Love, Art & Friend – Chapter 5

16 Nov

Love, Art & Friend

By           : cagalli14

Genre   : romance

Cast       :

  • Choi Sulli : siswi kelas 2 SMA yang berusaha keras membuang bakat yang dia miliki dalam seni semenjak kematian ayahnya. Dikenal sebagai cold beauty, dia sangat cantik namun begitu dingin dan apatis.
  • Lee Donghae : guru baru di SMA Sulli dan mengajar kelas seni. Dia sebenarnya mengenal Sulli sejak dulu karena dia adalah murid dari ayahnya Sulli. Sengaja mengajar sebagai guru seni karena ingin mengembalikan passion Sulli dalam dunia seni. Ramah, baik hati, romantis dan idola semua siswi dan guru-guru perempuan di sekolah.
  • Oh Sehun : sahabat Sulli sejak kecil. Dia juga sangat dingin dan bengis sama seperti Sulli. Hanya kepada Sulli dia akan memperlihatkan emosinya yang sebenarnya. Sangat membenci Donghae yang mencoba membujuk Sulli untuk mencintai seni lagi.

loveartfriend

Chapter Five      : Love Shrink

 

Donghae mengenal Sulli bahkan sebelum Sulli tau tentang keberadaan Donghae. Donghae adalah salah satu murid Tuan Choi dan sangat mengaguminya. Baginya setelah kasus itu, tidak ada hubungan antara kekagumannya dengan bakat seni pria itu dengan gangguan psikologisnya. Namun Sulli tidak. Sulli tidak memaafkan ayahnya. Seni membuatnya makin parah. Sulli berpikir seni dan penyakit ayahnya itu berhubungan.

Sehun menatap langit biru yang tidak membuatnya tenang sama sekali. Sulli pernah ingin mati dihadapannya. Sehun berusaha terlalu kuat untuk membuat Sulli tetap dapat menghirup udara di dunia ini.

“Darah yang mengalir didalam tubuhku ini…mengandung dua warisan. Yang satu adalah bakat seni. Yang satu mungkin adalah bakat psikopat. Aku tidak perlu ada di dunia ini sebelum aku mengacau seperti dia,”

Sehun masih tetap tidak bisa mengeluarkan kenangan buruknya ketika Sulli menyayat kedua pergelangan tangannya dengan cutter dalam kecepatan yang tidak bisa Sehun kejar lagi. Ketika berhasil menjauhkan cutter itu, Sulli sudah berada dalam pelukannya dengan bersimbah darah dari kedua pergelangan tangannya. Sehun hampir tidak bisa bernafas normal karena dia harus bertindak cepat dan berlari membawa Sulli ke rumah sakit walaupun seluruh badannya gemetaran. Sementara Sulli, dengan sisa kekuatannya masih mencoba mendorong tubuh Sehun, menyuruhnya melepaskan Sulli dan membiarkannya mati.

“Tidak Jinri! Aku tidak akan membiarkanmu mati!!!!”

***

Duka dan tragedy yang tidak bisa dilupakan oleh Sulli dan Sehun tidak akan pernah lepas dari hidup mereka. Namun life goes on, right? Itulah yang diharapkan oleh Donghae. Bukan dengan menjalani hidup jauh dari kenyataan dan terus menipu diri sendiri seperti yang sekarang dijalani Sulli. Bukan dengan cara seperti ini. Donghae mengenal Sulli walau gadis itu mungkin tidak mengenal Donghae cukup banyak. Donghae mengenal Sulli seperti ayahnya mengenal Sulli. Tuan Choi terlalu mencintai anaknya dan selalu menceritakan dan memperlihatkan Sulli pada Donghae. Donghae hanya akan menatap dari kejauhan dan mengagumi karya seni Sulli dalam diamnya. Dalam setiap goresan yang ditumpahkan Sulli, Donghae tau, seni bukan hanya bakat bagi Sulli. Seni adalah cinta gadis tersebut.

“Kau dan seni adalah takdir Jinri. Dan kau adalah seniku. Aku ingin membuatmu menjadi takdirku,”ucap Donghae lirih. Sulli melepaskan cengkraman eratnya pada Donghae. Donghae meraih kedua tangan Sulli dan tersenyum, dia lalu mengusap-usap kepala Sulli.

“Maukah kau melukis lagi untukku?”tanya Donghae. Sulli tidak menjawab. Kepalanya terlalu sakit untuk menerima banyak ucapan dari Donghae yang begitu berarti baginya. Kepalanya terlalu sakit karena dia menangis kencang ketika menguak luka lamanya. Sulli tidak menjawab. Namun yang pasti, kali ini dia melembut pada Donghae.

“Bahkan jika aku melukis kematian seperti ayahku?”tanya Sulli dalam penderitaannya. Donghae menatap lekat pada gadis yang memang patut dikasihani tersebut. Dia sekali lagi mengusap rambut Sulli dengan lembut. Menyalurkan getaran aneh yang menenangkan disekujur tubuh Sulli.

“Kau mungkin hanya akan melukis kematianku Jinri,”ucap Donghae.

“Dengan satu syarat,”ucap Sulli akhirnya.

“Eung?”Donghae mendongakkan kepalanya pada Sulli.

“Hilangkan Jinri dari kepalamu. Aku sudah hidup dengan diriku yang baru. Choi Sulli,”Sulli teringat betapa besar pertengkarannya dengan Sehun dulu saat Sulli memutuskan untuk mengubur dirinya yang lama beserta nama kelahirannya tersebut. Jelas Sehun tidak terima, gadis yang dia kenal adalah Choi Jinri yang ceria, hangat dan selalu tersenyum walau terkadang iseng dengannya sekarang malah berubah menjadi Choi Sulli yang dingin dan tidak berperasaan. Namun satu hal yang Sehun akhirnya sadari, Sulli terlalu keras menekan perasaannya, membuat Sehun menyerah dan memutuskan menerima Sulli yang baru. Dia hanya tidak menyadari, Sulli yang baru pun terlahir sebelum Sehun yang baru ikut terlahir. Sehun yang ikut-ikutan dingin dan menjadi bengis pada siapa pun selain Sulli.

As your wish, lady,”Donghae, entah kenapa guru baru itu dengan santainya mengecup dahi Sulli dengan lembut. Membuat gadis itu benar-benar ingin mabuk. Entah mabuk oleh apa dia sendiri tidak mengerti. Ada getaran-getaran yang tidak pernah dirasakan olehnya sebelumnya. Bahkan ketika dia merasakan ciuman pertamanya dengan Sehun, dia hanya berucap ‘manis’ dalam hatinya tanpa ada debaran berarti yang kini dia rasakan dari satu kecupan ringan dari guru seninya ini.

*Sehun POV*

“Mustahil Sehun. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak memiliki perasaan saling tertarik satu sama lain, setidaknya dari salah satunya. Aku lihat kau memandang Sulli terlalu berbeda dengan yang lainnya. Kau yakin hanya puas sebagai sahabatnya?”

Luhan hyung. Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal seperti itu setelah Kai menangkap Sulli memperhatikan kami dari kelasnya. Terkadang aku hanya akan terkejut sendiri dengan ucapan orang-orang disekitarku. ‘Sehun, kau yakin bukan pacarnya Sulli?’ ‘Sehun, kalau kau bukan cowok yang sedang berada di friendzone, kau adalah gay,’ ‘Sulli diam-diam memiliki banyak penggemarnya Sehun, kau yakin tidak menyadarinya dan diam-diam menjaganya dari semua pria itu?’ ‘ Sehun, jangan terlalu intens menatap Sulli. Aku tau kau terlalu menyukainya’ dan masih banyak lagi. Aku mengenal Sulli sudah terlalu lama. Mungkin saat kami baru masuk tk? Atau baru masuk sd? Entahlah aku sudah lupa. Yang jelas aku mengenalnya terlalu lama dan kami sangat dekat bahkan melebihi pada keluarga kami sendiri.

Kalian kira aku innocent dan tidak menyadari perasaanku? Tidak. Aku sangat menyadarinya. Sejak saat aku mendengar kata ‘suka’ saat kelas 3 SD ketika teman-temanku sibuk membicarakan gadis yang mereka sukai, yang ada dipikiranku adalah Sulli. Sebuah rasa suka yang simple. Aku terbiasa pada Sulli dan dia memang paling cantik di kelas, dia sangat imut, tidak genit, cukup aktif, berbakat dalam bidang seni dan beberapa temanku menyebut namanya sebagai orang yang mereka sukai. Sulli juga tidak membosankan dan senyumnya yang ceria itu selalu membuatku senang. Aku bertahan pada rasa suka yang menurutku wajar sampai akhirnya aku tumbuh dewasa. Aku menyadari perasaanku lebih dari sekedar rasa suka pada Sulli. Aku sekali lagi menekankan, aku terlalu terbiasa pada Sulli, tapi aku juga memiliki gejolak perasaan khusus padanya. Namun karena keakraban kami yang terlalu biasa bagiku itu, aku berada di zona amanku, aku tau, tanpa dikekang pun Sulli hanya akan berada di dekatku, berlari padaku, mencariku.

Persahabatan dan percintaan memiliki batas yang tipis sama seperti cinta dan benci. Dalam batas yang tipis itu aku mencari celah agar suatu saat hubungan ini akan lebih maju. Aku melakukannya, aku meminta Sulli untuk melakukan 1st kiss kami dan Sulli melakukannya. Langkah pertama yang sukses menurutku. Langkah kedua aku langsung mengambil jalan yang jauh. Tidak perlu kujelaskan terlalu rinci disini, yang jelas setiap inci dari diri Sulli adalah milikku. Aku bisa memintanya dan merasakannya setiap saat kapan pun aku inginkan. Sulli memberikannya. Namun langkah ketiga, aku gagal. Bagi Sulli, aku adalah belahan jiwanya…namun disana aku tau, aku bukan laki-laki yang dia cintai. Gadis itu, dia menggunakan tubuhnya bagaikan tidak berharga pada laki-laki mana pun asal dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Terkadang aku hanya menutupi kenyataan pahit ini dalam diamku. Aku hanya terus berdoa bahwa hanya denganku dia akan memberikan dirinya tanpa alasan apa pun.

Lalu aku tau, ada orang yang lebih beruntung mendapatkan dirinya. Tubuhnya dan hatinya, semuanya menjadi milik orang tersebut. Membuat garis yang mulai memisahkan diriku dan Sulli. Itu semua terjadi dalam satu hari. Satu hari yang tidak masuk akal bagiku. Aku mencari Sulli untuk mengajaknya pulang dan tidak menemukan dia dimana pun bahkan di atap. Aku tidak tau dapat darimana ide untuk mencarinya di ruang seni. Nafasku tercekat, jantungku seakan mengecil dan kehilangan daya memompanya, sekujur tubuhku tak berkutik ketika aku menyaksikan langsung dengan mata kepalaku, Sulli berciuman dengan guru seni itu. Ya, guru seni bajingan yang akhir-akhir ini mencampuri hidup kami. Hidup Sulli lebih tepatnya, tapi bukankah hidup Sulli juga bagian dari hidupku? Apakah Sulli dijebak guru ini? Apakah Sulli tertipu olehnya? Apakah…aku semakin tidak berani mencampurinya walaupun aku ingin sekali menarik Sulli jauh-jauh dari pria itu dan membunuh guru seni bajingan yang sudah memaksa Sulli mencintai seni lagi, ketika aku melihat ekspresi wajah Sulli. Dia kelihatan berbeda. Dia…jatuh cinta?

“Kau tidak ke kelas Sulli?”Kai membangunkanku dari lamunan yang sama sekali tidak kunikmati itu. Aku hanya mendesah malas.

“Aku lihat akhir-akhir ini Sulli sudah mulai ke kelas seni. Lukisannya bagus sekali,”Kai memuji Sulli namun aku tidak tertarik. Aku sudah tau semua itu. Jauh sebelum seluruh murid disekolah ini tau.

“Kai, maukah kau mengenalkanku dengan seorang gadis?”tanyaku. Apa yang kukatakan? Apa yang ada dipikiranku ini? Sekarang aku benar-benar terlihat seperti seorang pacar yang putus asa. Walau pun aku bukan pacar Sulli sekali pun.

“Woah, kau benar-benar terlihat seperti seorang pacar yang putus asa Sehun-a! Ada apa heuh? Kau berantem dengannya?”tanya Kai takjub.

“Sudahlah Kai, carikan saja cewek untukku,”kataku malas meladeninya.

“Maksudmu yang bisa kau pakai selama semalam saja huh?”goda Kai. Aku mengangguk.

Ok Oh Sehun, kau mulai gila. Apa yang ada dikepalamu saat ini?

***

Sulli seakan sudah menghapus namaku dari kehidupannya sejak dia mulai tenggelam dalam dunia seninya lagi dan mengenal guru seni bajingan itu. Dia benar-benar tidak menanyaiku, mencariku atau menghubungiku. Terserah. Akhir-akhir ini malah mulai beredar gossip yang kuyakin itu benar-benar terjadi bahwa Sulli kedapatan berciuman di ruang seni dengan guru itu. Akh! Sekali lagi aku tidak peduli! Aku sekarang harus bertemu gadis yang ditawarkan Kai. Kuharap aku bisa mengerti Sulli dengan ini. Untuk mengerti arti dari perbedaan hubungan kami berdua dengan hubungan kami dengan orang lain yang kami intimi. Aku ingin merasakan bagaimana selama ini Sulli tidur dengan laki-laki lain selain diriku.

“Hallo, aku Jane. Kau pasti Oh Sehun ya?”aku mendongak saat gadis blasteran Korea-Amerika itu menjulurkan tangannya padaku. Hoh…seksi juga dia.

Lalu malam itu aku benar-benar melaksanakan niatku sejak awal. Kami menyewa kamar hotel dan melewatkan malam berdua. Aku tidak mengerti bagian mananya yang menyenangkan dari melakukan hubungan intim dengan orang yang tidak kau cintai. Aku sama sekali tidak bahagia. Aku mungkin puas tapi tidak sepuas saat aku bersama Sulli. Aku mulai berpikir sejak malam itu, apakah Sulli selama ini tidak bahagia? Tidak puas? Apa dia berpikiran yang sama seperti yang kupikiran malam itu? Apakah dengan Donghae seongsaenim itu dia akan merasakan yang kurasakan selama ini setiap bersamanya? Lucu. Ironis.

***

Hari itu aku berjalan hendak ke kantin menyusul Kai dan yang lainnya saat aku melewati ruang seni. Aku melihatnya. Melihat apa yang dilihat murid-murid lainnya. Heran, kenapa masalah ini tidak cepat ditangani kepala sekolah? Apa masih pantas guru bajingan itu disini?

Aku terdiam melihat Sulli. Dia membalas ciuman Donghae seongsaenim dengan penuh perasaan. Selama ini aku tidak pernah melihat Sulli seperti itu, tidak denganku, tidak saat aku mendapati dia mencium pria lain, tidak. Dia benar-benar berbeda dengan guru ini dan itu lebih menyakiti hatiku. Aku makin sadar dan makin mengerti bahwa Sulli benar-benar sudah mabuk cinta dengan Donghae seongsaenim.

“Sehun kau baik-baik saja?”itu yang dilontarkan oleh Luhan saat melihatku masuk ke kantin dengan lemasnya. Aku bahkan ingin menjatuhkan diriku dengan lemahnya saat ini karena kurasa seluruh tenagaku hilang. Hilang setelah melihat pemandangan yang menyakitkan hatiku itu.

“Tidak apa,”jawabku datar lalu mengambil tempat duduk disamping Kai.

“Sehun, gimana Jane? Kalau belum puas aku punya kenalan lagi, namanya Hyeri dia hot banget. Wow, aku saja ingin mencicipinya jika saja aku tidak mengingat betapa mengerikan pacarku jika dia tau aku tidur dengan gadis lain,”celoteh Kai.

“Dia? Errr…yeah dia hebat. Tapi aku tidak tertarik lagi Kai. Tidak dengan Hyeri atau gadis lain. Cukup sekali itu,”jawabku. Ya, aku melakukannya sekali itu untuk memastikan perasaanku. Untuk memastikan apa yang Sulli mungkin rasakan. Semata-mata untuk melepaskan beban yang berat dikepalaku saat ini.

***

“Bisa kita bicara?”

Aku menoleh saat mendengar suara yang kukenal memanggilku. Aku ingin melayangkan tinjuku tanpa alasan yang masuk akal ke wajahnya jika saja aku immature. Si guru sialan itu berani sekali mendatangiku.

“Apa? Aku tidak punya waktu,”ucapku malas. Aku bukannya malas, aku hanya saja…entahlah, aku tidak mengerti kenapa aku merasa diriku tidak akan senang setelah mendengar apa yang ingin dia katakan terlebih saat aku makin sering melihat adegan panas guru yang terkenal friendly ini dengan Sulli. Namun aku harus mengetahuinya bukan?

***

“Aku lihat akhir-akhir ini kau menjauh dari Sulli,”ucapnya sambil menghisap batang rokoknya.

“Yeah, terima kasih untuk seorang guru,”ucapku sarkatis sambil memutar bola mataku.

“Aku tidak akan lagi menjadi gurumu. Aku akan berhenti,”ucapnya lalu menghisap sekali lagi rokoknya dan membuang rokok tersebut kemudian menginjaknya agar apiny mati.

“Sudah ketangkap basah huh? Benar-benar guru yang hina,”ucapku.

“Ya, aku berhak menerima cacian dan bahkan pukulan darimu,”Donghae tersenyum sinis.

“Oh yeah, tentu saja akan langsung kulakukan!”aku tanpa pikir panjang langsung mengarahkan tinjuku ke wajahnya. Donghae tidak mengelak dan tersenyum setelah menerima pukulanku. Hatiku yang menjadi sakit melihatnya. Aku seperti disenyumi oleh seorang pemenang.

“Lakukan sepuasmu Oh Sehun. Karena aku akan mengambil Sulli dari kehidupanmu untuk selamanya,”Donghae tersenyum sinis.

“Apa maksudmu?!”bentakku lalu meninju wajahnya sekali lagi.

“Aku dan Sulli akan ke Paris. Dia pasti belum mengatakannya padamu karena kau terus menghindarinya,”jawab Donghae dengan tenang. Seketika aku kehilangan seluruh kekuatanku. Tinjuku berlabuh pada lantai kasar disamping wajah Donghae.

“Kau dan Sulli…ke Paris?”tanyaku. Tidak mungkin kan? Sulli bilang aku belahan jiwanya, bagaimana bisa dia hidup jauh dari belahan jiwanya? Ah mungkin kau salah lagi kali ini Sehun.

“Ya,maafkan aku Sehun. Aku tau kau mencintainya,”ucap Donghae.

“Aku mungkin pantas mendapatkan jutaan pukulan darimu. Karena aku tau, kau yang selama ini menjaga Sulli,”ucapnya lagi. Ah…aku benar-benar ingin membunuh pria ini setelah mendengar ucapannya. Aku jadi sadar betapa besarnya pengorbanan dan perjuanganku selama ini dan aku tidak mendapatkan apa-apa selain sebuah omong kosong belaka. Namun percuma. Satu-satunya yang kubutuhkan saat ini adalah Sulli.

“Kau pantas mati Lee Donghae. Tapi tidak jika Sulli akan sedih pada akhirnya,”ucapku menahan emosiku. Gawat, aku tidak pernah menangis lagi semenjak melihat Sulli bersimbah darah dan kami bertengkar hebat. Tapi kali ini aku ingin menangis lagi. Jelas saja, Sulli akan pergi dari kehidupanku.

Sulli. Jika dia saat ini memikirkanku, dia pasti ada di tempat itu!

TBC

A/N : Hello! 1 chapter to go. Hehehe. Yup, berikutnya bakal jadi part terakhir cerita ini. Apa yang akan terjadi dengan Sehun? Apa Sulli dan Donghae akan tetap pergi? Apa Sulli akan memilih Sehun daripada Donghae? Liat aja di final chapter besok. Buat yang mau password untuk final chapter bisa mention ke twitter saya: @sulliberty nanti dikirim via dm atau email ke dwi@valsk.com. See you ^^

4 Tanggapan to “Love, Art & Friend – Chapter 5”

  1. ulfahalimatus 16 November 2014 pada 6:02 PM #

    Akhirnya ketakutan sehun terwujud, sulli udah balik lagi sebagai choi jinri yang dulu, kasian sehun juga cuma dikasih harapan dan omongan belakang, tapi apa yang akan sehun lakukan, kalau sulli akan pergi ke paris, wow donghae oppa udah bisa bikin sulli kayak dulu, dan mereka udah berciuman, dan mereka akan ke paris. Lanjut chingu

  2. berliyana 17 November 2014 pada 8:53 AM #

    SULLI AMA SEHUN POKOK NYA !!!!!
    DONGHAE GAK BOLEH NGAMBIL SULLI DARI SEHUN!!!!
    Klw iya donghae suka ama sulli, kmana aja dia slama ini ? Knpa gak jagain sulli ?
    Cuman sehun yang ada untuk sulli pas susah ataupun snang *esmosi
    lanjut eon😉

  3. bbuing bbuing 17 November 2014 pada 12:04 PM #

    pnasaran ntar sulli milih mana,smoga yg terbaik lah

  4. linda 2 Januari 2015 pada 1:42 PM #

    OMG kaget jga pas baca dbgian sulli nglakuin ‘itu’ sma cwok lain,gmna coba jadi sehun?? Sakit bgttt… Dan sulli knapa sii mau sma dobghae,,ya gak tega sama sehun,,pkonya sulli sama sehun,,dan mnurutku donghae bukan guru yg baik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: