Love, Art & Friend – Chapter 4

15 Nov

Love, Art & Friend

By           : cagalli14

Genre   : romance

Cast       :

  • Choi Sulli : siswi kelas 2 SMA yang berusaha keras membuang bakat yang dia miliki dalam seni semenjak kematian ayahnya. Dikenal sebagai cold beauty, dia sangat cantik namun begitu dingin dan apatis.
  • Lee Donghae : guru baru di SMA Sulli dan mengajar kelas seni. Dia sebenarnya mengenal Sulli sejak dulu karena dia adalah murid dari ayahnya Sulli. Sengaja mengajar sebagai guru seni karena ingin mengembalikan passion Sulli dalam dunia seni. Ramah, baik hati, romantis dan idola semua siswi dan guru-guru perempuan di sekolah.
  • Oh Sehun : sahabat Sulli sejak kecil. Dia juga sangat dingin dan bengis sama seperti Sulli. Hanya kepada Sulli dia akan memperlihatkan emosinya yang sebenarnya. Sangat membenci Donghae yang mencoba membujuk Sulli untuk mencintai seni lagi.

loveartfriend

Chapter Four     : Scattered Heart

Sulli menatap keluar jendela lagi saat Kyuhyun seongsaenim menjelaskan algoritma yang tidak akan bisa dimengerti Sulli sampai kapan pun. Dia lebih tidak mengerti lagi kenapa sudah memilih sekolah seperti ini masih saja ada pelajaran umumnya. Terutama matematika yang menurut Sulli tidak penting untuk ada di dunia ini jika setiap manusia bisa dengan mudahnya menghitung, mengurangi, membagi dan mengali dengan kalkulator. Oke, tidak penting membahas matematika. Pandangan Sulli tertuju pada sosok Sehun yang sedang bermain sepak bola di lapangan dengan teman sekelasnya. Sebenarnya sangat jarang Sulli memikirkan Sehun karena tanpa dipikirkan, Sehun akan selalu ada untuknya, namun ucapan Sehun kemarin sore mampu membuat Sulli memikirkannya kali ini.

*flashback*

“Ssul, kau pergi ke art exhibition dengan guru itu?”tanya Sehun saat Sulli terbangun setelah 1 jam tidur dipelukannya.

“Eung,”jawab Sulli singkat.

“Sulli-ah, jika kau kembali di tempat dimana kau dihancurkan lagi aku tidak yakin aku masih sanggup menopangmu atau tidak,”

“Mungkin kali ini kita akan memilih jalan yang berbeda…,”

*end of flashback*

Memilih jalan yang berbeda? Apa maksudnya? Apa Sehun akan meninggalkannya? Sulli tidak pernah berpikir bahwa kehadiran Sehun sangat penting dikehidupannya. Sulli juga tidak pernah berpikir bahwa suatu saat bisa saja Sehun meninggalkannya. Namun sekarang dia memikirkannya. Sehun sudah lebih dari sahabat atau saudara baginya. 10 tahun mengenal Sehun dan selalu bersama-sama. Baik dalam keadaan dimana Sulli masih baik-baik saja dan menjadi dirinya yang sebenarnya dulu sampai dia mengubur Sulli yang lama. Sehun selalu ada disaat yang membahagiakan maupun disaat yang paling berat dalam hidup Sulli. Karena begitu dekat, sesuatu pasti tidak akan dianggap sebelah mata dan mungkin dilupakan betapa pentingnya hal itu, itulah yang terjadi pada diri Sulli saat ini.

Ucapan Sehun tidak bisa Sulli lupakan. Bagaimana jika Sehun meninggalkannya? Bagaimana jika Sehun menjauhinya? Bahkan setelah dunia meninggalkannya, Sulli hanya memiliki Sehun. Cinta? Sulli tidak pernah merasakannya pada Sehun, belum pernah merasakan cinta sama sekali malah. Sulli hanya merasa nyaman bersama Sehun begitu juga Sehun. Sampai pada saat mereka sepakat untuk mencoba jatuh cinta dengan yang lainnya, Sehun dan Sulli kesulitan lalu menyerah. Disana mereka menyadari, jika bukan mereka berdua, tidak ada artinya sebuah ciuman dan pelukan. Sulli bisa saja tidur dan mencium laki-laki lain, dia pernah melakukannya beberapa kali demi kepentingan dirinya sendiri. Namun dengan Sehun, Sulli jelas merasa lebih nyaman dan merasa cukup. Mereka hanya ditakdirkan untuk selalu berdua, hanya itu yang mereka ketahui.

“Itu Sulli!”tiba-tiba Kai, teman Sehun menunjuk pada Sulli yang tertangkap memperhatikan mereka. Sehun menoleh ke atas dan tersenyum pada Sulli. Senyum yang hanya akan dia berikan pada Sulli. Sulli sedikit terkejut namun dia akhirnya mengembalikan perhatiannya pada pelajaran guru tampan satu ini, Cho Kyuhyun.

***

Ruang seni kosong dan tidak bernyawa. Itu yang didapati Sulli saat pertama kali melangkahkan kakinya ke ruangan itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Sulli sekarang dia merasa tidak keberatan masuk ke ruangan ini. Dia bahkan sekarang duduk di depan sebuah kanvas putih bersih. Nyeri. Itu yang dirasakan Sulli ketika dengan susah payah dia mengambil kuas dan mencoba menorehkan guratannya dikertas putih polos itu.

1 tahun yang lalu sebuah tragedy terjadi. Sulli yang mencintai dan sangat berbakat dalam hal seni terutama melukis harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia tersebut. Menyakitkan. Itu yang ada dibenak Sulli.

“Cobalah melukis sesuatu yang kau benci terlebih dahulu,”sebuah tangan menyentuh pergelangan tangan Sulli dan mengarahkannya pada kanvas. Nafas hangat menderu tepat disamping wajah Sulli. Berbau rokok yang khas. Ini Donghae, batin Sulli.

“Aku tidak akan melakukannya lagi,”Sulli melempar kuas tersebut. Donghae tersenyum lirih lalu duduk dihadapan Sulli. Sulli membuang wajahnya.

“Lalu apa penjelasanmu?”tanya Sulli masih tidak menatap Donghae.

“Karena kau adalah seniku Jinri,”ucap Donghae pelan. Sulli tersentak mendengar nama itu. Nama yang sudah lama dibuangnya. Nama yang tidak pernah akan dia ingat dan dia pakai lagi. Nama yang dengan susah payah dilupakan oleh Sehun sebagai orang terdekatnya.

“Jangan bercanda!!!! Siapa kau?!!!!”Sulli mengamuk. Dia menarik kerah kemeja Donghae dan menatapnya penuh kemarahan. Donghae tersenyum penuh kehancuran. Namun kehancuran itu lebih jelas terlihat dimata Sulli yang mulai berkaca-kaca.

“Sakit kan?”Donghae menyentuh tangan Sulli yang mencengkeram kuat kerah bajunya dan melepaskannya perlahan. Tangan putih pucat itu memang sudah berwarna kemerahan.

“Siapa sebenarnya dirimu?! Kau sengaja ingin menghancurkan hidupku yang sekarang?!”Sulli tidak peduli dan kembali mencengkeram kerah baju itu.

“Aku tidak ingin melihatmu hancur Jinri,”ucap Donghae.

“STOP CALLING ME WITH THAT NAME!!!”teriak Sulli. Sekarang airmatanya sudah menetes. Menetesi wajah Donghae yang menatap Sulli dengan lirih. Pertahanan Sulli hancur. Dia mulai menangis terisak tak tertahankan karena ada banyak perasaan yang selama ini ditahannya. Sesak. Terlalu sesak.

***

1 tahun yang lalu Sulli masih bisa memandang bangga lukisan yang dia buat.

1 tahun yang lalu Sulli masih bisa tersenyum melihat deretan piala dan piagam yang dia terima dari lomba seni dan melukis.

1 tahun yang lalu Sulli masih tertawa bahagia setiap kali melukis…ketika masih ada sosok sang ayah disampingnya.

“Jinri kau anak yang berbakat. Kemarilah nak,”Tuan Choi menyuruh Sulli duduk dipangkuannya. Sulli menurutinya dan memandang lukisan ibu dan anak yang dia kenal. Itu lukisan foto yang dibuat ayahnya. Itu lukisan Sulli dan ibunya sendiri yang sudah meninggal sejak dia masih kecil.

“Jinri jika suatu hari nanti appa tidak bisa menyokongmu lagi, ingatlah, dalam setiap aliran darahmu appa selalu mendukungmu dengan bakat yang mengalir dalam tubuhmu ini,”ucap Tuan Choi.

“Appa…jangan berkata seperti ini. Kita akan selalu bersama kan? Sampai kita membuat pameran lukisan ayah dan anak yang sangat luar biasa berbakat ini,”ucap Sulli bangga.

“Ya…maafkan appa jika appa tidak sempurna,”ucap Tuan Choi sambil mengecup lembut dahi anaknya itu. Sulli hanya mengernyit kebingungan namun dia memilih untuk tetap tersenyum.

***

“…ri!”

“Jinri!”

“Jinri!”

Sulli terbangun dari tidurnya saat mendapati wajah tampan Sehun yang terlihat panic berada tepat di depan wajahnya.

“Jinri!”Sehun tanpa basa-basi langsung memeluk tubuh Sulli. Sulli kebingungan. Sehun memeluknya begitu erat, seakan tidak ingin gadis itu hancur karena hal apa pun yang ada di dunia ini. Sulli membiarkan sahabatnya itu memeluknya sejenak lalu melepaskan pelukannya.

“Maaf Jinri, kita harus ke rumah sakit…,”Sehun terlihat sedikit ragu dan merasa bersalah. Ada apa? Perasaan Sulli makin tidak enak saat Sehun tidak menjawab pertanyaannya tentang keberadaan ayahnya saat itu.

Kedua kaki Sulli langsung lemas kehilangan kekuatannya. Sehun hanya bisa menahan tubuh rapuh Sulli dan menahan kesedihannya sendiri agar terlihat kuat untuk mendukung Sulli. Sulli mulai histeris ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya ditutupi kain putih setelah sukses mempertontonkan wajah terakhir kali sosok itu pada Sulli. Sulli menangis sangat keras. Sangat terisak. Namun tidak ada suara sama sekali keluar dari mulutnya. Suaranya seakan habis seketika. Habis karena rasa sedih dan hancur yang begitu besar.

Awalnya Sulli masih terhanyut dalam kesedihan kehilangan ayah yang sangat dia cintai. Sampai akhirnya penyelidikan dari kepolisian keluar dan Sulli harus mengetahui kenyataannya. Sulli awalnya bingung kenapa polisi harus menyelidiki kasus kematian ayahnya yang selama ini dia ketahui, ayahnya hanya terkena serangan jantung saja. Namun setelah hasilnya keluar dan Sulli mau tidak mau mengetahuinya, seluruh rasa bangga dan kasih sayang Sulli runtuh seketika.

“Tujuh tahun yang lalu, Nyonya Choi tidak meninggal karena asmanya. Kenyataannya, beliau ditemukan di bath tub dengan bersimbah cat warna-warni dan beliau meninggal karena pembunuhan berencana, mengalirkan listrik ke air di dalam bath tub saat Nyonya Choi mandi. Itu adalah kasus yang mengawali kasus-kasus lainnya yang dilakukan Tuan Choi. Sampai akhirnya kemarin, saat kasus terakhir pembunuhan gadis di universitas Y yang mati tanpa busana dan seluruh badannya dilukis dengan pisau tajam terungkap, Tuan Choi sempat melarikan diri jika tidak ditembak oleh detektif kami. Maafkan kami karena tidak bisa melindungi Tuan Choi. Dia memang tersangka namun melindunginya tetap tugas kami terlebih dia adalah pelaku pembunuhan karena kelainan psikologisnya. Kasus ini akan segera kami proses,”

Dunia Sulli benar-benar runtuh. Sehun yang selalu menemani Sulli pun tidak bisa menutup mulutnya yang berbentuk ‘o’ untuk seketika dan tidak berkedip beberapa detik. Sulli hancur. Terlalu berat baginya untuk menerima kenyataan bahwa seniman berbakat yang dibanggakan seluruh negeri itu adalah psikopat yang telah membunuh istrinya sendiri. Terlalu rumit. Terlalu berat untuk menarik kesimpulan dimana Sulli masih bisa memaafkan ayahnya atau dimana dia masih bisa bangga akan semua karya dan darah seni yang mengalir disetiap tubuhnya. Sulli memutuskan untuk membuang semuanya agar dia dapat hidup sekali lagi.

 

TBC

9 Tanggapan to “Love, Art & Friend – Chapter 4”

  1. irma ariani 15 November 2014 pada 11:53 PM #

    Jadi ayahnya sulli kelainan psikologisnya ? Kok bisa kyak gtu ? Dan kenapa donghae gak di bunuh ? Dia kan juga muridnya , huaaaaa eonni penasaran hehe

    • cagalli14 16 November 2014 pada 2:01 PM #

      ayahnya cuma ngebunuh cewek hahaha tapi aku gak sempet masukin penjelasannya. soalnya udah keburu dipost😄

  2. berliyana 16 November 2014 pada 1:41 AM #

    mkin pnasaran lanjutan nya !!!!
    Duhh.. Bnyak pertanyaan yg blum djwb nih eon..

    • cagalli14 16 November 2014 pada 2:01 PM #

      apa hayoo? hihihi terus baca aja biar ngerti😉

  3. bbuing bbuing 16 November 2014 pada 1:58 AM #

    ngeri jg penyakit appa sulli,kasihan sulli jd trauma

    • cagalli14 16 November 2014 pada 1:59 PM #

      iya …kasihan sulli trauma TT
      makasih ya udah baca🙂

  4. ulfahalimatus 16 November 2014 pada 7:14 AM #

    Ya akhirnya yang bikin benci sulli ke lukisan itu sebabnya karna ayahnya, ayah jinri punya kelainan, kasian hidup sulli kalau kayak gitu harus menerima kenyataan dari kepolisian kalau ayahnya juga yang membunuh ibunya, terus apa yang akan di lakukan ma donghae? Mang kenapa sehun tidak bisa

    • cagalli14 16 November 2014 pada 1:59 PM #

      iya makanya udah kayak luka yang gede banget, udahlah kehilangan ibunya karena ayahnya sendiri eh ayahnya jadi pelaku pembunuhan. dan sulli jadi benci sama seni karena ayahnya seniman dan itu udah kayak gak bisa dipisahin lagi dari image ayahnya

  5. linda 2 Januari 2015 pada 1:24 PM #

    Owwh jadi gitu kenapa sulli jadi benci ama seni,,ya ampoun gak nyangka bgt deh,,gmna ya kira2 donghae mampu gak ya,,dan sehun?? Mereka gak boleh pisah deeeeh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: