dilakukan oleh sahabat-sahabat cowokku yang lain tidak terkecuali Sehun (yang sebenarnya membelai kepalaku dengan sangat kasar -_-). Aku saat itu terbuai dengan belaian Chansung dan hanya menurut saat dia memintaku geser dan dia tidur disampingku. Aku bahkan hanya diam saja dan mencoba tertidur saat dia mulai memelukku dari belakang. Aku sempat merasa risih, namun apa dayaku? Aku yang bodoh disini, aku yang dengan seenaknya membiarkan pertahananku melonggar. Dan sekarang Chansung mencoba mencium leher dan pipiku. Aku sedikit menghindar namun tetap pada posisiku. Jujur, aku jadi takut! Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Badan Chansung besar dan dia jauh lebih kuat dariku. Ini sudah malam dan jika aku berteriak yang ada aku tetap kena getahnya dari orang-orang sekitar yang melihatku bermalam di kamar kostan anak cowok. Aku Cuma bisa memejamkan mataku dengan takut. Chansung mencium leherku, mengingatkanku akan Sehun yang pernah melakukan ini padaku. Dia mencium pipiku, seingatku, hanya beberapa mantan pacar dan Sehun yang berhasil mencium pipiku. Lalu dia mencoba mencium bibirku!

“Chansung-ah…,”aku sedikit mengelak. Chansung lalu beralih mencium punggung tanganku.

Dheg!!!!

Disaat itu aku langsung bangkit dan izin ingin ke toilet. Perasaanku berkecamuk. Sesaat aku sangat teringat Sehun. Dan karena Chansung sudah beraninya mencium pipi dan leherku, aku bertekad dia tidak boleh merebut daerah lain yang pernah disentuh Sehun! Dan saat dia mencium punggung tanganku, yang Luhan oppa sendiri saja belum pernah melakukannya, aku meneteskan airmataku. Aku rindu Sehun. Aku tidak rela ada pria lain lagi yang menyentuhku selain Sehun. Lama aku berdiam di kamar mandi, ingin pulang saat itu juga karena aku ingin menangis membayangkan Sehun. Apa ini artinya? Apakah aku…

“Sulli-ah?”tanya Chansung saat aku keluar.

“Chansung-ah, aku mengantuk,”ucapku merebahkan tubuhku. Chansung tidak berani lagi menyentuhku, hanya membelai kepalaku dengan lembut hingga pagi menjelang.

Pagi itu setelah Chansung mengantarku ke apartemenku, aku berlari ke kamar mandi dan melepas semua pakaianku. Aku menghidupkan showerku dan langsung membasahi seluruh tubuhku. Di bawah shower aku menangis menjadi-jadi sambil terus menggosok-gosok leher dan tanganku. Sampai seperti ininya? Sampai seperti ini aku tidak rela ada pria lain menyentuhku?! Oh Sehun, ada apa denganku?!

Setelah mandi aku langsung menelepon Sehun namun dia tidak mengangkatnya. Berkali-kali kucoba namun hasilnya nihil. Dengan terus berlinangan airmata aku mengirim pesan padanya via bbm, mengatakan bahwa aku sangat membutuhkannya. Beruntung pagi itu dia membalas pesanku langsung dan mengatakan sedang malas mengangkat telepon karena masih mengantuk. Aku lalu tidak punya pilihan lain selain bercerita melalui bbm. Kuceritakan semua yang terjadi semalam, soal Chansung dan betapa aku tidak rela ada pria lain yang menyentuhku selain Sehun. Aku melampiaskan semua perasaanku pada Sehun dan mengatakan bahwa dia adalah pria yang paling aku sayangi setelah appa dan adikku bahkan aku menyayanginya lebih dari pacarku sendiri. Sehun sangat terkejut dengan pernyataanku dan secara tidak sengaja memintaku untuk melupakan perasaanku itu.

Hatiku sangat hancur Oh Sehun. Aku serasa ditolak olehmu, bahkan sebelum aku dengan jelas menyadari perasaanku sendiri.

Tidak. Aku sudah menyadarinya. Tepat setelah Chansung menciumku. Tepat setelah aku menangis membayangkan wajah Sehun. Ternyata selama ini pun aku mencintai Sehun. Selama ini tanpa aku sadari. Apakah sejak SMA? Aku tidak tau. Mungkin perasaan posesifku terhadapnya adalah perasaan cinta yang tidak pernah kusadari. Bahkan saat aku tanpa sadar lebih memihak pada Sehun saat dia dan Luhan bertengkar dulu. Aku ternyata tanpa kepalaku sadari, hati ini sudah memilih.

3aac745d9d2b790365c97b3659ea16ab

Berkali-kali aku jatuh dipermainkan perasaanku dengan Sehun. Berkali-kali aku menurunkan harga diriku kali ini mengejar sosok seorang Oh Sehun. Dulu saja aku tidak menyadari betapa Sehun yang berusaha keras mendekatiku. Mungkin dulu dia berusaha meruntuhkan tembok keangkuhanku? Mungkin dulu dia sangat tersinggung saat dengan lantang aku mengatakan tidak ingin berjodoh dengan orang yang bodoh seperti dia? Aku dulu sangat kejam. Dan aku membiarkan diriku berbahagia tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Jika saja aku sudah menyadari perasaanku ini padanya sejak dulu, mungkin aku bisa membuatnya menjadi milikku dan tidak akan kulepaskan lagi.

“Mungkin saja kau memang gadis yang istimewa bagi Sehun,”ucap Krystal.

“Tapi mungkin ada sesuatu yang menahan Sehun untuk tidak bersamamu. Entah itu karena ketidakmauanmu yang keras, karena dia masih ingin bersenang-senang atau hal lain. Apalagi kau dan dia tidak seperti dulu yang tiap hari bersama. Kalian jauh dan sudah memiliki kehidupan masing-masing. Atau mungkin juga ini karma Sulli-ah,”ucap Krystal.

“Kalau karma maka pada akhirnya aku tetap berjodoh dengan dia,”ucapku pelan.

“Tidak. Bukan karma yang itu. Tapi karma karena akhirnya yang tidak kau inginkan terjadi juga. Dulu kau bertingkah seolah kau tidak menginginkan dia kan? Sekarang karmanya adalah kau menginginkan dia lebih dari yang kau tau dan dia tidak akan menjadi milikmu,”ucap Krystal lirih. Aku menelan dengan kuat kepahitanku. Berjuang keras untuk tidak menangis mendengar ucapan Krystal. Dia benar, ini karma untukku.

Sejak percakapan itu aku memiliki dua pemikiran berbeda. Menyerah dan menganggap Sehun hanya salah satu sahabat laki-lakiku atau gantian berjuang mendekatinya lebih dulu. Jika dulu Sehun yang gencar menelepon atau mengirim pesan padaku duluan, sekarang aku yang melakukannya. Jika dulu Sehun yang duluan mengutarakan keinginannya, sekarang aku yang melakukannya. Namun hasilnya nihil. Sehun benar-benar sudah berubah. Dia tidak bergeming. Dia hanya membalasku beberapa kali dan mengatakan dia sibuk kuliah dan bermain game online. Apa ini dampak dari waktu dan jarak yang sudah menjauhkan kami? Memang sudah 5 tahun sejak saat kami bersama-sama dibangku SMA. Atau ini pengaruh dari pacarnya itu, si Hayoung? Ya, aku tau, Hayoung jauh lebih cantik dan sangat imut. Dia adalah calon dokter gigi sementara aku? Aku tidak setinggi kekasihnya itu dalam menggapai ilmu. Aku kalah telak dari Hayoung, hei Sulli-ah, menyerahlah, arrachi?

Tidak. Aku tidak bisa menyerah. Berkali-kali aku bergelut dengan pemikiranku. Bahkan lebih parahnya lagi sejak saat aku menyadari perasaanku dengan Sehun, aku tidak pernah lagi menanggapi pria-pria yang mendekatiku. Padahal sahabat-sahabatku menyarankan aku melupakan Sehun dengan mencari pacar lagi. Mereka tidak tau bahwa aku hanya sedang menjalani karmaku dengan sangat mulus.

Suatu hari di tengah musim hujan saat aku sedang magang di kantorku, aku iseng mengirim bbm pada Sehun. Ya, sejak saat itu memang aku sering terkadang mengiriminya bbm hanya untuk bertukar kabar, kata Krystal mulailah pelan-pelan agar dia tidak melupakan keberadaanku. Aku sangat kaget saat Sehun membalasku dengan mengatakan bahwa dia saat ini ada di Seoul.

“Krystal-ah, sepertinya hari ini aku tidak menginap di apartemenmu. Sehun ada disini, aku ingin bertemu dengannya,”ucapku pada Krystal.

“Eh? Kau mau aku temani menemui Sehun? Dimana dia?”tanya Krystal.

“Tidak usah. Sehun bilang dia yang akan menghampiriku,”jawabku.

Sore itu aku sudah merapihkan apartemenku dan mandi lalu berdandan dengan baik. Tidak memakai make up memang, hanya pakaianku saja yang sedikit kubuat lebih baik. Sehun akan datang ke apartemenku dan aku sangat tidak sabar menunggunya.

Lalu tibalah saatnya, Sehun mengatakan bahwa dia sudah sampai di depan jalan apartemenku. Aku keluar dari apartemenku dan menuju tempat Sehun. Dari kejauhan aku dapat melihat sosok tinggi menjulangnya namja itu. Ah, dia memang sangat tinggi ya…tapi dia begitu kurus sekarang.

Sehun menghampiriku dengan senyum yang tidak dapat aku artikan. Mungkin dia senang bertemu denganku?

“Yah, kau tinggi sekali sekarang! Kurus pula. Mana berkumis kayak oom-oom,”ucapku pertama kalinya aku menghampiri Sehun.

“Kau itu yang makin kurus, udahlah kurus pendek pula. Kau yang kayak tante-tante,”balasnya. Aku memukul kecil Sehun dan mengajaknya masuk ke apartemenku setelah aku menawarinya untuk ngongkrong di luar tapi dia menolak.

“Apa yang kau lihat heuh?”tanyaku saat Sehun sibuk mengitari pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

“Tidak. Aku melihat foto-fotomu sekarang,”ucapnya. Dia lalu mengikutiku duduk di sofa. Kami lalu berbincang-bincang hal yang ringan untuk mencairkan suasana canggung setelah 2 tahun tidak bertemu. Ya, 2 tahun. Dan dalam 2 tahun itu aku menyadari bahwa aku mencintai Sehun.

“Yah! Kau merokok sekarang huh?”tunjuk Sehun pada sebungkus rokok menthol yang ada di atas buffet di kamarku.

“Heung, hanya sesekali jika stress,”jawabku. Ya, aku bukan perokok, tapi terkadang disaat keadaan membuatku down dan aku sangat kecewa, aku mencoba menjadi gadis nakal dengan cara merokok. Aku tau Sehun akan sangat kaget karena dulu saat dia datang kerumahku aku selalu menyembunyikan rokoknya dan berkata untuk tidak merokok selama bersamaku.

“Coba kau merokok di depanku,”tantangnya.

“Mwoya, aku sedang senang dan aku tidak suka rokok,”jawabku. Sehun mendengus, dia tau aku tidak pernah salah dengan ucapanku. Akhirnya dia memilih duduk lagi dan kami mulai menonton. Terkadang aku mengenang masa lalu dan dia menanggapinya dengan ringan. Aku kangen Chanyeol oppa juga dan dia bilang sudah lama tidak bertemu Chanyeol sejak namja itu seperti ditawan cinta oleh pacarnya yang tidak kusukai. Ah lupakan Chanyeol, memang Sehun lebih penting bagiku.

Entah apa saja yang kami bicarakan sore itu. Yang aku ingat posisi kami mulai merasa nyaman satu sama lain. Aku merebahkan tubuhku dengan santainya sambil menonton anime (salah satu hobi kami yang sama) dan dia awalnya duduk disampingku. Namun lama-kelamaan Sehun mulai memasang posisi yang lebih nyaman lagi, terkadang menyandarkan kepalaku ke lengannya yang panjang. Aku tidak merasa aneh, tidak juga merasa risih atau pun gugup, aku hanya menikmatinya saja. Sudah biasa bagiku seperti ini dengannya. Sehun tiba-tiba menarik seluruh rambutku seolah ingin menguncirnya, aku menoleh.

“Mwoya?”tanyaku bingung. Dia tidak menjawab lalu melepaskan rambutnya. Lama kemudian dia melakukannya lagi.

“Yah, ige mwoya?”protesku saat dia mencoba menguncir rambutku.

“Kuncir saja,”jawabnya. Tanpa banyak protes dan agar dia menghentikan aksinya aku lalu menurutinya saja dan kemudian kembali menonton. Saat itu, mungkin kami sudah berada di puncak kenyamanan kami. Mungkin juga puncak kerinduan? Entahlah. Aku yang kepalaku sudah tertidur di lengannya, dia yang memelukku dari belakang. Sambil tetap menonton, perlahan-lahan Sehun menarikku lebih erat ke pelukannya dan dia mulai mencium leherku dari belakang. Aku terkesiap. Ini dia, pikirku. Aku menggeliat seakan tidak ingin, bukan tidak ingin tapi aku tidak mau semudah itu jatuh padanya. Walau dilain pihak otakku sedari tadi sudah berpikir soal ini. Bukan, sejak sebelumnya, aku sudah siap bahwa kami pasti akan bercumbu lagi. Aku bahkan pernah berpikir untuk menyerahkan segalanya pada Sehun sebelum aku menyesal karena menikah dengan orang lain. Apa ini saatnya?

Cup!

Inilah dia. Sehun akhirnya mencium pipiku, aku menoleh. Saat aku menoleh, Sehun tanpa basa-basi langsung melumat bibirku. Ya, melumatnya. Aku sering berpikir, mungkin pria ini hanya melampiaskan nafsu padaku. Alangkah kejinya dia jika melampiaskan nafsu pada sahabatnya sendiri. Banyak gadis di luar sana yang sudah pasti terlena dan tergoda oleh Sehun jika saja Sehun mau.

“Sehun-ah…,”aku menjauhkan wajahku, otomatis melepaskan bibir kami sebelum dia mulai memainkan lidahku. Sehun menatapku. Teduh. Hatiku meleleh melihatnya. Aku memang mencintai pria ini.

“Sehun-ah, kenapa?”tanyaku.

“Kenapa apa?”tanyanya, masih tetap menatapku dengan teduh sesekali melirik ke layar televisi.

“Kenapa kau menciumku? Kita sahabat kan? Aku masih sahabatmu kan?”tanyaku.

“Kau sahabatku Sulli-ah,”jawabnya, mencoba menarikku ke dalam dekapannya lagi namun aku menolak. Tidak Oh Sehun, kali ini tidak akan semudah dulu.

“Tidak. Tidak ada sahabat yang mencium sahabatnya. Di bibir. Persahabatan jenis apa itu?”tanyaku sambil mengerucutkan bibirku.

“Ada. Itu adalah kita,”jawab Sehun, serius, atau hanya berpura-pura serius? Namun kali ini dia tidak memaksaku masuk ke dekapannya lagi.

“Sahabat macam apa yang berciuman. Ah, tidak. Kau dulu pernah bilang ciuman yang pertama kali itu bukan ciuman. Bodoh, itu jelas-jelas ciuman!”aku hampir menangis mengingat betapa Sehun menyakitiku mengatakan itu bukan ciuman.

“Itu memang bukan ciuman,”dia menjawab tegas.

“Mwoya?!”aku menatapnya tak percaya. Ingin kupukul kepalanya yang menurutku Cuma berisi angin itu.

“Iya, bagaimana bisa kau menyebutnya ciuman disaat yang ada kau menggigit bibirku sampai berdarah?”protesnya. Aku tertegun. Benarkah? Aku tidak tau sama sekali dia berpikiran seperti itu. Aku hampir terkekeh dibuatnya namun aku menahannya karena aku ingin dia tetap serius menanggapiku.

“Itu tetap ciuman!”ujarku tak mau kalah.

“Bukan. Bukan ciuman,”jawabnya mencoba mengalihkan perhatian pada anime. Namun aku menarik wajahnya agar menatapku kembali.

“Lalu seperti apa ciuman yang sebenarnya?”tanyaku sambil menatap matanya. Dia lalu menjawab sambil meraih diriku lagi,”Seperti ini,”dan dia menciumku dengan lebih lembut dari sebelumnya. Aku terhenyak dan aku tidak dapat menolak lagi. Lama kami berciuman, ciuman yang menurutku tidak ada bedannya dengan waktu pertama kali. Iseng aku menggigiti bibirnya lagi namun dia tidak menghiraukannya. Aku menggigitnya lebih keras lagi dan dia melepaskannya.

“Itu ciuman,”ucapku. Aku lalu membenamkan kepalaku didadanya yang menurutku, dibanding 4 tahun yang lalu sudah bertumbuh pesat. Sementara dia sendiri berkali-kali mengejekku yang tidak ada pertumbuhan sama sekali terutama di dadaku. Ah, balik lagi ke current situation. Aku membenamkan kepalaku didada bidangnya, menarik kuat baju yang dia kenakan.

“Sehun-ah, aku kangen,”lirihku. Sehun, jika kau ingin tau, aku saat ini sangat sedih juga bahagia. Aku tidak ingin melepaskanmu. Tidak akan mengembalikanmu pada Hayoung lagi seperti saat itu kukatakan padamu jika aku bertemu lagi denganmu. Aku ingin waktu berhenti dan terus berada dipelukanmu. Aku tidak keberatan memberikan ciumanku berkali-kali untukmu. Tapi jangan pergi lagi. Aku mohon. Namun perasaanku kali ini tidak kuutarakan dengan jelas padanya. Sore berganti malam dan aku terus memintanya memelukku dan sekali-sekali aku yang memeluknya erat. Hari itu kami berciuman sampai tiga kali. Memeluknya entah berapa lama. Pertemuan kami diakhiri dengan sesi menemaninya merokok di depan apartemenku dan membuat janji akan bertemu lagi setelah dia wisuda.

31525_20121029_180142_Being_In_Love_With_Your_Best_Friend_quotes_04

Orang selalu mengatakan bahwa sangat beruntung jatuh cinta dengan sahabat sendiri. Aku tidak sependapat. Bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan seorang sahabat yang notabene kita saling memiliki batas? Ya, batas itulah yang kupermasalahkan disini. Batas itu bisa saja aku dobrak dan mengejarnya namun aku akan kehilangan satu hal yang sangat pending. Ya, itu adalah persahabatan.

Sahabat dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Sahabat sudah tentu kita sayangi dan akan selamanya, sedangkan cinta bisa saja musnah, bisa saja dikhianati. Memang indah membayangkan cinta pada sahabat sendiri, namun tidak semudah itu. Sahabat itu memikirkan untuk mencari waktu dengan hal lain dan orang lain selagi bisa. Sahabat itu akan berdiri di tempat jika menyadari salah satu darinya mencintai sahabatnya. Aku diam ditempat. Aku sulit untuk mengambil keputusan. Aku tau untuk saat ini aku tidak mampu meraih Sehun. Jarak dan waktu adalah alasannya.

Waktu adalah alasan utamanya. Waktuku dengan Sehun mungkin sudah berlalu sejak lama. Hanya sisa-sisa waktu itu yang dengan susah payah kami amankan agar kepingan-kepingan persahabatan kami dapat terus saling menyatu. Walau kedaaanya sudah berbeda. Sahabat macam apa yang saling berciuman? Sahabat macam apa yang memiliki perasaan lebih? Kami akhirnya memilih diam dan hanya menjalaninya saja. Oh iya, waktu juga telah memisahkanku jauh darinya. Seorang gadis jauh diseberang sana yang aku pun tidak pernah tau seberapa banyak waktu yang telah diberikannya pada Sehun. Semakin banyak waktu itu maka semakin dalam perasaan Sehun. Aku harus menyerah. Tidak mungkin bagiku. Tidak jika aku tidak nekat dengan menjatuhkan diriku akhirnya tidur dengan Sehun dan mengambil foto saat kami tertidur lalu mengirimkannya pada gadis itu. Ya, itu cara terjahat yang aku pernah pikirkan agar aku dapat merebut kembali Sehun-ku. Tapi sekali lagi. Aku waras dan aku bukan orang jahat. Tapi tidak menutup kemungkinan jika disuatu hari aku begitu frustasi akan keadaan ini dan melakukannya. Entahlah, hanya Tuhan dan diriku di masa depan yang tau.

“Lupakan Sehun. Lupakan dia sebagai orang yang kau cintai. Jika perlu lupakan bahwa dia juga sahabatmu,”ucap Krystal yang sangat cemas melihat keadaanku. Setengah diriku menyetujui usul Krystal. Namun setengahnya lagi merasa tidak mampu. Aku hanya mampu untuk berhenti menghubungi Sehun dan hanya membalas seadanya jika Sehun yang menghubungiku. Sudah kulakukan namun kerinduanku yang ada makin menjadi-jadi. Aku berkali-kali menggigit bibir bawahku hanya untuk menahan perasaanku.

Aku hanya ingin satu, walau pun Hayoung lebih berarti dan yang dia inginkan untuk mendampingi hidupnya, aku yakin aku akan bahagia asal dia tetap dekat denganku. “Mustahil” kata Krystal. Ya, aku bisa menjadi duri dalam hubungan mereka kalau begitu. Tapi aku salah? Aku selalu berkali-kali percaya bahwa aku yang lebih dulu mengenal Sehun, aku lebih dulu bersamanya. Namun hal itu saja tidak menjadi factor yang kuat bagiku untuk mendominasi Sehun. Ah, aku terlalu posesif padanya. Bahkan aku tidak rela melihat dia sekarang sudah memiliki sahabat perempuan lainnya yang menurutku, itu bisa saja menggantikan posisiku. Hatiku lama-lama menjadi lelah setelah remuk redam setiap hari memikirkan Sehun. Hei Oh Sehun, apa perkataan Krystal benar jika mungkin saja kau juga mencintaiku tapi bukan sekarang saatnya? Lalu sampai kapan aku harus menunggu sementara jarak semakin memisahkan kita?

Yang aku tau, aku sudah kehilangan satu. Yaitu persahabatan itu sendiri. Tepat setelah aku menyadari bahwa aku mencintaimu.

Sekarang aku benar-benar ingin melupakannya jika semua tidak bisa kembali seperti dulu. Jika dia terus memperlakukan aku seperti ini. Aku adalah gadis  yang punya harga diri walau itu untuk sahabatku sendiri. Walau berat, aku ingin bisa ikhlas melepaskan kenangan dan semua yang kupunya selama 7 tahun terakhir ini. Aku, tanpa bisa terelakkan, jatuh cinta diluar rencanaku pada sahabatku sendiri. Ini adalah cinta yang paling pahit, menyakitkan, bodoh, namun paling manis yang pernah aku rasakan.

Selamat tinggal sahabatku, mungkin suatu hari kita akan bertemu lagi dan saat itu kita benar-benar menjadi apa yang disebut masyarakat dengan sahabat. Tanpa ada perasaan ingin memiliki, perasaan cinta dan nafsu lagi. Mungkin kelak ciuman yang akan kuberikan adalah ciuman persahabatan dipipimu, mungkin pelukan yang akan kuberikan adalah pelukan persahabatan dan genggaman tanganku adalah genggaman tangan untuk sahabatku. Murni sebagai sahabat tanpa ada perasaan lebih. Atau mungkin, aku sama sekali tidak bisa bertemu lagi denganmu. Karena saat ini melepaskanmu saja sudah menjadi hal terberat yang pernah aku lakukan.

Maaf jika cerita ini tidak memiliki ending yang kalian inginkan. Maaf, bahkan cerita ini sendiri belum selesai. Aku tidak pernah tau dengan rahasia Tuhan. Setidaknya, kali ini aku benar-benar sudah melepaskannya. Itu yang kurencanakan, tapi aku tetap tidak tau apa rencana Tuhan untukku. Mungkin bisa saja suatu hari aku menceritakan betapa bahagianya akhirnya aku bisa berada di pelaminan bersamanya. Mungkin bisa juga cerita itu akan berubah menjadi aku yang menangis ikhlas melepaskannya bersanding dengan perempuan lain di pelaminan. Mungkin. Tunggu saja kelanjutan kisah ini. Tapi entah sampai kapan….

Note :

“Selesai juga ff yang pada kenyataannya belum bisa diselesaikan ini. Ya, kisah orang sesungguhnya di cerita ini jelas belum selesai selama nafas masih berhembus tapi karena ini ff, jadi author memutuskan untuk mengakhirinya sampai disini. Berat memang mengungkapkan cerita ini tapi terkadang author berpikir, ada keindahan tersendiri di balik kisah ini. Apa teman-teman punya kisah cinta seperti ini? Apa teman-teman juga jatuh cinta dengan musuh yang menjadi sahabat? Terkadang author berpikir bahwa ada makna dibalik pertemuan. Dan author benar-benar menganggap pertemuan kedua karakter di kisah ini berjumlah dua kali dan pertemuan kedua adalah takdir. Jelas author belum menyerah untuk mendapatkan akhir dari kisah ini. Mungkin suatu hari jika sudah ada akhirnya, author akan bikin dan post disini lagi.” – cagalli14

8 Tanggapan to “Should I Leave Him, Shouldn’t I? (Last Part)”

  1. ulfahalimatus 27 Oktober 2014 pada 7:27 PM #

    SEDIH MA SULLI, sebenarnya si sehun suka ma sulli apa cuma main in aja, kasian sulli perasaannya dimainin ma sehun. Cerita ini gak bisa di tebak, lanjut chingu bukanlah ending aku sedih kalau gak ending hiks

    • cagalli14 28 Oktober 2014 pada 6:52 AM #

      maaf karena ini berdasarkan kisah nyata jadi gak bisa dilanjutin ..mungkin bisa sih dibikin sequel tapi bukan real story lagi hanya fiksi …hehehe

      • ulfahalimatus 28 Oktober 2014 pada 8:31 AM #

        Maaf kalau aku minta ending, w sedih ma sulli soalnya sehun jahat cuma maini perasaan aja

      • cagalli14 28 Oktober 2014 pada 5:50 PM #

        Gpp sih ulfa hahaha ..iya yah sehun jahat bgt sumpah kesel jdnya #ditaboksehun

  2. berliyana 27 Oktober 2014 pada 10:33 PM #

    oh sehun !!!!! Lu tuh raja PHP ya ?
    Anak org lu gituin >.<

    • cagalli14 28 Oktober 2014 pada 6:52 AM #

      iya jahat banget ya ngePHP-in ><)

  3. swag jinri 28 Oktober 2014 pada 3:10 AM #

    Anjirrrrrrr sehunnnnnnn
    huweeee sulllii nape lu phpinnnn.. /teplok pla sehunnn
    sabar ssulll sehun blik ke elu kok entar… :’v /bnuh hayoungg

    nice authorrrr.. ^_^

    Mudah2xhhan hunlli bersatuu. Ampek tua ampekk punya anakk yg banyakkk/? Helehhh :v

    • cagalli14 28 Oktober 2014 pada 6:52 AM #

      amiiiin ..hahaha
      makasih ya udah komen ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: