Future Is Ours – As Shining As You

30 Okt

Future Is Ours – As Shining As You

Cast       : Choi Sulli, Oh Sehun, Xi Luhan

 Please support and respect author’s work by giving comment^^

Tolong dukung dan hargai pekerjaan penulis dengan memberi komentar ^^

hanhunlli

Ini adalah hari pertamaku di universitas. Aku sangat bersyukur dengan keenggananku selama SMA aku berhasil juga masuk Universitas Seoul. Kulihat wajah semua orang yang masuk ke kampus ini. Semua bahagia. Kecuali aku. Ya, itu karena aku dikecewakan oleh kenakalanku sendiri sehingga aku gagal masuk ke Universitas Harvard seperti yang diharapkan ayahku. Sekarang aku harus puas dengan level paling atas di Korea.

Seorang gadis berambut sebatas dada berjalan melintas di hadapanku. Aroma buah strawberry yang lembut membuai indra penciumanku. Sontak aku menoleh dan dia berdiri disebelah 2 orang lagi di sampingku. Wajahnya penuh perasaan optimis dan senyum begitu cerah. Kurasa dia satu diantara seribu mahasiswa disini yang sangat takjub mampu masuk ke universitas ini. Ah biarlah, aku tidak peduli. Yang aku peduli hanyalah ada sirat kesedihan yang kutangkap dari sorot matanya yang penuh optimis.

***

Aku dengan malas melangkahkan kaki keluar dari mobil. Lami adikku repot sekali memintaku menjemputnya latihan basket. Untung aku kebetulan melewati pantai ini, jika tidak aku pasti akan menyuruhnya pulang sendiri naik taxi. Kulihat ada beberapa belas remaja perempuan berkumpul di lapangan basket tepi pantai itu. Salah satunya adalah Lami yang cukup tinggi dibanding yang lainnya. Aku tersenyum melihat adikku itu. Dia cantik, tidak memalukan sebagai adik seorang Oh Sehun yang jelas-jelas tampan ini. Dia menatap penuh harapan dan begit berseri-seri saat pelatihnya berbicara.

Tunggu, aku seperti pernah melihatnya?

“Oppa!!”teriak Lami setelah mereka bubar. Lami menghambur padaku dan memelukku. Ya, inilah yang kubenci dari Lami, dia selalu mempermalukanku di depan umum. Kalau dulu masih kecil sih tidak masalah, tapi sekarang kalau orang-orang tidak tau hubungan kami bisa-bisa aku disangka lolicon!

Ah tunggu, singkirkan pemikiran tentang Lami. Aku tertegun melihat pelatih Lami saat dia berjalan ke arah kami.

“Lami-ssi, kau harus memperkuat cengkraman bolamu arrachi?”sapa pelatihnya yang benar-benar aku kenal itu.

“Sulli?”tanyaku pada gadis itu. Pelatih tersebut-Sulli- menoleh dan tersenyum lebar melihatku.

“Maaf…siapa?”tanyanya. Oke, aku tau aku ini popular bahkan sejak sekolah dulu. Banyak yang mengenalku dan mengejar-ngejarku. Tapi gadis ini? Gadis yang bahkan dengan terhormatnya menjadi satu-satunya gadis yang aku ingat dibenakku malah tidak mengenalku? Sungguh memalukan.

“Eonnie kenal Sehun Oppa?”tanya Lami bersemangat.

“Sehun?”tanya Sulli kebingungan.

“Ah maaf. Lami, aku tau Sulli tapi kami memang belum pernah berkenalan. Kita sekelas Sulli-ssi,”ucapku pada Sulli. Sulli mulai ber’ahh’ ria dan tersenyum ragu. Dia malu karena tidak mengenalku.

“Aku tau kau karena beberapa temanku membicarakanmu,”ucapku berkelit. Akan malu jika dia tau aku kenal dia sejak awal.

“Benarkah? Aku jadi bahan omongan?!”tanya Sulli kaget.

“Bu..bukan maksudku banyak temanku yang menggagumimu,”jawabku kaget melihat ekspresi wajahnya. Memang sih tidak salah yang kuucapkan, banyak sekali orang yang menyukai Sulli. Kupastikan wajah Sulli akan bersemu merah. Ya, gadis mana yang tidak akan tersanjung jika mengetahui banyak yang mengidolakannya?

“Eonnie?”tanya Lami. Sulli diam mematung dan lebih kepada saat ini dia melamun. Aku sangat kaget dengan reaksinya itu. Dia tidak kelihatan senang sama sekali. Dia kelihatan ngeblank.

“Ah, eh iya Lami? Kalau begitu aku pulang dulu ya. Lami ingat pesanku. Sehun-ssi, sampai jumpa,”ucap Sulli lalu meninggalkan kami.

Choi Sulli. Ada banyak misteri pada gadis itu. Mulai dari senyumnya yang lebar dan cerah namun tekadang tersirat kesedihan mendalam sampai dengan berkali-kali aku mendapatinya menatap jauh keluar jendela. Seperti merindukan sesuatu.

***

Aku baru saja selesai menemui Tuan Park untuk mendiskusikan seminar yang akan kulakukan saat aku masuk ke kelas. Tadinya kelas ini masih ramai namun sekarang hanya tersisa seorang gadis yang duduk sambil menatap keluar jendela. Kulihat ada beberapa bungkus yang aneh dan botol minuman diatas mejanya. Sepertinya itu bungkus obat. Sulli sakit?

“Ah Sehun-ssi,”ucap Sulli terkejut saat menyadari kehadiranku. Aku yang memikirkannya juga ikut terkejut dan tersenyum padanya. Sulli langsung menyembunyikan bungkusan tersebut dan mengambil tasnya.

“Kenapa kau belum pulang?”tanyaku padanya.

“Aku mau pulang sekarang,”Sulli tersenyum padaku. Aku membalasnya.

“Permi…,”

Bruak!!!

Aku menoleh langsung ke belakangku saat menyadari bahwa Sulli terjatuh. Aku langsung meraih tubuh Sulli dan baru kusadari bahwa wajahnya begitu pucat dan kulitnya terasa dingin. Aku langsung menggendong Sulli ke parkiran untuk membawanya ke rumah sakit universitas.

“Sulli!!!”kulihat kedua orangtua Sulli berlari dengan cemas dan masuk ke ruang UGD. Aku saja belum masuk sama sekali karena dilarang dokter. Aku tidak tau bagaimana keadaan Sulli sekarang dan apa yang menyebabkannya. Hatiku merasa tidak enak dan tidak tenang sama sekali. Ini karena baru pertama kalinya aku melihat orang yang kusukai jatuh pingsan. Aku sangat panic. Ah ya, benar, aku memang menyukai Sulli. Mungkin aku jatuh cinta sejak pandangan pertama dan aku baru menyadarinya akhir-akhir ini.

“Kau yang membawa Sulli ke rumah sakit?”tanya Nyonya Choi. Aku langsung mengenalinya karena dia menyebut nama Sulli sambil masuk ke ruangan di depanku ini. Aku mengangguk. Dia tersenyum penuh kekhawatiran.

“Terimakasih. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika Sulli tidak segera ditolong,”lirihnya.

“Nyonya Choi, Sulli sakit apa?”tanyaku. Dia sedikit terdiam dan aku menyesal menanyainya.

Tak lama sebelum aku sempat mengatakan aku menyesal menanyainya, bibir Nyonyai Choi bergerak. Dia menjelaskan keadaan Sulli saat ini yang membuatku lemas mendengarnya. Keadaan Sulli buruk.

***

Disinilah aku. Berjalan menyusuri pantai mendampingi gadis yang kucintai, Choi Sulli. Sulli sangat sehat sekarang dan penuh semangat. Tapi aku tidak pernah tau kapan penyakitnya akan kambuh. Tidak juga aku mengatakannya karena aku tidak ingin Sulli tau bahwa aku sudah mengetahui kenyataannya. Sejak aku menolongnya Sulli jadi seperti menerima kehadiranku. Kami sering berdua dan aku setiap hari mengantar jemputnya. Hanya satu yang aku herankan. Setiap sore Sulli selalu memintaku mampir sebentar ke pantai dekat SMA Hanlim.

Kutatap gadis yang berjalan disampingku ini. Walau ada senyum tersungging dibibirnya, tatapan matanya terlihat begitu sendu. Bagaikan ada kesedihan mendalam dan kerinduan yang terpendam. Sulli selalu menatap deburan ombak dengan perasaan yang tidak dapat aku mengerti. Aneh. Dia terlihat sangat menderita namun mencoba tegar.

“Sulli, hari sudah mau malam. Kita pulang yuk?”aku memecah keheningan yang Sulli buat untuk dirinya sendiri. Sulli tersadar dan menoleh padaku. Wajahnya yang menenangkan membuat hatiku mencelos.

“Terimakasih Sehun, kau selalu repot menemaniku. Padahal aku bisa pulang sendiri dan kesini sendirian,”ucapnya. Aku tertegun mendengarnya. Aku tau Sulli, tapi tidak akan kubiarkan kau sendirian lagi.

“Sudahlah tidak usah dipikirkan. Aku yang mau kok,”ucapku.

“Aku benar-benar Sehun. Aku tidak ingin merepotkanmu,”ujar Sulli bersungguh-sungguh.

“Jangan dipikirkan Sulli. Ini murni keinginanku,”bantahku.

“Kenapa?”tanyanya.

“Karena…,”aku memikirkan jawaban yang lain selain menjawab ‘aku menyukaimu’. Aku belum siap mental.

“Karena apa?”tanyanya lagi.

“Aku temanmu,”jawabku lagi. Sulli tertegun mendengarnya. Tiba-tiba setitik Kristal bening turun dari pelupuk matanya. Aku kaget dan langsung panic.

“Sulli!”

“Aku sangat senang Sehun. Aku senang karena kau mau menjadi temanku,”Sulli dengan cepat menghapus airmatanya. Aku sangat kagum dengan semangat, sisi positif yang selalu dia tunjukkan dan kemandiriannya itu. Jangankan menjadi temanmu, menjadi pendamping hidupmu pun aku bersedia Choi Sulli.

***

Satu minggu berlalu. Sulli tidak pernah lagi masuk ke kampus. Aku menghubunginya dan Sulli bilang dia hanya menjalani pengobatan saja. Karena sibuk dengan ujian seminar, aku pun tidak mengunjunginya.

“Kau Sehun?”seorang gadis berambut blonde mencegatku saat aku akan masuk ke mobilku. Aku menatapnya heran. Dia mendekatiku. Apa dia mau menggodaku huh?

“Bisa bicara sebentar?”tanyanya. Aku tidak menjawabnya. Apa-apaan gadis ini?

“Ini tentang Sulli,”ucapnya lagi.

“Ayo duduk,”aku lalu mengajaknya duduk di bangku dekat parkiran.

“Aku Hara. Beberapa minggu yang lalu aku melihat kau rajin pulang dengan Sulli,”ucap Hara.

“Ya. Terus kenapa huh? Apa urusanmu?”tanyaku sengit. Kalau-kalau dia ingin menyerang Sulli karena dia salah satu fansku.

“Aduh…jangan berpikir yang macam-macam Sehun-ssi. Aku ini teman orang yang penting bagi Sulli. Ya…bisa dibilang juga secara tidak sengaja aku juga teman Sulli walau aku lebih memilih menjadi orang yang hanya mengenalnya,”ucap Hara memutar matanya dengan malas. Orang yang penting bagi Sulli? Siapa?

“Siapa maksudmu? Sulli memiliki pacar?”tanyaku.

“Ya. Dulu sih…saat SMA,”jawab Hara. Aku cukup menghela nafas lega mendengarnya. Itu artinya dia tidak pacaran lagi kan dengan orang itu.

“Aku itu dititipi oleh pacarnya. Menjaga Sulli sih walau itu menyebalkan dan aku tidak mau. Tapi aku putuskan memperhatikannya dari jauh. Kata pacarnya itu kalau ada orang yang memperhatikan Sulli aku harus menyampaikan pesannya,”ujar Hara. Aku tidak mengerti maksudnya.

“Katanya, dia menitip masa depan Sulli denganmu. Orang yang sekarang memperhatikan Sulli. Kau menyukainya kan?”tanya Hara padaku.

“Eh? Maksudnya?”tanyaku.

“Bawalah kembali masa depan Sulli. Aku mohon. Itu katanya,”jawab Hara.

“Sudah ya. Itu saja yang mau aku bicarakan. Bye. Ah iya, ada salah dari temanku Daeun, walau aku tidak akan membiarkanmu membalasnya. Kau jaga Sulli. Oke!”Hara lalu meninggalkanku yang merenung memikirkan ucapannya. Masa depan? Membawa masa depan Sulli kembali? Lalu kemana pacarnya itu?
***

Bruk!

Mataku membulat saat melihat Sulli membuang berbungkus-bungkus obat ke dalam tempat sampah kamar rawatnya.

“Sulli!”aku menghampiri kotak sampah itu dan mengambilnya. Sulli menatap keluar jendela. Wajahnya datar.

“Choi Sulli ada apa huh? Kau kok membuang obatmu?”tanyaku bingung. Sulli tidak menjawabnya.

“Ini karena keinginanku tidak terkabul,”jawab Sulli.

“Kenapa kau? Maksudmu? Kau kan mau operasi dan tingkat keberhasilannya tinggi Sulli!”seruku.

Airmata mengalir ke pipi mulusnya yang pucat dan dingin. Hatiku terenyuh melihat pemandangan itu. Tidak pernah aku melihat Sulli menangis dan terlihat pesimis. Aku seperti tidak mengenalinya saja.

“Aku berpikir dalam 1-2 tahun aku akan mati Sehun. Tapi ternyata tidak. Aku malah mungkin bisa hidup lebih lama darimu,”ucap Sulli lirih.

“Yah! Kenapa kau mengatakan itu?! Kau tidak berpikir bahwa banyak yang mencemaskanmu?! Kenapa kau malah ingin mati Sulli?! Jangan bercanda!!”bentakku. Aku benar-benar tidak menyangka akan apa yang dia utarakan. Menyakitkan hatiku yang selama ini percaya bahwa dia adalah orang yang memberi semangat pada diriku.

Sebuah kertas terjatuh dari tangan Sulli. Aku mengambilnya dan ternyata itu adalah tiket pesawat.

Daehamingguk airlines. Seoul-Jeju August, 15th 2010. Ini dua tahun yang lalu?

Xi Luhan & Choi Sulli.

Xi Luhan?

Apa ini yang dimaksud Hara? Luhan? Kekasih Sulli dulu?

Kulihat Sulli terus menangis. Sekarang aku tau. Dia menangisi pria bernama Luhan ini. Mungkin tatapan kosong penuh kerinduannya itu ditujukan untuk pria ini. Mungkin pantai yang sering kami kunjungi itu adalah tempat bersejarah Sulli dengannya. Seketika hatiku mengecil dan terasa pilu.

“Jika maksudmu pria ini, aku benar-benar kecewa padamu Sulli. Entah apa yang terjadi, tapi aku sangat tidak suka melihatmu menyerah di saat kau memiliki lebih dari 80% masa depan yang menunggumu. Aku berpikir aku bisa menghadapi segalanya dengan optimis bersamamu. Tapi aku salah,”ucapku penuh kekecewaan.

“Masa depan?”suara Sulli bergetar.

“Masa depanku sudah terbang keangkasa 2 tahun yang lalu Sehun,”Sulli akhirnya menatapku. Penuh kepiluan.

“Sudah dibawa jauh oleh Luhan,”isaknya. Aku menyerahkan tiket yang kupegang itu ke tangan Sulli.

“Aku jatuh cinta padamu sejak hari pertama. Dan aku berpikir aku akan membawa masa depanmu. Selamat tinggal Sulli,”aku lalu melangkahkan kakiku meninggalkan Sulli.

Sakit hatiku. Benar-benar perih. Aku tau Sulli lebih menderita dibanding diriku. Tapi aku tidak tahan kecewa melihat dia yang seperti itu. Pesimis dan menyerah, bukan hal yang kulihat selama ini dari Sulli yang kukenal sejak 1 tahun ini!

*Sulli pov*

“Aku jatuh cinta padamu sejak hari pertama. Dan aku berpikir aku akan membawa masa depanmu. Selamat tinggal Sulli,”

Aku terus-menerus memikirkan ucapan Sehun. Aku tidak menyangka dia mengatakan hal itu. Selama ini aku memang tidak peka terhadap perasaan orang lain. Saat Luhan mendekatiku saja aku langsung mengetahui perasaannya karena dia langsung mengatakannya dihari pertama. Aku menyesal karena telah melihat ekspresi kecewa Sehun tadi. Dia selama ini selalu tersenyum lembut padaku walau jika tidak bicara denganku dia lebih banyak diam dan terlihat dingin. Melihat wajahnya yang seperti itu membuat perasaanku tidak enak.

Aku menatap bungkusan obat yang dikumpulkan lagi oleh Sehun. Dulu ada pria yang juga melakukan hal yang sama seperti itu. Dia mengambil bungkusan obat itu dan memintaku untuk terus hidup. Sama seperti yang diinginkan Sehun. Tapi aku pernah membuatnya kecewa, walau pada akhirnya aku menyesal karena terlambat dan Luhan berlalu begitu cepat dihidupku.

Dheg! Tanganku gemetaran menyadarinya. Aku lalu meraih tepi tempat tidurku dan berusaha bangkit.

Benar juga! Aku pernah sekali mengecewakan seseorang yang kucintai. Aku pernah menyesal dan itu terlambat! Aku tidak tau bagaimana perasaanku dengan Sehun tapi saat ini yang ada didalam hidupku adalah Sehun!

Aku langsung berlari keluar kamarku dengan susah payah sambil menenteng tabung infuse. Semoga Sehun belum pergi! Aku tidak ingin terlambat lagi. Tidak boleh terlambat lagi! Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Hanya karena keadaanku akhir-akhir ini memburuk lagi aku jadi sensitive dan mulai pesimis lagi! Itu tidak benar! Aku sudah berjanji pada Luhan. Apa pun yang terjadi aku harus bersinar seperti Luhan dulu!!!!

“Sehun-ah!!!!”teriakku. Sehun yang baru akan masuk ke mobilnya berhenti dan tertegun melihatku. Aku berjalan tertatih-tatih ke arahnya dan Sehun langsung berlari menghampiriku.

“Yah! Kau sudah gila?! Apa yang kau lakukan?!”bentak Sehun. Aku tersenyum. Ya, inilah Sehun. Memang dia biasanya hangat padaku, tapi tidak pernah lepas sifat dinginnya itu.

“Jangan pernah mengatakan selamat tinggal padaku. Janji Sehun,”pintaku saat Sehun memapah tubuhku untuk duduk di bangku.

“Aku sadar. Aku tidak boleh seperti ini lagi atau aku akan menyesal. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan untukku. Sehun, tetaplah disini. Tolong bawa aku pada masa depanmu,”pintaku. Sehun tersenyum mendengar ucapanku. Dia menarikku ke dalam pelukannya.

“Iya Sulli-ah. Aku berjanji masa depan kita akan datang suatu hari nanti,”kurasakan Sehun mencium ringan pucuk kepalaku. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku merasa nyaman dan perasaanku ringan setiap bersama Sehun. Hanya dia yang mampu menembus pertahanan yang selama ini aku buat.

Luhan-ah, mungkin kau dari sana sempat merasa kecewa melihatku yang mulai kehilangan semangat lagi. Maafkan aku…aku seharusnya selalu ingat janjiku padamu. Tapi jangan khawatir, aku sekarang akan kembali bersinar seperti dulu. Aku benar-benar akan bersinar sepertimu. Aku akan menanti masa depanku dengan bahagia. Luhan, aku mencintaimu…karena itu aku akan terus menatap ke depan tanpa memandang lagi ke belakang.

Masa depanmu akan kubawa bersamaku. Bersama dengan masa depan Sehun, aku akan berada pada hari itu suatu hari nanti. Suatu hari yang indah dimana aku akan terus bersinar.

FIN

2 Tanggapan to “Future Is Ours – As Shining As You”

  1. berliyana 31 Oktober 2014 pada 3:00 AM #

    hmm.. Walaupun blum ikhlas luhan dah pergi😦 tpi untung adha sehun yg ngebwa sulli ke masa depan🙂

    • cagalli14 1 November 2014 pada 5:42 PM #

      iya aku jg belum ikhlas … ;_; btw aku bakal ngepost ff yang cukup banyak pairing hanhunlli dengan luhan tokoh utamanya. tp karena itu reemake dari ff yang udah di publish disini jadi aku publish di wordpress ff khusus untuk sulli: soorinchoram99.wordpress.com
      silakan kunjungin disana ya ^^ kemungkinan aku bakal post ff disini ff yang baru-baru aku bikin tapi aku juga bakal ngepost di wp yang disana. thank you ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: